Hindari gula putih yuk. Gula aren jauh lebih baik bagi kesehatan kita.

  
Image: fitanium.co.uk

Perbedaan Gula Pasir, Gula Batu dan Gula Merah.
Gula adalah pemanis makanan yang banyak disukai orang.
Penggunaan gula biasanya dengan cara menambahkan pada makanan dan minuman,

Jarang sekali orang yang mengkonsumsi gula secara langsung.
Di masyarakat ada tiga jenis gula yang dikenal yaitu gula pasir, gula batu dan gula merah.
Meskipun sama-sama manis rasanya, ternyata antara gula pasir, gula batu dan gula merah mempunyai dampak yang berbeda-beda bagi tubuh, khususnya bagi pankreas.

Dampak penggunaan gula pada pankreas

🌹 Gula pasir

Untuk mengubah gula pasir menjadi gula darah tubuh hanya butuh tiga menit.

Tetapi untuk mengubah gula darah menjadi energi yang dapat disimpan dalam otot pankreas memerlukan waktu kira-kira 140 menit.

Hal ini disebabkan oleh proses pembuatan gula pasir yang dipanaskan sampai dengan 400 derajat Celcius.

Semakin tinggi proses pemanasan makanan, makanan akan semakin sulit dicerna.

Dalam satu hari, pankreas yang normal hanya mampu mengubah 5 gr (½ sendok makan) gula pasir menjadi energi.
Bagaimana jika kita mengkonsumsi lebih dari ½ sendok makan gula pasir?

Sisa gula lasir yang tidak bisa diproses oleh pankreas akan tertimbun dalam tubuh menjadi “gula darah dan lemak.”

Lama-kelamaan tubuh kita akan terkena diabetes.
Apakah kita masih tertarik untuk mengkonsumsi gula pasir sesukanya/ seenaknya?

🌹Gula batu

Gula batu adalah gula yang berbentuk seperti batu (bening/putih, mirip dengan es batu).
Proses Pembuatannya hampir sama dengan gula pasir, namun suhu yang diperlukan untuk memprosesnya “tidak setinggi” seperti pada gula pasir.
Dalam 1 Hari, Pankreas yang Normal MAMPU meng-UBAH 60 Gr (sekitar 6 Sdk Mkn) Gula Batu men-JADI Energi.
Dengan Demikian Gula Batu tergolong LEBIH SEHAT Dibanding Gula Pasir.

🌹 Gula merah

Dikenal juga dengan nama gula Jawa. 
Adalah gula yang dibuat dari Bunga pohon Kelapa/Aren.
Biasanya lebih Sering digunakan Untuk Bumbu Dapur.
Dalam 1 Hari, Pankreas yang Normal/ Sehat Mampu mengubah 90 Gr (sekitar 9 Sendok makan) Gula Merah menjadi energi.

Dibandingkan semua jenis gula tadi, GULA MERAH adalah Gula yang PALING SEHAT dibanding Gula Pasir dan Gula Batu.

Agar pankreas anda tidak kelelahan dan tetap SEHAT Sebaiknya kita MENGURANGI KONSUMSI GULA, baik itu Gula Merah, Gula Batu, terlebih lagi Gula Pasir.
PANKREAS mempunyai batas kemampuan mengubah gula menjadi energi.

Dan BILA PANKREAS Sudah TIDAK MAMPU Melaksanakan Fungsinya Maka Tubuh akan Dapat Terkena Penyakit Diabetes.

(Penulis: Dr Affifah)

Kiriman mbak Avriandari, Lavender Ribbon Cancer Support Group.

🌹🌹🌹

Yuk, kita batasi pemakaian gula apapun dalam keseharian kita. Ingatlah bahwa setiap kali kita makan gula kita memberi makan sel kanker.

Apabila sangat ingin, pilihlah gula aren asli dari petani, dan yakinkan tak ada campuran pengawet di dalamnya.

Salam sehat!

Cobaan: Seperti Anak Panah,Dimundurkan Untuk Melesat Ke Depan

  

Pernahkah kamu mengalami suatu keadaan yang membuat hidupmu seperti ditarik mundur, jauh dari harapan?

Pernahkah kamu melihat orang-orang yang dulunya berapi-api tiba-tiba seperti kehilangan semangat bahkan lenyap dari peredaran?

Pernahkan kamu melihat atau bahkan merasakan bahwa orang-orang yang pernah kau lihat (atau bahkan dirimu sendiri) mengalami kemunduran itu, lalu tiba-tiba melesat cepat ke depan dan meraih banyak hasil?

Kita seperti anak panah di tangan Allah. Ada masa-masa anak panah itu melesat cepat terlepas dari busurnya menuju sasaran yang dimaksudkan.

Ada masanya anak-anak panah itu harus istirahat dalam kantongNya. Namun di saat yang diperlukan, anak panah itu akan dipasang dalam busurNya ditarik kebelakang.. Sejauh mungkin untuk mencapai suatu sasaran.

Semakin jauh tarikannya, semakin jauh pula jarak yang akan ditempuh. Semakin panjang rentang busur menarik ancang-ancang, makin cepat pula anak panah itu melesat.

Jika kau seperti dalam keadaan yang mundur, bersabarlah. Mungkin Allah tengah meletakkanmu di busurNya. Menarikmu jauh-jauh ke belakang, agar di saat kau dilepaskan, kau memiliki daya dorong yang kuat untuk mencapai sasaran. Dan jika kau melihat seorang teman seperti tengah mengalami kemunduran, jangan buru-buru menghakimi dengan mengatakan “Apinya telah padam” atau.. “Jangan-jangan dia ada dosa..”

Jadilah teman yang baik, yang mendampingi di saat temanmu sedang “dimundurkan” karena dengan demikian kau ikut menjaganya agar tidak sampai putus asa dan terkulai

Kamu, aku, dia, mereka, kita… adalah anak-anak panah ditangan Allah..! Hidup untuk mencapai suatu sasaran yang sudah ditetapkan

Tetaplah semangat, tetaplah bersabar, tetaplah tekun dalam kebenaran, dan senantiasa ISTIQOMAH dan tetaplah berdoa memohon kepada Allah, niscaya Allah akan memberi lebih dari yg kita mohon .

Kesembuhan ajaib John Wong: Saat dokter angkat tangan, mintalah Tuhan turun tangan.

  
John Wong lahir dari sebuah keluarga miskin di Singapura. Ayahnya begitu miskin sehingga ibunya seringkali marah pada ayahnya di depan John. John pun tumbuh menjadi pribadi pemarah. Ia marah pada ibunya yang sering menghinanya, pada ayahnya yang miskin, dan pada dunia yang tidak bersahabat.

Kemiskinan dan kesulitan hidupnya menempanya menjadi seorang yang tough. Ia sangat pintar dan sangat arogan, karena ia lelah dihina oleh ibunya sendiri dan lelah merasa minder. 

Rupanya kemarahan dan gaya hidupnya yang mati-matian mengejar prestasi demi menjauhkan diri dari rasa minder dan kecil itu menekan sel-sel tubuhnya dan membuatnya sakit. Awalnya tak ia hiraukan, tapi lama-lama sakitnya makin parah.

Suatu hari John tiba-tiba lumpuh dari leher ke bawah, kehilangan semua urat syaraf nya, hanya bisa komunikasi dengan mata, dan tak lama ia pun buta.

Rumah sakit paling hebat di Singapura sudah menganjurkan ia pulang ke rumah karena tak ada yang bisa mengobati, tinggal “tunggu waktu.” Dokter tak ada yang tahu John sakit apa, dan tak punya ide harus menyembuhkan John dengan cara apa.

Tapi John tidak menyerah dan tidak demotivasi. Ia mengatakan lumpuh dan buta itu seperti teguran Tuhan karena ia sangat arogan dan sering men-bully orang lain sebelumnya.

Sekarang orang yang berkuasa ini tidak berdaya, makan, minum bahkan buang air pun harus dibantu. Sudah lumpuh, buta, dibilang tinggal tunggu hari pula. Saat itulah John merasakan betapa berharganya orang tuanya yang setia menemani dan membantunya melalui berbagai cobaan penyakitnya. Saat itulah ia mengakui bahwa orang tuanyalah pahlawan dalam hidupnya.

Suatu hari John merasa sudah ada pada tingkat terendahnya dan sangat ingin mati. Saat itu tiba-tiba ia ingat Tuhan dan meminta pada Tuhan. Dan tiba-tiba ia merasa yakin bahwa ia bisa sembuh.

Akhirnya John – seperti Milton Erickson – belajar banyak mengenai perilaku manusia dengan mendengar apa yang terjadi di sekitarnya. Kemudian John mulai belajar mengendalikan kekuatan pikiran, sambil terus mendekatkan diri pada Tuhan. Ia pun mulai kenal Anggota tubuhnya satu persatu dan mulai tahu bagaimana berkomunikasi dengan mereka. 

Pelan-pelan John membangun intuisi untuk sembuh (healing intuition). Ia mencapai berbagai kemajuan kecil dan merekamnya agar orang lain dapat belajar darinya, seseorang yang didakwa tak akan sembuh. Dokternya menghardiknya dan mengatakan bahwa John seharusnya menerima saja kondisi sakitnya, tak perlu bersusah payah seperti itu. Tapi John tidak mendengarkan hardikan dan omelan dokter tersebut. Ia terus berusaha.

Pada saat perlahan-lahan John bangkit, dokter itupun mengakui dan akhirnya menangis melihat kemajuan John yang pernah ia vonis “tidak akan sembuh” itu.

Sekarang John, yang tadinya lumpuh, buta dan dianggap tak akan sembuh oleh dokter,  sudah aktif lagi. John membantu banyak orang yang sakit dan didakwa “tinggal tunggu hari” dengan membimbing mereka lebih dekat kepada Tuhan. “Semua sumbernya Tuhan,” kata John. “Belajarlah membaca sinyal Tuhan untuk kita.”

Ini persis pelajaran self healing yang kita dalami selama ini. Sesungguhnya Tuhan sudah melengkapi kita semua dengan semua yang kita butuhkan untuk sembuh. Kenali semua itu satu persatu, dan bangun kemampuan untuk mendengar petunjukNya setiap hari. Sembuh itu “piece of cake” – sangat mudah – bagi Tuhan. Tapi Tuhan ingin kita berusaha, bekerja mengejar kesembuhan sambil mendekat padaNya supaya BISA mendengar petunjuk kesembuhan yang Tuhan berikan setiap hari.

Tuhan tidak akan memberikan kesembuhan begitu saja seperti tongkat magic Cinderella, minta sembuh, langsung dapat, tidak. Kita malas nantinya, Spiritual Laziness. Bukan itu yang Tuhan mau. Tuhan mau kita usaha keras atas dasar petunjukNya.

Usaha, ikhtiar, sambil mendekat terus pada Allah swt. Dengarkan petunjukNya, alam basyirah, karena Allah memberikan petunjuk mengenai berbagai keajaiban dalam keseharian kita. Bukan seperti tongkat ajaib Cinderella, tapi ada sehari-hari.

Marilah terus berusaha, terus bekerja, jangan pernah putus asa. Keberkahan ada pada ikhtiar, kerja keras tanpa putus asa. Itulah yang Allah tunggu dari kita untuk menjemput hadiah kesembuhan dariNya.

🌹🌹🌹

Tak ada yang mengalahkan cinta, tak ada yang mengalahkan doa.

  

 Seorang istri menceritakan kisah suaminya pada tahun 1415 H, ia berkata :
Suamiku adalah seorang pemuda yang gagah, semangat, rajin, tampan, berakhlak mulia, taat beragama, dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia menikahiku pada tahun 1390 H. Aku tinggal bersamanya (di kota Riyadh) di rumah ayahnya sebagaimana tradisi keluarga-keluarga Arab Saudi. Aku takjub dan kagum dengan baktinya kepada kedua orang tuanya. Aku bersyukur dan memuji Allah yang telah menganugerahkan kepadaku suamiku ini. Kamipun dikaruniai seorang putri setelah setahun pernikahan kami.
Lalu suamiku pindah kerjaan di daerah timur Arab Saudi. Sehingga ia berangkat kerja selama seminggu (di tempat kerjanya) dan pulang tinggal bersama kami seminggu. Hingga akhirnya setelah 3 tahun, dan putriku telah berusia 4 tahun… Pada suatu hari yaitu tanggal 9 Ramadhan tahun 1395 H tatkala ia dalam perjalanan dari kota kerjanya menuju rumah kami di Riyadh ia mengalami kecelakaan, mobilnya terbalik. Akibatnya ia dimasukkan ke Rumah Sakit, ia dalam keadaan koma. Setelah itu para dokter spesialis mengabarkan kepada kami bahwasanya ia mengalami kelumpuhan otak. 95 persen organ otaknya telah rusak. Kejadian ini sangatlah menyedihkan kami, terlebih lagi kedua orang tuanya lanjut usia. Dan semakin menambah kesedihanku adalah pertanyaan putri kami (Asmaa’) tentang ayahnya yang sangat ia rindukan kedatangannya. Ayahnya telah berjanji membelikan mainan yang disenanginya…Kami senantiasa bergantian menjenguknya di Rumah Sakit, dan ia tetap dalam kondisinya, tidak ada perubahan sama sekali. Setelah lima tahun berlalu, sebagian orang menyarankan kepadaku agar aku cerai darinya melalui pengadilan, karena suamiku telah mati otaknya, dan tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya. Yang berfatwa demikian sebagian syaikh -aku tidak ingat lagi nama mereka- yaitu bolehnya aku cerai dari suamiku jika memang benar otaknya telah mati. Akan tetapi aku menolaknya, benar-benar aku menolak anjuran tersebut.

Aku tidak akan cerai darinya selama ia masih ada di atas muka bumi ini. Ia dikuburkan sebagaimana mayat-mayat yang lain atau mereka membiarkannya tetap menjadi suamiku hingga Allah melakukan apa yang Allah kehendaki.

Akupun memfokuskan konsentrasiku untuk mentarbiyah putri kecilku. Aku memasukannya ke sekolah tahfiz al-Quran hingga akhirnya iapun menghafal al-Qur’an padahal umurnya kurang dari 10 tahun. Dan aku telah mengabarkannya tentang kondisi ayahnya yang sesungguhnya. Putriku terkadang menangis tatkala mengingat ayahnya, dan terkadang hanya diam membisu.

Putriku adalah seorang yang taat beragama, ia senantiasa sholat pada waktunya, ia sholat di penghujung malam padahal sejak umurnya belum 7 tahun. Aku memuji Allah yang telah memberi taufiq kepadaku dalam mentarbiyah putriku, demikian juga neneknya yang sangat sayang dan dekat dengannya, demikian juga kakeknya rahimahullah. 

Putriku pergi bersamaku untuk menjenguk ayahnya, ia meruqyah ayahnya, dan juga bersedekah untuk kesembuhan ayahnya. 

Pada suatu hari di tahun 1410 H, putriku berkata kepadaku : Ummi biarkanlah aku malam ini tidur bersama ayahku…

Setelah keraguan menyelimutiku akhirnya akupun mengizinkannya.

Putriku bercerita :

Aku duduk di samping ayah, aku membaca surat Al-Baqoroh hingga selesai. Lalu rasa kantukpun menguasaiku, akupun tertidur. Aku mendapati seakan-akan ada ketenangan dalam hatiku, akupun bangun dari tidurku lalu aku berwudhu dan sholat –sesuai yang Allah tetapkan untukku-.

Lalu sekali lagi akupun dikuasai oleh rasa kantuk, sedangkan aku masih di tempat sholatku. Seakan-akan ada seseorang yang berkata kepadaku, “Bangunlah…!!, bagaimana engkau tidur sementara Ar-Rohmaan (Allah) terjaga??, bagaimana engkau tidur sementara ini adalah waktu dikabulkannya doa, Allah tidak akan menolak doa seorang hamba di waktu ini??”

Akupun bangun…seakan-akan aku mengingat sesuatu yang terlupakan…lalu akupun mengangkat kedua tanganku (untuk berdoa), dan aku memandangi ayahku –sementara kedua mataku berlinang air mata-. Aku berkata dalam do’aku, “Yaa Robku, Yaa Hayyu (Yang Maha Hidup)…Yaa ‘Adziim (Yang Maha Agung).., Yaa Jabbaar (Yang Maha Kuasa)…, Yaa Kabiir (Yang Maha Besar)…, Yaa Mut’aal (Yang Maha Tinggi)…, Yaa Rohmaan (Yang Maha Pengasih)…, Yaa Rohiim (Yang Maha Penyayang)…, ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hambaMu, ia telah ditimpa penderitaan dan kami telah bersabar, kami Memuji Engkau…, kemi beriman dengan keputusan dan ketetapanMu baginya.

Ya Allah…, sesungguhnya ia berada dibawah kehendakMu dan kasih sayangMu.., Wahai Engkau yang telah menyembuhkan nabi Ayyub dari penderitaannya, dan telah mengembalikan nabi Musa kepada ibunya…Yang telah menyelamatkan Nabi Yuunus dari perut ikan paus, Engkau Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim…sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya.

Ya Allah…sesungguhnya mereka telah menyangka bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh…Ya Allah milikMu-lah kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya…”

Lalu rasa kantukpun menguasaiku, hingga akupun tertidur sebelum subuh.

Tiba-tiba ada suara lirih menyeru.., “Siapa engkau?, apa yang kau lakukan di sini?”. Akupun bangun karena suara tersebut, lalu aku menengok ke kanan dan ke kiri, namun aku tidak melihat seorangpun. Lalu aku kembali lagi melihat ke kanan dan ke kiri…, ternyata yang bersuara tersebut adalah ayahku.

Maka akupun tak kuasa menahan diriku, lalu akupun bangun dan memeluknya karena gembira dan bahagia…, sementara ayahku berusaha menjauhkan aku darinya dan beristighfar. Ia barkata, “Ittaqillah…(Takutlah engkau kepada Allah….), engkau tidak halal bagiku…!”. Maka aku berkata kepadanya, “Aku ini putrimu Asmaa'”. Maka ayahkupun terdiam. Lalu akupun keluar untuk segera mengabarkan para dokter. Merekapun segera datang, tatkala mereka melihat apa yang terjadi merekapun keheranan.

Salah seorang dokter Amerika berkata –dengan bahasa Arab yang tidak fasih- : “Subhaanallahu…”. Dokter yang lain dari Mesir berkata, “Maha suci Allah Yang telah menghidupkan kembali tulang belulang yang telah kering…”. Sementara ayahku tidak mengetahui apa yang telah terjadi, hingga akhirnya kami mengabarkan kepadanya. Iapun menangis…dan berkata, اللهُ خُيْرًا حًافِظًا وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِيْنَ Sungguh Allah adalah Penjaga Yang terbaik, dan Dialah yang Melindungi orang-orang sholeh…, demi Allah tidak ada yang kuingat sebelum kecelakaan kecuali sebelum terjadinya kecelakaan aku berniat untuk berhenti melaksanakan sholat dhuha, aku tidak tahu apakah aku jadi mengerjakan sholat duha atau tidak?

Sang istri berkata : Maka suamiku Abu Asmaa’ akhirnya kembali lagi bagi kami sebagaimana biasnya yang aku mengenalinya, sementara usianya hampir 46 tahun. Lalu setelah itu kamipun dianugerahi seorang putra, Alhamdulillah sekarang umurnya sudah mulai masuk tahun kedua. Maha suci Allah Yang telah mengembalikan suamiku setelah 15 tahun…, Yang telah menjaga putrinya…, Yang telah memberi taufiq kepadaku dan menganugerahkan keikhlasan bagiku hingga bisa menjadi istri yang baik bagi suamiku…meskipun ia dalam keadaan koma.
Maka janganlah sekali-kali kalian meninggalkan do’a…, sesungguhnya tidak ada yang menolak qodoo’ kecuali do’a…barang siapa yang menjaga syari’at Allah maka Allah akan menjaganya.

Jangan lupa juga untuk berbakti kepada kedua orang tua… dan hendaknya kita ingat bahwasanya di tangan Allah lah pengaturan segala sesuatu…di tanganNya lah segala taqdir, tidak ada seorangpun selainNya yang ikut mengatur.

Ini adalah kisahku sebagai ‘ibroh (pelajaran), semoga Allah menjadikan kisah ini bermanfaat bagi orang-orang yang merasa bahwa seluruh jalan telah tertutup, dan penderitaan telah menyelimutinya, sebab-sebab dan pintu-pintu keselamatan telah tertutup.

Maka ketuklah pintu langit dengan do’a, dan yakinlah dengan pengabulan Allah.

Kiriman Alya Jasmine, Lavender Ribbon Cancer Support Group

Bu Yuni yang fokus mempersiapkan panggilan Nya

Mb Indi ku sayang, trenyuh saya membaca tulisan mb Indi.Sama spt saya dulu, saat saya merasakan kesakitan amat sangat, saya tdk pernah memohon kesembuhan pada Allah, saya hanya mohon jangan Allah berikan rasa sakit ini pd anak2 lain dan semua yg aku cintai.

Sejak saat itu saya sll mempersiapkan diri utk se waktu2 Allah memanggil.

Sampai usia dewasa saya tdk pernah jatuh cinta, sangking asyiknya mencintai Allah dan mengerjakan apa yg disukai Allah dengan membantu anak2 kecil yg tdk punya tempat tinggal dan pendidikan.

Saya bersyukur banyak diberikan anak2 terlantar oleh Allah.

Keasyikan inilah yg membuat saya banyak kehilangan nasa rwnaja spt anak2 lain.

Tapi saya terlanjur menyukai keasyikan saya itu.

Saya yg masih remaja setiap hari memandikan 10 anaj2 kecil yg tdk punya ortu apa lg keluarga.

Menyiapkan makanan dan mengantar mrk sekolah , baru saya berangkat kuliah.

Saat saya lulus kliah diusia yg masih sangat muda, saya ditanya Mendikbud : Mau jadi apa nanti ?

Saya tdk punya cita2 lain selain menjadi ibu dg 100 anak.

Pak menteri kaget dan bertanya kamu tdk bercita2 menjadi hakim, pengacara atau jaksa.

Saya menggeleng dan mengatakan belum teikirkan.

Saya lulusan cumloud dan termuda dr 650 wisudawan.

Tp tdk mempunyai cita2 yg tinggi.

Waktu berkembang dan alhamdulillah sekarang saya dikaruniai 3 putera kandung, 3 menantu dan hampir 4 cucu serta ratusan anak asuh,,,

Dan yg tdk terduga dg sedekah tanpa memikirkan diri sendiri, saya dinyatakan sembuh, dan diusia 63th saya masih bisa menjadi ibu dr anak2 kecil yatim piatu yg lebih pantas menjadi cucu saya.

Hidup ini indah walau banyak ujian dari Allah, semua ujuan kita jalani dg Sumeleh dan Legowo.

Yakin bhw Sesungguhnya Allah tdk pernah menyakiti dan membuatku menderita.

Saya melihat wajah tulus bersih dr mbak Indira saat pagi2 datang kekediaman saya kemarin.

Di teras itu saya menahan airmata haru….

Ya Allah indahnya mahluk Allah satu ini, semoga Allah hadirkan banyak kemukzizatan spt yg pernah Allah turunkan pd hamba ….

Ya Allah hadirkan anak2 kecil terlantar yg akan mengisi kehidupannya shg menjadi amal jairiyah yg tak pernah putus….

Itu doa yg saya panjatkan utk mbak Indira dan keluarga.

Semoga Allah meng ijabahi.

Aamin Yra.