Menuju Surga Yang Dirindukan – Pengalaman Menghadapi Kanker dan Poligami Sekaligus

whatsapp-image-2017-02-05-at-20-35-21

Empat tahun sudah masa berlalu sejak aku dinyatakan sembuh dari kanker. Ya, Mei 2012 lalu dr. Heri Fajari Sp.Onkologi menyampaikan bahwa aku sudah bebas kanker. Aku seperti terlahir kembali. Alhamdulillah. Tapi aku sadar, tak mungkin aku bisa bebas sepenuhnya dari sel-sel kanker ini. Ia akan terus menjadi bagian dari hidupku, pengingat abadi yang tak pernah pergi. Perlakuan yang baik dan tepat terhadap jasad, perasaan, pikiran, penjagaan makanan akan membuat sel-sel ini bersahabat.

Shock menerima diagnose dan dokter yang menenangkanku

Menengok kembali ke masa-masa berproses dengan kanker, di tahun 2009 pada bulan April aku menerima diagnosa ini. Dokter menjatuhkan vonis Kanker Nasofaring stadium 3B pada saat itu. Aku ingat betul betapa aku merasa seperti mendengar petir di siang bolong. Dalam kebingungan menerima berita ini reaksi aku spontan menangis, sambil berusaha keras mencernanya dengan baik. Aku menangis karena kaget, shock, nggak nyangka akan dengar diagnosa kanker dari dokter. Shock yang dikhawatirkan ya mati. Dari yang kulihat dan kudengar, kalau kena kanker jarang ada yang bisa sembuh.

Sikap dr. Hari Fadjari yang menanganiku waktu itu tidak menampakkan tentang beratnya kanker. Beliau membuatku tenang. Saat memegang benjolan di leherku, beliau bilang “Ah, masih kecil ini mah, insyaAllah satu siklus kemo juga beres”. Kata-kata beliau sangat membesarkan hati dan membuatku bersemangat berjuang menjalani pengobatan demi kesembuhan. Itu peranan dokter yang cukup besar bagiku.

Aku berupaya sekuat tenaga menguatkan diri menerima ketetapanNya. Bersyukur Allah cepat mengembalikan kesadaran berpikirku, Allah masih menguatkanku. Aku menenangkan diri, mengumpulkan segenap keberanian untuk menanyakan pada dokter apa yang berikutnya harus aku lakukan. Dokter menyarankan agar diagnosanya lebih akurat aku direkomendasikan untuk segera melakukan biopsy, proses standar bagi para pasien kanker agar pengobatan tepat sasaran.

Sempat ragu dengan tindakan biopsy ini, karena informasi yang aku dengar cukup menakutkan, katanya biopsi seperti membangunkan macan tidur. Entahlah, rasa kaget masih belum hilang, setidaknya aku butuh waktu untuk bisa mendapatkan informasi yang cukup dulu, beristirahat sambil menguatkan hati. Dokter mempersilahkan sambil mengingatkan bahwa lebih cepat lebih baik karena berpacu dengan penyebaran kanker (metastase).

Dari pengalaman hidup dan pengajaran yang aku dapatkan, aku meyakini bahwa segala tindakan dan keputusan harus diawali dengan niat dan akad. Akad kepada Allah ta’ala, Sang Pemilik rahasia takdir. Dia-lah yang menetapkan kurikulum kanker ini bagi aku, maka aku akan mengembalikan hanya kepada-Nya jua. Aku akan pasrahkan dan serahkan bagaimana kurikulum ini harus aku jalani. Semua terserah pada-Nya. Jika Dia memberikan kebaikan ujian ini kepada aku, maka aku tahu Dia juga akan membantu aku menjalaninya.

QS Al Insyirah: 5-6
“… fa inna ma ‘al-usri yusroo, inna ma ‘al-usri yusroo…”
“..bahwa sesungguhnya BERSAMA kesulitan ada kemudahan,
sesungguhnya BERSAMA kesulitan ada kemudahan…”

Paradoks Inovasi Teknologi Alat Kesehatan

20160313194106Oleh : Fauzan Zidni, Direktur Edwar Teknology.

Kolom opini Kepala Balitbangkes Siswanto di Republika pada Senin (29/2) menggambarkan situasi ideal pengembangan teknologi kesehatan baik obat maupun alat kesehatan yang patut didukung. Dalam artikel tersebut, Siswanto berargumen tentang pentingnya prinsip pelayanan pengobatan berbasis bukti (evidence based medicine) yang dianut oleh otoritas pemberi izin edar di Indonesia, yaitu BPOM untuk obat dan Dirjen Faralkes untuk alat kesehatan.

Namun pada kenyataannya, perkembangan teknologi kesehatan di negara berkembang seperti Indonesia penuh paradoks dan sarat atas konflik kepentingan. Di satu sisi, pemerintah perlu melindungi masyarakat dari teknologi yang dianggap belum terbukti sehingga pembuktian melalui uji klinis sebelum diedarkan menjadi sebuah keharusan.

Di sisi lain, infrastruktur yang dibutuhkan untuk melaksanakan uji klinis sangat terbatas, seperti fasilitas penelitian, tenaga dokter peneliti maupun pasien. Di Amerika, biaya yang dibutuhkan untuk satu uji yang bersifat terapi berkisar 30-40 juta dolar AS dengan tingkat kesuksesan yang sangat rendah.

Continue reading “Paradoks Inovasi Teknologi Alat Kesehatan”

5 Tahun Kesembuhan Willy Saputra

Mas WillyTahun ini udah mau 5 tahun kesembuhan gw dari penyakit kanker yang mematikan, dari awal gak bisa apa-apa sampe sekarang bisa aktifitas dan sehat seperti biasa lagi, terima kasih ya Alloh saya masih diberi kehidupan ke 2 untuk menjalani kehidupan saya sampai sekarang dan selalu diberi kesehatan kemudian terima kasih juga untuk orang-orang yang selalu mensupport dan mendukung saya agar selalu tetap semangat untuk menjalani hidup ini, makasih banyak juga untuk keluarga yang selalu mendampingi dan perhatian sama saya. Makasih untuk rasa kasih sayangnya selama ini. Kesehatan ini buat istri kesayangan, makasih udah sabar dan mau ngejalanin hidup susah seneng sama gw. Makasih banyak semuanya.

Continue reading “5 Tahun Kesembuhan Willy Saputra”

Warsito Pastikan tak Jual Lisensi ke Perusahaan Singapura

160111231009-150REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ilmuwan Warsito Purwo Taruno mengaku pihaknya memang telah melakukan penandatangan kontrak dengan Singapura. Namun ia menegaskan penandatanganan ini hanya bersifat kerjasama biasa antara dua pihak, yakni PT Edwar Technology dan Singapura.

Warsito menerangkan, penandatanganan MoU ini hanya diperuntukkan teknologi aplikasi industrinya. Dengan kata lain, kerjasama dengan Singapura ini untuk registrasi medis di luar negeri pada bidang teknologi aplikasi industri.

Sementara pada riset, pengembangan dan produksi, Warsito menyatakan, masih berupaya untuk bisa dilakukan di dalam negeri. “Kita tidak ada kontrak penjualan lisensi,” kata pria kelahiran Karanganyar, Jawa Tengah ini melalui pesan singkatnya kepadaRepublika, Senin (29/2).
Continue reading “Warsito Pastikan tak Jual Lisensi ke Perusahaan Singapura”