kontenJumlah penderita kanker payudara di Amerika Serikat (AS) cukup tinggi. Namun dengan metode yang ada saat ini belum mampu mengurangi tingkat kematian yang disebabkan oleh penyakit tersebut. Hal ini kemudian memunculkan berbagai pertanyaan baik di kalangan para doktor dan pasien mengenai metode yang ada saat ini. Terlebih di Amerika Serikat, relasi antara dokter dan pasien sudah cukup berimbang. Hal ini setidaknya terlihat dari kasus salah seorang warga negara Amerika Serikat yang didiagnosa menderita kanker payudara namun masih stadium awal, Desiree Basilia. Sebagai seorang guru di sekolah menengah atas di San Fransisco yang mengajar tentang Ilmu Pengetahuan Alam (Science) dia melakukan riset mengenai penyakitnya. Dengan pemahaman yang diperolehnya, kondisi awal seperti yang dialaminya ini belum diperlukan lumpektomi. Berikut adalah artikel yang disarikan dari majalah TIME edisi 12 Oktober 2015.

Ada beberapa faktor yang akhirnya memunculkan kesadaran baru di kalangan medis Amerika Serikat untuk melakukan riset mendalam mengenai metode pengobatan kanker kontemporer di sana. Berikut adalah beberapa faktor tersebut :

  1. Pengobatan yang ada saat ini terlalu lambat untuk berkembang terutama dalam penanganan kanker payudara. Kondisi ini membuat para pembuat kebijakan dan kelompok advokasi pasien dengan posisi yang kuat menuntut adanya metode yang lebih baik mengenai bagaimana harusnya mendeteksi dan mengobati kanker payudara. Tuntutan ini khususnya untuk membuat perubahan ke arah pengobatan kanker payudara yang lebih baik karena banyak pakar kesehatan yang berpikir apa yang mereka lakukan selama ini sudah bisa menyelamatkan nyawa. Namun kenyataannya tidak demikian atau setidaknya tidak sesuai dengan yang mereka harapkan. Bahkan seorang ahli bedah di The Carol Franc Buck and Breast Care Center, Dr. Laura Esserman mengkonfirmasi hal itu lewat pernyataannya, “Aku mendengar orang banyak mengatakan bahwa pengobatan itu sangat penting maka tidak perlu ada perubahan yang terlalu cepat. Tapi tidak demikian menurutku, aku mempunyai pendapat yang berlawanan. Ini sangat penting, kita membutuhkan inovasi.” Dr Esserman juga menambahkan jika pengobatan yang ada saat ini cukup efektif, maka tidak akan ada orang yang meninggal karena kanker payudara.
  2. Saat ini banyak dokter dan pasien di US menghadapi kenyataan bahwa banyak perempuan yang menderita kanker payudara telah diterapi atau diobati dengan berlebihan. Ini disadari ketika pengobatan dengan general prinsip (one-size-fits-all approach) ternyata tidak menemukan relevansinya berdasarkan hasil dari genomic testing. Dalam pemahaman baru ini juga diketahui bahwa ada perbedaan secara biologis mengenai jenis kanker payudara. Para dokter tersebut juga menemukan bahwa tiap perempuan mempunyai karakteristik resiko biologisnya berbeda-beda. Maka ini berpengaruh terhadap jenis pengobatan yang harus diberikan.
  3. Bukti juga menunjukkan bahwa pengobatan yang terlalu berlebihan (agresif) justru mempunyai dampak yang tidak bisa diprekdisikan bahkan kadang justru membahayakan. Contohnya adalah akibat lanjutan seperti yang terjadi pada metode konvensional. Operasi yang berkelanjutan dalam masektomi, infeksi, radiasi yang tidak selalu memperpanjang usia pasien bahkan resiko kanker justru meningkat, termasuk kemoterapi dan efek sampingnya adalah beberapa dampak yang sering dialami pasien kanker yang dirawat dengan metode konvensional. “Sebagai seorang ahli bedah, tidak melakukan operasi yang terlalu banyak adalah ide yang sangat bagus untuk kami”, kata Dr. Mehra Golshan, seorang ahli bedah onkologi di The Dana-Farber/ Brigham. Apa yang disampaikan oleh dokter tersebut merupakan gambaran dari adanya perubahan paradigma dalam memandang sebuah penyakit.

Sebagai respon, Dr. Esserman dan koleganya yaitu Dr. Hwang telah diberikan dana riset sebesar $1.8 million untuk melakukan penelitian perbandingan terhadap metode konvensional atau standard care dengan alternatif perawatan baru yakni active surveillance. Dengan adanya riset ini diharapkan isu utama dalam pengobatan kanker payudara di Amerika Serikat seperti yang disebutkan di atas dapat teratasi. Sementara itu, untuk beberapa pasien yang dalam hal ini direpresentasikan oleh Basila adalah memilih untuk tetap memiliki kualitas hidup yang tinggi dibandingkan harus menjalani serangkaian perawatan yang justru membuatnya berada dalam kondisi pesakitan. Bagi Basilia, kematian adalah sesuatu yang tak dapat dihindari, maka dia tidak mau menyakiti dirinya sendiri dengan suatu usaha untuk menghindari kematian tersebut.

Sumber : http://time.com/4057310/breast-cancer-overtreatment/?xid=homepage&pcd=hp-magmod

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s