Kedisiplinan dan Rahasia Sembuh dari Kanker

Bambang Sumantoro (68 tahun) berdomisili di Jakarta Barat. Ia memiliki istri yang sangat setia dan tiga orang anak yang sudah berkeluarga. Sebelum pensiun, Pak Bambang bekerja sebagai karyawan di sebuah bank. Saat ini, Pak Bambang menikmati masa pensiun bersama keluarganya dengan tenang di Jakarta.

Pak Bambang selalu meluangkan waktu untuk melatih fisiknya. “Dulu, sebelum terjangkit kanker, setiap selesai salat Subuh saya selalu lari pagi,” ungkapnya. Beliau sangat rutin berolah raga. Asupan makanan pun selalu ia jaga. Beliau ingin memiliki tubuh yang sehat dan prima, seperti harapan kebanyakan orang pada umumnya.

Akhir Januari 2011, saat itu hari sudah malam. Pak Bambang merasa tidak enak badan. Salah satu anaknya berinisiatif untuk memeriksa tekanan darah Pak Bambang. Saat mengetahui hasil tensi, ia tercengang. Tekanan darah Pak Bambang melonjak tinggi, mencapai 200/120. Seketika, Pak Bambang pun mengonsumsi obat penurun tekanan darah.

Seiring berjalannya waktu, ada rasa sakit yang tidak biasanya di bagian punggung. Ternyata, di punggungnya terdapat benjolan. Beliau tidak menganggap remeh penyakitnya sehingga kemudian beliau segera memeriksakan diri ke sebuah rumah sakit di Jakarta. Pak Bambang pun dirujuk ke ahli bedah kemudian menjalani biopsi.

Setelah biopsi, Pak Bambang menjalani pemeriksaan di rumah sakit yang berbeda. Dari hasil onkologi di rumah sakit tersebut, ternyata Pak Bambang positif menderita Limfoma Non-Hodgkin (LNH), yaitu sebuah penyakit yang lumrah dikenal sebagai kanker kelenjar getah bening. Penyebab penyakit ini memang belum diketahui secara pasti. Pak Bambang menerima ketetapan Tuhan itu dengan lapang. Ada sebuah ungkapan Arab, “Al insaanu bi tadbiir wallaahu bitaqdiir, manusia hanya bisa berencana dan Allahlah yang menentukan.” Olah raga rutin dan selektif terhadap makanan adalah bagian dari usaha Pak Bambang guna menghindari berbagai penyakit. Namun, tidak ada yang bisa menolak saat Tuhan memberikan penyakit secara tiba-tiba. Takdir Tuhan memang tidak bisa diterka.

Dokter yang memeriksa Pak Bambang menyarankan agar segera dilakukan kemoterapi. Setelah dipertimbangkan, Pak Bambang pun menjalani kemoterapi. Jarak antara kemoterapi satu ke kemoterapi lainnya ialah 3 minggu. Pak Bambang menjalani kemoterapi sebanyak 6 kali. Selain itu, Pak Bambang pun mengonsumsi obat mabhtera guna mempercepat pembunuhan sel-sel kanker yang diidapnya. Pada kemoterapi kelima, kondisi Pak Bambang kritis. “Saya drop pada kemoterapi kelima,” tuturnya. Dengan sabar dan dengan dukungan dari keluarga terutama istrinya, Pak Bambang pun berhasil melewati masa kritis di kemoterapi kelima hingga dapat menyelesaikan kemoterapi keenamnya.

Selesai kemoterapi, Pak Bambang melakukan pemeriksaan kembali. Harapan besarnya, sel-sel kanker itu bisa berkurang drastis. Akan tetapi, ternyata beliau masih belum dinyatakan sembuh. Justru sel-sel kankernya menjalar sampai ke dada sehingga menimbulkan warna merah di dadanya. Dokter menyarankan untuk operasi karena ini masalah yang cukup serius, namun Pak Bambang menolak. Ia sama sekali tidak ingin menempuh jalan operasi selama masih ada pilihan lain. Operasi terlalu beresiko tinggi.

Menghindari operasi, Pak Bambang pun memilih untuk menjalani proses penyinaran. Tidak tanggung-tanggung, dalam sehari Pak Bambang menjalani 20 kali penyinaran. Sebelum memilih proses penyinaran ini, anak Pak Bambang telah menyarankan untuk berkonsultasi ke C-Care Klinik Riset Kanker, Edwar Technology, yang dahulu berlokasi di Modernland, namun Pak Bambang masih menimbang keputusan itu.

Setelah menjalani proses penyinaran, belum ada dampak posistif signifikan yang dirasakan Pak Bambang. Radiasi dari proses penyinaran membuat persendian menjadi agak kaku. Akhirnya, Pak Bambang pun menuruti saran anaknya untuk menjalani terapi dengan Dr. Warsito pada Oktober 2011. Setelah melalui pemeriksaan tim fisika medis, Pak Bambang diberikan tiga buah alat. Alat untuk dipakai di leher, rompi, dan selimut. Selama 8 jam sehari alat itu dipakai secara rutin. Setiap minggu pula Pak Bambang menjalani check up dan scanning. Pak Bambang menjalani proses pemakaian alat ini dengan disiplin dan sabar. Tidak ada keluhan sama sekali selama pemakaian alat.

Apa yang dianjurkan tim fisika medis selalu Pak Bambang laksanakan. Selain memakai alat secara rutin, Pak Bambang pun menjaga pola makan. Dr. Warsito menganjurkannya untuk meminum bekatul, memakan ikan gabus atau ikan laut dalam, dan minum susu. Dengan penuh kedisiplinan Pak Bambang menjalani semuanya. Istrinya pun membantu dengan selalu menyediakan makanan-makanan pilihan untuknya.

Tuhan memang selalu adil. Kesabaran, kedisiplinan, dan keikhlasan Pak Bambang dalam menerima takdir dan menjalani proses penyembuhan akhirnya berbuah hasil yang baik. Dari bulan ke bulan, aktivitas sel kankernya menurun. Pada September 2014 hasil scanning menunjukkan bahwa masih ada sedikit sisa-sisa sel kanker di tubuhnya. Pada Oktober 2014 kabar baik pun menyambut. Pak Bambang dinyatakan bersih dari sel kanker. Anugerah yang sangat indah itu datang setelah menjalani rangkaian proses yang panjang dan penuh dengan perjuangan.

Setelah dinyatakan sembuh, Pak Bambang tidak melepas alat begitu saja. Ia masih menjalani kontrol secara rutin selama tiga bulan sekali. Alat terapi yang dipakai di leher dan rompi pun diganti menjadi alat yang lebih sederhana atas saran tim fisika medis. Demi menjaga kesehatan, alat terapinya masih rutin dipakai namun intensitas pemakaiannya berkurang. Saat ini, Pak Bambang hanya menggunakan alat selama 6 jam saja.

Banyak faktor yang mendongkrak semangat Pak Bambang untuk bisa sembuh dari kanker. Keluarga, terutama istri dan anak-anaknya, sangat memberi dukungan dan perhatian kepada Pak Bambang. Beliau sangat bersyukur mempunyai istri yang sabar merawatnya siang dan malam, tidak kenal lelah, dan selalu memberi semangat setiap saat. Keluarga adalah bahan bakar utama dalam menjalani titian kehidupan.

Saat ini, Pak Bambang menjalani hari-harinya dengan semakin baik. “Dulu, saya menjadi pelopor untuk olah raga tiap hari, kalau sekarang olah raganya harus dibatasi. Tidak seperti dulu.” Ungkap Pak Bambang. Memang, aktivitas fisiknya mengalami penurunan. Persendiannya terasa kaku dan anggota geraknya sering mengalami kesemutan akibat penyinaran yang dahulu pernah ia alami. Keadaan fisiknya saat ini sangat ia syukuri meski tidak sesempurna dahulu.

Istrinya selalu memerhatikan asupan makanan bagi Pak Bambang. Selain masih rutin memakai alat dan check up, obat-obatan herbal pun sesekali ia konsumsi guna menjaga stamina tubuh. Obat-obatan herbal yang dikonsumsi tidak berbentuk instan, melainkan diolah secara langsung oleh istrinya. Seperti daun sirsak dan kulit manggis. Istrinya memetik sendiri daun sirsak kemudian direbus. Daun sirsak yang baik ialah yang dipetik dari pangkal tangkai pohon sirsak yang sudah berbuah. Sedangkan kulit manggis, setelah dipisahkan kemudian dijemur di tempat yang teduh, lalu direbus.

Pak Bambang ingin para pejuang kanker yang bernasib sama dengannya memiliki semangat untuk bisa sembuh. Ia bahkan sampai memfotokopi brosur C-Care Klinik Riset Kanker, Edwar Technology, lalu memberikannya kepada siapa saja yang membutuhkan. Menurut Pak Bambang, setiap orang yang terjangkit penyakit harus senantiasa berusaha dan berdoa semaksimal mungkin. Jangan pernah menganggap remeh suatu penyakit. Disiplin dalam menjalani saran tim medis adalah salah satu kunci keberhasilan pengobatan. Pak Bambang menuturkan cerita, ada seorang temannya yang terkena kanker usus dan menjalani terapi yang sama. Namun, karena temannya itu tidak disiplin dalam menghindari pantangan makanan, sel-sel kankernya terus berkembang. Ia masih suka mengonsumsi daging kambing, padahal bagi penderita kanker usus daging kambing adalah makanan yang dilarang. Alhasil, pengobatannya tidak berhasil. Teman Pak Bambang pun mengalami akhir cerita yang menyedihkan.

Pak Bambang merasa puas dengan pelayanan . Menurutnya, pelayanannya sudah bagus dan tertib karena sistem booking yang diterapkan. Harapannya, semoga C-Care Klinik Riset Kanker, Edwar Technology semakin terus berkembang dan memberikan yang terbaik bagi para pejuang kanker.

Diceritakan kepada dan ditulis oleh: relawan Pejuang Kanker

*Seluruh kisah dalam website ini adalah kisah nyata dan ditulis berdasarkan hasil wawancara.

Sumber: DISIPLIN MEMAKAI ALAT, BAMBANG SEMBUH DARI KANKER KELENJAR GETAH BENING

One thought on “Kedisiplinan dan Rahasia Sembuh dari Kanker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s