Kalau Allah izinkan kanker terjadi pada saya, itulah yang terbaik bagi saya. Alhamdulillah

Sakit atau sehat.png

Oleh: Tri Praptini, Lavender Ribbon Cancer Support Group, dalam rangka World Cancer Day dan Ulang Tahun Lavender Ribbon Cancer Support Group

Saya dilahirkan di solo 51 tahun lalu, diberi nama Tri Praptini, menikah di tahun 1995. Setelah menikah saya meninggalkan Solo mengikuti suami yang pada saat itu dinas di Boyolali. Alhamdulillah saya dikaruniai 3 anak di Boyolali. Sebelum anak ke 3 lahir pada tahun 2000, suami pindah ke Rembang, kota kecil di Jawa Tengah. Setelah 7 tahun dinas di Rembang suami di pindah lagi ke Pekalongan tahun 2007, jadi kami tak pernah menikmati hidup bersama saudara dalam satu kota, baik dari suami atau dari saya.

Tahun 2010 saya merasakan ada kelainan di payudara sebelah kanan. Di belakang puting agak mengeras seperti waktu payudara mau terbentuk, sementara yang kiri tetap biasa. Karena saya tak pernah merasa apa-apa, saya cuek. Sering saya tanya ke teman tapi jawabannya tak terlalu saya pikirkan. Memang saat menyusui ketiga anakku aku merasa lebih enak di payudara sebelah kiri. Setelah saya amati, lama-lama payudara kanan saya berubah bentuk, meskipun saya tak pernah merasakan sakit sama sekali.

Pada tahun 2014, setelah lebaran saudara dari Solo pada datang ke rumah, karena saat lebaran saya tidak pulang kampung. Saat berkumpul saya tanya ke saudara yang ibu serta kakaknya pernah kena kanker payudara dan dua-duanya meninggal. Ia punya juga seorang kakak yang juga mendapat anugerah kanker payudara. Kakaknya yang satu ini alhamdulillah bisa sembuh setelah diperasi, kemo dan konsumsi obat selama 5 tahun, berkat semangat hidupnya yang sangat tinggi.

Sayapun bertanya berapa biayanya. Katanya ratusan juta. Deg…saya uang darimana, sementara suami seorang PNS dan saya hanya ibu rumah tangga dengan 3 anak. Anak saya yang pertama pun baru lulus SMA dan alhamdulillah diterima di ITS Surabaya. Saya berfikir kalau untuk biaya saya berobat sebesar itu, bagaimana dengan anak saya? Tentu ia akan butuh banyak dana untuk kost. Uang kuliah dan biaya hidup di Surabaya juga tidak murah.

Menerima diagnosa tumor ganas

Akhirnya awal Agustus 2014 saya beranikan untuk memeriksakan diri ke dokter onkologi di RSUD Kraton Pekalongan. Saya di USG dan ronsen, dan memang ada tanda sel-sel kanker di payudra kanan saya tapi alhamdulillah tak ada penyebaran di paru-paru. Ketika dokter lihat hasilnya saya disarankan untuk biopsi dan alhamdulillah karena ada askes semua gratis.

Setelah 10 hari hasil biopsi keluar. Ternyata tumor ganas grade 3. Bagai disambar petir, perasaan saya kacau, apalagi mengingat anak-anak saya masih sangat membutuhkan saya. Anak pertama baru masuk kuliah, yang kedua kelas 1 SMA dan yang ketiga sedang duduk di kelas 2 SMP.

Dari hasil biopsi saya disarankan untuk kemoterapi 2 paket, setelah itu baru bisa dimastektomi. Setelah itu konsumsi obat selama 5 tahun. Saya disuruh segera mengambil keputusan karena kata dokter cara itu yang benar.

Saya pertimbangkan saran dokter dengan suami dan suami menyerahkan semuanya kepada saya. Saya jawab saya nggak siap. Saya menyaksikan teman-teman saya yang menjalani kemo seperti tidak berdaya. Yaah mungkin tak semua orang begitu. Semua memang tergantung kesiapan mental masing masing. Tapi saya benar-benar tidak siap. Akhirnya saya putuskan untuk tidak menjalankan saran dokter.

Saya memberi tahu kakak dan adik di Jakarta. Akhirnya kakak memberi tahu ada rompi untuk kanker di Alam Sutra hasil riset Dr. Warsito. Kakak juga memberitahu bahwa temannya ada yang pakai untuk mengatasi kanker otaknya dan ternyata hasilnya baik.

Sampai disini saya berfikir lagi, berapa harga rompi itu, dan berapa pula biaya transport bolak balik Jakarta. Sedangkan uang sudah banyak keluar untuk anak saya yang masuk kuliah. Ia butuh banyak dana untuk bayar asrama selama 1 tahun, uang kuliah 1 semester dan lain-lain.

Ternyata kakak dan adik mengatakan bahwa mereka akan menanggung penuh biaya rompi. Alhamdulillah …. untuk langkah pertama Allah sudah memberi kemudahan bagi saya. Dan bukan hanya disitu Allah memberi kemudahan bagi saya. Di tengah kegiatan ospek anak saya ternyata diterima di STAN. Dan setelah saya serahkan semua kepadanya, ternyata dia pilih STAN di Tangerang, dekat Alam Sutra, meski cuma D1. Dengan keputusan anak saya, saya lebih mantap melangkah terapi ke CCare.

Setelah saya membuat keputusan, saya mencoba datang lagi ke dokter onkologi. Saya mengatakan bahwa saya memilih untuk tidak kemo, dan saya akan ganti dengan pemakaian alat elektromagnetik. Saya hanya minta resep obatnya yang harus saya konsumsi selama 5 tahun.

Apa yang terjadi? Dokternya marah-marah mendengar keputusan saya. Saya pun langsung pamit. Setelah itu saya seperti trauma dengan dokter dan rumah sakit. Pada saat itu pikiran dan hati saya betul-betul kacau, karena saya berharap bisa jalan dua-duanya secara parallel, C Care dan medis, ternyata kenyataannya tidak bisa begitu. Akhirnya saya jalani di ccare dan diajak adik ke bogor pengobatan herbal sinshe.

Menjalani hal ini semua ini dalam dua bulan setelah diagnose kanker bukan sesuatu hal yang mudah bagi saya. Suami saya pegawai LAPAS yang sangat tidak mudah untuk izin walaupun untuk mengantar saya berobat ke Jakarta sekalipun. Saya jalan sendiri semua ini. Suami saya belum pernah sekalipun mengantar ke Jakarta. Dan saya harus maklum.

Selama tiga bulan pertama saya sering menangis, apalagi saat ada yang bertanya di Jakarta ataupun sepanjang perjalanan di kereta. Menjawab pertanyaan-pertanyaan itu saya merasa nelongso. Akibatnya,  saya semakin drop. Saya seperti tak punya semangat, tak punya tenaga dan takut kematian. Maklum sudah setengah abad lebih. Hampir setiap hari saya menangis dan saya pun bertambah lemah. Makin banyak menangis saya makin lemah.

Mulai bangkit dan mendapat doa Ibu

Sampai suatu saat saya tak tega melihat anak-anak dan suami yang mulai ikut bingung dan mulai tak terurus. Saya mulai bangkit. Saya mulai bertanya pada diri saya sendiri, “Kenapa harus nelongso? Kenapa harus sedih? Bukankah kamu harusnya bersyukur masih bisa jalan kemana mana sendiri. Kamu tak perlu digotong atau ditopang, syukuri itu semua, hidup sudah ada yang mengatur. Cobalah sabar, ikhlas, selalu bersyukur dan yakin dengan ikhtiar yang kamu jalani. Hidup mati semua urusan Allah.” Berkali-kali kata-kata itu saya katakan pada diri saya sendiri.

Alhamdulillah kata-kata itu membuat saya benar-benar bangun. Saya bisa punya semangat untuk tetap bertahan hidup demi keluarga. Saya bertekad untuk tetap sehat dan harus semangat demi orang orang yang saya sayangi.

Pada bulan Agustus waktu saya menerima diagnosa tumor, saya tak berani cerita ke ibu. Baru bulan Desember waktu saya sowan mengunjungi ibu di Madiun, saya beranikan untuk bercerita. Dengan kondisi fit saya bercerita. Tujuan saya hanya satu..ingin didoakan ibu.

Pada saat itu ibu saya menangis. Tak menyangka sama sekali. Padahal saat itu pengobatan sudah berjalan empat bulan. Memang sebelumnya setiap kali bertanya saya selalu bilang saya baik-baik saja.  Dan saya selalu berusaha telepon dua hari sekali. Saya selalu berusaha menelepon saat saya tak galau sehingga tak bisa Ibu mencium ada hal yang tak beres. Saya putuskan untuk menyampaikan langsung saat sowan, takutnya kalau lewat telepon ibu bisa salah tangkap.

Alhamdulillah setelah saya cerita ke ibu, saya merasa beban saya berkurang dan saya yakin doa ibu yang paling tulus, insyaa Allah dihijabah Allah. Saya sangat yakin akan hal itu. Saya sangat lega.

Banyak saudara berkat Lavender

Setelah satu tahun menjalani treatment, saya merasa lebih tegar menghadapi semuanya. Apalagi setelah saya bergabung di group Lavender. Saya sangat merasakan banyak sekali manfaat di group Lavender. Setelah bergabung, saya banyak belajar mengenai kesabaran, keikhlasan. Saya juga belajar keyakinan akan kebesaran Allah, selain rasa simpati dan empati terhadap teman yang meskipun belum pernah ketemu sudah seperti saudara. Kami di Lavender saling memberi semangat, saling menghibur dan semakin lama saya rasakan diantara kami timbul rasa cinta kasih. Insyaa Allah manfaat dan berkah berlimpah bagi saudara-saudaraku di Lavender. Terimakasih Lavender, Lavender inilah adalah jalan yang diberikan Allah untuk saya tetap semangat.

November 2015 alhamdulillah anak pertama saya lulus STAN. Dan sekali lagi Allah memperlihatkan kebesaranNya dan kasih sayangnya kepada saya. Anak saya dapat penempatan Purwokerto. Ia sudah bisa membiayai dirinya sendiri. Jadi saya hanya tinggal memikirkan dua adiknya yang tahun depan harus masuk kuliah.

Hikmah kanker

Ternyata selain memberi ujian, Allah telah memberi saya dan keluarga saya banyak kemudahan. Saya sangat merasakan selama kita selalu bersyukur Allah akan menambahkan kenikmatan bagi kita. Alhamdulillah, itulah yang saya rasakan dan saya jalani sampai saat ini. Dan Alhamdulillah saya tetap fit.

Sampai sekarang saya masih terus menekuni dua pilihan ikhtiar saya, C Care dan sinshe herbal di Bogor. Dua tahun empat bulan sudah saya jalani semua proses penyembuhan ini. Tujuh belas kali sudah saya bolak balik Pekalongan Jakarta sendirian. Suami tak bisa menemani. Tempat terapi saya di mana pun ia tak tahu. Itulah konsekuensi yang harus dijalani istri seorang abdi negara. Dan saya ikhlas. Saya jalani semua dengan penuh syukur.

Saya mendapatkan banyak hikmah dari kurikulum tumor saya. Saya banyak belajar untuk lebih sabar, banyak bersyukur dan berusaha ikhlas dengan semua ketentuan Allah. Saya yakin apapun yang saya alami, itulah yang Allah izinkan terjadi pada saya, dan itulah yang terbaik bagi saya. Saya sangat berprasangka baik padaNya. Dan alhamdulillah berkat itu semua saya terus menikmati berbagai kemudahan dan karuniaNya. Alhamdulillah, ya Allah.

Bagi semua saudaraku yang juga menerima kurikulum kanker, jangan pernah merasa sakit. Insya Allah kita semua sehat. Karena sakit atau sehat ada dalam batin kita, ada dalam benak pikiran kita, dan mempengaruhi kondisi tubuh kita. Sakit atau sehat adalah pikiran. Kita sehat kalau kita pikir kita sehat. Dan insya Allah itulah yang menjadi doa kita bagi seluruh sel dalam tubuh kita, pikiran kita dan jiwa kita.

Semangat sehat!

Ingin membantu teman-teman penerima kanker di Lavender? Silakan kirim donasi anda ke Yayasan Lavender Indonesia di Bank Mandiri nomor rekening 1270007342932. Kirim bukti transfer ke Indri Yusnita via wa atau sms di +62 815 8700930.

 

 

Menuju Surga Yang Dirindukan – Pengalaman Menghadapi Kanker dan Poligami Sekaligus

whatsapp-image-2017-02-05-at-20-35-21

Empat tahun sudah masa berlalu sejak aku dinyatakan sembuh dari kanker. Ya, Mei 2012 lalu dr. Heri Fajari Sp.Onkologi menyampaikan bahwa aku sudah bebas kanker. Aku seperti terlahir kembali. Alhamdulillah. Tapi aku sadar, tak mungkin aku bisa bebas sepenuhnya dari sel-sel kanker ini. Ia akan terus menjadi bagian dari hidupku, pengingat abadi yang tak pernah pergi. Perlakuan yang baik dan tepat terhadap jasad, perasaan, pikiran, penjagaan makanan akan membuat sel-sel ini bersahabat.

Shock menerima diagnose dan dokter yang menenangkanku

Menengok kembali ke masa-masa berproses dengan kanker, di tahun 2009 pada bulan April aku menerima diagnosa ini. Dokter menjatuhkan vonis Kanker Nasofaring stadium 3B pada saat itu. Aku ingat betul betapa aku merasa seperti mendengar petir di siang bolong. Dalam kebingungan menerima berita ini reaksi aku spontan menangis, sambil berusaha keras mencernanya dengan baik. Aku menangis karena kaget, shock, nggak nyangka akan dengar diagnosa kanker dari dokter. Shock yang dikhawatirkan ya mati. Dari yang kulihat dan kudengar, kalau kena kanker jarang ada yang bisa sembuh.

Sikap dr. Hari Fadjari yang menanganiku waktu itu tidak menampakkan tentang beratnya kanker. Beliau membuatku tenang. Saat memegang benjolan di leherku, beliau bilang “Ah, masih kecil ini mah, insyaAllah satu siklus kemo juga beres”. Kata-kata beliau sangat membesarkan hati dan membuatku bersemangat berjuang menjalani pengobatan demi kesembuhan. Itu peranan dokter yang cukup besar bagiku.

Aku berupaya sekuat tenaga menguatkan diri menerima ketetapanNya. Bersyukur Allah cepat mengembalikan kesadaran berpikirku, Allah masih menguatkanku. Aku menenangkan diri, mengumpulkan segenap keberanian untuk menanyakan pada dokter apa yang berikutnya harus aku lakukan. Dokter menyarankan agar diagnosanya lebih akurat aku direkomendasikan untuk segera melakukan biopsy, proses standar bagi para pasien kanker agar pengobatan tepat sasaran.

Sempat ragu dengan tindakan biopsy ini, karena informasi yang aku dengar cukup menakutkan, katanya biopsi seperti membangunkan macan tidur. Entahlah, rasa kaget masih belum hilang, setidaknya aku butuh waktu untuk bisa mendapatkan informasi yang cukup dulu, beristirahat sambil menguatkan hati. Dokter mempersilahkan sambil mengingatkan bahwa lebih cepat lebih baik karena berpacu dengan penyebaran kanker (metastase).

Dari pengalaman hidup dan pengajaran yang aku dapatkan, aku meyakini bahwa segala tindakan dan keputusan harus diawali dengan niat dan akad. Akad kepada Allah ta’ala, Sang Pemilik rahasia takdir. Dia-lah yang menetapkan kurikulum kanker ini bagi aku, maka aku akan mengembalikan hanya kepada-Nya jua. Aku akan pasrahkan dan serahkan bagaimana kurikulum ini harus aku jalani. Semua terserah pada-Nya. Jika Dia memberikan kebaikan ujian ini kepada aku, maka aku tahu Dia juga akan membantu aku menjalaninya.

QS Al Insyirah: 5-6
“… fa inna ma ‘al-usri yusroo, inna ma ‘al-usri yusroo…”
“..bahwa sesungguhnya BERSAMA kesulitan ada kemudahan,
sesungguhnya BERSAMA kesulitan ada kemudahan…”

Kanker membantuku lebih sabar, lebih ikhlas. Alhamdulillah.

Yakinlah kesembuhan bukan dari dokter, bukan dari mahalnya obat tapi dari keyakinan bahwa Allah yang menyembuhkanmu.png

Oleh: Afiana, Lavender Ribbon Cancer Support Group, dalam rangka #WorldCancerDay dan Ulang Tahun Kedua Lavender Ribbon Cancer Support Group

Penerima anugerah kanker, teruslah berkarya. Niatkan sebagai ibadah bagiNya.

20 Februari 2015, tepat sebulan satu hari dari ulang tahunku yang ke32, aku menerima diagnosa kanker, CA mamae invasive. Nyeri yang enam bulan aku rasakan, yang tadinya kufikir cuma pengaruh hormonal, ternyata adalah CA mamae. Allah berikan hadiah ini untuk saya.

Saat diberi tahu dokter aku menangis sedih. Kusalahkan Tuhan yang memberikan kanker. Kenapa aku? Aku tidak pernah ikut program KB hormonal, aku menyusui putriku sampai dua tahun, kenapa aku masih harus menghadapi kanker? Aku tak tahu apa yang Allah rencanakan bagiku. Tapi aku tetap yakin Allah punya hadiah yang spesial bagiku di balik semua ini. Aku yakin, tetap yakin.

Seminggu penuh aku mengurung diri dan menangis. Alhamdulillah Allah memberikan suami yang pengertian. Ia terus berusaha tegar di depanku. Tiap hari Minggu suamiku mengajak jalan-jalan ke mall untuk menghiburku. Tapi tetap aku tak mau. Aku menangis dan menangis. Suamiku pun mengalah. Dia tahu hobiku membaca. Dibelikannya aku buku-buku tentang Gus Dur. Ternyata inilah jalan Allah yang dibukakan melalui suamiku. Alhamdulillah.

Belajar dari Gus Dur dan bangkit

Dari cerita-cerita mengenai Gus Dur aku belajar bahwa penyakit apapun tak boleh menghalangi seseorang untuk tetap bersemangat hidup dan bermanfaat bagi orang lain. Gus Dur punya tumor pada matanya sejak kecil. Tapi Gus Dur tak pernah mengeluh. Gus Dur tetap bersemangat. Beliau mampu menjadi teladan bagi banyak orang, membawa manfaat bagi seluruh Indonesia, bahkan mampu menjadi presiden. Ia bisa menikmati hidup dengan bercanda dalam kondisi apapun. Setiap buku yang kubaca mengisahkan berbagai hal yang lucu, namun tetap menyentuh jiwa. Berkat cerita-cerita ringan inilah aku mulai bersemangat kembali.

Ya Allah, akhirnya pikiranku terbuka.

Dari situlah aku mulai bangkit. Aku mencoba untuk tegar. Aku mulai shalat istikharah, memohon petunjukNya, ikhtiar apa yang harus aku lakukan. Aku baca dalam Quran bahwa dalam lebah ada obat untuk berbagai penyakit. Dari situlah aku mulai mencoba berbagai produk lebah.

Kudengar juga dari adikku bahwa ada penemuan dari Dr. Warsito yang bisa membunuh sel kanker. Aku pun merasa bahwa inilah jawaban Allah untuk istikharah yang aku jalankan.

Aku pun memeriksakan diri ke dokter onkologi di Malang dan disarankan untuk operasi. Kalau saat operasi terjadi kebocoran, aku pun harus kemo. Suamiku tak mengizinkan kemo. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke Tangerang untuk mulai mencoba jaket ECCT, jaket listrik temuan Pak Warsito.

Alhamdulillah berkat doa dan dukungan semua saudara, Maret 2015 aku berhasil mendapat alat ECCT. Aku mendapat 1 bra ECCT dan 1 jubah ECCT. Mulailah terapi ECCT ku. Semiggu taka da rasa. Dua minggu pemakaian aku mual, muntah dan diare. Alat kupakai terus. Itulah dampak detox yang aku rasakan.

Teman-temanku penasaran dengan alat tersebut. Setiap orang yang mengunjungiku selalu bertanya soal jaket ini. Ada teman yang bilang, “Sebagai orang medis, carilah penyembuhan secara medis juga.”

Aku tahu ia khawatir dengan keadaanku. Aku tersebut. Kujawab, “Kita manusia. Allah yang maha tahu umur kita. Sakit bukan syarat mati. Yang sehat pun bisa meninggal. Jadi kita wajib ikhtiar. Aku tak tahu kapan matiku. Yang jelas di akhirat nanti kita akan mempertanggungjawabkan semua. Tanggung jawab saya sebagai istri, sebagai ibu, sebagai pegawai harus terus kujalankan. Aku tak mau disalahkan kalau lalai menjalankan tanggung jawab yang Allah berikan padaku. Maka dari itu aku memilih ECCT. Aku tetap bisa melayani suami, mengajari putriku dengan tugas-tugas sekplahnya dan tetap bisa menjalankan tugasku sebagai bidan, meskipun tentu tidak sesempurna biasanya.”

Temanku pun terdiam. Ia menyerah dengan kata-kataku dan berdoa untuk kesembuhanku. Aamiin.

Pola hidup baru

Kanker mengantarkanku pada pola hidup baru. Mulai saat itu aku berhenti makan protein hewani. Aku mulai membangun pola hidup yang tenang, santai, pelan-pelan tidak terburu-buru. Aku berusaha memaafkan semua yang menyakitiku. Aku berdamai dengan semua proses hidupku.

Alhamdulillah kondisiku membaik. Aku tetap fit. Pola hidup baruku benar-benar membantuku hidup lebih sehat lahir batin.

Propolis, madu, pollen dan royal jelly terus aku pakai. Untuk luka aku pakai aloe propolis cream. Aku akui aku kurang rajin, kurang telaten dan istikomah meminumnya. Meskipun demikian badanku terus fit, dan staminaku terjaga. Aku dapat menjalankan semua kewajibanku dengan baik. Alhamdulillah berkat semua yang kujalani kanker tak menghalangiku untuk terus berkarya dan bermanfaat bagi sesama.

Cobaan demi cobaan datang menjelang

Allah tak berhenti memberikan ujian bagiku. Di tengah prosesku menuju kesembuhan suamiku harus menjalani operasi batu ureter di pertengahan Ramadlan 2015. Lalu gentian aku mendapat rezeki putriku operasi usus buntu. Ya Allah, aku terus memohon kekuatan dariNya. Alhamdulillah aku terus diberikan kekuatan untuk merawat putriku.

Pada bulan Februari 2016 Allah beri aku hadiah kembali. Aku dipindah tugaskan dari desa yang dulu aku tempati. Desa sekarang lebih luas medannya, lenbih menantang di banding desa sebelumnya. Tapi kali ini mengurus putriku menjadi lebih repot. Tiap hari aku harus pulang ke rumah yang berjarak 30-an km untuk bisa terus mendampingi putriku bersekolah. Rupanya inilah ujian dari Allah, apakah aku tetap istiqomah untuk menjalankan pola hidup yang tenang dan sesuai kondisi tubuh.

Ternyata saat itulah aku lengah. Aku terlalu memforsir diri. Aku kelelahan. Aku lengah ketika kondisi sudah bagus, aku mulai bersepeda dengan jarak jauh. Akhirnya benjolan bertambah menonjol dan pecah.

Dengan pengalaman itu aku banyak belajar. Kini aku berusaha untuk kembali menata pikiran agar aku tak terlalu berambisi. Aku belajar tenang. Akhirnya demi kesembuhanku aku tinggal di tempat kerja suami dan ankku di rumah. Kami bertemu sekali seminggu. Sedih sekali, pasti. Tapi kalau ini yang Allah ingin aku jalankan, aku ikhlas.

Lavender bagiku, membuka hikmah di balik kanker

Alhamdulillah ketika galau datang, Allah kirimkan Mbak Indira dan teman-teman Lavender untuk terus berbagi hal-hal yang positif dan menenangkanku. Berkat apa yang dibagi dalam group aku sematkan dalam pikiranku bahwa dunia itu sementara. Dunia adalah ladang amal. Jika kita ikhlas bersyukur Allah berikan lebih dari yang kita duga. Berfikir positif itu kuncinya, tersenyum itu amalannya. Meski hati sedih, cobalah lebarkan bibirmu, tariklah ke atas dan tersenyumlah. Insya Allah dukamu beralih menjadi bahagia.

Kanker mengajarkan saya untuk lebih sabar, taat pada orang tua, pada suami. Kanker menyadarkanku bahwa aku selama ini egois, merasa paling benar sendiri. Kini aku belajar sabar dan nrimo. Bagiku dukungan suamiku dan keluargaku sangat berarti dan sangat kusyukuri. Suamiku dan keluargaku benar-benar tahu apa yang aku sukai. Mereka terus berusaha membuatku selalu happy. Alhamdulillah. NikmatMu yang mana lagi yang hendak kudustakan, ya Allah. Semua begitu indah.

Terima kasih, Lavender. Terima kasih, Teh Indi dan teman-teman semuanya. Semoga terus bermanfaat bagi semuanya.

Bagi semua pendamping, sebisa mungkin buatlah para penerima anugerah kanker ini selalu nyaman agar mereka juga bisa lebih sabar dan tenang dalam menjalani pelajaran kankernya. Bagiku hal inilah yang benar-benar berperan dalam proses kesembuhanku.

Bagi teman-teman dan siapapun yang juga menerima anugerah kanker, tersenyumlah. Itulah hadiah terindah dari Allah bagi kita semua. Yakinlah Allah akan menyembuhkan kita pada waktu yang paling tepat dan indah. Yakinlah kesembuhan bukan dari dokter, bukan dari mahalnya obat tapi dari keyakinan bahwa Allah yang menyembuhkanmu. Jangan pernah putus asa dan jangan bersedih karena Allah selalu ada dan mencintai kita. Allah itu kun fayakun, kalau bilang “terjadi” maka akan terjadi. Mari kita tunggu takdir kesembuhan dengan sabar, doa dan tetap istikomah dalam berikhtiar.

Tetaplah berkarya, manfaatkan umur. Selalulah merasakan sehat, pasti kita sehat. Aamiin.


Ingin membantu teman-teman penerima kanker di Lavender? Silakan kirim donasi anda ke Yayasan Lavender Indonesia di Bank Mandiri nomor rekening 1270007342932. Kirim bukti transfer ke Indri Yusnita via wa atau sms di +62 815 8700930

 

Mencari surga yang dirindukan 3 – sakit itu bukan untuk dikeluhkan tapi untuk disyukuri dan dinikmati

Sakit bukan untuk dikeluhkan.Sakit adala.png

Oleh Lilik Andini, Lavender Ribbon Cancer Support Group, dalam rangka #WorldCancerDay dan Ulang Tahun Kedua Lavender Ribbon Cancer Support Group

Sakit itu untuk disyukuri

Selama 4 tahun yang diwarnai dengan harap dan cemas itulah aku mendapatkan banyak pengajaran. Salah satunya adalah belajar menikmati. Menikmati segala rasa sakit yang bertubi-tubi di tubuh ini. Menikmati ketidakberdayaan jasad hingga harus bergantung kepada orang lain. Menikmati segala bentuk pemberianNya. Tentu saja ini bukanlah hal yang mudah. Aku belajar bahwa ketika mengeluh, rasa sakit malahan menjadi berkali-kali lipat rasanya, walaupun mengeluh itu hanya sekedar bersuara pelan menahan sakit. Saat kita mengeluh, pikiran kita hanya fokus ke sakitnya, bukan ke proses penyembuhannya.

Tapi ketika aku terima rasa sakit itu, aku berusaha menikmatinya, maka rasa sakitnya akan jauh berkurang. Ternyata jika rasa sakit itu kita terima dengan diam dan ikhlas, maka rasa sakitnya akan berkurang, dan proses penyembuhannya pun terjadi. Yang kulakukan saat rasa sakit yang amat sangat itu datang adalah terus meyebut Allah di lisan dan hati saya. Benar-benar hanya dengan itu sakitnya bisa reda.  Saat itu aku sudah minum obat penahan sakit level tinggi (morphin), tapi morphin tidak membantu menghilangkan sakit, malah tubuh nggak karuan rasanya. Menyebut nama Allah lebih ampuh ternyata.

Ibarat berenang melawan arus yang kuat, maka kita akan babak belur dibuatnya. Alih-alih melawan, dengan menerima dan menikmati maka kita akan mengalir bersama ketetapanNya. Kesimpulannya, sakit bukan untuk dilawan atau untuk dikeluhkan, tapi untuk diterima, disyukuri dan dinikmati.

Doaku tak pernah putus asa agar Allah senantiasa membimbing dan mengajariku. Dan sungguh aku merasakan bimbingan dan pengajaranNya dalam setiap proses perjuanganku, yang  membuatku takjub luar biasa. Allah memang Maha Kasih dan Sayang. Allah tak akan pernah meninggalkan hambaNya yang meminta pertolongan padaNya. Bukan satu dua kali aku merasa takut dan lemah harapan. Sering terbersit apakah aku sangggup menjalani kurikulum ini. Hingga aku menguatkan diri dengan berpikir bahwa aku hanya akan memiliki dua pilihan pada akhirnya, yaitu sembuh dan sehat atau mati saat berjuang melawannya. Tak ada yang lain. Ajal telah ditetapkan di Lauh Mahfudz. Tak akan dimajukan pun dimundurkan meski sesaat. Ketetapan Allah sudah pasti. Kematian kita pun sudah pasti. Kita bisa mati kapan pun, tak harus lewat penyakit bernama kanker ini. Yang bisa kita ikhtiarkan adalah kualitas menjalani kehidupan kita masing-masing. Bagaimana agar dalam hidup kita selalu menghadapkan wajah kita kepada Allah, bukan pada dunia.

 

Kanker: cara bersegera mendekat menuju Allah

Lalu aku membayangkan saat dulu jasad ini masih sehat, apakah aku sudah menjalani kehidupan aku sesuai dengan harapanNya? Mungkin belum. Mungkin Allah menginginkan aku mendekat padaNya lewat kanker. Aku dan tentunya kita semua menginginkan kematian yang husnul khotimah. Memenuhi panggilanNya saat hati kita sedang menghadap padaNya. Bagiku pada saat itu, akan lebih mudah mempersiapkan diri untuk mati karena kanker  ketimbang mempersiapkan diri untuk sembuh dari kanker. Aku tak ingin badan yang sehat justru membuatku lalai dari Allah. Seringkali kesehatan, kemapanan dan kesenangan duniawi membuat kita lupa mempersiapkan bekal untuk mati.

Bersahabat dengan kanker membuatku hanya ingin meninggal dengan selamat. Pikiran dan hati yang selamat. Yang menerima bulat segala ketetapanNya, agar kemudian aku bisa melanjutkan perjalanan ke alam berikutnya dengan bekal yang cukup. Jadi jika ada yang bertanya kepadaku, apa yang kamu dapatkan dari kanker? Maka aku akan menjawab, kanker memberi aku pelajaran besar tentang penerimaan, sabar menjalani ketetapannya dan bersyukur atasnya, serta ikhlas menjalani takdirNya.

Apakah ada saat di mana aku mengeluh? Pasti. Tapi aku tak mau hanyut dalam keluhan, kesedihan, dan keputusasaan. Bersegeralah menguatkan kembali genggaman tangan kita denganNya. Mintalah padaNya kekuatan, menjeritlah hanya padaNya, jika tak sanggup menahan derita maka mengeluhlah hanya padaNya, bukan kepada makhlukNya. Sehingga dalam kondisi apa pun kita senantiasa terhubung dengan Allah, selalu mengingatNya, berdzikir dalam naik-turunnya kehidupan dunia.

Banyak pertolongan Allah yang kuterima dan rasakan selama menjalani kurikulum kanker, di antaranya hadirnya orang-orang yang membantu baik materiil maupun moril.

Keadaan ekonomi keluarga kami saat itu sangat tidak memungkinkanku berobat ke dokter, tapi Allah yang membuat semua itu mungkin. Melalui bantuan keluarga dan teman-teman komunitas pengajian, aku bisa berobat ke rumah sakit dan menjalani rangkaian kemotherapi dan radiasi. Kita semua tau, tak sedikit uang yang harus dikeluarkan untuk itu, namun Allah membuat itu mungkin, Subhanallah, Alhamdulillaah, Allahu Akbar.

Secara moril support berupa semangat dan nasehat juga banyak kudapatkan. Terutama dari Guruku. Sosok beliau sangat berarti buatku. Beliaulah yang selalu menasehati dan mengingatkan untuk bisa memanfaatkan sakit sebagai momen berdialog dengan Allah, Sang Pemberi Kurikulum. Nasehat ini sangat berarti dan berharga saat itu bahkan sampai saat ini.

Karena dengan selalu berdialog denganNya, aku punya tempat mencurahkan semua perasaan yang tak mungkin  dicurahkan kepada orang lain, sekaligus mendapat jawaban atas semua masalahku.

Pesanku bagi semua sahabat dan dokter

Sungguh sahabat-sahabatku, hanya itulah yang akan menolong kita. Tak ada yang lain. Bukan semata kecanggihan teknologi, bukan manjurnya obat-obatan, bukan hebatnya para dokter, karena itu semua juga dalam kuasa-Nya. Sesungguhnya Allah itu dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher kita, namun seringkali kita lalai dan alpa.

Kanker hanyalah salah satu cara agar kita bersegera mendekat menuju Allah. Karena lewat kanker kita mengingat mati. Karena ingin mati dalam keadaan selamat, maka kita pun berupaya keras mempersiapkan bekal yang baik dan cukup untuk menghadapi kematian.

Orang sakit berjihad dengan cara menempuh semua yang harus ditempuh untuk mencapai kesembuhan dengan penyikapan yang tepat. Bila kita sanggup menjalani kurikulum besar ini dengan hati yang selalu terhubung pada-Nya, maka insya Allah hati kita akan tenang. Sehingga kita akan siap menghadapi kemungkinan sembuh atau bahkan mati.

Bagi semua dokter, sikap tenang dan positif seorang dokter dalam menghadapi pasien kanker sangat penting, karena rasanya siapapun yang menerima vonis kanker atas dirinya, pada umumnya akan shock saat mendengarnya.

Aku tahu bahwa aku sangat beruntung karena tak semua orang mengalami hal yang sama. Harapanku, ke depan, semoga dokter lebih banyak berperan dalam membantu pemulihan pasien secara permanen. Dokter dapat berperan banyak dan sangat membantu dalam bersikap tenang dan menyampaikan kata-kata positif bagi pasien. Dokter perlu mendiagnosa dengan cermat dan teliti. Separah apapun kondisi penyakit dan kondisi pasien, dokter tetap perlu membesarkan hati dan membantu memberi harapan. Dokter dapat mengoptimalkan pengobatan terhadap pasien baik dari aspek obatnya maupun aspek mental dan psikisnya.

Bagi semua teman dan keluarga pasien, perhatian dan dukungan teman-teman, baik materil maupun moril juga berpengaruh besar dalam proses kesembuhan. Di saat kondisi fisik dan mental melemah saat menjalani pengobatan, aku terus mendapat semangat mereka untuk tidak berputus asa dan terus semangat utk berjuang.

Selamat berjuang sahabat-sahabatku terkasih, jadikanlah momen ini sebagai kesempatan emas untuk mendekat padaNya. Doaku akan selalu menyertai sahabat semua.

Tamat.

Selengkapnya:

Mencari surga yang dirindukan 1: pengalaman menghadapi kanker dan poligami sekaligus

Mencari surga yang tak dicari 2: poligami sebagai pengingat, kanker sebagai peredam

Mencari surga yang tak dicari 3: sakit itu untuk disyukuri, bukan untuk dikeluhkan.


Ingin membantu teman-teman penerima kanker di Lavender? Silakan kirim donasi anda ke Yayasan Lavender Indonesia di Bank Mandiri nomor rekening 1270007342932. Kirim bukti transfer ke Indri Yusnita via wa atau sms di +62 815 8700930.

 

 

Mencari surga yang dirindukan 2: poligami adalah pengingat, dan kanker adalah peredam

ingatlah-hanya-dengan-mengingat-allah-hati-menjadi-tenteram

Oleh: Lilik Andini, Lavender Ribbon Cancer Support Group, dalam rangka World Cancer Day dan Ulang Tahun kedua Lavender Ribbon Cancer Support Group

Ijab kabulku kepada Allah swt

Ibarat dua sisi mata uang yang berpasangan maka demikian jugalah Allah memasangkan kesulitan dan kemudahan. Mereka hadir bersama-sama, keduanya adalah bentuk perahmatan Allah. Maka yang pertama kali aku lakukan, di tengah segala kebingungan dan kecemasan hati seorang manusia biasa, aku berijaab kabul padaNya. Aku katakan dengan penuh pengharapan, “Ya, Allah, hamba menerima pemberian-Mu ini… bantulah hamba melalui semua ini ya, Allah. Tolong serahkan hamba ke tangan orang yang tepat dan jadikanlah hamba sebagai pasien yang baik.”

Alhamdulillah selama menjalani kurikulum ini,  Allah mudahkan bertemu dengan orang-orang yang tepat. Dokter-dokter berpengalaman yang sangat kooperatif dan membantu, prosedur RS yang tak terlalu berbelit-belit, hingga sahabat-sahabat yang sangat mendukung secara moril dan finansial dan menyemangati ikhtiar aku untuk sembuh, semua dihadirkan bagiku.

Menemukan kanker sebagai kurikulum

Dan layaknya sebuah kurikulum maka aku diharuskan mengambil pelajaran darinya. Tanpa aku sadari, kanker menjadi teman untuk belajar dan memaknai hidup. Menyelami apa kehendak Allah untuk aku. Kurun waktu 4 tahun bukanlah waktu yang singkat. Sejak tahun 2009 divonis hingga 2012, jatuh bangun pun aku alami. Saat aku merasa lemah, ijab Kabul dengan Allah menguatkan aku untuk kembali tegak berdiri. Tempaan fisik dan mental itu terasa sangat menguras diri aku, membuat aku merasa tak memiliki daya upaya apa pun kecuali hanya kebergantungan pada-Nya. Kasih akung-Nya ditunjukkan lewat dukungan banyak orang, kadang bahkan dari sosok dan waktu yang tak pernah aku duga sama sekali. Sungguh-sungguh, Allah telah memberikan aku kesempatan berharga untuk belajar ‘akrab’ denganNya.

Pada hakikatnya setiap kurikulum hidup apapun bentuknya, itu adalah bentuk kasih sayangNya kepada kita, semua kembali kepada kita, apakah kita bisa melihat dan merasakannya. Kurikulum kanker aku terima, kira-kira 6 bulan setelah aku menjalani kurikulum poligami. Dua kurikulum yang cukup berat dan padat yang aku rasakan ketika itu. Dengan 2 kurikulum itu, Allah menyadarkanku, bahwa hanya kepadaNya aku mengembalikan urusan-urusan itu. Hanya Allah tempat aku bersandar.

Dalam setiap doa, aku selalu memohon agar selalu Allah bimbing dan ajari bagaimana menjalani poligami dan kanker ini dgn baik. Dan aku betul-betul merasakan bimbingan dan pengajaranNya.

Poligami yang baru 6 bulan aku jalani ketika itu, masih membuat aku gelagapan, perasaan tak menentu menentu, pikiran yang kadang baik kadang buruk, semua sisi-sisi buruk perempuanku keluar. Aku merasa cemburu, merasa diperlakukan tidak adil, prasangka buruk ke suami ataupun Ica, istri barunya, dll. Saat itu aku betul-betul merasa seperti tercerabut. Aku bingung harus bersikap seperti apa. Hati kecilku sangat ingin menjadi istri yang baik bagi suami dan menjadi  kakak dan partner yang baik bagi Ica. Namun di sisi lain tarikan emosi perempuanku begitu kuat. Aku betul-betul merasa chaos.

Dan dalam keadaan seperti itulah Allah menolong aku dengan memberi kurikulum tambahan, yaitu kanker. Ternyata memang hanya kankerlah yang bisa meredam semua emosi buruk perempuan aku ketika itu. Dengan hadirnya kanker, Allah menyadarkan aku tentang kematian. Kematian adalah sesuatu yang pasti, dan ketika kepastian itu datang, aku berharap aku bisa menerima dan menyambutnya dengan baik dan dengan hati yang sukacita.

Untuk mencapai hati seperti itu, aku menyadari bahwa hatiku harus bersih, dan itu butuh proses. Allah menghadirkan kanker untuk memprosesnya.

Melalui poligami Allah menyadarkanku bahwa tanpa kusadari selama ini, aku begitu mencintai dan sangat terikat dengan suamiku, sehingga tidak ada ruang untuk Allah di hatiku, dan itu terlihat dari besarnya rasa cemburu, merasa diperlakukan tidak adil dan prasangka buruk.

Melalui kanker Allah mengajarkanku meredam  para penyakit hati ini, karena aku perlu fokus menjalani proses penyembuhan kanker. Penyakit hati terkait poligamipun bisa diam dan pergi dengan sendirinya, alhamdulillaah.

Fokus pada proses penyembuhan kanker membuatku belajar menerima dengan ikhlas apapun yang terjadi dalam poligami, karena kondisi hati dan pikiran yang tenang sangat dibutuhkan dalam proses penyembuhan kanker. Hati dan pikiran akan tenang hanya bisa jika hati selalu dalam kondisi mengingat Allah (QS.13:28 “…Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”). Pada titik ini, pelan-pelan aku mulai mengerti tujuan Allah memberikan dua kurikulum ini dalam waktu bersamaan, alhamdulillaah. Kesadaran ini sangat membantuku menjalani kurikulum kanker selama empat tahun.

Dengan memberi poligami dan kanker secara bersamaan, Allah mengajariku untuk bersegera membersihkan hati demi menyiapkan diri menyambut ajal dengan baik, husnul khotimah.

Jadi…di saat pikiran atau emosi sedang kurang baik, Allah menyadarkanku untuk segera menepisnya, karena itu akan mengotori hati. Proses ‘pembersihan’ itu aku rasakan berlangsung selama aku sakit kurang lebih 4 tahun. Banyak pelajaran yang Allah berikan saat itu.

(Bersambung…)

Selengkapnya:

Mencari surga yang dirindukan 1: pengalaman menghadapi kanker dan poligami sekaligus

Mencari surga yang tak dicari 2: poligami sebagai pengingat, kanker sebagai peredam

Mencari surga yang tak dicari 3: sakit itu untuk disyukuri, bukan untuk dikeluhkan.


Ingin membantu teman-teman penerima kanker di Lavender? Silakan kirim donasi anda ke Yayasan Lavender Indonesia di Bank Mandiri nomor rekening 1270007342932. Kirim bukti transfer ke Indri Yusnita via wa atau sms di +62 815 8700930.