Pegawai Puskesmas Itu Kembali Beraktivitas Normal

Sebuah tempat yang amat masyhur dengan olahan susu di Jawa Barat ini menyimpan berjuta kenangan. Tentang perjuangan, tetes peluh, jejak usaha, tangis, serta tetes darah. Semua tersimpan rapi di dalam peti kehidupan dua tahun silam yang sesekali bisa dibuka untuk menjadi pecut hati. Betapa Tuhan telah melimpahkan berjuta nikmat kepada Bu Ayi Suryati (48 tahun) saat ini, setelah sebelumnya ia berada di alur perjuangan yang menguras miliaran peluh dan ratusan juta tetesan darah dari tubuhnya.

Udara Pangalengan yang begitu sejuk masih terasa merasuk ke sela-sela tulang rusuk. Seperti biasa, ibu 46 tahun itu sudah disibukkan dengan aktivitas sebagai tenaga kesehatan di Puskesmas Pangalengan. Pukul delapan, jika tugas pagi, Bu Ayi sudah siaga untuk melayani pasien. Sedangkan sang suami bekerja di sebuah perkebunan. Anak pertama telah lulus sebagai sarjana, dan telah memiliki keluarga kecil. Sementara anak yang terakhir (anak kedua) sedang menempuh pendidikan tinggi jurusan Kedokteran di Universitas Padjadjaran Bandung.

Pada awalnya, hari-hari dijalani Bu Ayi dengan sangat lancar. Kesibukan sebagai tenaga kesehatan terkadang membuatnya terlalu fokus sehingga ia kurang memerhatikan tubuhnya. Kesakitan sedikit-sedikit tidak terlalu ia rasa. Hingga tibalah pada 2012, rasa sakit di ketiak kanannya sudah tidak bisa lagi ditahan. Sungguh, sakit sekali! Barulah ia memeriksakan ke dokter. Berharap rasa sakit itu hanyalah efek kecapekan biasa.

Ternyata, di ketiak kanannya terdapat benjolan. Benjolan itulah yang membuat rasa sakit yang diderita Bu Ayi semakin hebat. Sebagai tenaga medis yang mengerti akan kesehatan, Bu Ayi segera melakukan USG di rumah sakit yang berlokasi di Bandung. Setelah mendapatkan hasil USG, keesokan harinya ia dirujuk ke dokter bedah di rumah sakit yang berbeda di Bandung.

Bu Ayi pun mengurus segala keperluan untuk pemeriksaan di rumah sakit dengan sigap. Ia masih ingat, hari itu adalah hari Jumat, ia harus segera dibiopsi karena benjolan pada ketiak kanannya sudah besar. Sebelum melangsungkan biopsi, Bu Ayi dianjurkan untuk berpuasa. Singkat cerita, biopsi pada hari Jumat itu pun selesai. Ia kaget setelah sadar dari pembiusan. Tidak dipasang selang infus dan oksigen sama sekali pada tubuhnya. Maka dari itu, ia merasa sangat mual dan ingin sekali muntah. Barulah pukul dua siang, infus terpasang. Hal ini dirasa cukup membuat keadaan lebih baik. Alhasil, karena keadaan yang belum fit membuat Bu Ayi harus dirawat di rumah sakit tersebut untuk beberapa hari.

Sebuah kenyataan pahit mau tidak mau harus ia dengar. Sebenarnya, ingin ia menutup telinga rapat-rapat seperti saat gelegar petir menghantam Bumi. Sayang, telinganya tak sudi untuk tuli dari keadaan. Bu Ayi harus tahu bahwa ternyata ia menderita kanker stadium II di bagian ketiak dan telah menjalar ke sekitar payudara. Kenyataan itu adalah hal terburuk yang pernah ia tahu di dunia.

Empat hari lamanya Bu Ayi menjalani perawatan di rumah sakit setelah biopsi. Sampai di rumah, Bu Ayi tidak merasakan hal yang lebih baik. Tubuhnya yang mendera luka akibat biopsi menimbulkan bau, dan Bu Ayi merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Ia ingin segera mengganti pembalut lukanya, namun putri sulungnya melarang karena belum saatnya untuk mengganti balutan. Kata dokter, balutan boleh diganti apabila telah sampai tiga hari. Bu Ayi tetap bersikukuh, balutan lukanya harus diganti, anak sulungnya pun akhirnya menurut.

Anak sulungnya, yang akrab dipanggil “Teteh”, itulah yang selalu menemani dan merawat Bu Ayi pada saat sakit. Suaminya pun selalu mendukung di sela-sela kesibukan pekerjaannya. Keluarga memiliki arti yang sangat besar dalam menjalani hari-hari penuh cobaan. Ia memahami bahwa cobaan datang dari Allah agar hamba-Nya menaiki derajat yang lebih tinggi dan tentunya untuk meraih kualitas keimanan yang lebih baik.

Saat balutan luka itu diganti, darah segar pun mengalir deras. Semakin lama, darah tiada surut, bahkan mengalir semakin deras. Bu Ayi lemas. Ia segera dilarikan ke rumah sakit. Beberapa kali diinjeksi, darah belum surut pula. Bu Ayi pun kembali diopname kemudian menjalani operasi oleh dokter bedah tumor guna memperingan pendarahan yang dialami.

Tiba saatnya Bu Ayi harus pulang dari rumah sakit, padahal sebenarnya darah segar yang mengalir dari bekas luka itu belum surut secara signifikan. Sampai sebulan, darah segar itu selalu saja keluar banyak meski tidak terlalu deras seperti yang keluar pertama kali. Panik dan khawatir tentunya dirasakan oleh Bu Ayi, juga oleh keluarganya. Sang suami turut mencari pengobatan terbaik untuk istrinya selain operasi.

Pada Januari 2013, berkat informasi dari rekan kerja suami Bu Ayi di perkebunan yaitu Bu Hendra, ia memberi tahu bahwa di Tangerang ada sebuah klinik khusus yang menangani pengobatan kanker dengan menggunakan listrik statis. Klinik tersebut ialah C-Care Riset Kanker, Edwar Technology, yang dikembangkan oleh Dr. Warsito P. Taruno, M.Eng.

“Awal tahun 2013 adalah saat saya berada pada titik terendah. Saya sudah sangat lemah. Pendarahan yang belum kunjung sembuh membuat saya lemas, putus asa, dan selalu menangis setiap hari,” kisah Bu Ayi.

Belum lagi dokter-dokter yang sebelumnya memeriksanya merasa tidak percaya dengan berbagai pengobatan-pengobatan alternatif. Dokter-dokter masih kuat dengan pendiriannya, “Bu Ayi harus operasi kalau mau sembuh, jangan ke klinik-klinik pengobatan alternatif!”

Saran dari teman suaminya bak bertepuk sebelah tangan jika tanpa dukungan dokter yang memeriksa ia sebelumnya. Bu Ayi sedikit ragu, entah mau menyambangi klinik di Tangerang itu atau tidak. Ia masih gamang.

Sang suami dan anak-anaklah yang terus memberinya dukungan agar bisa sembuh. Dengan keadaan yang sangat lemah, Bu Ayi didampingi keluarganya akhirnya berobat ke kawasan Alam Sutera, Tangerang. Ia diberikan alat ECCT untuk dipakai delapan jam sehari pada masa awal-awal pengobatan. Atas izin Allah, kesabaran Bu Ayi, dan dukungan dari keluarga, sebulan setelah pemakaian, pendarahannya surut dan luka sisa operasi sepanjang dua sentimeter yang dulunya menganga kini mulai rapat. Hal tersebut merupakan anugerah yang sangat baik. Bu Ayi tidak lupa untuk selalu kontrol sebulan sekali demi menjaga kesehatannya.

Hari demi hari dilewatinya dengan keadaan semakin bugar. Halangan semasa pengobatan pun pernah terjadi. Ketika Jakarta dilanda banjir besar, Bu Ayi sempat tidak kontrol selama lima bulan dan alat yang dipakainya pun sempat rusak. Setelah keadaan memungkinkan, Bu Ayi kembali kontrol dan diberikan alat baru. Kini, Bu Ayi memakai dua alat yang dipasang di tubuh dan ketiak. Terakhir ia memeriksa keadaan tubuhnya adalah pada Agustus 2015. Berkat perjuangannya melawan rasa keputusasaan dan dukungan penuh cinta dari keluarganya, Allah pun berkehendak untuk mengubah semuanya 180 derajat, Bu Ayi dinyatakan “bersih” dari kanker. Ucap syukur terus terlantun dari lisannya saat mendengar berita baik itu.

Sekarang, Bu Ayi kembali rutin menjalani aktivitas sehari-hari dengan lancar, baik bekerja ke puskesmas, menjalani aktivitas rumah tangga, maupun berolahraga tenis dan senam. Demi menjaga kebugaran, ia masih rutin mengenakan alat enam jam sehari. Biasanya ia memakai seusai shalat subuh, sehabis kerja, dan sebelum tidur. Ia tidak mengalami kendala selama pemakaian alat.

“Enak dipakai kok alatnya, apalagi di Pangalengan mah dingin, hehe, jadi kalau memakai alat pas kerja teh terasa hangat,” tutur Bu Ayi girang.

Bu Ayi pun masih rutin memeriksakan dirinya ke klinik dua atau tiga bulan sekali. Makanan pun sangat dijaga. Ia tidak memakan udang dan daging-daging hewani meski sebenarnya ia masih bisa mengonsumsi daging ayam kampung kalau mau. Bu Ayi lebih memilih menjadi vegetarian untuk meminimalkan risiko kanker muncul kembali. Buah dan sayuran favoritnya ialah apel, jeruk, mangga, dan wortel.

Pelajaran penting dari perjuangan Bu Ayi dan keluarga adalah ubahlah semua hal yang menyedihkan dengan cinta. Cinta yang tumbuh dan tertanam dalam diri sendiri juga cinta yang bersemi dari keluarga dan orang-orang terdekat. Bu Ayi mengungkap bahwa semua orang bisa sembuh.

“Semua penyakit pasti ada obatnya. Jangan merasa sendiri karena di luar sana banyak orang juga yang menderita kanker. Pokoknya terus semangat, usaha, dan doa. Juga cinta keluarga yang memotivasi saya agar bisa mengubah sakit menjadi sehat kembali.” []

Diceritakan kepada dan ditulis oleh: relawan Pejuang Kanker

*Seluruh kisah dalam website ini adalah kisah nyata dan ditulis berdasarkan hasil wawancara.

Sumber: Pegawai Puskesmas Pengalengan ini Melawan Kanker dengan ECCT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s