Semangat Kenji Melawan Tumor Otak

Mentari masih bersinar hangat. Tanah Jawa menjadi pijakan bagi langkah-langkah mungil yang meniti tangga ilmu. Kenji Saputra, arti nama Jepang itu tecermin dalam perilakunya sehari-hari. Kenji adalah anak yang selalu bersemangat. Pada 2012, ia tepat sedang duduk di kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah.

Kenji tengah berumur 12 tahun. Saat itu bulan Juni, Kenji yang awalnya sangat ceria sering mengeluh kepada ibunya bahwa ia sakit kepala. Awalnya hal ini dianggap sebagai persoalan biasa. Semakin lama, ia semakin merasa sakit. Dengan sabar, Kenji menekuni aktivitas belajarnya sambil menahan rasa sakit. Lama kelamaan, keseimbangan tubuhnya terganggu. Ia pun menjadi semakin kurus dari hari ke hari.

Hal tersebut tentu mengetuk naluri ibu. Ibunya sangat khawatir sehingga ia segera melarikan Kenji ke sebuah rumah sakit di Solo. Bagian kepala Kenji dipindai. Ternyata terdapat cairan aneh dalam kepalanya.

Ibu Esti (ibunda Kenji) terus mencari informasi untuk memberikan pengobatan terbaik bagi Kenji. Atas saran saudaranya, ada dua alternatif pengobatan. Pertama, ke rumah sakit di Yogyakarta dan kedua ke rumah sakit di Salatiga, Jawa Tengah. Bu Esti memilih untuk mengantar Kenji ke rumah sakit di Salatiga. Belum sempat dioperasi, Kenji sudah koma. Ia koma dalam kurun waktu yang panjang, hampir empat bulan. Keadaan ini menuai kesedihan bagi keluarga. Anak yang sangat riang tiba-tiba terkulai lemah di atas pembaringan, tanpa sadar pula. Kenji benar-benar seperti anak yang sedang tidur panjang. Suplai makanan pun sangat terbatas.

“Kenji koma karena otaknya tertekan tumor,” begitu ungkapan sederhana Bu Esti atas info dari dokter yang memeriksanya.

Selama hampir empat bulan itu, keadaan Kenji tidak kunjung membaik sehingga ia harus dilarikan ke rumah sakit lain di Jakarta. Selama di Jakarta, Kenji menjalani operasi pembersihan tumor sebanyak dua kali. Setelah operasi, keadaan Kenji membaik. Ia mulai bisa berjalan. Akan tetapi, Allah masih belum berkehendak meniadakan tumornya. Setelah dari Jakarta, Kenji diperiksa lagi di rumah sakit di Madiun. Sama, untuk menjalani operasi tumor juga. Ternyata, tumor di otaknya masih bersarang.

Akhir 2013, setelah operasi di rumah sakit di Madiun, kaki kiri Kenji bengkak. Mulutnya berangsur kelu sampai ia tidak bisa bicara. Bu Esti sangat sedih melihat anak yang dahulu gagah kini terkulai lemah. Kenji sang periang kini seolah berubah menjadi bayi, lemah sekali. Berbagai rumah sakit telah disambangi, berbagai upaya dan biaya telah dikerahkan. Kenji telah mengecap banyak rasa rumah sakit dari berbagai tempat. Dokter yang memeriksa Kenji di rumah sakit sudah angkat tangan. Kenji terkena kanker otak jenis astrocytoma.

Memang, tak ada tindakan medis yang bisa dilakukan lagi karena sel kanker sudah memenuhi sebagian besar otaknya bahkan hingga keluar tulang tengkorak. Dokter tersebut mengungkapkan kalimat yang sangat mengoyak hati Ibu Esti, “Bu, saya sudah enggak punya modal untuk mengobati Mas Kenji. Ibu tinggal berdoa saja.”

Sang Ibu dan anaknya pulang dengan hampa. Rasa putus asa mulai hinggap di hati ibunya. Tapi, ia sadar bahwa keputusasaan hanya akan memperburuk keadaan. Bagaimana mungkin anaknya bisa sembuh jika rasa putus asa itu terus menggerogoti?

Pelita pun mulai muncul dalam sanubari. Sang ibu bertekad untuk terus mencari pengobatan terbaik. Ia ingat, sewaktu Kenji dirawat di Salatiga, ada seseorang yang memberi tahu tentang suatu alat terapi kanker. Alat ECCT temuan Dr. Warsito adalah harapan baru bagi Bu Esti untuk mengembalikan kondisi Kenji. Alat ini kini resmi diedarkan di Jepang dan didistribusikan ke beberapa negara dari Jepang. Pembuatan alat masih berada di Tangerang, Indonesia.

Bu Esti diberi tahu lagi mengenai alat terapi tersebut oleh seorang temannya. Ia pun direkomendasikan untuk menemui Bu Wati (kolega Bu Esti), agar bisa mendapatkan alat terapi tanpa harus ke Tangerang.

Singkat cerita, Bu Esti telah direkomendasikan. Kenji pun mulai menggunakan alat secara rutin setiap hari. Pada awal pemakaian, sehari bisa delapan jam ia memakai alat. Biasanya, Kenji memakai alat tersebut ketika tidur. Setelah tiga bulan lamanya Kenji menggunakan alat, perubahan demi perubahan mulai terlihat. Kaki kiri Kenji yang awalnya bengkak mulai mengempis, tidurnya mulai bisa miring, mulutnya sudah bisa mengunyah, penciumannya mulai normal, dan ia pun sudah mulai bisa bangun sendiri. Untuk bisa sampai pada kemajuan itu, tentunya kesabaran harus terus dipupuk baik pada diri Kenji maupun pada keluarganya yang selalu mendukung setiap saat.

Bagi Bu Esti, tiga bulan pertama pemakaian alat adalah rangkaian proses yang penuh dengan kesabaran. “Responsnya memang enggak instan, harus sabar.” Begitu ungkapan Bu Esti tentang proses pengobatan Kenji.

Tidak ada keluhan yang dirasakan selama pemakaian. Justru sebaliknya, Kenji merasa nyaman dan merasa lebih baik. Sampai saat ini, semaksimal mungkin alat tersebut selalu Kenji pakai. Masih sama, paling sering ia menggunakan alat itu ketika tidur malam. “Pemakaian siang ya kalau Kenji mau saja,” jelas Bu Esti.

Lama pemakaian alat terlihat langsung terhadap perubahan fisik Kenji, terutama pada mata. Apabila ia kurang memakai alat, matanya biasanya merah.

Kemajuan fisik Kenji sangat membuat ibundanya senang.

“Sekarang dia tambah pinter, sudah bisa berjalan meski ngesot, dan bisa bangun sendiri.” Bu Esti mengungkapkan dengan girang.

Tidak terasa, terhitung dari akhir 2013, Kenji telah lebih dari 1,5 tahun menggunakan alat dan menjalani terapi medan listrik ECCT hingga hampir seluruh massa kankernya menyusut. Kenji mulai bisa beraktivitas mandiri. Namun, penyembuhannya masih dalam proses. Penglihatan sebelah kirinya masih belum pulih. Saraf mata dan motorik anggota badan sebelah kirinya belum kembali normal.

Bu Esti yang sangat menyayangi Kenji, sudah cukup puas melihat kemajuan buah hatinya dari hari ke hari. Sekarang, nafsu makan anaknya meningkat. Kenji sering meminta menu makan yang ia inginkan kepada ibunya. Terbukti, berat badannya melesat, hampir mencapai 58 kilogram. Kenji masih tahu aturan. Penyakitnya yang bisa dibilang tidak ringan ini membuatnya harus selektif dalam meminta menu makan kepada ibunya. Ia sudah paham bahwa ia tidak boleh memakan mi instan dan tidak boleh memakan makanan yang dibakar.

Klinik Riset Kanker Edwar Technology dan Dr. Warsito telah banyak membantu para pejuang kanker yang mempunyai tekad kuat untuk bisa sembuh. Tentunya, alat yang dikembangkan di klinik ini hanya sebuah upaya agar takdir baik Tuhan semakin berpihak kepada hamba-hamba yang gigih dalam usaha.

Dr. Warsito sendiri mengungkapkan bahwa, “Kalau kasus seperti Kenji bisa ada jalan untuk perbaikan, di sana ada nilai kemanusiaan yang harus diperjuangkan agar ribuan hingga jutaan anak-anak yang mengalami nasib seperti Kenji bisa mendapatkan harapan hidupnya kembali.”

ECCT dan berbagai penelitian ilmiah yang terus dikembangkan, membuat secercah pelita bagi para penderita kanker yang kebanyakan menganggap bahwa hidupnya kerap kali menuai jalan buntu. Separah apa pun penyakit yang diderita, dan seberat apa pun ujian kehidupan, jika tekad bisa selangkah lebih maju dan kerja keras bisa setitik lebih berat, maka selalu ada jalan bagi Allah untuk memberikan hasil terbaik kepada hamba-hamba-Nya.

Kisah anak muda yang bersemangat bernama Kenji bisa menjadi cerminan bahwa hidup haruslah diperjuangkan dengan sebaik-baiknya. Allah tidak menyia-nyiakan harapan seorang hamba yang bersemangat. []

Diceritakan kepada dan ditulis oleh: relawan Pejuang Kanker

*Seluruh kisah dalam website ini adalah kisah nyata dan ditulis berdasarkan hasil wawancara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s