Buku pengalaman menghadapi kanker menggunakan ECCT

image-1.jpg

Pada tanggal 22 Desember 2015, persis di hari Ibu, Lavender Ribbon Cancer Support Group meluncurkan buku ini secara gratis dalam acara pembahasan mengenai Electro Capacitative Cancer Therapy (ECCT). Buku yang ditulis oleh Indira Abidin dan para Relawan Pejuang Kanker ini mengisahkan pengalaman menghadapi kanker dengan menggunakan ECCT. Berbagai perjalanan para penerima kurikulum kanker (sebutan bagi “pasien kanker” di Lavender Ribbon Cancer Support Group) digelar di sana dengan sangat jelas. Berbagai perjalanan emosi, kepasrahan, perjalanan upaya mencari kesembuhan dan akhirnya pertemuan dengan ECCT dapat dibaca dalam buku ini.

Indira Abidin dan para Relawan Pejuang Kanker menulis buku ini dengan melakukan wawancara pada teman-teman pengguna ECCT untuk membagun motivasi para penerima kurikulum kanker lainnya. Kanker sampai saat ini masih dianggap sebagai sesuatu hal yang menakutkan, momok yang bahkan dapat menimbulkan depresi.

Indira dan teman-teman mengalami sendiri bagaimana para anggota Lavender Ribbon Cancer Support Group dan para penerima kurikulum kanker lainnya benar-benar harus berjuang mengatasi ketakutannya sendiri, kecenderungan demotivasi dan berbagai pergulatan emosi lain, sampai akhirnya menemukan pelabuhan yang menenangkan dan memberi harapan.

Buku ini dijual dengan harga Rp 75.000. Semua keuntungan bersih dari hasil penjualan buku ini akan diserahkan untuk Lavender Ribbon Cancer Support Group. Semoga hasil penjualan dapat turut membantu didirikannya Rumah Lavender, tempat berkumpul para anggota untuk belajar, membangun diri dan saling membantu tumbuh kembang dari kanker menjadi pribadi-pribadi pembawa rahmat bagi alam semesta. Inilah yang menjadi cita-cita Indira dan alm Nita mendirikan Lavender di tahun 2014.

Yuk, beli buku ini yuk. Silakan kontak Mbak Emmy di nomor +62 858 11241429.

Persembahanku untukmu: Sertifikat 5 Tahun Paska Diagnosa

Sahabat tercinta,

Sertifikat di atas adalah sertifikat dari C Care, menyatakan bahwa aku berhasil menjadi “survivor” setelah 5 tahun didiagnosa kanker, berkat ridloNya.

Sertifikat ini ditandatangani oleh Pak Warsito yang memanduku secara langsung, memastikan bahwa benar, selama lima tahun ini tak ada perkembangan dari status kankerku – survivor dengan status progression free.

Sertifikat ini adalah persembahan untuk dunia. Sertifikat ini mensyukuri dan merayakan kehidupan yang Allah berikan, lima tahun paska diagnosa kanker.

Sertifikat ini penting, menyatakan bahwa kanker bisa diatasi dengan baik. Sehingga aku punya dasar untuk mengatakan bahwa kanker bukanlah hal yang menakutkan.

Banyak yang menghubungiku dalam kesedihan karena akan meninggal setelah diagnosa kanker. Nggak mesti kan? Umur ada di tangan Allah. Tenanglah.

Sertifikat ini penting, karena dengannya teman-teman bisa melihat bahwa selama lima tahun kanker tak membuatku menderita. Aku bisa tetap produktif, bahagia sejahtera, dan yang paling penting aku pun bisa terus mengejar kedekatan denganNya sebagai wakilNya di muka bumi.

Jadi jangan pernah lagi bilang “vonis kanker” karena Kanker bukan hukuman pengadilan.
Jangan pernah bilang lagi “penderita kanker” karena kanker bukan pembawa derita. Sikap kitalah yang menentukan kita menderita atau tidak. Bukan kankernya.
Jangan pernah lagi bilang “penyakit kanker” karena kanker tidak selalu membawa sakit. Dan Mukhrejee pun mengatakan kanker bukan penyakit tapi “malady.”

Sebutlah “kurikulum kanker” agar kita menjadikan kanker sebagai kesempatan belajar. Kesempatan emas yang belum tentu bisa kita dapatkan lagi untuk menjadi hambaNya yang lebih baik. Hidup terasa lebih berkualitas.

Sebutlah “sekolah kanker” agar kita kembali ke sebuah masa menyenangkan. Masa di mana banyak sekali persahabatan. Tengoklah teman sekelas yang perlu kita bantu dan dukung. Dan perhatian kita pun bisa beralih untuk membahagiakan orang lain, tak lagi fokus pada keluhan diri sendiri. Hidup menjadi lebih berarti.

Semoga suatu masa di mana kanker tak lagi menimbulkan demotivasi, tak lagi membuat depresi, segera akan datang.
Dan kanker akan menjadi sebuah momentum transformasi yang begitu berharga.

Dan semoga “survivor” telah pula berubah menjadi “thriver” karena hidup tidak sekedar hanya untuk “survive.”

Kenapa hal itu penting bagimu, sahabat?

Apa saja kebaikan yang bisa terjadi kalau hal itu menjadi kenyataan?

Daan… Kira-kira apa hal terbaik yang bisa kita lakukan sekarang ini juga untuk mewujudkan hal itu?

Terima kasih suamiku tersayang, Siraj Bustami, dan anak-anakku Hana dan Fia.

Terima kasih untuk kedua orang tuaku tercinta, Indra dan Miranty Abidin.

Terima kasih untuk Pak Warsito, dr. Hanson, Guru Reva, Sifu James, Mbak Lyra, dan semua guru yang membimbingku lima tahun ini.

Terima kasih untuk semua sahabat, saudara, coaches, Lavenderians, Hanara Group, dan semua sahabat media sosial.

Sertifikat ini kupersembahkan untuk semua. Semoga bersamanya keberkahan diturunkanNya untuk semesta. Aamiin YRA.

Mau sembuh? sehat secara permanen? Kuncinya hanya yang satu ini.

Syaikh Ali Musthafa Thantawi pernah mengatakan, “Jangan sekali-kali mengabaikan hati. Karena hati adalah rumah bagi dua hal paling suci di dunia ini, yaitu iman dan cinta.”

Abu Bisyr, seorang murid Ali bin Abu Thalib ra, menyampaikan bahwa orang-orang terdahulu sedikit beramal tetapi mendapatkan pahala yang banyak. Hal itu disebabkan karena mereka selalu menjaga hati, sehingga hati-hati mereka sungguh bersih. (Az-Zuhud II/600).

Imam Ibnul Qayyim pun pernah mengatakan:
“Hati ibarat raja bagi anggota tubuh.
Anggota tubuh akan melaksanakan segala perintah hati dan menerima semua arahannya.
Anggota tubuh tidak akan melaksanakan sesuatu kecuali yang berasal dari keinginan hati.
Oleh karena itu, hati merupakan penanggung jawab mutlak terhadap anggota tubuh karena seorang pemimpin akan ditanya tentang yang dipimpinnya.
Jika demikian adanya, maka upaya memberi perhatian yang besar terhadap hal-hal yang menyehatkan dan meluruskan hati merupakan upaya terpenting.
Dan memperhatikan penyakit-penyakit hati serta berusaha untuk mengobatinya merupakan ibadah yang paling besar.”

“Di dalam hati tersebut terdapat perasaan cinta dan iman kepada Allah, perasaan ikhlas dan tawakkal kepadaNya.
Semua itu merupakan unsur kehidupan bagi hati.
Namun, di dalam hati juga terdapat rasa cinta kepada syahwat, lebih mementingkannya serta memperturutkan segala keinginan.
Di dalam hati juga terdapat sifat hasad, sombong, ujub, dan ambisi untuk menjadi orang yang paling unggul, serta bertindak semena-mena di muka bumi dengan kekuasaan yang dimiliki.
Semua itu merupakan unsur yang akan membuat diri hancur dan binasa.”

“Karena itu, surga tidak bisa dimasuki oleh orang-orang yang berhati kotor, dan tidak pula bisa dimasuki oleh orang yang di hatinya terdapat noda-noda dari kotoran tersebut.

Barangsiapa yang berusaha mensucikan hatinya di dunia, lalu menemui Allah (mati) dalam keadaan bersih dari kotoran-kotoran hati, maka dia akan memasuki surga tanpa penghalang. Adapun orang yang belum membersihkan hatinya selama di dunia, maka jika kotoran hati tersebut dari najis murni -seperti hatinya orang-orang kafir-, maka dia tidak akan bisa masuk surga selama-lamanya.

Dan jika kotoran tersebut sekadar noda-noda yang mengotori hati, maka dia akan memasuki surga setelah disucikan di dalam neraka dari kotoran – kotoran tersebut.”

Itu kata orang-orang terdahulu.

Lalu Bruce Lipton, seorang dokter dan peneliti di abad 21 mengatakan bahwa penyakit tidak diturunkan. Orang yang punya DNA yang sama belum tentu memiliki penyakit yang sama. Ternyata persepsi, pikiran yang menciptakan suasana bagi sel yang akhirnya menentukan seseorang sehat atau tidak. Dan ini semua asalnya dari hati.

WHO pun sudah mengakui bahwa sehat yang sesungguhna yharus mencakup sehat rohani, bukan hanya sehat jasmani.
Ternyata kini diakui bahwa 90% penyakit berasal dari stress, yang berasal dari penyakit hati.

Ternyata benar, di dalam tubuh ada segumpal daging yang kalau ia baik, semua tubuh akan baik dan kalau ia buruk seluruh tubuh akan buruk.

Maka, marilah kita hidup secara sadar. Hidup dari detik ke detik, menyadari apa yang ada dalam hati. Setiap ada hal yang tidak enak di hati menandakan ada yang harus diperbaiki.
Rasa tidak terima, kesal, tidak suka, apalagi kalau sampai benci dan dendam, perlu segera diobati.

Ada yang bikin kesal, mengkhianati kita, membuat kita marah, langsung katakan, “Allah ingin memberikan surga, maka orang ini dikirimNya padaku agar aku membuktikan bahwa aku sabar dan layak masuk surga.

Langsung bilang, “Alhamdulillah,” dan langsung syukuri. Hadapi dengan perasaan syukur. Lakukan berulang-ulang, insya Allah syukur dan sabarlah yang akan menjadi raja, menggantikan berbagai sakit dalam hati.

Jadi perasaan apa yang bisa kita perbaiki dengan lebih baik lagi agar kita bisa menjaga hati lebih baik lagi hari ini?

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. 91: 8-10).

via Hati: sumber sukses dunia dan akhirat — Indira Abidin’s Blog

Manusia itu hamba, tugasnya bersyukur menerima, bersyukur melepas

surrender.png

Menjadi manusia itu berarti berserah diri
Yang Allah contohkan dengan kisah Keluarga Ibrahim
Keluarga yang bersyukur menerima
Dan juga bersyukur saat melepas

Lama tidak diberi anak?
Berdoa dan ikhlas, tetap taat
Diberi anak? Makin bersyukur dan taat
Disuruh meninggalkan anak dan istri di padang pasir?
Ikhlas dan taat
Yakin Allah akan menjaga
Yakin perintahNya adalah yang terbaik
Saat kembali menemui anaknya, baru terbukti
Istri dan anaknya sudah membuat perkampungan
Dan sudah diberi mata air abadi, zam zam

Ternyata baru kita tahu kini kenapa
Ternyata mereka hendak diberi warisan sebuah kota
Yang dikenang berkat kerja keras mereka
Kota berkumpulnya jutaan manusia tiap tahun
Kota yang menjadi pusat perhatian milyaran manusia
Minimal lima kali sehari setiap hari
Tanpa kerja keras mereka, tak ada Mekah
Tanpa pengorbanan seorang ibu, bayinya dan suaminya,
Tak ada kisah kepahlawanan dan teladan

Diperintahkan menyembelih anak?
Anaknya sabar dan taat
Bapaknya pun ikhlas sepenuh hati
Anak bukan miliknya
Disuruh oleh Yang Punya untuk melepas..
Masak harus protes?
Dan Allah ganti saat sudah terlaksana
Allah abadikan dengan Hari Raya Qurban
Ganjaran ikhlas menerima dan melepas

Inilah contoh kita.
Kalau mengaku manusia, ya harus menerima dan melepas
Berserah diri dalam segala kondisi.
Tak usah galau, tak usah protes
Yang memberi hidup adalah Allah
Kita tinggal terima beres
Diberi hidup bahagia
Diambil dari hidup, masak protes?

Marilah kita terus menjadi hamba kesayanganNya
Yang bersyukur saat menerima,
Bersyukur pula saat harus melepas
Berusaha yang terbaik,
Setiap hari lebih baik dari sebelumnya
Dan bersyukur, apapun hasilnya.
Meskipun yang terbaik bagiNya berarti harus melepas

Hidup 100% adalah milikNya
Kita tinggal menjalankan saja
Bismillah
Semoga Allah berikan kekuatan di atas kekuatan yang telah diberikanNya
Untuk kita bisa menjalankan sebaik mungkin
Dalam jalanNya, untuk meraih ridloNya.

Aamiin

Kanker, ujian hidup, dan bulan Dzulhidjah

ibrahim.png

Bulan Dzulhidjah adalah bulan untuk mengenang sebuah keluarga yang luar biasa.

Belajar dari ikhlasnya seorang perempuan bernama Siti Hajar yang ditinggal sendirian bersama bayi kecilnya di padang pasir terik gersang tanpa kehidupan, seorang diri.
Belajar dari tegarnya seorang suami dan ayah baru, Nabi Ibrahim, yang menjalankan perintah Allah meninggalkan istri dan bayi kesayangannya di tengah padang pasir walaupun hati sedih.
Belajar dari kesabaran seorang anak, Nabi Ismail, saat diberi tahu bahwa ayahnya diperintahkan menjadikannya kurban.
Belajar dari iman dan penyerahan diri total ketiga tokoh ini, atas penjagaanNya, perlindunganNya, dan kasih sayangNya.
Sebagai hamba, apapun yang diperintahkan Pencipta, mereka ikuti, tanpa komentar, tanpa mengeluh, hanya diikuti dengan penuh ketaatan.

Bagi semua penerima kurikulum kanker, dan kurikulum hidup apapun, belajar dari mereka bertiga ini penting sekali. Ujian yang Allah berikan untuk mereka bertiga adalah ujian kasus ekstrim yang tidak diberikanNya lagi pada manusia manapun. Ujian apapun yang kita harus lalui tidaklah pernah seberat ujian bagi mereka.

Kanker?
Ga punya uang?
Banyak hutang?
Dikhianati pasangan?
Ditipu?
Dirampok?
Dihina?
Iya, tapi kan masih bisa hidup di tengah keluarga, masyarakat. Masih ada makanan kan?
Tidak harus menerima keputusan Allah ditinggal di padang pasir, kan?
Atau diperintahkan untuk disembelih kan?
Atau diperintahkan untuk menyembelih anak yang sangat dirindukan kan?

Mereka yang ditinggal di padang pasir sendirian pun masih dijaga.
Yang diperintahkan menyembelih dan disembelih pun ternyata dilindungi dan digantikan dengan yang lebih baik.
Dan semua menjalankan dengan bahagia, dan berakhir bahagia.
Bukan hanya bahagia di dunia, tapi bahagia abadi di akhirat.
Menerima manfaat kebaikan yang terus mengalir deras sampai akhir zaman berkat semua kesabaran, ketulusan, keikhlasan dan ketaatan yang mereka contohkan.

Setiap kali dirundung galau, ingat saja bahwa apapun ujian kita, tak ada apa-apanya dibanding ujian bagi mereka semua. Mereka digoda setan untuk mengeluh dan menolak perintah, tapi mereka tak tertarik. Pahala dan ganjaran dari Sang Maha Kasih lebih mereka rindukan.

Nah, kira-kira apa pelajaran penting Dzulhidjah dan kisah kehidupan keluarga Nabi Ibrahim yang dapat kita ambil untuk membantu kita mengatasi uijanNya?
Apa hal terbaik yang dapat kita lakukan sekarang untuk membangun ikhlas, syukur dan iman yang kuat dalam menghadapi ujian hidup kita?

Dan kalau sampai kisah kita pun Allah angkat menjadi suri tauladan bagi anak keturunan kita, kira-kira apa yang akan kita ceritakan?

Bagaimana kita bisa memberi contoh baik bagi anak keturunan kita dalam menghadapi ujian yang sedang kita jalankan?

Selamat menjalankan ibadah bulan Dzulhidjah, teman-teman.

Innalillahi, justru saat lagi sakit, bukan hanya untuk yang sudah berpulang

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun

 

Setiap kali ada yang berpulang kita pasti akan mengucapkan Innalillahi wa inna ilaihi rajiun sebagai tanda duka cita. Tapi kalau ada orang yang sakit lalu kita ucap Innalillahi, wah.. bisa-bisa yang sakit marah. “Ngedoain saya meninggal?” Mungkin itu prasangkanya. Karena di Indonesia Innalillahi hanya diucap sebagai tanda duka cita, tanpa sadar makna dalam yang terkandung di dalamnya.

Dalam Quran Innalillahi wa inna ilaihi rajiun disebutkan dalam ayat:

Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 155-157)

Kalau dari ayat ini, bisa dilihat bahwa ucapan ini adalah ucapan orang yang sabar, dan diucapkan saat mereka tertimpa musibah, bukan hanya kalau ada yang meninggal.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun artinya “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali.” Orang yang mengucap hal ini saat tertimpa musibah hendak mengatakan bahwa sebagai kepunyaan Allah, yang diciptakan dan dimiliki sepenuhnya oleh Allah, maka mereka berserah diri saja. Mau diapain, mau dikasih ujian anak begini, suami begitu, pekerjaan begini, keluarga begitu, teman-teman begini, dikasih sakit, dikasih kejadian bencana, malapetaka… ya sudah … memang kita milikNya kok, kenapa harus mengeluh? Begitu saja kok repot? Yakin percaya penuh bahwa semua itu diberikan atas dasar cinta, kasih sayang, yang mungkin belum tentu kita semua tahu hikmah indah di baliknya, percaya saja pasti indah. Dan percaya penuh bahwa Sang Pemilik ini tahu kemampuan kita. Sebagai Kepala Sekolah dan Guru Semesta, Allah tahu benar “kelas” kita dan tingkat kesulitan yang harus kita lalui untuk naik kelas.

Terus kenapa harus mengeluh? Mbok ya malah bersyukur. Begitu aja kok repot? hehe..

Allah berjanji bahwa manusia yang sabar dan selalu mengucap Innalillahi saat ikhlas tersenyum menerima musibah akan mendapat keberkahan sempurna, naik kelas dan lulus dengan gemilang dari ujian tersebut. Mereka itulah yang mendapat petunjuk, ibarat di kelas, mereka sudah belajar duluan pakai bank soal.

Jadi ucapkanlah innalillahi dalam setiap kondisi yang tidak enak, karena banyak sekali ujian setiap detik yang tidak kita sadari bahwa itu ujian.

Ada yang menyalip di jalan? Innalillahi. Musibah, meskipun kecil. Kita lagi diuji sabar dan mendoakan agar yang menyalip selamat sejahtera, sadar bahwa mereka tidak perlu menyalip lagi.

Ada yang kita senyumi tidak membalas senyum. Innalillahi. Musibah kecil lagi, kita sedang dikasih pelajaran bahwa kita senyum itu hanya untuk Allah, bukan untuk tujuan dibalas oleh makhluk.

Ada yang mengeluh panjang lebar tanpa batas. Innalillahi. Musibah kecil lagi. Salah-salah kita ikutan galau dan lepas tawakal pada Allah, bahwa Allah selalu membantu makhlukNya. Kita sedang diuji bagaimana bisa mengingatkan orang lain untuk tetap berserah diri padaNya, dan semua ujian diberikan sebagai cintaNya. Mintakan pengganti yang lebih baik dari Allah untuknya.

Didiagnosa kanker? Innalillahi. Bagi banyak orang ini musibah besar. Kita sedang diuji untuk terus mendekat padaNya, mensucikan diri, membuang segala keburukan dalam hati, pikiran dan jiwa dalam memurnikan kembali tubuh yang sakit. Mintakan pengganti yang lebih baik dari Allah.

Tak ada kejadian yang bisa membutuhkan kesabaran yang bisa kita lalui tanpa ucapan Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Teruslah ucapkan hal ini, bangun ikhlas dalam hati tanpa harus mengucap ikhlas. Karena hanya orang ikhlas yang setan tak mampu ganggu.

Jadi sekarang, untuk musibah yang mana yang perlu kita ucapkan innalillahi wa inna ilaihi rajiun? Yang mana lagi? Yang mana lagi?

Semoga dengan menyerahkan semua itu kepada Sang Pencipta Musibah, yang juga Maha Pemberi Jawaban, jawaban akan segera datang agar kita bisa segera menemukan jalan keluarnya. Dan kalaupun belum… semoga kita semua tetap sabar dan bahagia, karena semua dariNya pasti indah.

Bismillah..