Syukur, sumber kesembuhan sakit apapun

thank you.png

Setiap kali ada yang menghubungi saya untuk menceritakan diagnosa kankernya, saya selalu memberikan ucapan selamat, dan mensyukurinya. Saya ingin mengkondisikan otaknya bahwa kanker pun perlu disyukuri. Karena saya merasakan sendiri betapa nikmatnya menghadapi kanker dengan rasa syukur.

 

Emosi positif, seperti rasa syukur, tenang, bahagia, sangat membantu kita kreatif mencari jalan keluar dari permasalahan apapun. Badan menjadi relaks, dan energi mengalir deras untuk menyembuhkan organ apapun yang sedang sakit.

Sebaliknya, panik, sedih, demotivasi, menutup otak dari kreativitas. Kita jadi tidak bisa berfikir jernih untuk mencari solusi-solusi terbaik yang bisa kita jalani dengan nyaman dalam kondisi yang ada. Dan yang paling berbahaya, begitu kita panik, sedih atau demotivasi, tubuh menegang, otot tak lagi kendur, semua mengalami kontraksi. Bagaimana energi bisa mengalir untuk menyembuhkan? Itulah sebabnya banyak penerima kurikulum kanker yang stadiumnya naik drastis justru ketika tahu bahwa kanker itu ada.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan melalui University of Missouri-Columbia, para penerima kurikulum kanker payudara dihubungi 30 bulan setelah selesai menjalani perawatan medis. Mereka menemukan bahwa dukungan sosial, persepsi positif terhadap kanker, keyakinan agama, spiritualitas, kemampuan memberdayakan diri, dan keyakinan akan pulih adalah hal-hal yang sangat penting dalam proses pemulihan paska pengobatan, untuk terus bebas kanker.

Temuan ini konsisten dengan model kesehatan psikoneuroimunologis dimana variabel psikososial bisa mengatasi stres dan mempengaruhi hasil kesehatan.

Sebuah studi oleh Tumor Center di University of Regensburg di Regensburg, Jerman mengamati pengalaman penerima kurikulum kanker payudara di Bavaria, Jerman tujuh tahun setelah pengobatan. 42% responden menunjukkan bahwa berpikir positif dan “semangat juang” adalah saran terpenting yang akan mereka berikan kepada sesama penerima kurikulum kanker payudara lainnya.

Sebuah studi di Capitol Medical University di Beijing, menemukan bahwa emosi positif sangat terkait dengan tekanan darah di kalangan orang tua dengan penyakit kardiovaskular.

Sebuah laporan yang diterbitkanUC San Diego Center for Excellence for Research and Training in Integrative Health and the Chopra Foundation dalam jurnal American Psychological Association menyatakan bahwa pasien yang memiliki rasa syukur tidur lebih nyenyak, tidak kelelahan, dan relatif lebih tidak rentan depresi. Mereka juga relatif tidak banyak mengalami peradangan sistemik.

Berbagai penelitian yang ada membuktikan bahwa emosi positif sangat terkait dengan kesehatan. Ada bukti kuat bahwa hubungan ini nyata dan bahkan bisa menyelamatkan nyawa. Setiap pemikiran positif bisa menjadi langkah menuju kesehatan dan kehidupan yang semarak.

Dan emosi positif tidak mahal. Kita bisa langsung bersyukur kapan saja, di mana saja, dengan siapa saja, termasuk diri sendiri. Kita bisa mulai sekarang, segera. Mulailah dengan senyum, mendekatkan diri pada Sang Maha Kasih dan membangun kebiasaan latihan pernafasan, tafakur sambil terus menghayati berbagai nikmat dan karuniaNya yang sungguh luar biasa besar. Syukuri semua itu, jangan biarkan bibir kering dari namaNya, dan ikhlaskan apapun yang terjadi, karena semua pasti baik. Kita hanya harus percaya dan yakin padaNya.

Murah, meriah dan penting. Jadi apa yang dapat kita lakukan saat ini juga untuk mulai lebih banyak lagi bersyukur, lebih banyak lagi berfikir positif, tersenyum dan berbagi dengan tulus ikhlas?

Bagaimana kita bisa sembuh, sehat, bahagia dan menjadi pembawa berkah bagi dunia melalui rasa syukur kita?

Bukan karena kita butuh balasan, atau karena kebaikan orang lain, tapi karena Sang Maha Pencipta sudah sedemikian baik pada kita, dan kita hanya harus mengembalikannya dalam bentuk syukur dan berbuat baik pada hamba-hambaNya yang lain.

 

Takut kanker? santai saja, relax justru membebaskan dari kanker

what you resist will persist.png

Janet selalu takut akan kanker. Selama bertahun-tahun, dia melakukan semua jenis ritual anti-kanker – mengonsumsi suplemen vitamin D, memakai tabir surya, makan brokoli. Bukan hanya kanker yang dikhawatirkannya. Setelah didorong menuruni tangga di usia satu tahun oleh adik laki-lakinya, ia tidak pernah merasa aman di dunia ini. Ia takut segala macam penyakit, racun, pintu dan jendela yang tidak terkunci, penyusup, dan sejumlah bahaya potensial lainnya yang tidak disebutkan namanya.

Ia takut melakukan kesalahan dan takut akan ketidaksempurnaan. Di kartu rapor kelas satu, gurunya menulis, “Suatu hari nanti Janet akan merasa membuang-buang waktu untuk sangat khawatir melakukan kesalahan.”

Rasa takut Janet terwujud sebagai ketegangan kronis di tubuhnya, terutama di perut dan daerah panggulnya, seolah-olah dia bisa menangkal ketakutan dan mengendalikan dunianya dengan mengeraskan daerah-daerah itu. Dan selintas ia sering berfikir, “Kalau suatu hari aku memiliki masalah kesehatan, pasti asalnya dari perut dan panggul.”

Benar saja, di sanalah dia sakit, dimulai dengan usus buntu yang terus menerus. Kemudian suatu hari, bertahun-tahun setelah menopause, mulai pendarahan di vaginal. Jauh di lubuk hatinya, ia tahu ada kanker.

Janet menikah dengan orang yang sangat dicintainya. Meskipun dia sangat senang bisa menikah, pernikahannya menimbulkan kegelisahan yang luar biasa, karena kecenderungan perfeksionisnya muncul, bersamaan dengan ketakutannya bahwa sekarang ia bisa kehilangan pria yang dicintainya. Suara ketakutan di kepalanya memiliki satu kata yang selalu ada: “Hati-hati.”

Janet merasa bahwa rasa takut telah melemahkan sistem kekebalan tubuhnya dan membiarkan kanker rahimnya bertahan di tubuhnya. Ia sadar, tapi kesadarannya tidak membuatnya belajar mengatasi rasa takut, malah rasa takut bertambah parah. Ia selalu takut pada dokter, jarum, rumah sakit, dan rasa sakit, dan hal-hal itu sekarang merupakan bagian rutin dari hidupnya.

Jadi tidak heran kalau setahun setelah pengobatan kanker secara agresif, kankernya kambuh lagi. Masuk akal bagi Janet. Ia faham bahwa ketika area tubuh secara kronis tegang, ia menghalangi aliran energi, oksigen, dan sirkulasi ke bagian tubuh itu, dan membuatnya rentan terhadap penyakit. Maka ia pun memutuskan untuk mengobati kankernya yang kedua kali ini dengan pengobatan emosi.

Kini ia sadar kanker mengharuskannya untuk sepenuhnya menghadapi ketakutan terburuknya, satu napas pada satu waktu, detik demi detik, satu kaki gemetar di depan lain. Ia menjadi mindful, menikmati apa adanya yang terjadi di detik ini. Janet kemudian menemukan bahwa ia tak lagi ditekan dengan rasa takut. Kini ia memeluknya, menjadi sepenuhnya hadir bersamanya, dan belajar darinya. Dan sekarang dia bebas dari kanker, lahir batin bebas.

Sebuah Studi Mengevaluasi Korelasi Antara Kanker dan Stres

Sebuah studi Norwegia yang dilakukan melalui University of Bergen, diikuti 62.591 orang di Norwegia, bisa menjelaskan hal ini. Survei ini menemukan bahwa orang yang paling cemas, 25 persen lebih tinggi kemungkinan memiliki sel abnormal yang mungkin menjadi kanker.

Belajarlah dari setiap kejadian, dan tumbuhlah bersamanya.

FEAR (takut) bisa diterjemahkan menjadi False Evidence Appearing Real (Kejadian Palsu yang Dirasakan Nyata). Jadi sesungguhnya yang ditakutkan itu tidak ada, palsu saja. Pelan-pelan kita perlu menikmati apa yang dianggap menakutkan. Misalnya takut jarum suntik. Saat diharuskan menghadapinya, coba hadapi dan rasakan, ternyata jarum ini tidak apa-apa kan. Sebagai ibu kita bisa bilang ke anak, “Kayak semut saja kok.” Nah kita perlu lakukan ini ke diri sendiri. Setiap hal yang kita takuti bisa kita katakan, “Kayak digigit semut saja kok.”

Setiap manusia punya respon yang berbeda terhadap stress. Orang yang satu bisa tetap tenang secara fisiologis, tubuhnya tetap relaks dan hatinya damai – dalam menghadapi kejadian kehidupan yang mengerikan sekalipun. Orang lain bisa ketakutan setengah mati, tegang dan seluruh tubuhnya kaku saat menghadapi hal yang sama.

Stress itu penting, tapi respon kita terhadap stress yang menentukan respons fisiologis tubuh, bukan sumber stress nya itu sendiri.

Belajar dari rasa takut akan membantu kita berdamai dengan berbagai kejadian. Belajar mengatasi rasa takut akan satu hal membuat kita mampu menghadapi hal berikutnya, satu persatu. Maka kejadian seberat apapun justru akan membantu kita sembuh secara emosional, mental, dan spiritual. Kejadian yang penuh tekanan tidak perlu menjadi penyebab masalah kesehatan.

Belajarlah terus perlahan-lahan. Pelajari teknik bernafas untuk mendamaikan perasaan dan jiwa, dan berdampak pada sel-sel yang damai. Penuhi hati dan pikiran dengan energi cinta dan hal-hal yang positif, maka sel dan seluruh organ pun akan menguat dan penuh dengan energi. Berolah raga, tertawa, tersenyum, berpelukan, bersilaturahmi dengan penuh bahagia bisa mengeluarkan berbagai zat yang menyembuhkan seluruh tubuh.

Ibadah, dzikir, tafakur, mengembalikan kita kepada Sang Maha Besar. Nikmatilah kehadiranNya di hati kita, agar tak ada lagi yang bisa menakutkan kita. BersamaNya, rasakan kedamaian dan kebahagiaan setiap saat, bebas dari rasa takut.

Nah, rasa takut apa yang bisa mulai kita atasi hari ini dengan lebih baik? Apa rasanya bebas dari rasa takut yang satu ini? Bagaimana agar kita terus bebas lahir batin dari rasa takut yang satu ini seumur hidup?

 

Sumber:

Does Fear Cause Cancer? 

Ditayangkan juga di:

Apa yang ditakuti, itu yang terjadi, juga kanker

Menjadi pribadi sehat lahir batin bebas kanker

I love and approve of myself,just as I am.png

Galen, seorang dokter Yunani yang terkenal cermat dalam pengamatannya terhadap pasien, mencatat bahwa wanita dengan kanker payudara sering memiliki beberapa kemiripan.

W. Douglas Brodie, MD. menyimpulkan dari pengamatannya dalam menghadapi ribuan pasien kanker selama 28 tahun, bahwa ada beberapa ciri kepribadian tertentu yang secara konsisten hadir pada individu yang rentan terhadap kanker.

Anita Moorjani, seorang penerima kurikulum kanker stadium 4 yang berhasil bangkit dan sembuh, dalam interview dan berbagai tampilan publiknya juga menyatakan bahwa para penerima kurikulum kanker punya kepribadian tertentu. Dan Louise Hay menyebutkan bahwa kanker biasanya didasari oleh sebuah emosi tertentu, resentment, penolakan atau pemberontakan dalam diri atas apa yang terjadi padanya. Dalam hal apa mereka berontak dan menolak kenyataan hidup, itulah yang menentukan jenis kankernya.

Kepribadian khas yang rentan kanker biasanya punya kecenderungan menekan “emosi beracun” terutama kemarahan. Biasanya mulai di masa kecil, individu ini telah menahan permusuhan dan emosi yang tidak dapat diterima lainnya. Mereka sering kali merasa kesepian dan takut tidak diterima. Persepsi ini belum tentu benar, tapi persepsi inilah yang menjadi kenyataan yang membuat tubuh merespon dan mencoba mellindungi diri dengan menimbulkan kanker.

Misalnya pasien kanker payudara umumnya:

  • Pernah mengalami kejadian, atau membentuk pola hidup di masa kecil yang membuatnya merasa tak dicintai. Pola ini ditangkap otak sebagai “pola hidup di dunia” dan karenanya mereka ulang lagi dengan pasangan, sehingga muncul masalah dengan pasangan yang memperdalam perasaan tidak berharga dan tidak dicintai.
  • Dengan perasaan itu mereka merasa harus melayani dan membahagiakan orang agar bisa mendapatkan cinta dan perhatian tersebut. Jadi mereka melayani bukan karena merasa penuh cinta, tapi kosong akan cinta. Maka mereka akan banyak berharap dan menuntut. Saat kecewa sulit untuk ikhlas.
  • Kebutuhan itu membuat mereka sangat teliti, patuh, bertanggung jawab, peduli, pekerja keras, dan biasanya sangat cerdas.
  • Harapan yang tinggi dan kecenderungan untuk menuntut membuat mereka sering berkata, “Seharusnya begini, seharusnya begitu,” atau dengan khawatir bertanya “Bagaimana kalau begini,” dan “Bagaimana kalau begitu.” Dengan pikiran-pikiran ini mereka menciptakan sendiri beban hidupnya yang setiap hari memakan energinya.
  • Kebiasaan mencerna berbagai perasaan negatif itu menimbulkan kemarahan, kebencian dan kadang permusuhan yang tersimpan rapih dan sulit mereka keluarkan.
  • Mereka “menderita dalam diam,” dan menanggung beban mereka tanpa keluhan. Mereka tak mau dibantu karena takut bantun itu mengurangi peran mereka sebagai “pemberi cinta bagi dunia.”
  • Tidak mampu menghadapi stress, dan sebelum kanker muncul biasanya ada stress pamungkas yang tak bisa mereka ajak “berdamai” dengan tubuh, pikiran dan jiwa.

Dalam proses penyembuhan, aspek kepribadian ini perlu diatasi. Senang membahagiakan orang lain, melayani, sangat teliti, adalah sangat baik. Tapi emosi yang mendasarinya perlu diubah. Apapun metode penyembuhan yang dipilih, penyembuhan emosi dan spiritual perlu dilakukan, agar kanker tidak datang kembali.

Beberapa hal yang perlu dipelajari oleh para penerima kurikulum kanker dan semua yang memiliki kepribadian ini adalah:

  • Menyadari bahwa mereka dipenuhi dengan cinta. Sang Maha Cinta lah yang menciptakan mereka dengan penuh cinta dan menyediakan berbagai kebutuhan mereka dengan penuh cinta sampai akhir hayat.
  • Menikmati dan menghayati cinta tersebut, dan memenuhi seluruh hati dan jiwa mereka dengan penuh cinta sehinga mereka yakin dan percaya diri bahwa mereka penuh cinta dan layak dicintai.
  • Membangun kebiasaan mengisi seluruh sel tubuh dengan cinta, sehingga “cinta” benar-benar menjadi kebiasaan, darah daging dan nyawanya.
  • Saat mereka yakin bahwa mereka penuh cinta, mampu memenuhi diri dengan cinta mereka akan lebih mampu untuk ikhlas, karena apapun yang terjadi mereka yakin itu adalah ketentuan Allah, yang terlihat buruk sekalipun.
  • Setelah tubuh, jiwa dan pikiran terisi penuh dengan cinta, baru bisa melayani dan membahagiakan orang lain dengan dasar cinta, bukan untuk kebutuhan diri.
  • Melepaskan kebiasaan berharap, menuntut dan berkata, “Seharusnya…” atau “Bagaimana kalau…” Semua baik dan semua adalah kesempatan untuk belajar.
  • Memaafkan dan mensyukuri semua yang terjadi di masa lalu dan yakin akan kebaikan Sang Pencipta dan Sang Maha Pelindung untuk masa depan sehingga lebih mudah hidup 100% di masa ini saja, menikmatinya secara penuh.
  • Melayani dan membahagiakan orang lain, dengan dasar cinta, tanpa berharap ada balasan, tanpa tuntutan, dan tidak mempermasalahkan apapun balasan dan respon dari yang dicintai.
  • Bahagia saat semua orang lain bahagia, termasuk mereka yang dianggap pernah “punya masalah” di masa lalu, sehingga uneg-uneg masa lalu bisa dilepas. Di tahap inilah hati pelan-pelan disembuhkan, lapis demi lapis dan pelan-pelan semua trauma bisa disembuhkan.

Tak ada sakit yang tak ada obatnya, begitu juga penyakit hati. Jadi marilah kita jaga hati baik-baik. Yang ada di hati seringkali hanya prasangka buruk, tapi prasangka buruk inilah yang membinasakan kita semua.

Yuk, apa yang bisa kita bersihkan dari hati kita hari ini dengan lebih baik lagi? Apa rasanya kalau bisa bersih dari hal itu? Dan bagaimana caranya agar kita selalu bebas daripadanya?

Sumber:

http://www.healingcancernaturally.com/emotions-and-cancer-healing.html#positivethinkingserotonine

You Can Heal Your Life, Louise Hay

Cancer Forced Me To Forgive

Ditayangkan juga di: Kepribadian Rawan Kanker

Semua Bisa Menyembuhkan

photo_2017-03-20_16-01-25.jpg

Allah mengatakan bahwa tiada penyakit yang tiada obatnya, kecual ajal. Dan Rasulullah mengatakan bahwa dalam tubuh manusia ada segumpal daging yang kalau ia baik, maka seluruh anggota tubuh akan baik. Sebaliknya kalau ia buruk, seluruh anggota tubuh akan buruk. Daging itulah hati. Maka sesungguhnya hati inilah yang menjadi alat pertama untuk menyembuhnkan penyakit apapun. Kalau kita mau seluruh anggota tubuh kita baik dan sehat selalu, maka hati harus kita jaga untuk baik selalu.

Menjaga hati sangat penting, karena hati bisa mempengaruhi pikiran, perkataan dan perbuatan. Saat hati sedang baik, maka perasaan, perkataan dan perbuatan kita akan menjadi baik. Saat hati sedang rusuh, kesal, dendam, benci, maka seluruh anggota tubuh akan buruk.

Dan pikiran, perkataan dan perbuatan ini mempengaruhi seluruh sel dalam hidup kita. Air ternyata menyerap energi dari hati, perkataan, pikiran dan perbuatan. Saat hati, perasaan, perkataan dan perbuatan baik, air akan membentuk molekul yang baik. Maka air yang baik akan mudah menghantar oksigen dan nutrisi.

Saat hati, perasaan, perkataan dan perbuatan buruk, air akan membentuk molekul yang buruk. Molekul air yang buruk akan menyebabkan kondisi tubuh yang buruk pula. Kesehatan kita terganggu, dan kalau hal ini berjalan dalam jangka waktu lama, kesehatan tubuh akan benar-benar terganggu.

Bahkan seorang healer kondang dari Amerika, Louis Hay, mengatakan bahwa kanker adalah hasil makan hati yang menahuh. Nah…

Berikut ini adalah video yang berhasil kami rekam dan tayangkan secara live di facebook dengan topik “Semua Bisa Menyembuhkan” dalam kegiatan pertemuan anggota Lavender Ribbon Cancer Support Group di Yogyakarta, 19 Maret 2017.

Kita simak yuk bagaimana emosi kita bisa berdampak pada kesehatan kita dan bagaimana kita bisa mengatasinya, menyembuhkan diri kita sendiri:

Semoga berkah dan bermanfaat ya.

Ditayangkan juga di: Semua orang bisa menyembuhkan, dengan izinNya.

 

Kanker membantu kita menjadi manusia cerdas, yang selalu ingat hari akhir


Seorang murid berguru ke Negeri Cina, untuk menemukan metode pengobatan bagi orang tuanya yang kala itu sedang sakit. Ia berguru dan berguru, belajar berbagai hal untuk bisa dibawa ke tanah airnya dan mengobati orang tuanya. Di tengah pencariannya, tiba-tiba ia menerima kabar bahwa salah satu orang tuanya meninggal dunia. Betapa ia sedih luar biasa. Dunianya seakan hancur, ia frustasi dan susah menerima fakta bahwa ia tak bisa membantu kesembuhan orang tuanya.

Di tengah kesedihannya, gurunya menghiburnya, “Jangan bersedih. Yang sudah berpulang sudahlah. Sekarang kau fokus untuk belajar sebaik mungkin, dan sepulangnya kau ke tanah air, berbuatlah banyak kebaikan dengan ilmumu ini.”

Murid ini sangat kecewa dan tidak bisa terima kalau gurunya tidak memahami kesedihannya. Betapa tega.

“Kok guru tidak memahami kesedihanku? Aku sangat mencintai mereka, kenapa aku tidak boleh sedih?”

“Kamu sedih itu untuk dirimu sendiri atau untuk orang tuamu? Bukankah kau sedih karena kau merasa ditinggal? Engkau sedih karena mereka tak ada lagi di sini untuk menyayangimu, bukan? Kau bersedih bukan karena cintamu pada mereka, tapi karena kau merasa tidak lengkap tanpa mereka.” tegas sang guru.

“Coba kau fikirkan, apa yang diinginkan Sang Maha Pengasih Penyayang yang sangat mencintaimu, dengan memanggil orang terkasihmu pulang menghadapNya? Mungkin Ia ingin kau lanjutkan perjuangannya, mungkin ia ingin kau mulai mandiri, mungkin menurutNya kini giliranmu memimpin keluarga besarmu. Coba renungkan, apa cinta yang diberikanNya melalui kejadian ini?” tanya gurunya.

Si murid tercenung. Iya, ya… kebaikan apa yang didapat oleh orang tuanya kalau ia bersedih? Sesungguhnya ia sedih bukan karena ia cinta pada orang tuanya, tapi karena ia cinta pada dirinya sendiri. 

Rasa takut, khawatir, gamanglah yang membuatnya menangis. Ia terus tercenung, sibuk mencerna kesadaran barunya.

“Saya mengerti, Guru. Memang kesedihan ini timbul bukan dari kecintaanku pada orang tuaku, tapi kekhawatiranku atas masa depanku. Aku memang belum ikhlas, belum bisa menerima ketentuan Sang Maha Kasih atasku, aku merasa ditinggal dan diperlakukan tidak adil oleh Sang Maha Kuasa. Padahal Ia sangat mencintaiku lebih dari orang tuaku sekalipun,” jawabnya.

“Kalau kau benar-benar cinta pada orang tuamu, berbuatlah sebanyak-banyaknya kebaikan, karena kebaikan itulah yang akan sampai pada orang tuamu,” tegas gurunya dengan lembut.

Si murid pun tersenyum. Kini ia mengerti, mengapa kesedihannya sesungguhnya bukan didasari oleh cintanya pada orang tuanya, tapi lebih pada egonya yang sedang tersakiti karena tidak bisa menerima kehendak Sang Kuasa.

Kini si murid telah menjadi guru, dan kepada semua orang ia berpesan, “Janganlah bersedih saat ada yang meninggal. Berbuatlah kebaikan sebanyak-banyaknya, karena kebaikan itu yang akan sampai kepada mereka. Kesedihanmu mungkin malah akan menjauhkanmu dari mereka.”

Teman,

Memang kita selalu sedih saat ada yang meninggal. Dan kita seringkali tenggelam dalam kesedihan itu. Bahkan ada yang bertahun-tahun belum bisa “move on” dari kesedihan ditinggal oleh mereka yang terkasih. 

Kita menyebut kesedihan itu sebagai “bukti cinta” tapi sadarkah kita, bahwa kesedihan itu tak menghasilkan kebaikan apa-apa bagi mereka yang kita cintai? Baik yang berpulang dan mereka yang masih ada?

Saat ada yang meninggal, berbuatlah kebaikan sebanyak-banyaknya. 

🌹Orang tua akan mendapatkan pahala amal jariah dari semua kebaikan anaknya. 

🌹Sambunglah silaturahmi mereka dengan teman-teman dan saudara-saudara mereka. 

🌹Lanjutkan perjuangan mereka, 

🌹Berikan doa yang tak putus-putus setiap hari. Itulah bukti cinta pada mereka yang sudah tiada.

Kita bisa jadi sedih, tapi mereka bisa jadi sedang tersenyum memandang pada kita semua sambil berucap, “Sabar ya. Kita bisa bertemu lagi nanti, pada waktunya. Kini jalankanlah tugasmu. Doakan kami, dan berbuatlah kebaikan, karena itu yang membuat kami bahagia.”

Doakanlah bahwa mereka bahagia dalam taman surgaNya. 

Jagalah kesehatan lahir batin denga kebahagiaan dan rasa syukur, agar makin banyak kebaikan yang dapat kita perbuat. 
Berbuatlah kebaikan pada semua yang mereka kenal. Hentikan kesedihan, karena kesedihan membuat kita jauh dari apapun yang dapat menolong mereka di sana.

Mereka yang selalu ingat kematian adalah manusia-manusia yang paling cerdas, karena mereka punya perspektif perencanaan jangka paling panjang. Dan berpulangnya seseorang kepada Sang Pencipta adalah momentum untuk mengingatkan kita selalu bahwa hidup ada akhirnya. Dan kita harus selalu siap. 

Maka jadikanlah proses kematian sebagai proses pendewasaan diri, proses mendekatkan diri kepadaNya. 

Doakan terus agar suatu hari kita semua bisa berkumpul kembali dalam surgaNya, untuk menikmati jamuanNya di atas piring emas, memakai sutra hijau, di dalam istana-istana indah. Sungai mengalir di bawah kita, dan berbagai jenis buah-buahan bertebaran di mana-mana. Tanah pun indah, semerbak seperti kasturi, dan batunya ditaburi berlian dan batu permata. Tak akan ada lagi sakit, tak akan lagi ada sedih. Yang ada hanya damai dan bahagia bersama.

Insya Allah.. keindahan ini yang akan kita nikmati kalau kita terus berbuat kebaikan, amal sholeh hanya untukNya. Fokus untuk membangun dan melayani orang lain dalam jalanNya. Aamiin.

Everything shall pass one day. 

This too shall pass.

http://ow.ly/lp9T309BTVl