Agar Hidup Bahagia Bersama CucuRoesminah (71 tahun) mengaku kaget ketika mendapati dirinya divonis mengidap kanker paru-paru oleh dokter. Betapa tidak kaget, ia tinggal di desa yang masih memiliki udara sejuk dan tanpa polutan.

Awalnya, Roesminah merasakan pusing dan mati rasa. Separuh dari badannya sudah tidak bisa digerakkan lagi. Tangannya tak bisa lagi mengangkat barang-barang, bahkan peniti sekalipun. Kejadian bermula pada 25 Mei 2013.

“Tiba-tiba kok saya mual dan pusing. Lalu setengah dari badan saya enggak bisa digerakkan. Saya kira ini stroke. Padahal saya sudah menghindari makanan-makanan berlemak,” papar Roesminah.

Roesminah kemudian dilarikan ke rumah sakit di Semarang agar lebih dekat dengan anaknya yang bekerja di Badan POM Semarang. Setelah menjalani serangkaian tes hingga melakukan CT Scan, dokter yang menangani Roesminah menyatakan bahwa Roesminah mengidap kanker paru-paru stadium IV.

Roesminah yang tak mau dioperasi meminta untuk dibawa pulang ke rumah anaknya di Semarang setelah tiga pekan dirawat di rumah sakit. Dokter memaparkan jika Roesminah tidak dioperasi, maka kemungkinan masa hidupnya tinggal enam bulan saja.

Akhirnya, dengan banyak pertimbangan, anak-anak Roesminah mendorong Ibunya untuk mau dioperasi. Pada 29 Juli 2013, Roesminah menjalani operasi di salah satu rumah sakit di Semarang. Namun, Roesminah tidak ingin menjalani kemoterapi yang disarankan oleh dokter pascaoperasi. Anak-anaknya mendukung keputusan ini.

Anak-anak Roesminah mencari banyak informasi mengenai terapi pendukung yang dapat menolong san bunda. Hingga, pada akhirnya anak Roesminah yang bekerja sebagai seorang apoteker menemukan berita bahwa terdapat terapi penyembuhan kanker menggunakan listrik statis. Jika dipikir, terapi ini memang masuk akal dengan teori-teori fisika. Tidak ada muatan mistis dan gaib.

Pada 20 Agustus 2013, Roesminah dibawa oleh anaknya, seorang pejabat di TNI Angkatan Udara, menuju Tangerang tempat ia harus mendapatkan alat terapi kanker yang dapat membantunya. Singkat kata, Roesminah rutin memakai rompi yang didapatkannya.

“Saya disuruh memakainya delapan jam sehari. Alhamdulillah, badan saya bisa digerakkan lagi setelah satu bulan memakai rompi,” tutur Roesminah. “Tiga bulan kemudian badan saya sudah bisa berfungsi normal. Saya memeriksakan kembali kanker yang ada di paru-paru saya. Alhamdulillah, ketika sudah satu tahun saya memakai alat terapi berupa rompi dengan sumber listrik dari baterai ini, hasil rontgen memperlihatkan bahwa sudah tidak ada lagi kanker di paru-paru saya.”

Saat ini Roesminah masih tetap menggunakan rompinya untuk menjaga agar sel kanker tidak datang kembali, namun dengan intensitas yang lebih sedikit. Roesminah kini bisa bernapas lega. Anak-anaknya pun, yang saat ini menjadi orang-orang besar, seperti menjadi Komisaris Besar Polisi di Palangkaraya, pejabat di lingkungan TNI AU Pusat, BPOM, dan lain-lain, tak lagi harus khawatir dengan kesehatan ibu mereka. Kini Roesminah bisa bernapas lega, ia bisa menikmati hari-harinya bersama cucu-cucu kesayangan dan menghabiskan usia senjanya dengan pekerjaan yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar. []

Diceritakan kepada dan ditulis oleh: relawan Pejuang Kanker

*Seluruh kisah dalam website ini adalah kisah nyata dan ditulis berdasarkan hasil wawancara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s