Screen Shot 2016-01-03 at 4.20.23 PM.png

Ninuk Wulandari: Kanker Otak. Ibu dua anak ini merasa sangat bersyukur karena Tuhan telah mempertemukannya dengan Dr. Warsito. Penyakit yang diidapnya berangsur-angsur tak lagi mengganggu kehidupannya. Sebut saja Ninuk, karyawati sebuah bank swasta di kawasan bisnis Senayan ini merasakan hal sebuah keajaiban dalam hidup. Ia berhasil melawan penyakitnya dalam waktu satu bulan. Akhir tahun 2012 adalah waktu yang tak dapat dilupakan oleh Ninuk. Ia yang sebelumnya jarang sakit, namun tiba-tiba dokter menyatakan bahwa Ninuk mengidap kanker di batang otaknya setelah mendapatkan gejala-gejala sakit kepala yang berlebihan. Awalnya dokter hanya mengira jika Ninuk terserang anemia, namun setelah dilakukan pemindaian menggunakan MRI, baru diketahui terdapat kanker di batang otaknya. Kanker di batang otak merupakan kanker yang sangat berbahaya. Tim dokter tidak berani mengambil kanker di batang otaknya karena takut akan mengakibatkan lumpuh hingga merenggut nyawa Ninuk.

Ninuk hanya mendapatkan pengobatan melalui obat-obatan yang diberikan oleh rumah sakit saja. Setelah dua pekan dirawat di rumah sakit, keadaannya tak kunjung membaik. Namun dokter mempersilakan Ninuk untuk dibawa pulang dan dirawat dengan asupan obat-obat kimia yang diberikan di rumah. Saat itu, tubuh Ninuk telah mengalami stroke ringan. Ia tak lagi bisa berjalan. Dokter berpesan agar Ninuk tidak boleh jatuh karena akan membahayakan kesehatannya.

Banyak terapi yang dilakukan oleh Ninuk. Ia terus didukung oleh keluarganya. Suami dan anak-anaknya selalu memberikan semangat kepadanya. Semangat hidup, hingga keadannya Ninuk semakin memburuk. Hasil MRI selanjutnya memperlihatkan jika kanker di batang otaknya semakin bembesar. Rasa sakit di kepala semakin menyiksa Ninuk. Ia harus kembali di rawat di rumah sakit.

Ada hal yang disembunyikan oleh suami Ninuk rupanya. Namun Ninuk tak mau bertanya kepada suaminya, hal apakah yang ia tidak ketahui tentang penyakitnya. Saat ia dirawat di rumahs akit untuk kedua kalinya ini, teman Ninuk yang menjenguk bercerita tentang terapi kanker yang tengah dikembangkan oleh Dr. Warsito. Seperti diberikan pencerahan oleh Tuhan, saat itu juga terdapat siaran di televisi rumah sakit mengenai alat terapi ini. Awalnya Ninuk memang sedikit ragu, namun di hari berikutnya di saluran TV yang berbeda, ia melihat lagi tayangan tentang alat terapi kanker di Tangerang itu.

Hari itu juga suami Ninuk meluncur menuju C-Care Klinik Riset Kanker Edwar Technology. Ia membawa berkas-berkas rekam medis Ninuk. Melalui telepon, kepala Ninuk kemudian diukur. Ninuk yang saat itu masih berada di rumah sakit kemudian dibuatkan alat terapi berbentuk helm yang didesain khusus sesuai dengan letak kanker otaknya. Hari itu juga suami Ninuk membawakan alat terapi ECCT kepada Ninuk, namun beliau berpesan kepada Ninuk agar tidak menggunakannya di rumah sakit.

Dua hari kemudian, keluarga Ninuk memilih untuk membawanya pulang. Saat itu kondisi Ninuk masih seperti sebelumnya, tak bisa berjalan dan motoriknya terganggu. Padahal akhir bulan itu, Januari 2013, Ninuk beserta keluarga telah merencanakan untuk berangkat umroh ke tanah suci. Beruntung, travel yang akan membawanya mau untuk mengundur hingga satu bulan. Hanya satu bulan kesempatan Ninuk untuk bisa berjalan lagi. Dengan doa yang kuat ia panjatkan, Ninuk kemudian memulai untuk menggunakan helm ECCT.

Hanya satu bulan waktu Ninuk. Ninuk yakin ia pasti bisa bangkit dari penyakit ini. Awal mula menggunakan helm ECCT ini, Ninuk merasakan mual dan produksi keringatnya bertambah. Efek ini memang biasa, yang menandakan jika terjadi peluruhan sel-sel kanker yang ada di otaknya. Setiap hari Ninuk menggunakan helm ini selama 16 jam terus menerus. Dalam waktu satu bulan, sakit di kepala Ninuk hilang. Ia bisa kembali berjalan meski masih dibantu dengan tongkal jalan. Namun ini adalah sebuah anugerah bagi Ninuk. Ninuk siap untuk melaksanakan umroh bersama keluarganya.

Akhir Februari 2013, Ninuk beserta suami dan ibunya akhirnya terbang ke tanah suci. Suami ninuk telah mempersiapkan kursi roda untuk Ninuk jika ia tak bisa berjalan ketika melakukan ibadah umroh. Ninuk membawa helm ECCT itu bersamanya. Memang Ninuk was-was jika helm ini akan disita ketika melakukan pengecekan di imigrasi, namun ternyata membawa ECCT tak menjadi masalah. Ninuk memakainya selama perjalanan penerbangan menuju Arab Saudi. Sambil doa panjang yang ia panjatkan kepada Tuhan untuk kesembuhannya.

Ninuk membawa helm ECCT dan memakainya di depan Ka’bah. Panjatan doa yang selalu ia ucapkan demi kesembuhan dirinya ia pun ucapkan di depan bangunan suci ummat Islam itu. Suami Ninuk yang tadinya ragu istrinya bisa berjalan selama umroh merasa terharu. Ninuk bisa berjalan sendiri, dan kursi roda yang telah ia bawa akhirnya digunakan oleh Ibunda Ninuk. Sungguh, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

12065736_1170795846281226_6534861479641311305_n

“Allah SWT telah menolong saya. Saya ingin penyakit ini hilang. Setidaknya, saya ingin melihat kelak saya mempunyai cucu dan bisa memberikan kasih sayang kepada mereka.”

***

Belakangan Ninuk mengetahui jika rahasia yang dijaga suaminya dulu adalah bahwa dokter telah memvonis Ninuk hanya bisa bertahan hidup selama enam bulan. Kanker di batang oraknya akan merengut nyawa Ninuk. Namun Ninuk bersyukur, kini dirinya telah bisa kembali hidup normal.

Dua tahun sudah sejak pertama kali Ninuk divonis mengidap kanker di batang otaknya. Tuhan telah memberikan hikmah dalam hidupnya. Ninuk masih menggunakan helm ECCT untuk menjaga kesehatan di kepalanya. Namun intensitasnya kini sudah bisa dikurangi menjadi tiga kali dalam satu pekan selama empat hingga lima jam.

Selain terapi ECCT, Ninuk juga mendapatkan kesembuhan karena semangatnya untuk berjuang. Kasih sayang yang telah diberikan oleh keluarga dan sahabat-sahabatnya menjadi motivasi terbesar untuk kembali berkarya. Ninuk bersyukur dan selalu berterima kasih kepada Tuhan karena masih diberikan umur untuk berbagi kebaikan. Tuhan telah mempertemukannya dengan Dr. Warsito. Ia beruntung bisa menjadi salah satu dari ribuan orang yang sembuh dari penyakit mematikan ini. (DWH)

Sumber: NINUK WULANDARI: TUHAN YANG MEMPERTEMUKAN SAYA DENGAN DR. WARSITO

*Seluruh kisah dalam website ini adalah kisah nyata dan ditulis berdasarkan hasil wawancara.

One thought on “Ninuk Wulandari: Tuhan Yang Mempertemukan Saya Dengan Dr. Warsito

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s