Oleh Putri, dalam rangka World Cancer Day dan ulang tahun Lavender Ribbon Cancer Support Group

Kaget. Tidak percaya. Takut. Panik. Sedih.

Berbagai perasaan dan bayangan menyeramkan memenuhi benakku, sesaat setelah aku melakukan Sadari malam itu. Ada benjolan di payudara kiriku. Inikah kanker? Penyakit nomor 2 paling mematikan? Bagaimana dengan anak-anakku?

Secepatnya aku langsung browsing tentang benjolan dan kanker payudara. Sejujurnya aku masih tidak ingin mempercayai adanya benjolan, dan ingin mencari alasan untuk pembenaran penolakan atas fakta itu. Hasilnya? Aku makin bingung dan ketakutan…

Ditengah kegalauan itu aku memutuskan menghubungi Mbak Indira Abidin yang aku tahu sebagai salahsatu survivor yang aktif. Juga menghubungi Bapak Sayhriar Rizza. Terapis dari Terapi Hati, dimana aku sudah pernah menjadi kliennya beberapa tahun lalu. Malam itu juga Pak Rizza memberiku beberapa link video tentang breast cancer. Dan malam itu, aku langsung dibantu untuk mengatasi perasaan galauku, kemudian aku mulai menyimak video-video tentang breast cancer tersebut.

Sebenarnya aku sudah berteman dengan Mbak Indira di FB sejak lama. Uniknya aku baru ngeh tentang Mbak Indira dan Lavender Ribbon Cancer Support Groupdari Pak Rizza tahun lalu menjelang ulang tahun pertama Lavender di Sentul.

Esok paginya, mbak Indira menjawab banyak pertanyaan-pertanyaanku seputar breast cancer. Mbak Indira juga memberi list berbagai cara dan tempat yang bisa membantuku mengatasi benjolan ini. Aku diingatkan untuk memohon petunjuk Allah sebelum melakukan langkah selanjutnya.

Dalam sebuah artikel yang pernah aku baca:

Dr. Selve (1956), seorang pelopor pada studi stress dan bagaimana stress mempengaruhi setiap aspek kehidupan kita, mengatakan :

You may think that only serious disease or intensive physical or mental injury can cause stress. This is false. Crossing a busy intersection, exposure to a draft, or even sheer joy is enough to activate the body’s stress mechanism to some extent. Stress is not even necessarily bad for you: it is also the spice of life, for any emotion any activity causes stress. But, of course, your system must be prepared to take it. The same stress which makes one person sick can be an invigorating experience for another.

(Mungkin anda mengira bahwa hanya penyakit serius, kecelakaan fisik atau mental yang bisa menyebabkan stress. Ini tidak benar. Menyeberang jalan yang ramai, atau bahkan terlalu gembira pun dalam tingkat tertentu bisa mengaktivasi mekanisme stress dalam tubuh. Stress tidak selalu buruk bagi anda, stress juga bisa menjadi bumbu kehidupan, karena semua emosi dan kegiatan dapat memunculkan stress. Tentunya system anda harus siap menghadapinya. Stress yang menyebabkan seseorang sakit bisa saja menjadi pengalaman menyenangkan bagi yang lain).

Pagi itu aku lakukan sadari lagi. Kali ini dengan lebih perlahan, cermat dan tenang. Ternyata terdapat 3 benjolan di payudara kiri dan 2 benjolan di kanan.

Setelah berdoa, dan dengan pertimbangan bahwa aku sudah mengenal Terapi Hati, karena aku pernah mengikuti training dan menjadi terapis dengan ilmu yang sama, maka aku memutuskan langsung melakukan terapi mandiri. Pak Rizza membimbingku dengan beberapa trik baru dalam menjalani Terapi mandiri untuk proses kesembuhan dari breast cancer ini.

Terapi ini fokus mengatasi pada perasaan atau emosi negatif.

Bukankah dokter selalu menyarankan pada pasien “Istirahat yang cukup, jangan stress”?

Dan dari banyak penelitian 70-90% penyakit disebabkan oleh emosi negatif.

Setelah lebih tenang dan sudah menjalani Terapi mandiri beberapa hari, aku pun memberanikan diri menjalani scan di Pusat Riset Bapak Warsito di Alam Sutera, sesuai saran Mbak Indira. Hasilnya terdapat sel aktif di kedua payudaraku. Jadi sebenarnya ketika melakukan scan, benjolanku sudah berkurang dibandingkan awal ketahuan ada benjolan. Karena aku sudah menjalani terapi mandiri.

Aku melakukan terapi mandiri di rumah sendiri. Terapi mandiri ini terdiri dari 3 tahap, yang tentunya sudah dianalisa Pak Rizza sesuai dengan kondisiku. Dalam sehari, aku biasanya melakukan terapi mandiri 5x, seusai menjalankan sholat wajib atau sholat sunah. Awalnya pak Rizza hanya mengarahkan supaya aku menyediakan waktu untuk terapi 3-4jam sehari. Pada prakteknya aku melakukan terbagi menjadi 5x.

Aku memilih melakukan setelah sholat, karena saat itu kondisiku masih dalam keadaan berwudhu, dan kondisi fisik, pikiran dan perasaanku setelah sholat dan berdo’a lebih mudah untuk menjalankan terapi mandiri tersebut.

Bagian terapi mandiri yang menurutku cukup unik adalah bagian “tanya-tanya”. Di tahap ini aku berbicara pada hati nuraniku sendiri. Awalnya agak membingungkan. Lama-lama aku jadi sangat menyukai bagian ini. Karena, dengan berbicara pada nuraniku, ternyata banyak hal yang baru aku ketahui tentang diri sendiri. Misal ketika aku merasa takut sesuatu, ternyata dibalik itu, adalah usaha nuraniku untuk menjagaku. Aku juga jadi ngeh, ternyata selama ini aku terlalu cuek pada diri sendiri. Nuraniku berusaha supaya aku lebih perhatian pada diri sendiri. Karena agamaku pun tidak membenarkan mendzolimi diri sendiri.

Dua minggu menjalani terapi seperti itu, Alhamdulillah…benjolan di masing-masing payudara tinggal 1.

Bagaimana efek yang aku rasakan?

Seperti detox saja…reaksi di tubuh berbeda-beda setiap orang.

Yang pasti, dengan metode ini akan melalui dua fase. Fase dingin dan hangat. Ketika kita stres karena sesuatu, nafsu makan berkurang, itu fase dingin. Ketika stres berhasil dilalui, masuklah ke fase hangat. Suhu tubuh naik sedikit, nafsu makan membaik, mudah lelah, mudah mengantuk. Semua gejala itu bisa berulangkali dirasakan karena itu terjadi sesuai dengan emosi yag sudah teratasi menjadi netral.

Hikmahnya banyak sekali dengan adanya kanker di payudara ini dan menjalani terapi mandiri. Aku jadi lebih mengenal diri sendiri. Insyaa Allah aku juga menjadi lebih perhatian pada diri sendiri.

Aku belajar ikhlas, karena dengan memutuskan fokus menjalani terapi mandiri, akupun merelakan usaha kuliner sebagai mata pencaharianku. Apalagi setelah memasuki Fase Healing, tubuhku mudah lelah.

Hikmah lainnya, karena memang tidak terbiasa berdiam diri, aku berpikir untuk kembali belajar menulis, dengan pertimbangan bisa dilakukan fleksibel waktunya dan tidak memerlukan banyak tenaga fisik. Dan masyaa Allah….Allah mudahkan semua keinginanku. Aku diajak teman mengikuti pelatihan menulis. Aku ingat, aku datang dalam kondisi demam dan tubuh kurang fit. Sepanjang acara aku bersedekap dengan jaketku karena demam. Tapi aku senang dan semangat sekali mengikuti acara tersebut hingga selesai. Acara pelatihan menulis selanjutnya, kondisi fisikku juga tidak beda jauh, masih demam.

Dan ternyata dalam waktu relatif singkat, Allah atur aku bertemu dengan orang-orang luar biasa, sehingga artikel ku pun tayang di sebuah media dunia maya. Bahagia, bangga, bersyukur. Tak lama artikelku yang lain pun berhasil menang sebuah lomba.

Aku pun semakin serius menekuni dunia menulis, karena ternyata dengan menulis juga memberikan efek terapi pada diriku. Selain itu aku juga mulai melakukan hal-hal yang dulu aku sukai, lama tidak kulakukan, dan kemudian aku yakini memberi efek terapi pada diriku. Aku mulai melukis lagi, hunting foto di sekitar rumahku, dan memasak untuk keluarga.

Kanker ini membuat aku menemukan kembali hadiah-hadiah Allah padaku berupa aneka kemampuan…Alhamdulillah…

——

Ingin membantu teman-teman penerima kanker di Lavender? Silakan kirim donasi anda ke Yayasan Lavender Indonesia di Bank Mandiri nomor rekening 1270007342932. Kirim bukti transfer ke Indri Yusnita via wa atau sms di +62 815 8700930.

2 thoughts on “Sukses atasi kanker dengan terapi mandiri. Alhamdulillah.

    1. Alaikumussalam ww
      Terapi mandiri banyak sekali cara dan metodenya. Yang saya jalankan pun ada banyak, mencakup mengubah pola makan dan pola pikir. Lavender sering sekali mengadakan training terapi mandiri. Coba nanti kontak Mbak Emmy di +62 858-1124-1429. Kami akan adakan pelatihan terapi mandiri (self healing) seminggu sekali di Rumah Lavender.

      Apapun metode yang diambil terapi mandiri penting sekali tetap dilakukan untuk menghadapi kanker secara holistik.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s