Sembuh Tanpa Operasi Ibunda Juara Olimpiade Fisika

Benjolan di payudaranya beranjak membesar. Rasa sakit tak tertahankan, bahkan pingsan menjadi hal yang lumrah. Semula, ia mengira ada yang salah dengan jantungnya. Rasa sesak dan nyeri di dada dirasakan seperti penyakit yang tidak biasa hingga dokter nyatakan ia mengidap kanker ganas. Operasi harus segera dilakukan. Jika tidak, tim dokter khawatir sel-sel kanker akan semakin ganas menjalar ke seluruh tubuhnya.

Ia tertegun. Suaminya hanya pedagang kaki lima, menjajakan nasi goreng. Sedang anaknya butuh biaya untuk pendidikan. Beruntung, anak pertamanya kini menjadi mahasiswa pendidikan Fisika di salah satu perguruan tinggi negeri favorit dengan bantuan biaya pendidikan Bidik Misi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Namun, tetap saja biaya operasi kanker dan terapi yang harus dilakukan setelahnya pasti memakan biaya amat mahal. Sedangkan ia hanyalah ibu rumah tangga yang bertugas mendidik anak-anaknya menjadi orang yang berbakti.

Bagi orang-orang sepertinya, sulit agaknya harus mengeluarkan kocek lebih untuk menyembuhkan penyakit kelas berat sekaliber kanker. Namun, ini taruhan hidup dan mati. Dalam hatinya, ia memang tak ingin melakukan operasi, apalagi melihat biaya dan efek samping yang akan ditimbulkan.

Ia bernama Bu Moy, Moy Help Me. Nama yang unik, bukan? Tolong aku, begitu arti frasa “Help Me” dalam namanya. Seperti arti namanya, Allah sungguh adil. Pertolongan-Nya datang seketika memupus masa kelam enam bulan lalu, saat ia divonis menderita kanker ganas di payudaranya. Enam bulan telah berlalu, dokter di Rumah Sakit Islam Harapan Anda Tegal memberitahukan perkembangan USG terhadap aktivitas kanker pada jaringan di payudaranya. Seakan tak percaya, tanpa operasi kanker Bu Moy telah berangsur membaik, bahkan hingga 70 persen dalam jangka waktu setengah tahun. Rasa sakit yang dulu ia rasakan kini tak lagi mengganggu kesehariannya.

ENAM BULAN SEBELUMNYA. Kala itu ia sempat memeriksakan kanker yang ia derita ke salah satu rumah sakit kanker terkenal di Jakarta. Dokter yang menanganinya menyarankan agar Bu Moy minggu itu juga melakukan operasi dan mengikuti rangkaian terapi menggunakan obat. Dokter mengatakan bahwa bentuk kanker yang diidap Bu Moy adalah kanker langka, berbentuk pipih dan menjadi sorotan beberapa ahli bahkan hingga mendapatkan tempat khusus para peneliti di Jepang.

Bu Moy ingat jika anaknya, sang jagoan Olimpiade Fisika semasa SMA, pernah bercerita tentang teknik terapi kanker yang dikembangkan oleh sekelompok peneliti kanker di Indonesia. Bu Moy kemudian menanyakan hal tersebut kepada anaknya. Anak Bu Moy terkejut mendengar ibunya menderita kanker ganas di payudaranya. Ia kemudian menyarankan Ibunya untuk melakukan terapi menggunakan listrik statis yang pernah ia dengar saat mengikuti serangkaian seminar di kampusnya.

Anak Bu Moy kala itu mendengarkan penjelasan tentang perkembangan ilmu pengetahuan di bidang fisika modern. Ia terpukau dengan penemuan teknologi pemindai secara real time di bidang ilmu tomografi oleh ilmuwan Indonesia yang sejak 2006 digunakan NASA untuk memindai tubuh pesawat ulang alik di luang angkasa secara langsung dan Departemen Energi Amerika Serikat, serta pemerintah DKI Jakarta untuk memindai tabung gas TransJakarta. Penemuan teknologi pemindai itu ternyata dapat digunakan pula untuk memindai tubuh manusia, termasuk mendeteksi penyakit kanker, tanpa harus takut akan bahaya radiasi.

Selain alat pemindai, dalam seminar tersebut anak Bu Moy juga mendapatkan informasi tentang teknik terapi kanker menggunakan listrik statis. Karena kecintaannya terhadap ilmu fisika, ia ketahui bahwa aktivitas sel kanker dapat sedikit demi sedikit dikurangi menggunakan listrik statis, dan ia yakin jika teknik terapi ini bisa menyembuhkan penyakit kanker Ibunya.

Selepas dari salah satu rumah sakit kanker terkenal di Jakarta, Bu Moy ditemani oleh anaknya mencari alamat tempat terapi Edwar Technology, pengembang teknik terapi kanker menggunakan listrik statis. Adalah Dr. Warsito, pembicara dalam seminar kampus yang dikagumi sang anak Bu Moy karena keluasan ilmu pengetahuan di bidang fisika modern, founder Edwar Technology. Bu Moy diperiksa oleh tim dokter di klinik tersebut, kemudian ia dibuatkan rompi khusus yang dapat mengalirkan listrik pada bagian sel kanker yang tumbuh di payudaranya.

Rutin memakai rompi beraliran listrik statis tersebut akhirnya enam bulan kemudian hasil USG oleh rumah sakit di Tegal menyatakan bahwa aktivitas sel kanker Bu Moy telah membaik 70 persen. Tim dokter yang menangani Bu Moy terkejut. Mereka bertanya kepada Bu Moy, mengapa tanpa operasi, penyakit kanker Bu Moy membaik sangat cepat hingga 70 persen dalam waktu yang relatif singkat?

Bu Moy kemudian memperlihatkan rompi antikanker yang ia selalu gunakan selama enam bulan secara berkala itu. Tanpa obat, Bu Moy hanya mengonsumsi makanan yang dianjurkan oleh dokter klinik Edwar Technology. Ia rutin mengonsumsi air kelapa hijau, bekatul organik, dan beberapa makanan lainnya. Selain itu, Bu Moy juga menambah intensitasnya berinteraksi dengan Al-Quran agar Allah memberikan kesembuhan segera.

Aktif di organisasi Muhammadiyah, Bu Moy berusaha untuk menyebarkan informasi kepada orang-orang di sekitarnya tentang klinik terapi kanker yang telah membantunya bangkit dari serangan kanker di payudaranya. Ia ingin menebarkan manfaat dengan memperkenalkan orang-orang sepertinya kepada teknik terapi kanker yang ditemukan oleh anak negeri ini.

Ia yakin, Pak Warsito (begitu ia menyapa Dr. Warsito) tidak membisniskan usahanya. Ia yakin pula Pak Warsito ingin menebar manfaat dari teknologi yang ia temukan. Dengan harga terjangkau, masyarakat menengah ke bawah seperti Bu Moy akan terbantu. Bahkan biaya untuk memperbaiki rompi belum Bu Moy bayar, namun sudah boleh dibawa pulang terlebih dahulu.

Bu Moy berharap klinik ini dapat dikenal luas oleh masyarakat Indonesia, baik kalangan bawah maupun atas. Terapi yang sangat membantu masyarakat. Hanya saja, belum banyak orang yang mengetahui teknik terapi karya anak negeri ini. Bu Moy selalu berharap akan ada banyak orang yang beruntung dan terbantu seperti dirinya mengingat kesehatan adalah hak setiap individu. []

Diceritakan kepada dan ditulis oleh: relawan Pejuang Kanker

*Seluruh kisah dalam website ini adalah kisah nyata dan ditulis berdasarkan hasil wawancara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s