XzikqDOtfIYpHpf-800x450-noPadDesember 2015. Kami dikejutkan oleh status Pak Warsito di facebook yang mempertanyakan apakah ada tempat baginya di Indonesia untuk mengembangkan risetnya. Berbagai upaya konfirmasi kami lakukan dan ternyata status itu benar. Beliau menerima surat dari Kementrian Kesehatan untuk menutup C Care. Surat serupa juga dikirim ke Walikota Tangerang.

Kami terkejut. Taman Lavender, group tempat kami berbagi sehari-hari dengan sesama penerima anugerah kanker tiba-tiba basah seperti hujan deras. “Bagaimana nasib kami selanjutnya? Bagaimana kami dapat mengatasi kanker?” adalah jeritan hati yang menggema di berbagai pojok group kami. Kami berketatapan untuk berbuat sesuatu.


Hari itu tim manajemen EdWar Tech, perusahaan yang menaungi pengembangan riset Dr. Warsito Taruno bertemu dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementrian Kesehatan (Balitbangkes Kemenkes). Hasilnya lumayan membesarkan hati kami. Inovasi Dr. Warsito akan di review selama maksimal 30 hari. Kami berketetapan untuk mengawal proses yang dijalankan selama 30 hari ini karena nyawa kami sangat ditentukan oleh proses 30 hari ini.

Sebagai warga negara yang dijamin secara konstitusi untuk bisa berpendapat, maka kami pun memulai perjuangan untuk menyuarakan aspirasi. Ya, kami ingin dilibatkan dalam pembuatan kebijakan di mana nyawa kami adalah taruhannya. Maka, pada 1 Januari 2016 kami mulai membuat petisi online lewat change.org. Melalui petisi ini kami meminta kebijaksanaan Presiden Jokowi untuk mengijinkan kami tetap menggunakan ECCT sebagai bagian dari ikhtiar kami untuk mempertahankan hidup. Hingga hari ini sudah ribuan pendukung yang menyertai langkah kami lewat petisi ini (http://bit.ly/PetisiLavender)

Tidak berhenti sampai di sana. Kami pun mencoba untuk bisa beraudiensi langsung dengan para pembuat kebijakan. Akhirnya pada tanggal 06 Januari 2016 kami diterima oleh ibu Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, SpM (K). Dalam audiensi tersebut, Ibu Menkes menyebutkan bahwa pihaknya akan memfasilitasi uji coba ECCT di beberapa rumah sakit yang ditunjuk. Uji coba akan diprioritaskan pada penderita kanker payudara dan serviks, namun tidak menutup kemungkinan dapat digunakan oleh penderita kanker jenis lain. Selanjutnya, Nila menjelaskan bahwa pasien lama dan baru akan ditangani pada fasilitas-fasilitas yang ditunjuk tersebut. Seluruh dana akan ditanggung oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, sehingga seluruh pasien tidak perlu membayar.

Ibu Menteri menambahkan, Kementerian Kesehatan saat ini masih menggodog keputusan apakah ECCT akan dapat dimasukkan sebagai penunjang perawatan pasien kanker di Indonesia. Hal ini akan dibahas lebih lanjut dalam sidang penentuan hasil review ECCT. Pemberian terapi ECCT melalui fasilitas di luar rumah sakit dan penanganan pasien di luar riset juga akan dibahas dalam sidang tersebut.

Tentu kami sangat gembira mendengar pernyataan dari Menteri Kesehatan tersebut. Bahkan kami, Yayasan Lavender siap untuk ikut mendukung kegiatan riset, seperti melakukan penggalangan dana apabila dana dari pemerintah tidak mencukupi. Namun kami masih tetap berharap agar hasil sidang memutuskan ECCT diberikan kesempatan untuk menjadi penunjang perawatan pasien kanker yang sah di Indonesia. Selain itu ada harapan besar bahwa C-Care, pusat riset kanker milik Warsito yang terletak di Alam Sutera, Tangerang, mendapatkan izin untuk menampung pasien di luar riset. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa fasilitas kesehatan dan rumah sakit yang disediakan untuk melakukan riset terhadap ECCT terbatas. Pernah kami berjumpa dengan seorang Ibu di C Care, yang seharusnya mastektomi, tapi dijadwalkan baru tahun berikutnya. Nah, apakah sel kanker bisa menunggu satu tahun? Akhirnya ibu tersebut terpaksa ke C Care.

Kalau C Care tak ada lagi, bagaimana nasib Ibu tersebut dan ibu-ibu lain yang bernasib sama dengannya? Infrastruktur rumah sakit di Indonesia baru bisa melayani 15% pasien kanker yang ada di Indonesia, terpusat di kota besar. Lain cerita kalau infrastruktur rumah sakit sudah bisa melayani 100% pasien kanker seluruh Indonesia termasuk pasien di daerah.

Harapan semakin besar ketika Kemenristekdikti memberikan ruang partisipasi kepada kami sekaligus menjadi mediator dalam review ECCT yang dilakukan oleh Kemenkes. Senin, 11 Januari 2016 lalu diadakan pertemuan antara Kemenristekdikti, Kemenkes, Edwar Technology serta kami Lavender untuk membicarakan kelanjutan proses pengawalan review ECCT ini. Dalam forum yang dihadiri oleh puluhan awak media tersebut, Menristekdikti secara tegas menyatakan dukungannya terhadap inovasi riset yang telah dijalankan oleh Dr. Warsito (sumber : http://news.metrotvnews.com/read/2016/01/11/210371/menristek-jangan-amputasi-temuan-pembasmi-kanker-warsit).

Pada kesempatan yang sama, dari Kemenkes yang diwakili oleh PLT Balitbangkes juga menyatakan hal serupa. “Sikap pemerintah sama. Dalam hal ini Kemenristekdikti maupun Kementerian Kesehatan intinya akan terus melanjutkan riset penelitian Bapak Warsito,” Hal ini disampaikan oleh Pelaksana tugas Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) drg Tritarayati, SH, MHkes saat mengunjungi langsung CTECH Lab Edwar Technology di Tangerang tempat Dr Warsito bekerja pada Senin (11/1/2016), seperti dikutip oleh detik.com. Dengan adanya pernyataan dari Kemenkes diatas, maka harapan kami para penerima anugerah kanker untuk dapat terus melanjutkan hidup semakin terbuka lebar. Berikut adalah berita lengkap yang dilansir oleh detik.com mengenai pernyataan tersebut:

http://health.detik.com/read/2016/01/11/130640/3115286/763/kemenkes-tegaskan-riset-rompi-antikanker-dr-warsito-tetap-akan-terus-berjalan.

Tentu saja ini belum keputusan final. Melalui tulisan ini kami sangat berharap bahwa apapun kebijakan yang diambil oleh pemerintah, kepentingan kami sebagai warga negara sekaligus stakeholder utama dalam kasus ini menjadi pertimbangan terdepan mereka. Kami percaya bahwa pemerintah akan memenuhi komitmennya seperti yang selama ini telah diungkapkan ke publik melalui media. Karena kami para penerima anugerah kanker tidak akan pernah berhenti untuk memperjuangkan hidup kami, demi kemanusiaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s