Saat Sang Bidan Terbebas Kanker Payudara

Bu Amsinah lahir tepat di usia 30 tahun Indonesia merdeka, 17 Agustus 1975. Ia berasal dari kota bercahaya, Cilacap, Jawa Tengah. Orangtuanya berprofesi sebagai pedagang dan memutuskan untuk merantau ke Kalimantan pada 1982, saat Bu Amsinah berusia tujuh tahun. Keluarganya sangat betah dan sangat menikmati tinggal di Pulau Borneo. Bu Amsinah pun tumbuh besar di Kalimantan dan menikah dengan seorang pria Jawa yang sama-sama merantau di Kalimantan. Saat ini, keluarga Bu Amsinah tinggal di Jalan Sakapurun Gang 3 No. 86, Kelurahan Selat Dalam, Kecamatan Selat, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.

Hari melipat bulan, bulan menggulung tahun, Ibu Amsinah dikaruniai seorang anak yang cantik jelita dan seorang anak yang tampan. Si sulung yang cantik jelita berusia 17 tahun. Ia termasuk anak yang cepat masuk SD sehingga sekarang ia sudah kuliah di UII Yogyakarta. Anak kedua berusia 13 tahun. Sekarang sedang menempuh pendidikan menengah di sebuah pesantren yang terletak di Kalimantan Selatan. Meskipun keluarga Bu Amsinah berdomisili di Kalimantan Tengah, berbagai macam fasilitas lebih mudah diakses di Kalimantan Selatan.

Bu Amsinah beserta suami sama-sama berprofesi sebagai pegawai negeri sipil. Kegiatan sehari-hari Bu Amsinah adalah mengabdi di bidang kesehatan, menolong persalinan para ibu, alias bidan seorang bidan. Jarak tempat kerja dengan rumah memang tidak terlalu jauh, sekitar tiga kilometer. Bu Amsinah merasa beruntung, saat diterima sebagai PNS pada 1994, ia tidak ditempatkan di wilayah terpencil.

Bu Amsinah adalah orang yang sangat aktif, semangat, dan selalu mengisi hari-hari dengan kegiatan positif. Selain bekerja sebagai bidan, aktivitasnya disibukkan dengan kegiatan mengurus rumah tangga. Bu Amsinah sangat semangat, ia tidak mengalami kelelahan yang berarti selama menapaki hari-harinya.

Akan tetapi, saat Agustus 2012, Bu Amsinah merasa sakit di payudara kirinya. Pada mulanya, Bu Amsinah tidak terlalu memikirkan rasa sakit tersebut dan tidak terlalu merasanya pula. Namun, sakitnya itu semakin sering apalagi kalau malam hari. Sebagai orang yang aktif di bidang kesehatan, Bu Amsinah merasa sakit payudaranya itu berbeda dengan sakit payudara ketika hendak haid. Semakin lama, timbul benjolan di payudaranya. Bu Amsinah pun bingung harus mengobati dengan apa. Timbullah inisiatif menggunakan lotion dengan harapan sakit di payudaranya mereda.

Pemakaian lotion ternyata tidak membuat rasa sakit berkurang. Bu Amsinah pun pergi ke Klinik Prodia di Kalimantan Selatan untuk diperiksa. Setelah melakukan biopsi, ternyata didapati kanker ganas bersemayam di payudaranya. Sontak, berita ini membuat Bu Amsinah kaget. Apalagi saat dokter menyampaikan bahwa umur Bu Amsinah diprediksi hanya bisa bertahan dua tahun lagi. Dokter segera menyarankan untuk kemoterapi lalu kemudian dilanjutkan dengan terapi hormonal.

Bu Amsinah berpikir keras sebelum menyetujui saran dokter yang memeriksanya. Ia pun konsultasi dengan salah seorang onkolog hingga akhirnya lahirlah keputusan, “Kalau ada jalan lain, mengapa tidak?” Bu Amsinah memilih terapi dengan obat-obatan herbal.

Untuk pertama kali Bu Amsinah mengonsumsi obat herbal, ia tidak mengetahui kandungan apa saja yang ada di dalamnya. Konsumsi obat herbal itu hanya bertahan dua bulan. Bu Amsinah merasa tidak cocok karena ia sering merasa mual dan sakit kepala. Ternyata, lambungnya kena. Selain itu, biaya yang dikeluarkan memang cukup mahal, 3-4 juta rupiah per bulan dengan kualitas obat menengah. “Kalau obat kualitas tinggi bisa 10-12 juta per bulan,” jelas Bu Amsinah. Akhirnya, Bu Amsinah pun berhenti mengonsumsi secret herbal.

Setelah itu, Bu Amsinah beralih pada obat herbal lain. Ia mengonsumsinya selama satu tahun tapi masih belum merasakan perbaikan yang berarti. Singkat cerita, Bu Amsinah melihat tayangan televisi tentang Klinik Edwar Technology. Secercah harapan kemudian muncul. Tak lama dari itu, ia melakukan perjalanan dari Kalimantan ke Tangerang untuk berobat.

Singkat cerita, Bu Amsinah mendapatkan sebuah alat berupa rompi bergelombang listrik. Ia mulai rutin menggunakannya pada 3 April 2013. Setiap hari 16 jam pemakaian (berlangsung selama tiga bulan). Sungguh diperlukan penyesuaian saat awal-awal pemakaian. Bayangkan saja, setiap hari Bu Amsinah harus mengganti pakaian hingga tujuh kali karena banyak sekali keringat yang keluar, merasa panas, gatal-gatal, dan tentunya ada tekanan psikologis tersendiri.

Di tengah perjalanan, Bu Amsinah sempat merasa sangat terpuruk. Setelah beberapa bulan memakai alat, Bu Amsinah terdeteksi hamil. Kondisi tubuhnya yang saat itu kurang fit membuat masalah baru. Janinnya tidak lagi berkembang baik, padahal usia kehamilannya telah mencapai empat bulan. Dokter pun menyarankan untuk dikuret. Setelah proses kuretase selesai, Bu Amsinah harus keluar masuk rumah sakit untuk opname, tubuhnya masih belum sehat betul.

“Tiap bulan saya harus opname. Tuhan lagi ngasih ujian yang bertubi-tubi buat saya,” ungkap Bu Amsinah.

Tahun itu adalah tahun keterpurukan. Selama enam bulan Bu Amsinah drop.

“Pernah saya berpikir kenapa Tuhan ngasih ujian seperti ini untuk saya? Lebih baik saya mati saja.”

Bu Amsinah merasa sangat sedih. Keterpurukan itu tidak dibiarkan lama-lama singgah di hari-hari Bu Amsinah. Beruntung, keluarganya sangat perhatian dan peduli. Orangtua, suami, dan anak-anak sangat memberi perhatian dirinya dan selalu mendampingi selama sakit. Tidak hanya keluarga, seorang psikiater pun dihadirkan khusus untuk menjadi tempat keluh kesah selama empat bulan. Akhirnya, semangat baru pun muncul, berbinar dalam diri seseorang yang tangguh, dialah pejuang melawan kanker, Bu Amsinah.

Bu Amsinah menyampaikan bahwa ia telah memakai alat tersebut selama 29 bulan. Tapi, kalau dihitung pemakaian efektif, kurang lebih hanya 20 bulan. Terakhir check up di Klinik Edwar Technology pada April 2013, sel kankernya hanya tinggal tujuh persen. Sungguh pencapaian yang sangat baik dan memuaskan. Sampai saat ini, Bu Amsinah masih menggunakan alat terapinya selama empat jam per hari, biasanya dipakai dari pukul 05.00-09.00 sebelum berangkat kerja.

Aktivitas sehari-hari yang dilakukannya pun tidak lagi terhambat. Sekarang, Bu Amsinah sudah beraktivitas seperti sedia kala, pergi ke pasar menggunakan motor, membersihkan rumah, memasak, dan tentunya menolong persalinan para ibu di Kalimantan. Aura positif kini sudah menjalar di tubuhnya, penyakit kanker payudara dan ujian hidup yang dulu membuatnya terpuruk, sekarang dianggap sebagai anugerah hidup.

“Penyakit itu anugerah, enggak semua orang bisa dapet. Menurut keyakinan yang saya anut, penyakit itu akan menggugurkan dosa-dosa kita dan dengan penyakit kita bisa merasakan betapa besar nikmat sehat,” Bu Amsinah menjelaskan.

“Kalau sakit dulu, kan, ada alasan buat pamitan. Dulu saya diprediksi cuma bisa bertahan dua tahun lagi, jadi saya bisa mohon maaf dulu ke orang-orang.” Bu Amsinah menambahkan.

SUNGGUH BANYAK ORANG di sekitar kita yang terkena berbagai penyakit mematikan. Patut kita bersyukur atas limpahan nikmat sehat yang telah diberikan Allah untuk kita. Jika sudah sehat, salah satu bentuk mensyukurinya ialah dengan menjaga pola hidup, khususnya asupan makanan. Berbagai makanan yang mengandung banyak hormon seperti daging kambing, daging sapi, kepiting, udang, cumi-cumi, dan petis harus dihindari. Bu Amsinah pun menjaga untuk tidak mengonsumsi makanan-makanan tersebut. Ia lebih banyak mengonsumsi sayuran dan buah-buahan.

Aspek psikologis pun sangat diperlukan dalam menjaga agar tubuh tetap sehat. Kasih sayang dan perhatian dari keluarga sangat membantu dalam menyembuhkan dan mempertahankan kesehatan tubuh. Bu Amsinah mengakui bahwa ia sangat bersyukur mempunyai keluarga yang sangat memerhatikannya. Perhatian tersebut terlihat saat pemilihan menu makanan keluarga yang selalu memerhatikan pantangan bagi Bu Amsinah.

“Menu sore ini jangan udang ya, kan Ibu tidak boleh makan udang,” Bu Amsinah menirukan anaknya berbicara.

Selain itu, keluarganya juga sangat memerhatikan jadwal pemakaian alat terapi.

“Bu, ini sudah waktunya pakai rompi lho,” Bu Amsinah menirukan lagi gaya bicara anaknya. Kebahagiaan bisa terlahir dari keluarga.

Setiap dua atau tiga bulan sekali, Bu Amsinah rutin mengunjungi Klinik Edwar Technology di Tangerang untuk check up. Pelayanan yang diberikan klinik tersebut sudah sangat baik. Harapannya, meskipun telah dinilai sangat baik, Klinik Edwar Technology dapat mempertahankan dan meningkatkan pelayanannya, dan juga meningkatkan penelitiannya.

Ia pun menginginkan alat terapi karya Dr. Warsito yang telah dirasakan manfaatnya bisa diketahui banyak orang. Satu hal lagi, Bu Amsinah menginginkan sebuah grup atau komunitas (misalnya grup Facebook) yang berisi para pejuang kanker yang dinaungi Klinik Edwar Technology agar para penderita kanker merasa punya banyak teman untuk berjuang bersama. []

Diceritakan kepada dan ditulis oleh: relawan Pejuang Kanker

*Seluruh kisah dalam website ini adalah kisah nyata dan ditulis berdasarkan hasil wawancara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s