Jalan Mencapai Cancer Survial Rate

Di balik wajah teduh itu tersimpan banyak kisah masa lalu. Tentang kenangan yang bisa diambil pelajaran bagi siapa saja yang bisa mengambil hikmah kehidupan. Suwarni (53) berkali-kali melemparkan senyum kepada orang-orang yang lewat di hadapan rumahnya. Sosok yang sangat ramah seperti perempuan-perempuan di desa pada umumnya. Perempuan berjilbab itu kini banyak menghabiskan waktu untuk bermain bersama cucu-cucunya, selain memiliki kesibukan mengurus rumah dan sesekali membantu suaminya yang memiliki usaha mesin bubut di Sukoharjo.

Tak ada orang yang menyangka bila perempuan setengah baya ini salah satu survivor kanker payudara stadium IV yang pernah divonis dokter hanya mampu bertahan selama enam bulan saja. Namun, Allah berkehendak lain. Lima tahun sejak pertama kali divonis dokter, Suwarni masih bisa bertahan hidup hingga saat ini. Bahkan ia terlihat lebih energik bila dibandingkan perempuan lain seumurnya.

SUWARNI MENGAKU GEJALA sakit kanker ganas menyerangnya pada pertengahan 2009. Semula, payudaranya tak sengaja terbentur spion sepeda motor. Benturan tersebut tidak terlalu keras, namun meninggalkan rasa sakit yang sangat hebat. Suwarni hanya membiarkannya hingga beberapa hari. Rasa sakit tersebut kembali timbul ketika kepala cucu Suwarni tidak sengaja mengenai payudaranya. Hingga, akhirnya ia sendiri melihat perubahan pada tekstur payudaranya. Terdapat benjolan di bawah puting susu sehingga tertarik ke dalam.

Suwarni mengakui tak menyangka akan menderita penyakit mematikan seperti ini, pasalnya hidupnya jauh dari keramaian kota. Suwarni mengaku kesembuhan yang telah Allah berikan kepadanya diberikan melalui tangan adik kandungnya, Warsito, ilmuwan Indonesia yang acap kali diberitakan media massa. Sang adik membuatkan sebuah alat berbentuk rompi yang dipakaikan untuknya secara rutin. Dokter yang menanganinya pun mengaku kaget dengan perkembangan yang sangat cepat ini.

Sebelumnya, Suwarni menjalani operasi untuk mengangkat kanker yang menggerogoti payudaranya. Dokter pun menyarankan agar ia melakukan kemoterapi.

“Dokter yang menangani saya meminta saya untuk melakukan kemoterapi. Lalu saya bertanya kepada dokter itu, ‘Berapa biayanya?’ Kata dia, sekali kemoterapi bisa membayar 30 juta rupiah dan harus dilakukan sebanyak delapan kali. Sontak saya kaget, lho kok mahal banget? Saya tanya kembali ke dokter tersebut, apakah kemoterapi ini menjamin saya sembuh seratus persen? Dia bilang tidak,” tutur Suwarni.

“Saya kemudian memutuskan untuk tidak menjalani kemoterapi. Pikiran saya, kenapa kok saya harus membayar mahal kalau saya enggak dijamin sembuh? Saya hanya berpikir menggunakan uang yang saya punya untuk berangkat haji karena itu adalah keinginan besar saya sebelum saya mati. Dokter yang menangani saya hanya bilang, ‘Ya terserah Ibu mau menjalani kemoterapi atau tidak.’ Kalau tidak menjalani kemoterapi saya diprediksi hanya bisa hidup dua tahun lagi.”

Suwarni kemudian kembali ke rumahnya dan banyak bersilaturahim serta meminta maaf kepada sanak saudara sebab ia divonis akan meninggal dua tahun kemudian. Ia tak berani cerita ke adiknya, Warsito, sebab takut mengganggu. Namun kabar penyakit Suwarni akhirnya sampai ke telinga warsito dari kakak perempuannya yang tinggal di Jakarta. Warsito, yang kala itu sedang menjabat sebagai staf ahli Menteri Riset dan Teknologi RI, menelepon Suwarni menanyakan kabar kakaknya itu. Akhirnya, Suwarni bercerita kepada Warsito bahwa ia mengidap kanker payudara dan tidak akan lama lagi hidup di dunia.

“Nah saat itu si Sito ini bilang ke saya, ‘Yu sudah istirahat saja yang banyak di rumah. Enggak usah banyak dipikirkan. Makan yang banyak dan bergizi, jangan banyak pikiran. Sudah ya, nanti tolong kirimkan hasil CT-Scan dari rumah sakit ke saya’,” ujar Suwarni menirukan suara adiknya.

Dua bulan kemudian Warsito mengirimkan rompi yang dapat membasmi kanker ke Suwarni. Suwarni kemudian memakai rompi tersebut sesuai dengan arahan yang disampaikan Warsito melalui telepon. Satu bulan kemudian setelah memakai alat tersebut Suwarni menjalani kontrol ke rumah sakit. Hasilnya sangat mencengangkan: sudah tidak ditemui kembali sel kanker di payudaranya!

“Dokter yang menangani saya tidak percaya dan marah-marah ke saya. Saya sudah jelaskan kalau saya memakai alat yang dibuatkan oleh adik saya. Namun, dia tetap marah-marah dan bilang bahwa dia yakin masih ada kanker di dalam tubuh saya. Satu bulan kemudian saya datang lagi ke dokter dan menjalani pemeriksaan lengkap. Hasilnya masih tetap sama, sudah tidak ada lagi sel kanker dalam tubuh saya yang terdeteksi. Dokter benar-benar sangat terkejut,” ucap Suwarni dengan mata berbinar.

SEPERTI MUKJIZAT, KATA Suwarni, ia masih bisa hidup hingga saat ini. Ia tak lagi terganggu dengan penyakitnya. Sudah genap lima tahun setelah ia pertama kali ditetapkan menderita kanker payudara stadium IV. Sebuah rahmat dari Allah Yang Maha Esa, Suwarni berhasil mencapai cancer survival rate versi WHO yang menyatakan apabila penderita kanker stadium IV telah melampaui lima tahun dan masih tetap hidup, maka pengobatan kanker yang ia jalani berhasil dilakukan.

Suwarni berpesan terhadap para penderita kanker sepertinya bahwa alat ciptaan adiknya ini adalah salah satu cara saja. Menurutnya, yang paling penting adalah keseriusan dalam mencapai kesembuhan.

“Harus selalu rajin merawat diri, menggunakan rompi, makan makanan yang bergizi, banyak mengonsumsi buah dan sayur. Jangan lupa juga harus selalu menjaga hati agar tetap bersih, jangan mudah emosi, jangan pula mudah sedih. Kondisi hati itu akan banyak memengaruhi kesehatan kita, siapa pun itu. Oleh karena itu, saya berpesan, selain menggunakan alat buatan adik saya ini, jangan pula lupa selalu mendekatkan diri kepada yang menciptakan kita. Ibadah kita harus selalu rajin,” kata Suwarni. []

Diceritakan kepada dan ditulis oleh: relawan Pejuang Kanker

*Seluruh kisah dalam website ini adalah kisah nyata dan ditulis berdasarkan hasil wawancara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s