Kisah Bay Arifin berdamai dengan kanker usus stadium 3

10968210_730105093771254_1109205898986830387_n

Cerita ku …
Berdamai dengan kanker usus stadium 3
Nama saya adalah Mihrad Bay Arifin, biasa dipanggil Bay.
Usia saya saat ini 36 tahun dan saya bekerja di perusahaan swasta yang bergerak dibidang penjualan fragrance atau wewangian. Dimulai tahun 2007 yang lalu saya sering mengalami keadaan sembelit dan rasa sakit ringan yang tidak terlalu terasa di bagian perut sebelah kanan. Rasa sakit tersebut hanya terasa selintas dan tidak lama, namun terasa kholik, datang dan hilang, mungkin pada saat itu saya tidak terlalu menghiraukan keaadan tersebut karena bagi saya itu hanya sakit biasa.

Keadaan tersebut diatas terus berulang ulang dirasakan selama lima tahun berjalan tanpa saya hiraukan, namun pada akhir tahun 2012 kira-kira bulan November perut saya sebelah kanan terasa sakit yang sangat sakit sehingga membuat perut saya terasa keram berulang ulang dan membuat saya pingsan sehingga sering dibawa ke UGD rumah sakit setempat, namun sesampai dirumah sakit saya hanya diberikan obat pereda rasa sakit sehingga tidak terdiagnosa apa sakit saya.

Pada bulan Desember tahun 2012 disekitar minggu ketiga saya bertugas ke luar kota, keliling pulau Jawa hingga Bali. Dalam perjalanan saya hanya berbekal kapsul kunyit putih untuk meredakan rasa sakit saya hingga kembali ke Bandung dalam keadaan drop, indikasi pada BAB saya hitam pekat seperti Aspal. Rasa sakit yang terus menerus sebelah kanan perut saya. Dengan dorongan atasan/Bos saya saya di observasi di salah satu Rumah Sakit bertaraf Internasional yang berada di Bandung. Selama satu minggu saya bolak balik ke Rumah sakit tersebut belum ada hasil diagnosa akhirnya saya dirujuk ke bagian Spesialis Bedah. Dokter tersebut curiga akan keadaan saya. Akhirnya saya melakukan Pemeriksaan dengan CT Scan

Sudah dua minggu dari CT Scan saya menunggu hasil untuk dibacakan oleh dokter bedah. Pada tanggal 30 Januari 2013 saya didiagnosa Carcinoma Stage 3 pada collon ascenden/usus besar sebelah kanan yang berada diatas usus buntu saya. Bagaikan petir di siang hari, serasa gelap dunia setelah mendengar diagnosa tersebut. Yang terlintas adalah wajah anak-anak yang masih kecil, yang pertama berusia 7 tahun dan yang kedua 1 tahun 2 bulan jalan pada saat itu. Namun saat itu juga jiwa saya membisikan saya harus tenang, jangan panik, tetap tabah dan yakin Allah akan berikan jalan. Alhamdulillah dengan pertolongan Allah SWT saya dikuatkan pada saat itu. Saya harus kuat demi anak-anak. Hanya itu yang saya tanamkan dibenak saya.

Kemudian pada saat itu karena saya hanya seorang karyawan biasa yang tidak punya dana yang sangat besar untuk mengobati keadaan saya dan tidak punya asuransi saya mencoba mencari referensi dokter bedah yang mau menolong saya dengan budget yang rendah.Saya tidak akan sanggup menyediakan dana sebesar yang diminta oleh Rumah Sakit yang bertaraf Internasional tersebut. Akhirmya dengan pertolongan Allah SWT juga saya dipertemukan oleh seorang dokter spesialis bedah digestif yang mau menolong saya. Bahkan ia tak mau biaya tindakan operasinya dibayar. Saya hanya menyiapkan biaya untuk obat, ruang inap dan ruang tindakan operasi saja.

Akhirnya pada tanggal 4 Februari 2013 bertepatan dengan hari kanker sedunia saya dioperasi pengangkatan usus ascenden sepanjang 17 cm Di Rumah Sakit Swasta di Bandung. Pada operasi tersebut berhasil diangkat kanker sepanjang 5 cm memanjang di usus besar dan getah bening sekitar usus acenden, operasi berhasil dilakukan. 5 hari kemudian kondisi saya memburuk dikarenakan usus setelah dioperasi belum bereaksi normal, sehingga dilakukan tindakan operasi ulang yang kedua dan ditemukan omentum atau sejenis lemak yang membelit usus saya sehingga menyumbat pembuangan yang seharusnya dalam 3 hari sudah normal.

Kurang lebih 1 bulan lamanya saya berada dirumah sakit ditemani seorang istri yang solehah yang tidak pernah sedetik pun meninggalkan saya dalam keadaan sendirian pada saat itu sehingga motivasi saya sangat tinggi pada saat itu padahal berat badan saya sudah hilang sekitar 25 kg dan tidak bisa berjalan. Namun dengan spirit yang diberikan orang sekitar memang saya merasa ringan dan kuat. Latihan berjalan hari demi hari saya lakukan dengan bantuan istri dan perawat yang ada di rumah sakit tersebut. Menurut dokter saya mal nutrisi pada saat itu.

Tiga bulan setelah operasi saya diharuskan menjalani kemotherapy, sebanyak 6 siklus. Oleh dokter saya dirujuk ke dokter onkologi untuk kemotherapy. Siklus pertama kemoterapi terasa berat, perut terasa mual-mual, lidah kelu, namun saya tetap semangat dan terus bekerja walaupun pada saat itu saya diperbolehkan ½ hari untuk bekerja. Dukungan dari rekan kerja terutama pemilik perusahaan yang sangat mendukung saya pada saat itu dengan moril dan materil yang luar biasa sehingga saat kemo saya tidak terasa berat karena suasana hati selalu happy.

Seiring dengan berjalannya kemo hingga siklus keempat ternyata sel kanker saya naik terus sehingga dilakukan ct scan kembali, dan dinyatakan kanker kambuh kembali pada stage 3 di bulan September 2013. Dokter merencanakan dosis kemo ditingkatkan dan rencana siklus hingga 12 kali kemotherapy. Saya hanya tertegun pada saat itu. Ya Allah mohon petunjukMU.

Ketika rasa bimbang, cemas dan lain sebagainya Allah SWT berikan petunjuk pada saya. Akhirnya saya dan istri berfikir logis bahwa kanker yang saya derita adalah seputar pencernaan sehingga saya harus merubah pola makan saya. Kami coba berkonsultasi pada dokter bedah yang dulu membedah saya. Dokter tersebut menyuruh saya untuk dilakukan operasi lagi, saya menolak dan saya mengemukakan bahwa saya akan menjalani diet vegetarian pada saat itu. Dokter tersebut marah besar pada kami. “MEMANG KAMU KAMBING makan hanya sayuran saja?” tanyanya. Akhirnya saya dipecat sebagai pasiennya. Hehehe saya hanya tertawa pada saat itu dan pernyataan dokter tersebut tidak saya masukan kehati .

Dua minggu saya lakukan pola makan diet vegetarian, nasi saya ganti dengan kentang, lauk saya ganti hanya tahu dan tempe, selebihnya buah buahan dan sayuran saja. Saya coba cek darah saya dan subhanallah sel kanker saya turun. Walaupun tidak turun drastis grafik menunjukan ada perbaikan dalam tubuh saya, sehingga saya laporkan ke dokter onkologi. Dokter tersebut merasa heran dan sedikit tidak percaya karena saya tidak melanjutkan kemo yang dia anjurkan pada saat itu.

Berjalan hingga saat cerita ini ditulis, saya merasa dalam keadaan sehat dan survive. Saya merasakan hidup dengan kanker banyak hikmah dan anugerah sehingga saya bisa berdamai dengan kanker.

Jangan pernah menyerah, yakinlah Tuhan akan selalu berikan jalan. Hal itu memang terbukti pada diri saya dan keluarga. Kelola Tingkat stress. Hal ini sangat berpengaruh besar pada kondisi tubuh. Kanker sangat senang dengan kondisi kita dalam keadaan stress, maka hindari stress, positive thinking dan selalu bersyukur. Dengan itulah saya sampai saat ini masih beraktivitas normal dan survive.

Dan jangan segan-segan untuk terbuka terhadap orang sekitar karena kanker bukan untuk di rahasiakan. Semakin dirahasiakan semakin jiwa kita tertekan dan semakin cepat sel kanker mengganas. Bukan untuk mencari iba namun untuk selalu belajar dan mencari treatment apa yang cocok untuk diri kita.

Sebaik dan sehebat apapun dokternya hanya diri kitalah dokter yang terbaik untuk diri kita sendiri.

Salam Sehat Selalu ( S3 )
Cimahi, 19 Februari 2015

M. Bay Arifin

Kekuatan sedekah membuka jalan sembuh

IMG_0718

Saya mendapat amanah pimpin jamaah haji.
Tahun 2005 ada seorang jama’ah kami yang punya penyakit diabetes akut. Beliau luka di kaki beberapa saat sebelum waktu pelunasan biaya haji. Vonis dokter, kaki dia harus dipotong. Jama’ah saya itupun membatalkan hajinya.
Persis di hari pemotongan kakinya, beliau kedatangan seorang tetangga yang mohon bantuan. Spontan saja uang yang direncanakan untuk pelunasan haji diberikan kepada tetangga yang miskin itu.

Beliau seorang pemborong di Kota ‘B’. Maka, beliau menyempatkan diri mampir ke ‘proyek’-nya sebelum ke Rumah Sakit. Di lokasi, beliau ketemu seorang kuli bangunan yang lalu menyapanya: “Bos kok loyo?”

Sambil memperlihatkan luka di kakinya, beliau menjawab: “Kaki saya akan dipotong.”

Dengan santai, kuli tersebut bilang: “Jangan Bos. Itu sembuh pakai salep 88 saja. Nih saya masih ada.”
Si kuli lalu memberikan salep 88 kepada si Bos.

Beliau berkata: “Anda tahu apa? Masa sudah habis jutaan ke dokter tapi tak sembuh, sekarang Anda kasih saya cuma salep 88?”

Berikutnya, si kuli langsung mencolek salep 88 dan mengoleskannya ke luka beliau.

Agar tidak mengecewakan si kuli, beliau diam saja dan membawa sisa salep 88 itu.

Karena merasa gatal di kakinya hilang, beliau menelepon dokter dan minta ditunda pemotongan kakinya 2 hari lagi. Selama 2 hari itu beliau merasakan kakinya jadi ringan, lukanya kering dan sembuh.
Saat kembali periksa ke dokter, sang dokter malah memutuskan untuk tak diamputasi dulu.

Subhanallah, jamaah kami itu akhirnya melunasi hajinya dan berangkat bersama kami.

Sampai saat ini, kakinya masih utuh dan diabetesnya normal.

KISAH INSPIRATIF
Subhanallah. Dahsyatnya sedekah dan menghormati orang yang di bawahnya.

Kiriman Mbak Adi Tri, anggota Lavender Ribbon Cancer Support Group

Yuk, sedekah dan bantu orang banyak-banyak yuk.