John Wong lahir dari sebuah keluarga miskin di Singapura. Ayahnya begitu miskin sehingga ibunya seringkali marah pada ayahnya di depan John. John pun tumbuh menjadi pribadi pemarah. Ia marah pada ibunya yang sering menghinanya, pada ayahnya yang miskin, dan pada dunia yang tidak bersahabat.

Kemiskinan dan kesulitan hidupnya menempanya menjadi seorang yang tough. Ia sangat pintar dan sangat arogan, karena ia lelah dihina oleh ibunya sendiri dan lelah merasa minder. 

Rupanya kemarahan dan gaya hidupnya yang mati-matian mengejar prestasi demi menjauhkan diri dari rasa minder dan kecil itu menekan sel-sel tubuhnya dan membuatnya sakit. Awalnya tak ia hiraukan, tapi lama-lama sakitnya makin parah.

Suatu hari John tiba-tiba lumpuh dari leher ke bawah, kehilangan semua urat syaraf nya, hanya bisa komunikasi dengan mata, dan tak lama ia pun buta.

Rumah sakit paling hebat di Singapura sudah menganjurkan ia pulang ke rumah karena tak ada yang bisa mengobati, tinggal “tunggu waktu.” Dokter tak ada yang tahu John sakit apa, dan tak punya ide harus menyembuhkan John dengan cara apa.

Tapi John tidak menyerah dan tidak demotivasi. Ia mengatakan lumpuh dan buta itu seperti teguran Tuhan karena ia sangat arogan dan sering men-bully orang lain sebelumnya.

Sekarang orang yang berkuasa ini tidak berdaya, makan, minum bahkan buang air pun harus dibantu. Sudah lumpuh, buta, dibilang tinggal tunggu hari pula. Saat itulah John merasakan betapa berharganya orang tuanya yang setia menemani dan membantunya melalui berbagai cobaan penyakitnya. Saat itulah ia mengakui bahwa orang tuanyalah pahlawan dalam hidupnya.

Suatu hari John merasa sudah ada pada tingkat terendahnya dan sangat ingin mati. Saat itu tiba-tiba ia ingat Tuhan dan meminta pada Tuhan. Dan tiba-tiba ia merasa yakin bahwa ia bisa sembuh.

Akhirnya John – seperti Milton Erickson – belajar banyak mengenai perilaku manusia dengan mendengar apa yang terjadi di sekitarnya. Kemudian John mulai belajar mengendalikan kekuatan pikiran, sambil terus mendekatkan diri pada Tuhan. Ia pun mulai kenal Anggota tubuhnya satu persatu dan mulai tahu bagaimana berkomunikasi dengan mereka. 

Pelan-pelan John membangun intuisi untuk sembuh (healing intuition). Ia mencapai berbagai kemajuan kecil dan merekamnya agar orang lain dapat belajar darinya, seseorang yang didakwa tak akan sembuh. Dokternya menghardiknya dan mengatakan bahwa John seharusnya menerima saja kondisi sakitnya, tak perlu bersusah payah seperti itu. Tapi John tidak mendengarkan hardikan dan omelan dokter tersebut. Ia terus berusaha.

Pada saat perlahan-lahan John bangkit, dokter itupun mengakui dan akhirnya menangis melihat kemajuan John yang pernah ia vonis “tidak akan sembuh” itu.

Sekarang John, yang tadinya lumpuh, buta dan dianggap tak akan sembuh oleh dokter,  sudah aktif lagi. John membantu banyak orang yang sakit dan didakwa “tinggal tunggu hari” dengan membimbing mereka lebih dekat kepada Tuhan. “Semua sumbernya Tuhan,” kata John. “Belajarlah membaca sinyal Tuhan untuk kita.”

Ini persis pelajaran self healing yang kita dalami selama ini. Sesungguhnya Tuhan sudah melengkapi kita semua dengan semua yang kita butuhkan untuk sembuh. Kenali semua itu satu persatu, dan bangun kemampuan untuk mendengar petunjukNya setiap hari. Sembuh itu “piece of cake” – sangat mudah – bagi Tuhan. Tapi Tuhan ingin kita berusaha, bekerja mengejar kesembuhan sambil mendekat padaNya supaya BISA mendengar petunjuk kesembuhan yang Tuhan berikan setiap hari.

Tuhan tidak akan memberikan kesembuhan begitu saja seperti tongkat magic Cinderella, minta sembuh, langsung dapat, tidak. Kita malas nantinya, Spiritual Laziness. Bukan itu yang Tuhan mau. Tuhan mau kita usaha keras atas dasar petunjukNya.

Usaha, ikhtiar, sambil mendekat terus pada Allah swt. Dengarkan petunjukNya, alam basyirah, karena Allah memberikan petunjuk mengenai berbagai keajaiban dalam keseharian kita. Bukan seperti tongkat ajaib Cinderella, tapi ada sehari-hari.

Marilah terus berusaha, terus bekerja, jangan pernah putus asa. Keberkahan ada pada ikhtiar, kerja keras tanpa putus asa. Itulah yang Allah tunggu dari kita untuk menjemput hadiah kesembuhan dariNya.

🌹🌹🌹

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s