1.000x semangat. Kanker melatih daya juang yang tinggi untuk bisa mengatasinya.

bahagia.png

Saya Nurul Munawaroh. Saya ibu dengan tiga orang putri yang solehah, alhamdulillah. Saat saya memasuki usia 40 tahun, aku menerima diagnosa kanker. Dimulai dengan benjolan dibawah telinga kanan yang hampir 1 tahun saya alami tanpa dirasa yang tak terasa sudah sebesar telur ayam.

Anak bungsu saya selalu menangis kalau saya tinggal ke kantor dan di sekolah. Gurunya mengatakan bahwa ia selalu menangisi mamanya. Pada suatu malam kami sedang berkumpul bersama sambil mengerjakan PR tiba-tiba anak bungsu saya bertanya dengan santai, “Mama kanker ya?”

Kami semua kaget dan saya hanya senyum saja sambil mengalihkan pembicaraan saya menjawab, “Iya nak, kanker alias kantong kering.”

Sebelum tidur anakku yang solehah ini berkata kepada saya, “Mama harus berobat, Ade sayang mama.” Kata-kata itu selalu teringat dan itulah langkah awal saya memulai pengecekan.

Diawali dengan tahap awal pengecekan jalur PPJS ke puskesmas sampai dengan rumah sakit besar. Keputusannya saya harus biopsi. Mendengar kata biopsy membuat hati ini bergetar. Saya pun terus berdoa semoga hasilnya baik-baik saja.  Dalam waktu 2 minggu saya menunggu dan alhamdulillah setelah dibacakan dokter mengatakan hasilnya saya positif terkena kanker nasofaring stadium 3 dan saya harus menjalani kemo dan radiasi.

Saya terdiam dan mensyukuri apa yang saya terima dan rasanya hari itu dunia terasa hening, diam seakan berhenti. Saya menangis dan menangis sekuat tenaga. Saya memikirkan nasib anak-anak saya. Saya menyendiri dan bertanya pada diri saya, “Ya Allah apa salah saya sehingga saya diberikan ujian seperti ini? Ini penyakit yang mematikan dan sering orang menganggap bahwa ini penyakit orang kaya karena mahal pengobatannya.”

Saya terus berdoa dan berdoa. Jawaban pun lalu saya dapati. Saya mulai yakin bahwa ini adalah kesuksesan yang tertunda dan saya harus lebih dekat lagi dengan Sang Pencipta Allah SWT. Saya pun harus lebih dekat lagi dengan keluarga. Saya terlalu sibuk mencari dunia dengan bekerja dan bekerja. Kini saatnya saya harus banting stir untuk penyembuhan penyakit saya. Saya harus sehat itu syaratnya.

Saya harus menjalani 35x radiasi dan 19x kemo. Subhanallah perjuangan panjang yang sangat saya nikmati. Setiap hari Senin sampai dengan Jum’at saya radiasi. Hari Sabtu test darah. Senin mulai kemo lagi. Begitu terus selama dua bulan tanpa putus.

Alhamdulillah benjolan saya mengecil dan saya tidak perlu dioperasi. Leher saya gosong seperti areng dan lidah saya keluh. Setiap kali makan muntah dan berat badan turun drastis 20kg. Dengan berbekal 1000x semangat sehat sehat sehat. Selama 40hari saya jalani Shalat Dhuha dan Tahajjud tidak putus.

Walau badan ini sangat lemah saya paksakan harus bangun. Meskipun lidah ini keluh saya paksakan bisa membaca Al Qur’an tiap hari 1juz walau terkadang tidak sampai karena kepala kalau sudah diradiasi sudah tergeletak tak bisa bergerak. Makanan dan minuman yang masuk selalu saya muntahkan. Hanya air zamzam yangg bisa masuk kebadan. Menelan air saja tidak bisa karena efek radiasi leher saya gosong.

Setiap orang yang melihat saya memberikan support dan doa. Tak henti-hentinya saya bersyukur masa-masa sulit saya sudah saya jalani. Benjolan saya sudah kempes dan kemo sesi 1 berhasil. Saya harus melanjutkan dengan sesi 2 dan 3 dengan satu bulan sekali kemo selama seminggu tiap hari selama setahun penuh. Akhirnya bulan Agustus 2016 saya dinyatakan bersih, dan harus rajin kontrol tiga bulan sekali. Perjuangan panjang walau berat saya nikmati dengan ikhlas, sabar dan bahagia jadi tidak akan terasa sakit, bahkan menjadi obat hati buat saya.

Dan yang membuat saya sangat bahagia setelah saya dinyatakan bersih dari sel kanker saya mendapat info dari travel haji bahwa saya bisa berangkat haji tahun 2016, padahal seharusnya tahun 2017.  Subhanallah  terjawab sudah bahwa ini adalah rahasia Allah SWT. Saya sehat berkat semangat dan sikap positif, berprasangka baik kepada Sang Pencipta Alam semesta. Kita hanya pasrah dan bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.

Saya ucapkan banyak berterima kasih atas bantuan support dari keluarga, kerabat dan sahabat sehingga semuanya bisa menjadi semangat saya, untuk sehat dan sehat.

Tujuan saya ingin berbagi cerita ini ke Group Lavender Ribbon untuk memberikan 1000x semangat sehat dan sehat. Sehat itu sangat penting diatas semuanya. Sahabat-sahabatku semua yang sedang menjalani proses kesembuhan harus punya daya juang yang tinggi. Memang sangat berat dan perlu banyak sekali ilmu buat kita. Kita harus banyak belajar dari pola pikiran, pola hidup, pola makan dan gaya hidup yang harus berubah dari yang sebelumnya. Saya ingin bisa aktif di group Lavender dengan kopi darat karena selama ini saya hanya menyimak dan mengambil ilmu-ilmu yang sangat bermanfaat yang saya dapati di group Lavender walau saya belum pernah bertemu tapi serasa saya ikut menjadi bagian dari keluarga Lavender dengan motto saya jauh dimata dekat dihati.

Terima kasih buat team Lavender. Bagi sahabat-sahabat yang ingin berinfak silakan transfer ke  Yayasan Lavender Indonesia, Bank Mandiri no rekening 1270007342932. Dan bagi sahabat-sahabat yang ingin bertanya detail perjuangan saya menghadapi penyakit kanker saya silakan ke WA saya 08161889106. Saya sangat senang bisa membantu sahabat-sahabat yang masih menjalani proses penyembuhan. Semoga hal ini bisa menjadi ladang amal buat kita semua. Pesan saya jangan pernah putus asa dan jangan menyerah dengan keadaan. Kita harus 1000x semangat, buat sahabat-sahabat Lavender.

 

 

 

 

 

 

 

 

Mengenang Rini Medrian, Lavenderian berhati lembut


Sahabat Lavender,

Berikut ini adalah catatan Mbak Indira Abidin mengenai sahabat terkasih kita, alm Rini Medrian. Kita doakan bersama semoga Rini menanti kita di pintu surga suatu hari nanti dan semoga Allah berkahi semua keluarganya.

Aamiin.
Arti hidup manusia tidak ditentukan oleh panjang dan pendeknya. Ada yang umurnya pendek tapi sungguh penuh arti. Rasulullah “hanya” berumur 63 tahun, namun usia itu cukup untuk menyampaikan pesan Allah bagi umat manusia. Semua tugas dan missi hidupnya usai dalam 63 tahun. Ada pula yang berumur sampai di atas 70 tahun tapi tidak sesuai dengan tujuan penciptaannya. Bukan panjang pendek umur yang penting, tapi apakah umur tersebut ditutup dengan baik dan berkah?

Itulah yang ditunjukkan oleh sahabatku, alm Sinta Rini Medrian.

Rini dan aku adalah sama-sama penerima kurikulum kanker, bertemu di Lavender Ribbon Cancer Support Group dan kami banyak sekali menemukan kesamaan cara pandang. Rini mengikuti beberapa training yang juga aku ikuti. Kami sama-sama lulusan Magnetic Baar Power (MBP) yang diadakan oleh Mbak Auk Murat, sama-sama sempat menggunakan Electro Capacitative Cancer Therapy (ECCT) dan pada akhirnya kami sama-sama belajar self healing di Hanara.

Dari yang awalnya Rini tertutup mengenai kurikulum kankernya sampai akhirnya ia mampu menceritakannya dengan ringan dan tanpa beban. Beberapa blog post telah ditulisnya untuk berbagi pengalaman mengenai ilmu yang didapatnya dari kurikulum kankernya. Dari yang awalnya sangat mengandalkan logika sampai yang akhirnya benar-benar berhati lembut dan berjiwa tenang. Di akhir hidupnya Rini mampu mengobati sakitnya dengan dzikir, mampu membaca pengaruh dari setiap jenis dzikir yang berbeda pada organ-organ tubuh yang berbeda, bahkan tahu kapan adzan hadir tanpa harus melihat matahari, atau jam. Rini bisa merasa, meraba, menghayati dan menyelami jiwanya sendiri. Ia menjadi jiwa yang tenang dan siap dikumpulkan oleh Sang Penciptanya di akhir hidupnya.

Rini menjalani proses kurikulum kankernya dengan sangat tekun. Setiap pelatihan ditekuninya dan langsung diterapkannya pada kehidupannya. Setiap kejadian disyukurinya dan diambil pelajaran serta hikmahnya. Dari berbagai ilmunya ia sadar bahwa yang penting adalah membangun ketenangan jiwa dan kesatuan antara badan, pikiran dan jiwa. Itulah sebabnya ia berguru di Hanara. Kami pun belajar berbagai ilmu tubuh, bagaimana jiwa, pikiran dan tubuh saling terkoneksi satu sama lain. Berbagai pelajaran didapatnya di sana. Rini berhasil mengasah Spiritual Intelligence nya di sana. Bukan hanya dengan badan pikiran dan jiwa, kami pun belajar menyatukan diri dengan alam.

Dalam prosesnya tiba-tiba Rini menjadi sangat sensitif terhadap radiasi handphone. Ia tak lagi bisa pergi ke mana-mana karena dari perjalanan sampai tujuan banyak sekali handphone yang membuatnya tersiksa. Dan saat itulah ia benar-benar menyelami hidupnya berdua bersama ibunya. Rini mengatakan bahwa itulah saatnya Allah memintanya mulai belajar untuk menghadapi kematian. Rupanya bukan hanya dengan tubuh, pikiran, jiwanya dan alam. Kini ia diminta Allah belajar menyatukan diri denganNya.

Ia berkata pada ibunya, bahwa ia bukan takut mati, tapi takut amalnya belum cukup untuk bisa diterima olehNya dalam surgaNya. Rupanya setelah itulah ia diberikan waktu oleh Allah untuk mencukupkan semua amal ibadahnya, fokus hidup hanya untuk berdzikir.

Setelah sekian lama hidup di Jakarta bersama suami, Oddy Medrian, dalam proses ini Rini dituntun oleh Allah untuk tinggal berdua ibunya di Cimahi, diurus kembali oleh ibunya yang luar biasa tangguh dan mendalami dzikir bersama ibunya. Suaminya datang Jumat malam dan pulang kembali Senin pagi ke Jakarta. Jadi Rini fokus menjalani dzikir tanpa harus urus apa-apa lagi. Dan ibu serta suaminya puas mengurus Rini pagi sampai malam. Setiap habis shalat pun ibunya memberi Rini air minum yang didoakannya selama shalat.

Di rumah Rini mengobati semua rasa sakitnya dengan dzikir. Ia tak pernah sekalipun mengeluh mengenai sakitnya. Rini selalu berprasangka baik pada Allah. Saat suaminya atau ibunya merasa khawatir, galau atau apapun yang di luar jalur, Rini selalu mengingatkan untuk kembali syukur, kembali ikhlas dan tersenyum. Ia pun berhasil mempelajari dzikir apa yang baik untuk setiap sakit yang dirasakannya. Tak pernah ada keluhan keluar dari mulutnya. Hanya penghayatan dan pencarian hikmah dari setiap kejadian.

Mendengar Rini sangat sensitif terhadap berbagai hal, bukan hanya radiasi handphone tapi juga microwave, atau pesawat yang terbang di atas rumahnya, aku teringat kisah putri yang tidur di atas puluhan tumpukan kasur dan masih bisa merasakan bahwa di bawah tempat tidur ada kacang. Aku cerita pada anakku, Hana, “Tante Rini itu seperti princess. Princess itu sangat sensitif dan bisa merasa kalau ada yang tidak beres, sekecil apapun.” Itulah Rini bagiku. Dan betapa saat itu aku ingin menggali ilmu yang dipelajarinya mengenai dzikir dan organ tubuh, dzikir dan rasa, dzikir dan jiwa.

Beberapa bulan menjelang akhir hayatnya Rini berusaha keras membangun tenaganya karena ia ingin mendampingi suaminya yang pindah ke Singapura. Dan akhirnya ia berhasil. Sampai akhirnya suaminya bisa berkomunikasi Singapura-Cimahi via whats app. Semua kondisinya membaik, dan semua mengira Rini sebentar lagi akan siap pindah ke Singapura. Aku pun sampai berencana untuk mengunjungi Rini di Singapura. Rupanya Allah memberi Rini kesempatan untuk menikmati kembali hidupnya dengan energi barunya. Dan selama beberapa bulan itu Rini benar-benar seperti “kejar setoran” melakukan dzikir sebanyak-banyaknya. Tujuan awalnya adalah agar ia bisa punya energi untuk bisa pindah ke Singapura, tapi ternyata Allah berkehendak lain. Itu semua adalah agar ia bisa benar-benar siap dan “cukup” untuk bisa pindah ke dalam surgaNya.

Setelah semua kondisi membaik, tiba-tiba Rini kejang. Aku pun sangat kaget ketika diberi tahu, karena aku fikir aku akan bisa menemui Rini di Singapura dengan kondisinya yang membaik semua. Kukirim doa padanya dan kuminta teman-temanku berdoa bersama baginya. Rupanya berbagai doa, shalat permohonan semua orang termasuk Rini sendiri, suaminya dan berbagai komunitas membuatnya sangat kuat. Meskipun tensinya turun naik Rini tidak pernah tidak sadar. Dan mulutnya selalu bergerak untuk berdzikir. “Kejar setoran,” kata ibunya. Ketika suaminya melafazkan doa tak sesuai urutan, Rini tahu dan memintanya memperbaiki urutan doanya.

Dan di akhir, Rini hanya seperti sedang khusuk dzikir saat dipanggilNya. Tiba-tiba dua butir air mata keluar di matanya, dan mulutnya tersenyum. Badannya berisi kembali dan kulitnya sangat bersih, putih, tak ada kotoran kulit mati sama sekali. Ibunya berkata pada suaminya, “Abang tahu apa artinya dua butir air mata dan bibir yang tersenyum?”

“Apa Mah?” tanya suaminya.

“Rini melihat pintu surga. Ini yang Rasulullah pernah sampaikan,” kata ibunya lagi.

Dan sepanjang jalan di ambulance, suaminya pun mengatakan pada alm Rini yang didampinginya pulang ke rumah, “Baby, indah sekali kepergianmu. Semua orang bisa iri dengan cara seperti ini,” bisiknya pada alm istrinya dengan penuh bahagia.

“Rupanya kematian adalah ketidakpastian yang bisa kita siapkan dengan baik,” demikian kesimpulan suaminya menyaksikan semua proses yang dialami Rini.

Semua proses pemakaman berjalan dengan sangat lancar, jauh lebih cepat daripada perkiraan semua pihak. Alam pun menyambut dengan syahdu, teduh penuh kelembutan.

Dan rumah duka pun berubah menjadi rumah syukur, di mana semua orang bersyukur bisa menyaksikan kepergian yang begitu damai, begitu dekat dengan Sang Pencipta dan begitu penuh makna. Akhir hidupnya begitu penuh makna dan sarat pelajaran bagi mereka yang dekat dengannya. Dan kita semua sadar bahwa semua keindahan ini dihadiahkan oleh Allah melalui kanker. Kalau bukan karena adanya kanker, belum tentu Rini punya kesempatan indah seperti ini.

Dan semoga aku bisa meneruskan berbagai pelajaran ini agar dunia pun bisa belajar dari akhir yang indah ini. Semoga dunia bisa faham, bahwa kanker bisa menjadi hadiahNya yang sangat sarat makna. Tergantung pada bagaimana kita memberi arti padanya. Tergantung syukur kita atasnya.

_________________________________

Ingin membantu teman-teman penerima kanker di Lavender? Silakan kirim donasi anda ke Yayasan Lavender Indonesia di Bank Mandiri nomor rekening 1270007342932. Kirim bukti transfer ke Indri Yusnita via wa atau sms di +62 815 8700930.

Sumber: ow.ly/IZM7308Uwqp

#WorldCancerDay

Untuk yang ingin membaca blog Rini, silakan buka Love, Grow and Glow, https://lovegrowandglow.wordpress.com/

Sukses atasi kanker dengan terapi mandiri. Alhamdulillah.

Oleh Putri, dalam rangka World Cancer Day dan ulang tahun Lavender Ribbon Cancer Support Group

Kaget. Tidak percaya. Takut. Panik. Sedih.

Berbagai perasaan dan bayangan menyeramkan memenuhi benakku, sesaat setelah aku melakukan Sadari malam itu. Ada benjolan di payudara kiriku. Inikah kanker? Penyakit nomor 2 paling mematikan? Bagaimana dengan anak-anakku?

Secepatnya aku langsung browsing tentang benjolan dan kanker payudara. Sejujurnya aku masih tidak ingin mempercayai adanya benjolan, dan ingin mencari alasan untuk pembenaran penolakan atas fakta itu. Hasilnya? Aku makin bingung dan ketakutan…

Ditengah kegalauan itu aku memutuskan menghubungi Mbak Indira Abidin yang aku tahu sebagai salahsatu survivor yang aktif. Juga menghubungi Bapak Sayhriar Rizza. Terapis dari Terapi Hati, dimana aku sudah pernah menjadi kliennya beberapa tahun lalu. Malam itu juga Pak Rizza memberiku beberapa link video tentang breast cancer. Dan malam itu, aku langsung dibantu untuk mengatasi perasaan galauku, kemudian aku mulai menyimak video-video tentang breast cancer tersebut.

Sebenarnya aku sudah berteman dengan Mbak Indira di FB sejak lama. Uniknya aku baru ngeh tentang Mbak Indira dan Lavender Ribbon Cancer Support Groupdari Pak Rizza tahun lalu menjelang ulang tahun pertama Lavender di Sentul.

Esok paginya, mbak Indira menjawab banyak pertanyaan-pertanyaanku seputar breast cancer. Mbak Indira juga memberi list berbagai cara dan tempat yang bisa membantuku mengatasi benjolan ini. Aku diingatkan untuk memohon petunjuk Allah sebelum melakukan langkah selanjutnya.

Dalam sebuah artikel yang pernah aku baca:

Dr. Selve (1956), seorang pelopor pada studi stress dan bagaimana stress mempengaruhi setiap aspek kehidupan kita, mengatakan :

You may think that only serious disease or intensive physical or mental injury can cause stress. This is false. Crossing a busy intersection, exposure to a draft, or even sheer joy is enough to activate the body’s stress mechanism to some extent. Stress is not even necessarily bad for you: it is also the spice of life, for any emotion any activity causes stress. But, of course, your system must be prepared to take it. The same stress which makes one person sick can be an invigorating experience for another.

(Mungkin anda mengira bahwa hanya penyakit serius, kecelakaan fisik atau mental yang bisa menyebabkan stress. Ini tidak benar. Menyeberang jalan yang ramai, atau bahkan terlalu gembira pun dalam tingkat tertentu bisa mengaktivasi mekanisme stress dalam tubuh. Stress tidak selalu buruk bagi anda, stress juga bisa menjadi bumbu kehidupan, karena semua emosi dan kegiatan dapat memunculkan stress. Tentunya system anda harus siap menghadapinya. Stress yang menyebabkan seseorang sakit bisa saja menjadi pengalaman menyenangkan bagi yang lain).

Pagi itu aku lakukan sadari lagi. Kali ini dengan lebih perlahan, cermat dan tenang. Ternyata terdapat 3 benjolan di payudara kiri dan 2 benjolan di kanan.

Setelah berdoa, dan dengan pertimbangan bahwa aku sudah mengenal Terapi Hati, karena aku pernah mengikuti training dan menjadi terapis dengan ilmu yang sama, maka aku memutuskan langsung melakukan terapi mandiri. Pak Rizza membimbingku dengan beberapa trik baru dalam menjalani Terapi mandiri untuk proses kesembuhan dari breast cancer ini.

Terapi ini fokus mengatasi pada perasaan atau emosi negatif.

Bukankah dokter selalu menyarankan pada pasien “Istirahat yang cukup, jangan stress”?

Dan dari banyak penelitian 70-90% penyakit disebabkan oleh emosi negatif.

Setelah lebih tenang dan sudah menjalani Terapi mandiri beberapa hari, aku pun memberanikan diri menjalani scan di Pusat Riset Bapak Warsito di Alam Sutera, sesuai saran Mbak Indira. Hasilnya terdapat sel aktif di kedua payudaraku. Jadi sebenarnya ketika melakukan scan, benjolanku sudah berkurang dibandingkan awal ketahuan ada benjolan. Karena aku sudah menjalani terapi mandiri.

Aku melakukan terapi mandiri di rumah sendiri. Terapi mandiri ini terdiri dari 3 tahap, yang tentunya sudah dianalisa Pak Rizza sesuai dengan kondisiku. Dalam sehari, aku biasanya melakukan terapi mandiri 5x, seusai menjalankan sholat wajib atau sholat sunah. Awalnya pak Rizza hanya mengarahkan supaya aku menyediakan waktu untuk terapi 3-4jam sehari. Pada prakteknya aku melakukan terbagi menjadi 5x.

Aku memilih melakukan setelah sholat, karena saat itu kondisiku masih dalam keadaan berwudhu, dan kondisi fisik, pikiran dan perasaanku setelah sholat dan berdo’a lebih mudah untuk menjalankan terapi mandiri tersebut.

Bagian terapi mandiri yang menurutku cukup unik adalah bagian “tanya-tanya”. Di tahap ini aku berbicara pada hati nuraniku sendiri. Awalnya agak membingungkan. Lama-lama aku jadi sangat menyukai bagian ini. Karena, dengan berbicara pada nuraniku, ternyata banyak hal yang baru aku ketahui tentang diri sendiri. Misal ketika aku merasa takut sesuatu, ternyata dibalik itu, adalah usaha nuraniku untuk menjagaku. Aku juga jadi ngeh, ternyata selama ini aku terlalu cuek pada diri sendiri. Nuraniku berusaha supaya aku lebih perhatian pada diri sendiri. Karena agamaku pun tidak membenarkan mendzolimi diri sendiri.

Dua minggu menjalani terapi seperti itu, Alhamdulillah…benjolan di masing-masing payudara tinggal 1.

Bagaimana efek yang aku rasakan?

Seperti detox saja…reaksi di tubuh berbeda-beda setiap orang.

Yang pasti, dengan metode ini akan melalui dua fase. Fase dingin dan hangat. Ketika kita stres karena sesuatu, nafsu makan berkurang, itu fase dingin. Ketika stres berhasil dilalui, masuklah ke fase hangat. Suhu tubuh naik sedikit, nafsu makan membaik, mudah lelah, mudah mengantuk. Semua gejala itu bisa berulangkali dirasakan karena itu terjadi sesuai dengan emosi yag sudah teratasi menjadi netral.

Hikmahnya banyak sekali dengan adanya kanker di payudara ini dan menjalani terapi mandiri. Aku jadi lebih mengenal diri sendiri. Insyaa Allah aku juga menjadi lebih perhatian pada diri sendiri.

Aku belajar ikhlas, karena dengan memutuskan fokus menjalani terapi mandiri, akupun merelakan usaha kuliner sebagai mata pencaharianku. Apalagi setelah memasuki Fase Healing, tubuhku mudah lelah.

Hikmah lainnya, karena memang tidak terbiasa berdiam diri, aku berpikir untuk kembali belajar menulis, dengan pertimbangan bisa dilakukan fleksibel waktunya dan tidak memerlukan banyak tenaga fisik. Dan masyaa Allah….Allah mudahkan semua keinginanku. Aku diajak teman mengikuti pelatihan menulis. Aku ingat, aku datang dalam kondisi demam dan tubuh kurang fit. Sepanjang acara aku bersedekap dengan jaketku karena demam. Tapi aku senang dan semangat sekali mengikuti acara tersebut hingga selesai. Acara pelatihan menulis selanjutnya, kondisi fisikku juga tidak beda jauh, masih demam.

Dan ternyata dalam waktu relatif singkat, Allah atur aku bertemu dengan orang-orang luar biasa, sehingga artikel ku pun tayang di sebuah media dunia maya. Bahagia, bangga, bersyukur. Tak lama artikelku yang lain pun berhasil menang sebuah lomba.

Aku pun semakin serius menekuni dunia menulis, karena ternyata dengan menulis juga memberikan efek terapi pada diriku. Selain itu aku juga mulai melakukan hal-hal yang dulu aku sukai, lama tidak kulakukan, dan kemudian aku yakini memberi efek terapi pada diriku. Aku mulai melukis lagi, hunting foto di sekitar rumahku, dan memasak untuk keluarga.

Kanker ini membuat aku menemukan kembali hadiah-hadiah Allah padaku berupa aneka kemampuan…Alhamdulillah…

——

Ingin membantu teman-teman penerima kanker di Lavender? Silakan kirim donasi anda ke Yayasan Lavender Indonesia di Bank Mandiri nomor rekening 1270007342932. Kirim bukti transfer ke Indri Yusnita via wa atau sms di +62 815 8700930.

Kisah sukses menjalani pengobatan tumor otak berkat banyak tobat dan syukur

list-3

Oleh Aldi Sadana, Lavender Ribbon Cancer Support Group, dalam rangka #WorldCancerDay dan Ulang Tahun Lavender Ribbon Cancer Support Group

Diagnosa Dokter

Saya Aldi Sadana, penerima kurikulum tumor otak Glioblastoma Multiform, terdiagnosa 13 Maret 2012. Saat itu saya sedang mengendarai mobil dan tiba-tiba tanpa peringatan, saya pingsan dan kejang-kejang seperti orang sakit ayan. Kaki saya tiba-tiba menginjak pedal gas secara ekstrem tak terkendali. Tabrakan pun tak dapat dielakkan. Saya langsung dimasukkan ke rumah sakit Jakarta. Dokterpun mendapati ada tumor otak dengan jenis astioblastoma di otak saya. Saya memeriksakan diri ke berbagai rumah sakit dan semua memberi diagnosa yang sama.

Saat itu kami, saya dan keluarga, memutuskan untuk tidak melakukan tindakan apa-apa karena tumor ini dirasa tidak mengganggu aktifitas secara umum. Tapi jika badan terlalu lelah atau pikiran terlalu membebani maka saya akan segera mengalami kejang dan seringkali setelah kejang, kemampuan otak saya mengalami penurunan yang cukup signifikan.  Saat itu, saya hanya mengkonsumsi obat anti kejang, delantin, guna mengurangi dan menghindari terjadinya kejang. Ketika saya mengalami kejang kembali maka dokter menyarankan untuk meningkatkan dosis pemakaian dari delantin, dari 1 butir per hari dan meningkat sampai terakhir 3 butir per hari.

Tindakan Lanjut

Kondisi saya mengalami penurunan ketika memasuki tahun 2015, pada bulan Januari. Keluarga melihat hal ini dan menjadi sangat takut dan berbicara dengan saya dan melalui saran beberapa rekan dari keluarga, pada akhirnya kami memutuskan untuk melakukan pengobatan lanjutan yaitu mengangkat tumor tersebut. Kami pergi ke dokter dan mendapat rekomendasi untuk dilakukan biopsi guna mengidentifikasi jenis tumornya guna mendapatkan pengobatan yang tepat guna. Pemeriksaan awal pun dilakukan sebelum dilakukan biopsi yang dilakukan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat ( RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta Pusat. Biopsi dilakukan pada 16 April 2015 setelah itu dilakukan pengobatan melalui kemoterapi, radioterapi serta obat oral. Pengobatan lanjutan ini dilakukan dengan kemoterapi sebanyak 8 kali, radioterapi sebanyak 30 kali serta pengobatan oral selama menjalani pengobatan tersebut. Pengobatan berjalan dari 1 Juni 2015 sampai 15 Juli 2015. Kami mendapati bahwa badan saya mengalami perubahan menuju kesembuhan.

Satu bulan setelah selesai pengobatan lanjutan, tiba-tiba, pada tanggal 18 Agustus 2015, kondisi saya tiba-tiba menurun secara drastis. Saya tidak bisa makan dan minum secara normal karena kepala saya pusing dan suhu tubuh cenderung menurun hingga telapak kaki dan tangan terasa dingin sehingga saya sesekali menggigil kedinginan. Kondisi ini sangatlah membuat keluarga saya khawatir, karena dokter akan menyarankan saya untuk menjalani pengobatan kemoterapi dan radioterapi dengan dosis yang ditingkatkan untuk menghancurkan tumornya, yang sudah pasti akan merusak sel-sel tubuh yang sehat. Kami sekeluarga sudah tidak tahu lagi harus melakukan apalagi, kemudian ayah saya mendapat berita pada harian Kompas, 21 Agustus 2015, mengenai hasil penelitian dari Dr. Warsito P. Taruno M.Eng. Kami segeramencari informasi guna menghubungi tim dari Dr. Warsito untuk melakukan konsultasi.

Perawatan Alternatif

Kami akhirnya berkunjung ke tempat praktek dari Dr. Warsito pada tanggal 25 Agustus 2015. Kami membawa serta data hasil perawatan lengkap dan di dapati dari hasil MRI terakhir yang  menunjukkan jika aktifitas tumor masih aktif dan volumenya masih tetap. Tim Dr. Warsito melakukan scandan dikonfirmasi dari hasil scanmesin scanciptaan Dr. Warsito. Beliau menyarankan untuk saya menggunakan sarung kepala, helm, untuk mereduksi serta menghilangkan tumornya secara tuntas. Terapi awal ini dilakukan dengan komposisi 3 sampai 4 kali pemakaian dengan durasi per pemakaian adalah 15 menit. Kami diminta untuk melakukan pemeriksaan kembali pada bulan ke tiga, yaitu bulan Oktober guna melihat perkembangan dari hasil terapi. Selama melakukan terapi periode pertama ini, saya merasakan perubahan badan dan hasil penghancuran dari sel tumor itu  dibuang melalui keringat, buang air kecil dan buang air besar. Hasil pembuangan ini terlihat dengan terlihat pada warna air seni yang lebih gelap dari biasanya disertai dengan bau yang tidak biasa serta diikuti dengan warna feses yang lebih gelap dengan disertai bau yang menusuk . Hal ini juga ditunjukkan dengan keluarnya keringat ketika terapi dengan bau yang kurang menyenangkan. Selama melakukan terapi ini, keadaan badan menjadi normal kembali karena tubuh sudah dapat mengkonsumsi makanan dan minuman secara normal.

Perubahan Pola Makan

Selama terapi berjalan, tubuh dapat mengkonsumsi makanan dan minuman secara normal tetapi jumlah yang dikonsumsi tidak sebanyak pada kondisi sehat. Saya lebih banyak mengkonsumsi sayuran yang diolah melalui pengukusan atau perebusan, dan menghindari proses penggorengan. Dari yang saya pelajari proses memasakan melalui menggoreng serta membakar kurang baik karena tingkat keasaman yang dihasilkan cenderung rendah, di bawah pH 7. Makanan yang digoreng dan dibakar – terutama dibakar – juga mempunyai efek karsinogenik. Saya menghindari makanan yang diolah kraena saya tak mau makan makanan yang sudah ditambahkan berbagai zat tambahan seperti pengawet, pemanis, pewarna, atau perasa. Makanan yang sudah diproses juga cenderung menurunkan tingkat keasaman tubuh sehingga terjadi proses oksidasi pada tubuh.

Kami melakukan penelitian pustaka guna memperoleh tindakan yang tepat  untuk menghindari keadaan memburuk. Kami mendapatkan bahwa, buah-buahan sebaiknya dikonsumsi sebelum makan makanan berat, paling tidak 30 menit sebelum makan berat. Hal ini dikarenakan meningkatkan efektifitas penyerapan kandungan vitamin, mineral dan enzim yang terkandung didalam buah serta serat. Berbagai pola makan ini saya jalankan.

Perubahan Cara Berpikir

Saya pun belajar banyak jika kita sedang mengalami suatu keadaan tubuh yang kurang baik, sebaiknya tidak memikirkan penyakit. Ketika keadaan tubuh sedang dalam keadaan sakit, kita akan berpikir khawatir serta takut mengenai penyakit tersebut dan hal ini menstimulasi produksi asam lambung berlebihan, yang bisa menyebabkan sakit maag. Hal ini menyebabkan tingkat keasaman lambung menurun dan menyebabkan tubuh berontak. Tatkala saya mengalami kondisi sungguh tidak mengenakan karena badan menjadi tidak menyenangkan. Hal ini saya antisipasi dengan berdoa serta mengatakan hal-hal yang baik terhadap diri saya sendiri guna menghindari timbulnya kondisi hati dan pikiran yang negatif. Hal ini harus secara konstan dilakukan guna menghindari kondisi hati dan pikiran yang dropsecara tiba-tiba. Setiap kali serangan datang saya tenangkan diri saya dengan kata-kata yang menenangkan, bahwa saya sehat dan tidak khawatir.

Saya juga mendengarkan lagu yang memberi kekuatan dan membangun iman kepercayaan kepada Tuhan dan merenungkan serta melakukan klaim atas janji Tuhan atas saya mengenai kesembuhan dan kesehatan. Dengan banyak berserah diri pada Tuhan saya bisa bersyukur. Hal ini membuat saya bisa menerima keadaan saya dengan kerelaan hati dan percaya kepada Tuhan karena Dia yang menciptakan dan memelihara hidup saya. Hati yang gembira adalah obat yang manjur terhadap kondisi dan keadaan badan setiap orang. Saya benar-benar membuktikannya dalam kondisi ini.

Saya merasa saya berhasil menjalani semua ini karena saya banyak mengaku dosa dan minta ampun atas dosa maupun pelanggaran yang sudah dilakukan baik itu sengaja atau tidak sengaja. Saya juga banyak bersyukur atas apa pun keadaan yang dialami dan memperkatakan guna melakukan klaim atas janji Tuhan yang terbaik dan sempurna bagi umat-Nya yang percaya penuh kepada-Nya.

Keluarga saya, ayah dan ibu, mendukung dan memberi penghiburan dalam melihat kondisi ini sebagai bagian dalam mengalami kuasa Tuhan atas saya. Keluarga besar serta kerabat juga banyak menghibur dan memberi kekuatan dalam menerima serta menjalani keadaan saya secara positif. Semua dukungan ini sangat membantu saya.

Saya merasa terberkati karena bisa mendapat kekuatan dari berbagi pengalaman di Lavender serta dapat memberi kekuatan kepada sesama penderita tumor maupun kanker. Semoga ke depan Lavender dapat lebih banyak berbagi visi dan misi dengan para penerima kurikulum tumor maupun kanker. Lavender dapat pula mempertemukan mereka yang sudah sembuh dengan mereka yang masih menjalani proses pengobatan untuk bisa menyemangati dan  memberikan dukungan.

Pemeriksaan Lanjutan

Kami melakukan pemeriksaan kedua pada tanggal 23 Oktober 2015 guna memeriksa hasil terapi helm.Hasil scan menunjukkan jika tumor sudah mengecil tetapi aktifitasnya masih cukup tinggi. Dr. Warsito mengatakan meskipun aktifitas dari tumor yang masih cukup tinggi tidak berarti tidak dapat menurun dan sembuh total, tetapi hasilnya akan sempurna jika saya selalu mengikuti saran pemakaian alat dan terapi.

Kami pun melakukan pemeriksaan lanjutan pada tanggal 29 Desember 2015 dan mendapatkan jika aktifitas tumornya masih tinggi tetapi menghasilkan kemajuan cukup berarti. Pemeriksaan selanjutnya dilakukan pada 26 Mei 2016, hasil scan menunjukkan kalau tumor mengalami pelemahan serta pengecilan luas permukaannya. Pada bulan Agustus, tanggal 25, hasil scanmenunjukkan penurunan aktifitas tumor yang lebih rendah daripada pemeriksaan sebelumnya.

Hasil scan paling mengejutkan adalah pada tanggal 22 Desember 2016, karena hasil terapi memberikan hasil nyata, pengecilan dari sisa tumor lebih luas daripada hasil pemeriksaan sebelumnya.  Hal ini mengejutkan baik bagi pihak Dr. Warsito maupun pihak keluarga saya, terutama saya.

Pengobatan alternatif yang sudah ditemukan oleh seorang anak bangsa Indonesia mempunyai nilai yang boleh dikatakan sempurna dengan efek samping yang minimal.

Penutup

Kesehatan adalah suatu hal yang vital dalam kehidupan ini, dimana Tuhan sudah percayakan kepada kita untuk memelihara serta mengelolanya dengan baik. Hal ini dapat dilakukan dengan menjaga kesehatan dengan menjaga pola makan sehat, berolahraga secara teratur, menjaga hati dan pikiran kita karena dari situlah terpancar kehidupan. Hidup mungkin bisa dikatakan sulit, tetapi bukan berarti harus terpusat pada kesulitan dan kesusahannya melainkan berpegang dan percaya kepada janji-janji Tuhan serta rencanaNya yang baik dan sempurna bagi kita umat percaya. Hati yang bersyukur, itulah yang membuat kita bisa melihat betapa baiknya Tuhan kepada kita. Kita semua harus tetap bersyukur, menjaga sikap hati serta menjaga konsumsi makanan dan minuman. Inilah kunci sehat yang sesungguhnya.

Kalau pasangan, keluarga atau kerabat anda menghadapi kanker, tetaplah bersyukur. Kondisi ini memang tidak menyenangkan, selalulah berpikir positif dan berikan dukungan moril. Hal ini akan sangat membantu.

Ya Tuhan, aku panjatkan syukur atas segala karuniaMu yang telah Kau limpahkan dengan memberikan pengalaman mengalami kanker, karena berkat pengalaman itu aku bisa memberi semangat dan dukungan antar penderita dan orang-orang yang sedang pengobatan atau perlakuan dan sudah mengalami kesembuhan.

Ingin membantu teman-teman penerima kanker di Lavender? Silakan kirim donasi anda ke Yayasan Lavender Indonesia di Bank Mandiri nomor rekening 1270007342932. Kirim bukti transfer ke Indri Yusnita via wa atau sms di +62 815 8700930.

Allah kirimkan kanker untuk mengingatkanku. Alhamdulillah.

Kanker.png

Oleh: Diah, Lavender Ribbon Cancer Support Group, dalam rangka #WorldCancerDay dan Ulang Tahun Lavender Ribbon Cancer Support Group

Saat mendengar kata ‘kanker’ yang ada dibenakku adalah sesuatu yang mengerikan. Apalagi pernah ada pengalaman kakak iparku wafat di usia terbilang muda, 46 th, setelah menghadapi kanker kelenjar getah bening.

Sebetulnya aku sudah mulai merasa ada yang tidak beres ditubuhku sejak tahun 2011. Waktu itu aku sedang mengalami masa-masa “sulit” merawat bapak yang sudah sepuh dan sakit-sakitan. Dilanjut dengan ibu yang mulai drop setelah bapak sedo (wafat – red) diakhir tahun. Akhirnya ibu pun wafat menyusul bapak selang tidak sampai setahun.

Setelah itu semakin terasa ada yang aneh ditubuhku, meski aku tetap dapat beraktifitas biasa dan berolah raga.

Awal 2015 mulai terasa ada benda aneh diatas payudara kiri, seperti sebatang tulang lunak kecil panjang. Saat aku memeriksakan diri di poli bedah di rumah sakit dikota, analisa sementara hanya kemungkinan ada infeksi. Aku pun diberi antibiotik dan pereda nyeri. Tak ada perubahan. Maka aku pindah ke rumah sakit pemerintah daerah karena di rumah sakit yang pertama tadi tidak ada alat laboratorium.

Waktu kusampaikan aku ingin USG di rumah sakit kedua, aku tidak mendapat tanggapan yang memuaskan dari dokter yang memeriksa waktu itu. Dokter bedahnya tidak berada ditempat. Yang ada hanya dokter jaga di poli tsb. Akhirnya aku hanya diberi antibiotik lagi.

Limbung menerima diagnosa

Awal 2016 semakin terasa aneh kalau diraba diatas payudara tadi. Sampai suatu hari aku ketemu tetangga almarhum ibu. Beliau adalah dokter yang baru lulus patologi anatomi. Waktu aku kerumahnya dan cerita masalahku beliau langsung kaget dan mencoba melihat kondisiku. Beliau pun menyarankan besok pagi ke rumah sakit untuk periksa di lab.

Saat hasil lab keluar, kuintip hasilnya. Dan apa yang kulihat membuat tubuhku lemas dan dunia serasa runtuh. Di sana tertulis bahwa memang ada yang tidak beres di payudara kiri. Saat bertemu dengan dokter yang membacakan hasil mamoku badanku sudah lemas tak berdaya dan airmata sudah tak terbendung lagi.

Waktu itu dokter memberi pengantar untuk biopsi ke ahli patologi yang paling mumpuni di kotaku. Beliau juga menerangkan prosedur rumah sakit untuk tindakan selanjutnya. Jika aku berkenan aku akan segera didaftarkan untuk antri operasi. Untuk kemo nanti aku harus ke Surabaya atau mungkin Solo karena Madiun belum bisa memberikan fasilitas kemo.

Dan yang lebih mengerikan lagi, aku mendengar bahwa di Madiun, kotaku, untuk operasi semacam ini bisanya payudara dikepras habis, tidak bisa diambil benjolannya saja. Oh my God….Gusti Allah nyuwun pangapuro…..badanku terasa limbung….

Aku teringat tetangga yang juga pernah mengalami hal yang sama, dan lari ke Surabaya untuk mencari rumah sakit dan dokter yang lebih baik sehingga hanya diambil benjolannya saja. Lalu aku ingat bahwa ada teman kuliah satu kamar kos yang beberapa tahun terakhir ini bercerita terkena kanker payudara dan memakai alat rompi untuk pengobatannya.

Selama seminggu aku dalam kebimbangan. Kuhubungi teman yang sudah memakai rompi listrik temuan pak Warsito itu. Waktu itu temanku bercerita ada masalah di pusat riset p warsito. Karena ingin mendapat info lebih aku browsing-browsing. Duuuh semakin terpuruk rasanya harapanku waktu membaca diinternet tentang kondisi C Care, pusat riset Pak Warsito, saat itu. Padahal aku sudah memutuskan untuk tidak operasi dan ingin memakai rompi p warsito.

Memutuskan metode: ECCT

Kondisi psikisku waktu itu sangat tidak baik apalagi teman-teman dekat di pengajian ikut mendorong-dorong supaya aku cepat mengambil tindakan untuk operasi.

Minta maaf ya waktu itu aku menganggap mereka sangat sok tahu, bahwa operasi pasti akan menyelesaikan masalahku. Sampai aku sempat malas untuk bertemu dengan mereka. Aku sudah memutuskan untuk tidak operasi. Jujur aku takut dan membayangkan sesuatu yang mengerikan ditubuhku jika harus menjalani kemo setelahnya.

Saat itu keadaan perekonomian keluarga juga sedang carut marut. Pertama kali sikap pasanganku cenderung pasif karena ia pun mungkin bingung dengna keadaan yang di luar harapannya dengan kondisi perekonomian seperti itu. Alhamdulillah pasangan saat itu mengajak untuk lebih mendekat kepadaNya. Akhirnya pasanganku pun bisa menerima treatment yang aku pilih saat itu (rompi). Ia memberikan dukungan dengan bersusah payah mencarikan dana.

Aku terus menerus browsing di internet tentang rompi Pak Warsito dan semakin mantap untuk memakainya, dengan segala pertimbangan yang menyertai. Kalaupun aku sampai memilih operasi aku tidak mau operasi di Madiun, aku mau di Surabaya saja, seperti tetanggaku yang sudah menjalaninya. Aku tahu hal itu membutuhkan biaya yang sangat banyak dan suami harus menungguiku dalam proses itu wira wiri selama setahun paling tidak, Madiun -Surabaya. Aku tahu, tapi itu lebih baik kurasakan.

Akhirnya aku semakin mantap untuk memilih rompi Pak Warsito untuk mengatasi masalahku. Alhamdulillah waktu itu aku menemukan blog mbak Indira Abidin. Di sana ada beberapa cerita testimoni beberapa pasien C Care. Disitu aku membaca ada pasien dari Madiun, Mbak Afiana. Berkat bantuan Mbak Lang-Lang aku mendapat nomor wa Mbak Indira.

Aku berusaha mengubungi Mbak Indira untuk mendapatkan nomor Mbak Afiana. Tanggapan Mbak Afiana sangat baik. Esok paginya beliau langsung datang ke rumahku. Aku seperti mendapatkan saudara baru. Akhirnya ditemani Mbak Afiana yang kebetulan juga mau kontrol di Alam Sutra, dan ditemani Mbak Lang-Lang aku berhasil mendapatkan alat rompi Pak Warsito.

Alhamdulillah aku pun mulai memakai rompi Pak Warsito. Hidupku pun aku sesuaikan. Aku mengubah pola makanku, pola hidup dan pola pikirku. Semua berubah drastis. Aku berusaha makan lebih sehat, hidup lebih baik dan sehat. Aku juga selalu berusaha lebih berfikir positif dalam menghadapi kehidupan.

Alhamdulillah ya Allah. Berkat kanker aku lebih dekat denganMu, lebih sabar dan ikhlas

Saya selalu berusaha untuk sembuh, walaupun kondisi ekonomiku benar-benar serba terbatas. Aku pun selalu berusaha mendekat kepadaNya, mensyukuri kondisi apapun yang ada saat ini. Aku berbaik sangka pada Allah, yakin bahwa Allah pasti akan memberikan kesembuhan. Alhamdulillah semua ini membuatku lebih semangat untuk sembuh dan berusaha mencapai kesembuhan.

Alhamdulillah aku diikut sertakan dalam grup WA lavender Surabaya dan juga grup WA ECCT User. Aku pun mendapat banyak teman senasib seperjuangan. Hal ini sangat membantu kondisi psikisku. Di group-group ini aku banyak belajar untuk menyikapi apa yang sedang kualami saat ini.

Pengalaman teman-teman sangat berharga bagiku. Hatiku menjadi lebih tenang, ikhlas, apalagi Mbak Indira mengenalkan istilah ‘kurikulum kanker’ dan bukan ‘penyakit kanker’ sampai kadang lupa kalau sedang ada ‘makhluk’ lain sedang menghuni tubuhku.

Aku merasa sangat terharu dan tersentuh di Lavender. Dengan banyaknya teman mataku sangat terbuka. Kini aku bisa melihat bahwa banyak sekali permasalahan dalam hidup ini. Masalahku bukan satu-satunya masalah. Semua permasalahan teman-temanku juga menjadi pengalaman spiritual yang tak terlupakan dalam hidup. Menyelami semua itu semua membuatku merasa bahwa Allah begitu dekat.

Terima kasih untuk Mbak Indira yang telah banyak memberi masukan berharga. Terima kasih untuk teman-teman di grup, terima kasih untuk suamiku tercinta yang telah banyak mendorongku untuk lebih ‘kuat’ menghadapi hidup, terima kasih anak-anakku tercinta. Ibu masih ingin bersamamu lebih lama, melihatmu menjadi dewasa dan mandiri dalam hidupmu kelak. Tak terhingga terima kasih padaMU ya Allah. Kau telah mengingatkanku. Dengan kondisi semacam ini aku jadi lebih tunduk kepadaMU dan selalu ingat bahwa kematian memanglah tak berjarak bagi makhlukmu.

Sekarang aku merasa lebih bisa menjalani hidupku dengan pasrah, ikhlas, semeleh dan lebih bisa meredam hati, perasaan, dan keinginan. Aku jadi punya banyak teman, banyak saudara. Lavender banyak memberikan dukungan moral, spiritual. Berbagai pengetahuan, tips tercurah terus. Kami saling berbagi hati dan pengalaman. Inilah hikmah dari semua ini. Semoga Lavender terus berkembang dengan pengelolaan yang juga makin professional, sumber dana dan SDM yang mumpuni.

Terima kasih ya Allah, izinkan aku tetap istiqomah dalam perasaan dan hati semacam ini. Karena ini membuat jiwaku tenang. Alhamdulillah, kini aku menjadi lebih dekat denganMu. Hatiku kini lebih ikhlas, lebih sabar menjalani kehidupan ini.

Buat teman-teman yang baru mengalami hal yang sama, Insyaa Allah inilah yang terbaik untuk kita harus jalani. Allah sangat mengetahui apa yang terbaik untuk kita. Jangan mengeluh, tetap semangat dan berusaha melawan rasa tidak berdaya. Kita pasti bisa, dengan izinNya.

—————–

Ingin membantu teman-teman penerima kanker di Lavender? Silakan kirim donasi anda ke Yayasan Lavender Indonesia di Bank Mandiri nomor rekening 1270007342932. Kirim bukti transfer ke Indri Yusnita via wa atau sms di +62 815 8700930.