Demi Keyakinan Sembuh dari Kanker Langka

Ibu empat anak ini bernama Habibah. Tepatnya 64 tahun lalu, Bu Habibah terlahir ke dunia di Singapura. Ibunya wanita asli Singapura, sedangkan ayahnya dari Kalimantan. Meski memiliki orangtua dari negara berbeda, keluarga besar Bu Habibah banyak tinggal di Jawa Timur.

Bu Habibah menjalani masa muda dan masa dewasa awal di Kebon Jeruk, Jalan Raya Kelapa 2, Jakarta. Pada zaman Pak Harto, Bu Habibah sangat aktif di kegiatan PKK dan Posyandu. Memang, program PKK, Posyandu, dan KB sangat gencar dipromosikan pemerintahan Suharto sehingga Bu Habibah tertarik untuk ikut andil menyukseskan.

Bu Habibah memang senang bergaul dengan siapa saja, hingga ia pun berinisiatif membentuk kelompok arisan. Semula kelompok arisan ini hanya berjumlah sembilan orang. Semakin lama, jumlahnya semakin banyak dan bertahan hingga sekarang. Kas arisan yang diperolehnya digunakan bersama-sama untuk wisata keliling Indonesia. Kelompok arisan tersebut memang memiliki hobi yang sama: jalan-jalan.

Tergabung dengan komunitas sosial, mengabdi kepada masyarakat, berbisnis, menambah teman baru, berkeliling ke tempat-tempat baru adalah segudang aktivitas yang sangat disukai Bu Habibah. Pada 1992, Bu Habibah beserta keluarga memutuskan untuk pindah dari Jakarta ke Pasuruan dengan alasan ingin lebih dekat bersama keluarga besar. Sebenarnya, hal itu adalah pilihan yang berat, namun apa daya, keinginannya untuk bersama-sama keluarga besar lebih kuat sehingga bisa mengalahkan rasa ingin bersama dengan relasi yang telah Bu Habibah bangun bertahun-tahun lamanya di Kota Metropolitan.

Keempat anaknya sudah menikah dan tersebar di Jember (anak pertama), Tangerang (anak kedua), dan Surabaya (anak ketiga dan keempat). Bu Habibah pun sekarang telah memiliki 13 cucu. Pada Februari 2005, suami yang sangat ia cintai menghadap Sang Maha Pencipta terlebih dahulu. Hal ini memberi torehan yang sangat perih di hati Bu Habibah. Ia pun hidup sendiri di Pasuruan, tanpa pembantu. Ia ingin hidup mandiri tanpa mau merepotkan siapa pun pada usia senja. Meski sebenarnya anak-anaknya mengajak untuk tinggal bersama, permintaan mereka pun ia tolak halus. Ia lebih senang hidup sendiri karena itu lebih membuatnya dekat dengan Allah.

Setiap hari ia sempatkan untuk shalat di mushala dekat rumah, tepatnya di Jalan Wetan Alun No. 379, RT 02, RW 03, Kelurahan Kersita, Kecamatan Bangil, Pasuruan. Ia pun aktif di komunitas mushala. Selain itu, hari-harinya diisi dengan kegiatan rumah tangga juga silaturahim dengan sanak saudara atau teman sejawat. Aktivitas sosial yang sangat padat, belum lagi memantau bisnis bordir yang ia kelola, membuat Bu Habibah kurang memerhatikan kondisi fisiknya. Ia tidak mengetahui tepatnya kapan, kala itu payudaranya mulai terasa sakit. Ah, Bu Habibah merasa bahwa itu sakit yang biasa dan tidak usah dipikirkan. Namun, lama kelamaan puting payudaranya mengeras dan semakin sakit.

Sempat ia berpikir: apakah ini kanker? Namun, segera saja ia tepis jauh-jauh pikiran ini. Yang ia tahu bahwa kanker payudara tidaklah seperti yang dialaminya sekarang. Beberapa waktu lalu, ia sempat menemani saudaranya yang mengidap kanker payudara untuk kemoterapi ke salah satu rumah sakit di Malang. Sungguh memang beda benar kenampakan payudara saudaranya dengan payudaranya.

WAKTU TERUS BERGULIR. Bu Habibah mulai resah. Tanpa sepengetahuan anak-anaknya, ia pergi berobat ke sebuah klinik. Puting payudaranya sudah mulai luka dan bengkak, rasa sakitnya pun sangat menusuk-nusuk dan hebat. Dokter yang memeriksanya memberi segala macam obat-obatan kimia tanpa memberi tahu jenis penyakit yang diderita Bu Habibah. Setelah mengonsumsi obat, tidak ada perubahan yang berarti. Ia rasa ia terkena malapraktik dokter dan nalurinya mengatakan kalau dokternya memang kurang profesional.

Pada awal 2012, Bu Habibah berobat lagi ke tempat lain. Katanya, payudaranya hanya infeksi. Mengetahui hal ini, Bu Habibah menggunakan salep dengan harapan rasa sakitnya mereda. Semakin lama, batinnya bertanya, “Kenapa ya kok bagian dalam payudaranya keras?” Ternyata sama saja, salep tidak meredakan sama sekali, justru bengkak dan lukanya semakin melebar. Segala macam obat yang diberikan dokter sebelumnya pun kembali dikonsumsi. Alhasil, semakin parah. Kaki Bu Habibah susah digerakkan sehingga ia susah berjalan. Gula darah naik, dan darah tinggi pun memperburuk keadaan.

Bu Habibah telah lemah dan fisiknya seolah tak berdaya. Anaknya yang tinggal di Surabaya segera bertindak dengan membawa Bu Habibah ke sebuah rumah sakit di Surabaya. Bu Habibah pun diperiksa dengan telaten oleh dokter rumah sakit. Meski agak segan, Bu Habibah pun memberi tahu keadaan payudaranya yang tidak normal. Setelah melihat kondisi payudaranya, tenaga medis rumah sakit angkat tangan. Dirujuklah Bu Habibah ke sebuah rumah sakit onkologi yang terletak di Jalan Galaksi, Surabaya. Selama tiga bulan Bu Habibah ditangani di sini. Pemeriksaan awal berlangsung dari jam dua siang hingga delapan malam, di-USG lalu dibiopsi. Hasil yang diperoleh pun sangat mengejutkan. Bu Habibah positif terkena kanker payudara stadium IV, dan kanker yang dideritanya ini adalah jenis kanker langka dan aneh. Lama-lama puting payudaranya habis dan kulit di sekitar payudara melepuh.

Sungguh, kenyataan itu sangat membuat kesedihan, apalagi saat dokter menyatakan jenis kankernya langka. Pantas saja, kankernya berbeda dengan yang diderita oleh saudaranya dulu. Ternyata ini langka. Dokter menyarankan agar Bu Habibah segera menjalani proses kemoterapi. Bu Habibah tidak mau nasibnya sama seperti saudaranya yang merasa payah dengan proses kemo. Ia tidak rela jika dirinya tersiksa karena kemo, rambut rontok, dan berbagai efek negatif lainnya.

Sebuah titik cerah pun hadir dari anaknya yang tinggal di Tangerang. Anaknya menyarankan agar Bu Habibah bersedia dibawa berobat ke sebuah klinik kanker di Tangerang. Tanpa ragu, Bu Habibah pun berangkat pada November 2012. Ia dipertemukan dengan Dr. Warsito, seorang ilmuwan yang menemukan alat pemusnah sel kanker dengan memanfaatkan listrik statis.

Seusai diperiksa, Bu Habibah diberi sebuah rompi yang wajib ia pakai 20 jam per hari. Hal ini karena sel kankernya telah menjalar ke ketiak kanan dan kirinya. Jadi, Bu Habibah menggunakan dua alat, satu untuk ketiak dan satu untuk payudara. Awal pemakaian memang tidak nyaman karena masih belum ada penyesuaian. Semakin lama justru ia merasa tidak nyaman jika tidak memakai alat.

“Kalau sudah biasa, memakai rompi itu seperti ada yang meluk. Jika sudah terpenuhi jam pakainya, saya off kan saja power-nya, tapi rompinya masih dipakai, enak,” jelas Bu Habibah.

Setelah delapan bulan rutin memakai alat dan konsultasi ke klinik sebulan sekali, kanker di ketiaknya dinyatakan bersih. Bu Habibah sangat bersyukur mendengar kabar ini.

Sembilan bulan setelahnya, payudaranya dinyatakan bersih juga. Betapa girangnya ia dapat terbebas dari penyakit kanker langka yang mematikan itu.

Dari awal, Bu Habibah memang terkena malapraktik dokter sehingga, meskipun ia telah dinyatakan bersih, payudaranya sudah tidak utuh lagi.

“Dok, saya pengen dioperasi saja. Saya pengen pulang ke Jawa Timur dan dioperasi di sana.” Bu Habibah meminta kepada dokter yang menanganinya di Klinik Riset Kanker.

Akhirnya, segala keperluan administrasi berupa rujukan dan lain-lain pun disiapkan. Bu Habibah dirujuk ke Dokter Pri, seorang dokter yang tergabung dalam tim C-Care Klinik Riset Kanker, Edwar Technology, Tangerang. Namun, ternyata Dokter Pri berhalangan sehingga Bu Habibah diminta untuk memberikan rujukannya ke RS Al-Irsyad Surabaya.

Sampai di sana, Bu Habibah diminta untuk menggunakan BPJS dan mengurusnya terlebih dahulu ke sebuah klinik BPJS. Meski melalui prosedur yang rumit dan berbelit-belit, Bu Habibah tetap sabar dalam berikhtiar. Alhasil, rujukan dan BPJS pun jatuh ke sebuah rumah sakit swasta lain di Surabaya. Bu Habibah pun tetap menerima hasilnya meskipun rumah sakitnya jauh dari yang ia bayangan sebelumnya.

Sampailah Bu Habibah di rumah sakit swasta itu. Saat berada di tempat pemeriksaan, dokter pun membuka riwayat medisnya. Dokter tersebut menyatakan tidak sanggup untuk mengangkat payudara Bu Habibah dengan alasan kanker yang diderita sebelumnya adalah kanker langka, risiko operasinya pasti besar.

Dengan berlapang dada, Bu Habibah menerima bahwa ternyata ia harus dirujuk lagi ke sebuah rumah sakit onkologi. Berbagai dokumen dan persyaratan pun ia siapkan, termasuk menyiapkan dokumen-dokumen kelengkapan BPJS. Sampai di rumah sakit onkologi, Bu Habibah dihina-hina oleh dokter.

Bu Habibah tidak mengerti mengapa dokter di rumah sakit tersebut menghina dirinya yang berpenyakit demikian, juga menghina karena Bu Habibah memakai BPJS. Sebenarnya, perlakuan dokter itu sangat mengiris-iris hatinya. Alih-alih diberi semangat, dirinya malah dihina-hina.

Bu Habibah dilempar lagi dari rumah sakit onkologi ke sebuah rumah sakit di Sidoarjo. Ia diberi surat rujukan khusus yang dimasukkan ke dalam amplop putih. Setiap subuh, magrib, dan isya Bu Habibah selalu shalat berjamaah di mushala dekat rumahnya. Selain agar pahala ibadahnya makin berlipat, shalat di mushala memberikan berkah silaturahim. Sehari sebelum ke Sidoarjo, Bu Habibah bermunajat, “Ya Allah, semoga kali ini saya mendapatkan dokter dan perawat yang baik.” Bu Habibah tak putus berdoa dan beribadah sebaik-baiknya kepada Illahi.

Pada hari yang telah ditentukan, Bu Habibah pun pergi ke RSU Sidoarjo. Ia antre, sama seperti pasien yang lain. Saat tiba gilirannya, petugas pun bertanya dengan nada heran.

“Ibu dirujuk ke mana?”

“Ke rumah sakit ini.”

“Ke dokter siapa? Di surat rujukan tidak ada nama dokternya.”

Deg, Bu Habibah kaget dan khawatir. “Kok bisa?”

“Ibu, sih, tidak baca dulu suratnya.” Si petugas menyalahkan.

Naluri manusianya sebenarnya ingin menangis dan menjerit. Ya Allah, mengapa saya selalu dilempar-lempar seperti ini dari rumah sakit satu ke rumah sakit lainnya? Mengapa selalu ada saja permasalahan yang menghambat ikhtiar saya? Tapi, ia tak patah semangat, “Kalaupun saya harus dimarahi lagi, dihina lagi kali ini, tidak apa-apa ya Allah. Saya sudah siap.” Bu Habibah menghela napas panjang.

Sesaat hening. Kemudian petugas pun bersuara.

“Baiklah, Bu. Saya akan bantu Ibu langsung ke poli bedah.” Petugas tadi balik berbaik hati.

Bu Habibah pun segera mengikuti sang petugas ke poli bedah dan dipertemukan dengan seorang dokter yang sangat pengertian dan ramah. Alhamdulillah, setelah rangkaian ujian yang ditempuhnya, doa Bu Habibah ternyata dikabulkan juga.

Sang dokter membuka dan menelaah dokumen rekam medis yang dibawa Bu Habibah. Sesekali ia mengangguk tanda paham. Dengan telaten dokter melihat hasil scanning dan hasil pemeriksaan lain.

“Ibu benar berani? Sudah siap? Ini diangkat loh semuanya?” tanya sang dokter dengan nada ramahnya.

Bu Habibah pun dengan keyakinan mantap berkata bahwa ia sudah siap. Dua hari kemudian, tepatnya Jumat, operasi pun berlangsung di Rumah Sakit Siti Hajar. Bermodal tawakal dan pasrah pada Allah, semua proses pun lancar.

Beberapa bulan setelah operasi, Bu Habibah mendapat panggilan untuk naik haji. Pada saat itu, luka operasinya masih belum kering. Bahkan, setelah konsultasi dengan dokter pun, dokter tidak menyarankan Bu Habibah untuk pergi ke Mekah. Pasalnya, kondisinya masih belum optimal, dan dokter juga menyarankan agar dilangsungkan lagi operasi bius total karena luka belum kunjung kering. Apa daya, rindu memenuhi undangan Allah terlalu mulia jika harus ditolak. Dengan penuh keyakinan, bismillah, Bu Habibah pergi memenuhi undangan Allah untuk ibadah haji dengan keadaan luka operasi yang belum kering.

Saat di Madinah, Bu Habibah sempat drop. Ia dirawat di sebuah rumah sakit Madinah, namun tidak lama. Mungkin ia belum beradaptasi sehingga jatuh sakit. Setelah beberapa hari berlangsung, justru kondisi Bu Habibah semakin fresh. Ia bisa menjalankan rangkaian ibadah dengan mandiri dan optimal. Air zam-zam yang tersedia di sana, ia gunakan secukupnya untuk dikonsumsi. Tak tebersit dalam dirinya untuk menggunakan air zam-zam secara berlebihan apalagi menggunakan sebanyak-banyaknya untuk mandi. Ia atur pemakaiannya karena ia yakin air zam-zam itu adalah hak semua pengunjung Baitullah. Ia tidak mau serakah. Ia selalu berdoa dalam setiap tegukan agar Allah memberinya kesembuhan dan kesehatan.

Allah memang selalu memberi kejutan kepada hamba yang gigih, sabar, dan tawakal. Pulang dari ibadah haji, luka operasi Bu Habibah sembuh, kering total. Dokter pun berdecak kagum dengan apa yang telah dicapai pasiennya ini.

Untuk menjaga kesehatan, Bu Habibah sangat menjaga pola makan. Ia menghindari konsumsi daging, seafood, kuning telur, ikan yang memakan pakan pelet, ayam broiler, taoge, sawi putih, kangkung, durian, nangka, lengkeng, nanas, dan tapai. Setiap pagi seusai shalat subuh ia rutin mengonsumsi jus apel campur wortel diselingi dengan meminum bubuk katul yang diseduh dengan air panas. Siang harinya ia mengonsumsi cuka apel ditambah madu atau air kelapa hijau. Selain itu, sampai sekarang Bu Habibah masih menggunakan rompi setiap hari dan masih rutin untuk check up setiap tiga bulan sekali. Ia ingin benar-benar menjaga kondisi tubuhnya agar tetap sehat sebagai bentuk syukur atas nikmat yang diberikan Allah saat ini.

Bu Habibah ingin orang-orang yang bernasib sepertinya bisa tetap sabar, tawakal, dan tidak patah semangat dalam menjalani pengobatan.

“Yakinlah, kesembuhan itu nyata! Saya sendiri yang telah membuktikannya!”

Ia pun berharap agar C-Care Klinik Riset Kanker, Edwar Technology, semakin mengembangkan riset-risetnya. Juga untuk Dr, Warsito, semoga senantiasa diberikan kesehatan dan kekuatan dalam menjalankan kebaikan-kebaikannya. []

Diceritakan kepada dan ditulis oleh: relawan Pejuang Kanker

*Seluruh kisah dalam website ini adalah kisah nyata dan ditulis berdasarkan hasil wawancara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s