Menyembuhkan Tumor Otak Buah Hati TercintaEkhsan Wahyu Wulan Suciadi, yang lebih dikenal dengan nama Wahyu, lahir di Jakarta pada 7 Juni 1984 tepat bulan suci Ramadhan di salah satu rumah sakit di Jakarta. Wahyu merupakan anak pertama dari dua bersaudara pasangan keluarga Adi Siswanto (58 tahun) dan Wagirah (54 tahun). Dalam proses persalinannya, Wahyu dilahirkan secara normal.

Sebagaimana anak seusianya, sejak lahir hingga usia delapan tahun Wahyu tumbuh sehat dan hampir tidak pernah sakit parah, bahkan tidak ada keluhan atau kelainan apa pun. Ia merupakan anak yang aktif, cerdas, dan supel. Saat berusia delapan tahun itu, Wahyu duduk di kelas 2 sekolah dasar Islam swasta di Ciledug.

Awalnya kekhawatiran saya karena terasa ada perubahan pada kondisi Wahyu dengan mengeluh pusing dan sering mual. Bahkan pada beberapa kesempatan sebelum berangkat sekolah, tepatnya pada 1992, ketika Wahyu sedang saya suapi, namun dia beberapa kali pula mengalami muntah-muntah dan merasakan pusing yang berlebihan.

Selang beberapa hari saya memeriksakan Wahyu ke dokter mata di rumah sakit terdekat. Menurut penjelasan dokter, tidak ada kelainan pada mata Wahyu dan menyarankan untuk periksa lanjutan ke dokter saraf. Tanpa berpikir panjang saya langsung membawa Wahyu periksa ke dokter saraf di rumah sakit yang sama. Dari hasil pemeriksaan sementara, dokter saraf pun menyarankan supaya segera dilakukan CT Scan untuk melihat bagian dalam kepala Wahyu.

Setelah hasil CT Scan dibaca oleh dokter yang saat itu praktik, dalam penjelasannya dokter memberi isyarat bahwa Wahyu dan ayahnya diminta keluar ruang periksa terlebih dahulu. Kemudian dokter menjelaskan bahwa saraf di kepala Wahyu “acak-acakan”. Itulah penyebab Wahyu sering mengeluh pusing dan mual. Saat itu dokter langsung membuat memo kecil yang isinya bahwa saya segera diminta membawa Wahyu ke rumah sakit yang lebih besar di Jakarta untuk langsung periksa ke bagian bedah saraf.

Berdasarkan penjelasan dokter, saya langsung membawa Wahyu ke rumah sakit ke bagian bedah saraf keesokan harinya. Selama dua hari dilakukan diagnosa, atas persetujuan saya dan suami saya, tindakan operasi kepala Wahyu pun dilakukan, dengan tujuan memasang VP Shunt di bagian belakang kepalanya untuk mengelola hydrochepalus. Setelah itu, dilanjutkan dengan radiasi atau penyinaran selama satu bulan.

Setelah dilakukan treatment operasi dan radiasi, pemulihan Wahyu memakan waktu kurang lebih satu tahun hingga Wahyu dapat beraktivitas normal dan dapat melanjutkan sekolahnya yang sempat tertinggal selama satu tahun. Tidak ada keluhan ataupun kelainan pada Wahyu pascaoperasi tersebut.

Oktober 1997, sepulang sekolah, tangan dan kaki bagian kiri Wahyu mulai lemah, tangannya agak sulit untuk digerakkan dan dikontrol. Kaki pun terasa lemas pada saat itu. Saya melakukan konsultasi kepada dokter saraf sebelumnya, kemudian dilakukan CT Scan untuk memastikan tindakan yang akan dilakukan. Dari hasil CT Scan diperoleh kesimpulan bahwa VP Shunt pada bagian belakang kepala Wahyu macet dan harus dilakukan revisi pada VP Shunt tersebut.

Operasi revisi pun dilakukan dan berjalan dengan lancar tanpa kendala. Kemudian Wahyu menjalani perawatan selama kurang lebih satu tahun hingga benar-benar kondisinya pulih.

Ada sedikit insiden kala itu. Pada 1999, saat Wahyu ingin azan di masjid dekat rumah, ia berebut mikrofon dengan muazin masjid. Pada saat berebut itu, tanpa sengaja saat mengangkat kepala, Wahyu terbentur podium imam. Seketika tubuh Wahyu tidak bisa digerakkan dalam beberapa saat.

“Entah cobaan apalagi yang akan Engkau berikan, hanya ketabahan dan kesabaran yang bisa kulakukan,” ucap saya dalam hati pada saat itu.

Secepatnya Wahyu saya bawa ke rumah sakit untuk diperiksakan, tapi rumah sakit yang berbeda dengan sebelumnya. Baru pada tahun itu saya mengetahui bahwa anak saya menderita tumor otak. Itu pun setelah dijelaskan oleh Profesor, berbeda sekali dengan penjelasan dokter sebelumnya. Profesor menjelaskan lebih detail bahwa harus ada operasi untuk pengangkatan tumor di bagian otak Wahyu setelah melakukan CT Scan.

Operasi untuk ketiga kalinya dilakukan, kali ini untuk pengangkatan massa tumor. Alhamdulillah, operasi berjalan dengan lancar meskipun massa tumor tidak bisa diangkat secara keseluruhan karena terlalu berisiko tutur tim dokter. Butuh waktu satu tahun lagi untuk pemulihan Wahyu.

Setelah operasi pengangkatan massa tumor, mata Wahyu pun menjadi juling (strabismus), keseimbangan tubuh menjadi tidak sempurna. Hanya memori yang masih sempurna. Pada saat itu, saya berinisiatif memondokkan Wahyu untuk belajar agama di salah satu pesantren di Jawa timur, dikarenakan sekolah wahyu yang tertunda. Wahyu pun banyak belajar, mulai dari ilmu pengetahuan umum, sampai belajar membaca Al-Quran.

Hampir tiga tahun lamanya Wahyu saya titipkan di pesantren, saat saya sedang bekerja tepatnya pada saat jam makan siang mendapat telepon dari salah satu ustadz yang membimbing Wahyu bahwa Wahyu ingin pulang karena tidak dapat mengikuti pelajaran secara maksimal.

Wahyu pun saya jemput untuk kembali ke Tangerang. Kondisinya semakin memprihatinkan; keseimbangannya jauh berkurang dari sebelumnya. Selama Wahyu tinggal bersama saya dan keluarga di Tangerang, kesehatannya pun terus mengalami penurunan, khususnya kondisi keseimbangan tubuhnya bahkan matanya. Atas persetujuan keluarga saya pun memeriksakan Wahyu ke Profesor yang mengoperasi tumor di kepala Wahyu. Tahapannya pun masih sama, dilakukan scanning pada Wahyu, cek darah lengkap dan lagi-lagi dilakukan operasi. Operasi kali ini selain pengangkatan tumor juga dilakukan pemasangan VP Shunt baru pada bagian depan untuk mengelola hydrochepalus. Selain itu, dilakukan radiasi selama satu bulan.

Jujur, entah berapa biaya yang sudah kami keluarkan untuk pengobatan Wahyu, sampai saya tak mampu menghitungnya. Tapi, ikhtiar terus kami coba demi kemajuan Wahyu.

Di tengah kebosanan karena harus memakan obat yang begitu banyak, Wahyu berseloroh dan bicara bahwa ia ingin menunaikan ibadah haji. Padahal, kondisinya belum pulih benar. Alhamdulillah, atas kebesaran Allah yang telah memberikan rezeki kepada kami sekeluarga, berangkatlah saya dan Wahyu ke Tanah Suci pada 2002. Sementara suami saya mengalah untuk menunda dulu keinginannya menunaikan haji karena biaya yang belum mencukupi jika kami berangkat bertiga. Saya memang sudah sejak lama berniat menunaikan haji bersama Wahyu dan ayahnya.

Selama di Tanah Suci Mekah kami dibantu oleh muthawif (jasa petugas haji di Mekah dan Madinah), khususnya untuk membantu Wahyu karena jalannya masih goyang dan limbung serta pendengarannya pun berkurang pascaoperasi yang keempat. Saya tuntun pelan-pelan untuk mengitari Ka’bah, bersama dengan muthawif tersebut. Saya dan Wahyu berdoa untuk kesembuhannya dan untuk kebaikan keluarga kami nantinya.

Hingga pada 2003, karena kondisi Wahyu yang terus-menerus menurun, maka harus dilakukan operasi kelima. Sejak saat itu kondisinya semakin memburuk, tidak menunjukkan adanya perbaikan. Kejadian yang sangat mengejutkan pun terjadi, tepatnya pada 19 September 2005. Wahyu sudah benar-benar tidak bisa mendengar karena terjatuh dan terbentur dengan tembok. Komunikasi pun berubah yang semula percakapan menjadi tanya jawab tulis. Pertanyaan yang saya ajukan semuanya dengan isyarat dan ditulis.

Cobaan belum berhenti di situ, masih pada tahun yang sama, Wahyu koma selama enam bulan. Selama satu bulan di rumah sakit, dan lima bulan di rumah. Untuk makan sehari-hari dipasang sonde melalui hidungnya. Semua saya lakukan sendiri dibantu seorang pembantu yang menemani kami, mulai dari memberi makan lewat sonde, memberi obat cair, sampai membersihkan kotoran. Tidak ada perawat yang mau dan sanggup merawat Wahyu karena kondisinya seperti mayat hidup. Akhirnya, Wahyu pun kami bawa pulang. Biaya perawatan di rumah sakit makin lama makin membengkak. Kami kesulitan untuk membayarnya.

Semua saran, obat-obatan herbal, terapi, suplemen dari segala macam MLM (multi level marketing) ataupun pengobatan supranatural semua dijalani, namun belum menunjukkan perubahan signifikan. Kondisinya sangat memprihatinkan, perutnya sangat besar bahkan lebih besar dari bagian apa pun dari tubuhnya. Hal tersebut disebabkan BAB (buang air besar) harus dibantu dengan mikrolaks setiap harinya. BAB-nya pun tidak rutin, bisa sampai dua minggu sekali.

Suatu ketika saya mencoba teh herbal. Saya memberikannya sebanyak tiga kali dalam sehari. Hasilnya, luar biasa. Wahyu BAB sangat banyak dan buang angin secara terus-menerus. Selang beberapa hari, perut Wahyu berangsur mengecil.

Tahun 2005 sampai 2007 Wahyu saya rawat di rumah, berbaring selama itu membuat Wahyu terserang decubitus dikarenakan minimnya mobilitas (kurang bergerak). Aktivitas yang dilakukannya hanya berbaring dan duduk di kursi roda. Kondisi ini berlangsung hingga 2013. Belum ada perubahan yang berarti pada anak kami ini.

Pada September 2013, Wahyu mengalami kejang dan tidak sadar, dan saya harus segera membawanya ke rumah sakit umum karena kami pakai fasilitas Multiguna oleh dokter yang mengoperasi Wahyu untuk melakukan operasi. Revisi VP Shunt untuk mengelola hydrochepalus pun kembali diperbaiki. Kali ini bukan bagian kepalanya yang dioperasi, melainkan bagian perut sebelah kanan.

Atas kemurahan Allah, di tengah obrolan saya dengan teman-teman di kantor, pada awal Oktober 2013 salah seorang teman, Liena Kartiningsih namanya, memberi informasi bahwa ada terapi kanker dengan alat listrik, tempatnya di Alam Sutera. Begitu tuturnya. Spontan, setelah saya mendengar info itu, saya dibantu browsing oleh Bu Liena mendapat nomor telepon klinik kanker yang dimaksud. Rupanya tak semudah saya bayangkan untuk segera mendapat info itu langsung dari klinik tersebut. Mulai pukul 10.30 WIB saya menghubungi, ternyata line (jaringan) tersebut sangat sibuk dan baru pukul 15.30 WIB saya berhasil mendapat info.

Setelah Wahyu menjalani terapi gelombang elektrostatis kurang lebih selama tiga bulan, kondisinya mulai membaik. Tandanya, Wahyu bisa menelan ludahnya saat tidur malam. Sejak 2010, Wahyu memang ada luka di bagian kepala sebelah kiri di atas telinga. Luka tersebut diakibatkan karena ada tahi lalat yang digaruk-garuk, kemudian menjadi luka dan tidak bisa kering akibat sering berdarah.

Pada 27 Januari 2014, saya membawa Wahyu ke rumah sakit dan menanyakan perihal luka tersebut kepada Profesor yang mengoperasi tumor Wahyu. Profesor menyarankan untuk dilakukan MRI guna melihat bagian dalam kepala Wahyu, dan tindakan yang harus dilakukan. Pukul 22.00 WIB malam itu hasil MRI telah selesai dan saya pun kembali menghadap Profesor untuk minta penjelasan. Oleh Profesor dijelaskan bahwa terjadi perdarahan di kepala bagian kiri. Namun, hal yang sangat membuat saya agak lega bahwa beliau menyatakan berdasarkan hasil MRI pada 27 Januari 2014, cairan (hydrochepalus) di kepala Wahyu berkurang drastis.

Sujud syukur serta puji-pujian tak henti-hentinya saya haturkan ke Sang Pencipta Allah swt. Kondisi saat ini memang belum ada perbaikan dalam keseimbangannya, hanya motorik Wahyu yang sedikit membaik, serta beberapa respons. Namun begitu, saya terus berdoa, semoga kondisi Wahyu ke depan semakin membaik dan terus lebih baik. Aamiin Ya Rabbal Alamiin. []

Diceritakan kepada dan ditulis oleh: relawan Pejuang Kanker dari hasil diskusi dan wawancara dengan Bu Ira (Wagirah)

*Seluruh kisah dalam website ini adalah kisah nyata dan ditulis berdasarkan hasil wawancara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s