Hadapi Kanker Usus Besar Tanpa Operasi

Lilik Sunarni, seorang ibu berusia 69 tahun ini tinggal bersama saudaranya di Rawamangun, Jakarta Timur. Ia tidak memiliki anak, dan tidak pula bersuami. Ia menjalankan aktivitasnya secara mandiri. Orang-orang akrab memanggilnya dengan “Bu Lilik”. Sebelum pensiun, aktivitasnya adalah mengabdi sebagai tenaga pendidik. Seseorang yang sangat komunikatif ini disenangi berbagai lapisan masyarakat karena ia tak segan berbagi.

Bu Lilik sangat dekat dengan ayah dan kedua kakaknya. Namun sayang, jatah usia tiada yang bisa menerka. Pada usia senja, ayah Bu Lilik divonis menderita kanker usus besar. Banyak upaya yang telah dilakukan untuk bisa menyembuhkan ayahanda tercinta. Hingga, pilihan akhir jatuh pada operasi. Usus ayah Bu Lilik pun dipotong, panjangnya sekitar 20 sentimeter. Setelah operasi, ayah Bu Lilik rutin melakukan check up, namun kondisinya tidak semakin baik. Dua tahun kemudian, ayah Bu Lilik dipanggil Allah.

Tidak cukup sampai di situ, Dia kembali memberi ujian. Baru beberapa saat setelah ayahanda meninggal, tersiar kabar bahwa kakak perempuan Bu Lilik jatuh sakit. Gejala sakitnya mirip dengan apa yang dialami almarhum ayahnya. Setelah proses pemeriksaan dilakukan, ternyata kakak perempuan Bu Lilik mengidap penyakit yang sama dengan ayahnya, kanker usus besar. Berbagai upaya kembali dilakukan untuk proses penyembuhan. Namun, keluarga dihadapkan kepada pilihan yang sama, yaitu operasi, dengan harapan kejadian yang lebih baik dari ayahandanya tercurah untuk kakak perempuan Bu Lilik. Sayang, takdir berkata lain. Kakak perempuan Bu Lilik meninggal sesaat setelah operasi. Takdir itu memukul keluarganya.

Kasus serupa yang menimpa dua orang yang sangat dicintai Bu Lilik membuatnya sangat bersedih. Ia semakin waspada ketika pada 2013 ia merasa sakit di bagian anus.

“Rasanya seperti ada yang mengganjal di saluran pembuangan,” ungkapnya serius.

Setelah itu Bu Lilik semakin merasa sakit bahkan anusnya terus mengeluarkan darah sampai satu bulan. Ini merupakan penyakit serius sehingga ia bersegera memeriksakan dirinya ke Rumah Sakit Rawamangun. Dokter yang memeriksa Bu Lilik berkata bahwa ususnya mengalami penebalan.

Tepatnya pada Mei 2013, pernyataan dokter itu mengoyak hatinya. Ia divonis menderita kanker kolon (kanker usus besar), penyakit yang sebelumnya diderita almarhum ayahanda dan kakak perempuannya. Ia menduga mungkin penyakit ini diwariskan secara genetik. Selain itu, ia pun teringat bahwa ketika muda ia sering sekali mengonsumsi mi instan, hampir setiap hari. Dahulu ia memang beranggapan bahwa lebih baik memakan makanan-makanan yang praktis agar tidak repot. Ternyata, kebiasaan buruk ini menuai hasil yang buruk pula pada usianya sekarang. Hati siapa yang tidak sedih saat penyakit kanker nomor tiga yang paling banyak terjadi di dunia ini mendera tubuhnya? Apalagi saat tersiar kabar bahwa penyakit ini adalah salah satu penyakit mematikan.

Mau tidak mau, takdir Allah itu telah terjadi padanya. Lambat laun, Bu Lilik berusaha menerima semuanya dengan lapang dada. Ia ikhlas, dan ia akan berjuang keras untuk bisa sembuh tanpa operasi. Ia ingin berusaha agar kejadian lampau yang menimpa ayah dan kakak perempuannya tidak terjadi kepadanya. Perjuangan untuk melawan penyakitnya dimulai, masih pada bulan dan tahun yang sama, Mei 2013.

Semua penyakit ada obatnya, itulah keyakinannya. Setelah menerima vonis dokter tersebut, ia segera berusaha mencari informasi sebanyak-banyaknya untuk bisa menyembuhkan penyakit yang diderita. Sekali lagi, keyakinannya teguh, ia tidak mau dioperasi dan tidak mau pula menggunakan obat-obatan kimia. Bu Lilik pun membuka cerita tentang penyakitnya kepada kakaknya. Kemudian, kakaknyalah yang memberi saran untuk mencoba terapi di Klinik Edwar Technology, sebuah klinik yang mengembangkan teknik terapi kanker dengan menggunakan listrik statis, milik Dr. Warsito. Kakaknya pun sebelumnya telah berpengalaman karena pernah mengantar kerabatnya dari Kalimantan untuk berobat di klinik tersebut.

Setelah konsultasi dengan tim dokter di klinik, Bu Lilik pun diberikan alat yang harus ia pakai berupa celana. Ia rutin memakainya setiap hari selama empat jam. Biasanya, ia menggunakannya pukul 21.00 ketika hendak tidur. Pada saat awal-awal pemakaian, ia mengalami mual-mual, gatal-gatal, dan timbul bercak-bercak kuning pada alat yang dipakainya. Terkadang ia tidak bisa tidur karena harus bolak-balik ke kamar mandi. Mencret setelah pemakaian adalah bagian dari pengeluaran toksin tubuh. Dengan sabar, Bu Lilik tetap rutin memakai alat tersebut. Ia yakin Allah akan menyembuhkannya. Ia yakin alat yang dipakainya akan berfungsi optimal.

Gejala-gejala awal tersebut tidak ada artinya dibandingkan dengan apa yang alami Bu Lilik sekarang. Setelah enam bulan menggunakan alat, Bu Lilik dirujuk ke rumah sakit untuk USG dan ia dinyatakan sembuh. Ia sangat bahagia, Allah masih memberinya nikmat untuk menjalani kehidupan. Agar keyakinan sembuh dari kanker tersebut sempurna, ia memastikan lagi dengan melakukan scanning pada 2014 dan hasilnya: bersih.

Sungguh, nikmat Allah itu tiada tara bagi siapa saja hamba-Nya yang berusaha. Bu Lilik mensyukuri nikmat sehatnya dengan terus melakukan kontrol selama enam bulan sekali. Makanan pun ia jaga. Ia tidak memakan makanan yang pedas juga tidak mengonsumsi daging sapi. Setiap pagi ia sarapan makanan yang lembut dan mudah dicerna, seperti bubur ayam. Alat terapi dari Dr. Warsito pun masih ia kenakan sampai sekarang, khususnya sebelum tidur.

“Saya sangat merasakan manfaat dari alat ini. Enak dipakai, anget, dan bagus juga,” ungkap Bu Lilik.

Bu Lilik adalah seseorang yang komunikatif dan gemar berbagi. Ia pun senang untuk memberi inspirasi dan dukungan kepada orang-orang yang menderita penyakit sejenis dengannya. Pernah ia bertemu dengan seseorang yang menderita kanker usus. Banyak cerita yang ia bagi bersamanya termasuk memberi semangat bahwa semua orang bisa sembuh. Bu Lilik berkata bahwa semua orang harus bersabar dalam menjalani takdir Allah, termasuk takdir diberi penyakit. Doa dan semangat perlu ditumbuhkan dan disemai setiap hari dalam diri. Yakinlah bahwa ujian yang diberikan Allah kepada hamba-Nya adalah bagian dari perhatian-Nya. Kita harus terus berusaha, sabar, dan semangat. Janji Allah pasti datang pada waktu yang telah ditentukan.

Sekarang, Bu Lilik bahagia dengan aktivitasnya di rumah. Kegiatan sehari-harinya ialah melakukan aktivitas rumah tangga ringan seperti biasa.

“Tapi masih tidak boleh angkat yang berat-berat. Jadi, saya melakukan aktivitas ringan saja,” katanya.

Ia pun masih rutin untuk check up setiap enam bulan sekali ke Rumah Sakit Rawamangun untuk menjaga kesehatannya.

Bu Lilik berharap, semakin banyak orang-orang yang mengenal Klinik Edwar Technology dan semakin banyak pula yang menggunakan alat terapi Dr. Warsito. Ia merasa sangat terbantu dengan alat tersebut. Sebagai bentuk terima kasihnya, tak segan ia membawa-bawa brosur Klinik Edwar Technology ke mana pun pergi. Ia senang berbagi, senang memberi manfaat kepada siapa saja, khususnya kepada mereka yang menderita penyakit kanker serupa dengannya.

“Saya bawa brosur ke mana-mana, kalau ada orang yang memerlukan juga saya kasih kontak kliniknya. Saya suka promosiin ke orang-orang,” tutur Bu Lilik dengan riang. []

Diceritakan kepada dan ditulis oleh: relawan Pejuang Kanker

*Seluruh kisah dalam website ini adalah kisah nyata dan ditulis berdasarkan hasil wawancara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s