Napas Syukur Usai Vonis Kematian

Nama saya Widiyani. Biasa dipanggil Titik. Pada Rabu sore saat Juni 2012, saya mendapati benjolan di payudara dan ketiak.

Saya pun langsung memeriksakan diri keesokan harinya. Saya langsung cek mamografi dan USG mamae. Pada saat saya menyerahkan hasil tersebut kepada dokter onkologi, alangkah terkejutnya saya. Dokter memarahi saya karena saya terlambat memeriksakan diri. Padahal, saya cek langsung tanpa menunda setelah menemukan benjolan.

Dokter ternyata langsung menjatuhkan vonis kanker stadium lanjut. Ia bahkan berkata, “Masih bagus jika usia kamu bertahan sampai Desember 2012.”

Aduh, saya bagaikan disambar petir saat itu! Dokter berkata begitu berdasarkan kondisi saya yang sudah sulit bernapas, tangan bengkak, ketiak bengkak. Padahal, saya tak menjalani biopsi sama sekali. Kenapa dokter bisa langsung memberikan vonis begitu tanpa konfirmasi biopsi? Ya, dengan caranya yang sangat melemahkan mental saya. Saya pun drop.

Dokter onkologi itu menyuruh saya langsung biopsi keesokan harinya di sebuah rumah sakit kanker terkenal.

“Kamu besok pagi bawa pengantar ini ya, ketemu teman saya minta biopsi,” ujarnya. “Saya praktik di rumah sakit itu hari Senin, kamu harus segera ke sana, kalau tunggu hari Senin kelamaan karena kamu uber-uberan sama waktu!”

Aduh horor banget ya?

Saya langsung merasa mendapat penyakit berat dan vonis mati. Hal ini menjadi beban mental sangat mendalam.

Sampai rumah saya berembuk dengan suami dan keluarga apakah saya harus biopsi atau tidak. Saya trauma dengan dokter karena perkataan dokter yang menurut saya tidak baik penyampaiannya. Daripada beban mental saya makin berat saya memutuskan tidak biopsi. Paling ujung-ujungnya nanti kemo.

Kemo adalah hal menakutkan buat saya. Tante saya juga kesehatannya menurun drastis setelah kemo, dan akhirnya meninggal. Jadi, murni medis dari awal pun akhirnya tak tertolong.

Saat itu saya hanya mau berobat herbal. Kondisi saya makin memburuk. Berat badan turun drastis, napas ngos-ngosan, tangan bengkak. Saya sudah tak bisa melakukan aktivitas lagi seperti biasa. Saya hanya terlentang di tempat tidur.

Setiap hari saya menangis kesakitan. Saya hanya bisa tidur kalau sudah kelelahan. Suami dan keluarga mulai khawatir. Mereka tetap membujuk saya untuk berobat secara medis melihat kondisi saya yang semakin drop. Saya tetap menolak.

Dalam kondisi seperti itu, saya mendapat telepon dari kakak di Semarang. Kakak menginformasikan bahwa temannya dua orang dosen kanker kolon dan kanker prostat berhasil membaik setelah berobat ke klinik Dr. Warsito. Beberapa saat kemudian, suami berhasil meyakinkan saya bahwa Dr. Warsito bukanlah seorang dokter medis. Saya pun merasa tenang sehingga bisa menerima usul kakak saya untuk pergi ke klinik Dr. Warsito.

Pada November 2013 saya mulai pergi berkonsultasi ke Pak Warsito. Pak Warsito berhasil menenangkan saya yang saat itu panik luar biasa.

“Kita coba pakai ini ya, Bu,” katanya sangat tenang dan menenangkan.

Luar biasa! Setelah saya pakai alat listrik ECCT temuan Pak War selama dua minggu, alhamdulillah saya sudah bisa beraktivitas kembali seperti biasa. Bahkan saat itu saya bisa mengendarai motor sendiri.

Setelah sekian lama menggunakan ECCT, aktivitas sel saya pun menurun. Berdasarkan hasil scan ECVT Pak War, saya dinyatakan sudah bisa menjalani operasi.

Pada Juni 2014 saya pun dioperasi. Operasi pun alhamdulillah berjalan lancar.

Selain mengatasi CA mamae, saya juga menggunakan ECCT untuk mengatasi tumor parotis. Ada benjolan tumor parotis yang awalnya hanya sejempol orang dewasa. Waktu benjolan berukuran sebesar jempol saya sudah berniat operasi. Tapi akhirnya saya batal operasi setelah mendapat statement dari tiga dokter bedah rumah sakit besar yang menyatakan bahwa operasi tersebut risikonya besar karena letak benjolan tersebut di bawah kuping kanan.

Menurut para dokter, benjolan tersebut lengket dengan saraf-saraf penting. Waktu itu mereka menggambarkan risikonya antara lain bisa tuli, mata juling, pipi tertarik ke atas, dan paling fatal jika terkena saraf motorik, katanya, saya bisa lumpuh sebagian badan. Maka saya pun tak mau operasi dan berkembanglah benjolan itu sampai sebesar telur bebek.

Benjolan pun saat itu sudah mulai mengganggu karena menghambat gerak saya sehingga saya susah menengok kanan kiri, kesakitan dan meradang.

Saya pun menceritakannya ke Pak War, dan beliau mengatakan, “Insya Allah kita pakai alat ini dan tumor bisa lepas dari saraf-saraf ini ya, Bu. Kita berdoa semoga bisa.”

Saat itu benjolan digerakkan pun tidak bisa. Duh rasanya saat itu saya lega sekali. Dibuatkanlah alat oleh Pak War untuk leher.

Enam bulan kemudian, setelah ECCT leher saya gunakan, tumor pun sudah bisa digerak-gerakkan. Dan setelah dipindai dengan ECVT, hasilnya menunjukkan tumor tersebut sudah layak operasi.

Pada Desember 2014 saya mendatangi rumah sakit yang mengoperasi CA mamae saya. Seorang dokter onkologi terkenal yang memeriksa saya bilang, “Wah ini susah, sudah lengket begini.”

Saat itu saya seperti berhenti bernapas karena sedih.

Akhirnya saya mengunjungi Pak War lagi, dan menceritakan semua yang terjadi pada beliau.

“Bu, kita berdoa sama-sama ya supaya semua baik-baik saja dan insya Allah ini sudah lepas tidak lengket lagi,” respons Pak War.

Setelah diyakinkan Pak War saya mantap operasi. Apa yang terjadi? Menjelang sepuluh menit sebelum dibawa ke ruang operasi saya didatangi asisten dokter yang menjelaskan risiko-risiko yang akan dihadapi karena letak tumor sangat sulit. Ia berkata, dokter mengusahakan sebaik-baiknya namun demikian jika terjadi risiko-risiko persis seperti yang disebutkan tiga dokter sebelumnya, itu bukan malapraktik.

Aduh, rasanya ingin sekali saya membatalkan operasi saat itu. Tapi tetap saya memutuskan operasi dengan meyakinkan diri saya bahwa insya Allah semua baik-baik saja seperti yang dikatakan Pak Warsito.

Alhamdulillah, operasi berjalan lancar dan sampai sekarang tidak ada masalah dengan leher saya.

Terima kasih untuk Pak Warsito yang telah membantu saya, baik moril maupun material. Walaupun Pak War sibuk sekali, beliau tetap mau mendengarkan keluh kesah saya sampai saya merasa happy dan tenang. Beliau juga membantu secara material karena jika saya tidak mampu membeli alatnya, beliau sering sekali memberikan secara cuma-cuma.

Tidak hanya saya seorang, teman-teman saya sudah banyak yang tertolong oleh alat Pak War ini. Saya sedih sekali ketika saya mendengar bahwa alat Pak War dan klinik beliau mau ditutup. Saya mohon kepada Kemenkes dan Balitbangkes agar mempertimbangkan keputusan itu baik-baik dengan memerhatikan kepentingan kami, pasien-pasien yang amat sangat terbantu dengan alat ini.

Kami penderita kanker butuh pilihan-pilihan pengobatan. Alat Pak War ini masih sangat terjangkau bagi kami, dan kami merasa sangat nyaman menggunakannya.

Alangkah baiknya jika penelitian Pak War ini tetap dilanjutkan dengan bahu membahu antara para onkolog dan para peneliti. Jangan sampai malah temuan Pak Warsito dihujat karena kekurangannya.

Yuk, bantu Pak War mengembangkan riset ini untuk negeri tercinta Indonesia!

Sekali lagi, terima kasih Pak Warsito. Bapak telah membantu saya, baik moril maupun material. Terima kasih untuk karyawan-karyawan EdwarTech yang dengan senyum ramahnya selalu menyapa kami. Banyak terima kasih untuk tim konsultan Fisika Medik yang dengan sabar menerangkan tentang kondisi saya. Dan terima kasih untuk Lavender Ribbon Cancer Support Group atas dukungan dan pembelajaran yang indah sekali dalam menjalani hidup bersama sel cantik kanker.

Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.[]

Diceritakan kepada dan ditulis oleh: Indira Abidin

*Seluruh kisah dalam website ini adalah kisah nyata dan ditulis berdasarkan hasil wawancara.

3 thoughts on “Nafas Syukur Usai Vonis Kematian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s