Sembuh itu urusan Allah. Hati-hati minta sembuh pada manusia, bisa-bisa syirik


Pada acara halal bihalal 30 Juli 2017 lalu kami pun kedatangan dr. Ferdinan. Kita simak paparan beliau yuk.

Minta sembuh hanya pada Allah

Hampir setiap hari kita disuguhi berita betapa banyak orang yang putus asa karena tak punya uang, atau tak mendapat tempat untuk berobat.
Pemerintah tidak punya sumber daya yang cukup untuk melayani seluruh warga negara Indonesia. Jadi kita sebagai warga negara harus belajar untuk mandiri menghadapi gangguan kesehatan kita sendiri.

Dan sesungguhnya memang hanya Allah yang menyembuhkan. Dokter, RS dan siapapun hanya menjadi alatNya. Kalau Allah menentukan kita sembuh, berapapun uang kita, ada atau tidak tempat untuk kita, kita pasti disembuhkanNya.

Pada saat kita bilang “Dok, sembuhkan saya” sesungguhnya kita sudah menyekutukan Sang Maha Kuasa. Karena dokter tak pernah bisa menyembuhkan tanpa izinNya. Jadi minta sebenarnya hanya sama Allah.
Jadi jangan pernah minta “disembuhkan oleh dokter” itu salah besar.

Kalau sakit berobatlah. Allah tidak bilang kita wajib sembuh, kita hanya wajib ikhtiar. Rasulullah SAW pun meninggal dalam keadaan sakit. Itu salah satu pelajaran dari Allah. Jadi jangan takut. Mau sembuh, mau terus sakit, bukan urusan kita. Yang penting ikhtiar, berobat. Urusan hasil itu mutlak hak Allah. Tidak usah pusing urusan hasil.

Syukuri sakit

Tidak semua orang menerima sakit. Jadi bersyukurlah kalau mendapat sakit. Sakit kita sudah tercatat 50.000 tahun lalu, kita hanya tinggal menikmati dan mensyukuri saja.

Saat kita sakit malaikat mengambil kekuatan fisik kita, rasa lezat di lidah, cahaya di wajah dan terakhir dosa. Saat kita disembuhkan semua dikembalikan kepada kita kecuali dosa. Betapa nikmatnya. Doa saat kita sakit pun menjadi doa yang dikabulkan. Betapa nikmatnya, jadi nikmati saja. Syukuri saja. Tak perlu kita keluhkan.

Jenis penyakit

Penyakit ada dua: penyakit hati dan penyakit fisik.

Penyakit hati mencakup:
– Penyakit syubhat: Kekufuran, kemunafikan, keraguan, dan kebid’ahan
– Penyakit syahwat: zina, menyukai kekejian dan kemaksiatan

Penyakit hati harus segera diatasi karena membawa kebinasaan abadi. Penyakit hati seringkali tidak disadari, tidak terlihat dan tidak terasa, sehingga yang mendapatkannya tidak merasa wajib melakukan apa-apa.

Padahal kalau kita tak sembuhkan penyakit hati kita akan binasa. Kita harus jaga diri dan keluarga untuk selalu ada dalam jalanNya, meskipun kita sedang sakit sekalipun.

Ingat saja kaum Nabi Luth yang dikuasai penyakit syahwat, Allah binasakan mereka dan jadikan mereka contoh bagi kita semua kaum di zaman berikutnya.
Ingat juga Pompei yang penuh dengan maksiat, dan kebinasaan yang Allah abadikan untuk disaksikan oleh seluruh dunia sampai sekarang.
Jagalah diri dan keluarga dari makanan, minuman, harta dan segalanya yang haram, agar kita selamat dari penyakit hati ini.

Penyakit fisik mencakup:
Berbagai penyakit yang terlihat, terdiagnosa oleh medis dan terasakan oleh badan. Biasanya disebut diakibatkan oleh virus, bakteri, gaya hidup dan lain sebagainya. Tapi sesungguhnya ujungnya adalah ketentuan Allah.

Saat penyakit hati yang tidak diatasi menjadi penyakit fisik, sesungguhnya hal ini adalah bentuk kasih sayang Allah, untuk menyadarkan hambaNya. Maka ikhtiar apapun yang diambil, yang penting adalah pertemuan dengan Allah. Kalau kita diberi sakit dan dalam proses mencari kesembuhan kita tidak bertemu dengan Allah, kita rugi besar.

Metode penyembuhan apapun bisa berhasil dan bisa gagal, hanya izin Allah yang menyembuhkan. Bukan metodenya.

Penyembuhan berdasarkan Al Quran dan hadits: metode kekuatan doa.

Doa bisa menurunkan izin Allah untuk terjadinya perubahan dalam hal apapun.
Saat berdoa, air pun bisa berubah warna, rasa dan bisa menyembuhkan.

Di sebuah sekolah, dr. Ferdinan mengadakan percobaan. Anak-anak diajak berdoa untuk mengubah warna dan rasa air. Dan ternyata benar, doa tersebut berhasil mengubah warna dan rasa air tersebut.

Banyak orang merasa bahwa doa itu kuno dan tak mungkin cukup untuk bisa menjadi obat. Padahal yang memberikan semua sakit adalah Allah, dan hanya Allah yang bisa mengangkatnya, maka berdoa kepadaNya menjadi yang paling wajib dan nomor satu, paling penting dan paling efektif.

Berfikir secara ilmiah penting, tapi berfikir ilahiah itu jauh lebih efektif. Berdoalah, insya Allah dikabulkan.

Penyembuhan Energi dan Biomagnetik

Pada saat ruh masih ada dalam tubuh manusia, manusia hidup. Kehadiran ruh secara fisik ditandai dengan adanya listrik tubuh. Saat listrik tubuh diaktivasi secara tepat, berbagai sakit dalam tubuh bisa teratasi. Hal ini dibuktikan oleh Pak Warsito dengan jaket listriknya yang membantu mengatasi kanker.

Banyak juga yang melakukan penyembuhan dengan energi. Tubuh yang sakit adalah tubuh yang lemah energi. Maka dengan diberikan energi, vibrasi atau frekwensi, energi tubuh akan meningkat dan sakit dapat diatasi.

Satu hal yang sering orang terlupa adalah bahwa Allah swt adalah sumber segala energi yang ada di alam semesta. Maka carilah energi Allah yang Maha Dahsyat dan mampu mengangkat kondisi tubuh selemah apapun. Sayangnya ini yang seringkali dilupakan.

Dzulqarnain berkata, “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka (Ya’juj dan Ma’juj). QS 18:95

Ketahuilah bahwa semua kekuatan itu milik Allah. QS4:139

Kunci kesembuhan bersama Allah

1. Al Quran

Berbagai ayat Al Quran menyatakan bahwa Quran adalah obat. Hadits-hadits Rasulullah saw pun menegaskan hal yang sama. Rajin-rajinlah membaca Al Quran.

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit- penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. QS 10:57

2. Iman dan keyakinan

Kunci segala kesembuhan sesungguhnya adalah keyakinan. Iman yang kuat bahwa Allah adalah sumber segala kekuatan dan kesembuhan.

Maka kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman. QS61:14

3. Tobat

Dia akan menambahkan kekuatan Kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa. QS11:52

Maka bertobatlah, mohonlah ampunanNya setiap saat karena setiap saat pula kita ada kemungkinan berbuat dosa, baik kita sadar atau tidak.

4. Doa

Berdoalah, karena hanya doa yang dapat menurunkan izinNya untuk mengubah ketentuanNya akan sakit yang ada pada kita. Memohonlah kepada Allah dengan ihsan, seperti kita lihat Allah dengan langsung. Karena Allah kalau sudah ridlo mengubah sesuatu hanya dengan “Kun Fayakun” (jadilah) maka terjadilah.

Doa ada yang langsung dikabulkan, ditunda oleh Allah, atau diganti dengan yang lebih baik. Jadi kalau tak langsung dikabulkan jangan merasa tidak ada gunanya. Kita tak pernah tahu apa yang terbaik. Allah pasti kasih yang terbaik. Dan kalau doa belum dikabulkan bukan berarti Allah meninggalkan kita. Ikhlas, terima, nikmati dan syukuri, terus berdoa. Mungkin Allah memang merasa kita butuh untuk terus berdoa mendekat kepadaNya. Mungkin kalau langsung dikabulkan kita akan lupa padaNya dan melakukan hal-hal yang menjauhkan kita dariNya.

Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu. QS2:86

Dalam Islam air dan udara pun bisa jadi obat, jadi tidak usah pusing, jadikan Al Quran sebagai obat.

Beberapa hal yang dapat dilakukan

1. Doa Nabi Ayub as:

Dan Ayub, ketika ia berdoa kepada Tuhannya, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”
21:83

Dan Allah pun ridlo kesembuhan diberikan untuk Nabi Ayub as setelah sakit selama 18 tahun. Dari fisik yang sakit, busuk, penuh belatung, menjadi fisik yang tampan dan seperti berusia remaja. Doa ini menjadi anti aging paling efektif sepanjang zaman. Tak ada yang mengalahkan sampai saat ini.

2. Al Kahfi 18:39

“MAA SYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH”
(Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah

3. Metode-metode Rasulullah saw:

– Meletakkan tangan di atas bagian yang sakit, dan berdoa dengan khusuk
– Meletakkan tangan di atas bagian yang sakit, atau sumber sakit (belum tentu sama dengan bagian yang sakit), berdoa dengan khusuk, dan memutar tangan tersebut berlawanan dengan arah jarum jam, seperti gerakan thawaf.
– Mendoakan air dan meminumnya

Bisa dilakukan sendiri:

Bersiaplah dengan tafakur, merenungkan kebesaran Allah, meyakininya dalam hati.
1. Ta’awwudh: A’udhu billahi minash shaitanir rajim
2. Basmalah: Bismillahirahmanirrahiim
3. Hamdalah: Alhamdulillahi rabbil’alamiin
4. Istighfar: Astaghfirullah halaziim
5. Syahadat: Asyhadu ‘al la ilaha illa l-Lah wa ashadu ‘anna Muhammadar rasulu l-Lah
6. Salawat: Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad
7. Jantung zikir: Laa ilaaha illallah wallahu akbar
‘La Ilaha Illallah, Wahdahu La Sharika Lahu, Lahul-Mulku Wa Lahul-Hamdu, Yuhyi Wa Yumitu, Wa Huwa Ala Kulli Shai’in Qadir
Laa ilaaha illallah Walaa haula Wala quwwata illa billahil ’aliyil aziim
8. Alfatihah

Yaa Allah, Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim, Yaa Kariim hamba mohon dengan izin-Mu, dengan ridha-Mu, dengan rahmad-Mu dan berkah-Mu karunialah hamba kekuatan-Mu. Karuniailah hamba kekuatan-Mu. Yaa Allah Karuniailah hamba kekuatan-Mu.

Yaa Allah, hanya Engkaulah yang bisa menambah kekuatan diatas kekuatan hamba. Hanya kepada Engkaulah hamba memohon untuk ditambahkan kekuatan diatas kekuatan yang telah Engkau karuniakan kepada hamba.

Hamba mohon Yaa Allah tambahlah kekuatan hamba, perbesarlah kekuatan hamba dan sempurnakanlah kekuatan hamba, hanya Engkaulah yang bisa menyempurnakannya Yaa Allah

Yaa Allah, jadikanlah kekuatan yang Engkau karuniakan kepada hamba bermanfaat bagi diri hamba, agama hamba, penghidupan hamba dan hari kemudian hamba. Aamiin, aamiin ya rabbal ’alamin

“MAA SYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH”
(Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). QS. Al-Kahfi, 18:39

Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. Yasin 36:82

Syukur, sumber kesembuhan sakit apapun

thank you.png

Setiap kali ada yang menghubungi saya untuk menceritakan diagnosa kankernya, saya selalu memberikan ucapan selamat, dan mensyukurinya. Saya ingin mengkondisikan otaknya bahwa kanker pun perlu disyukuri. Karena saya merasakan sendiri betapa nikmatnya menghadapi kanker dengan rasa syukur.

 

Emosi positif, seperti rasa syukur, tenang, bahagia, sangat membantu kita kreatif mencari jalan keluar dari permasalahan apapun. Badan menjadi relaks, dan energi mengalir deras untuk menyembuhkan organ apapun yang sedang sakit.

Sebaliknya, panik, sedih, demotivasi, menutup otak dari kreativitas. Kita jadi tidak bisa berfikir jernih untuk mencari solusi-solusi terbaik yang bisa kita jalani dengan nyaman dalam kondisi yang ada. Dan yang paling berbahaya, begitu kita panik, sedih atau demotivasi, tubuh menegang, otot tak lagi kendur, semua mengalami kontraksi. Bagaimana energi bisa mengalir untuk menyembuhkan? Itulah sebabnya banyak penerima kurikulum kanker yang stadiumnya naik drastis justru ketika tahu bahwa kanker itu ada.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan melalui University of Missouri-Columbia, para penerima kurikulum kanker payudara dihubungi 30 bulan setelah selesai menjalani perawatan medis. Mereka menemukan bahwa dukungan sosial, persepsi positif terhadap kanker, keyakinan agama, spiritualitas, kemampuan memberdayakan diri, dan keyakinan akan pulih adalah hal-hal yang sangat penting dalam proses pemulihan paska pengobatan, untuk terus bebas kanker.

Temuan ini konsisten dengan model kesehatan psikoneuroimunologis dimana variabel psikososial bisa mengatasi stres dan mempengaruhi hasil kesehatan.

Sebuah studi oleh Tumor Center di University of Regensburg di Regensburg, Jerman mengamati pengalaman penerima kurikulum kanker payudara di Bavaria, Jerman tujuh tahun setelah pengobatan. 42% responden menunjukkan bahwa berpikir positif dan “semangat juang” adalah saran terpenting yang akan mereka berikan kepada sesama penerima kurikulum kanker payudara lainnya.

Sebuah studi di Capitol Medical University di Beijing, menemukan bahwa emosi positif sangat terkait dengan tekanan darah di kalangan orang tua dengan penyakit kardiovaskular.

Sebuah laporan yang diterbitkanUC San Diego Center for Excellence for Research and Training in Integrative Health and the Chopra Foundation dalam jurnal American Psychological Association menyatakan bahwa pasien yang memiliki rasa syukur tidur lebih nyenyak, tidak kelelahan, dan relatif lebih tidak rentan depresi. Mereka juga relatif tidak banyak mengalami peradangan sistemik.

Berbagai penelitian yang ada membuktikan bahwa emosi positif sangat terkait dengan kesehatan. Ada bukti kuat bahwa hubungan ini nyata dan bahkan bisa menyelamatkan nyawa. Setiap pemikiran positif bisa menjadi langkah menuju kesehatan dan kehidupan yang semarak.

Dan emosi positif tidak mahal. Kita bisa langsung bersyukur kapan saja, di mana saja, dengan siapa saja, termasuk diri sendiri. Kita bisa mulai sekarang, segera. Mulailah dengan senyum, mendekatkan diri pada Sang Maha Kasih dan membangun kebiasaan latihan pernafasan, tafakur sambil terus menghayati berbagai nikmat dan karuniaNya yang sungguh luar biasa besar. Syukuri semua itu, jangan biarkan bibir kering dari namaNya, dan ikhlaskan apapun yang terjadi, karena semua pasti baik. Kita hanya harus percaya dan yakin padaNya.

Murah, meriah dan penting. Jadi apa yang dapat kita lakukan saat ini juga untuk mulai lebih banyak lagi bersyukur, lebih banyak lagi berfikir positif, tersenyum dan berbagi dengan tulus ikhlas?

Bagaimana kita bisa sembuh, sehat, bahagia dan menjadi pembawa berkah bagi dunia melalui rasa syukur kita?

Bukan karena kita butuh balasan, atau karena kebaikan orang lain, tapi karena Sang Maha Pencipta sudah sedemikian baik pada kita, dan kita hanya harus mengembalikannya dalam bentuk syukur dan berbuat baik pada hamba-hambaNya yang lain.

 

Takut kanker? santai saja, relax justru membebaskan dari kanker

what you resist will persist.png

Janet selalu takut akan kanker. Selama bertahun-tahun, dia melakukan semua jenis ritual anti-kanker – mengonsumsi suplemen vitamin D, memakai tabir surya, makan brokoli. Bukan hanya kanker yang dikhawatirkannya. Setelah didorong menuruni tangga di usia satu tahun oleh adik laki-lakinya, ia tidak pernah merasa aman di dunia ini. Ia takut segala macam penyakit, racun, pintu dan jendela yang tidak terkunci, penyusup, dan sejumlah bahaya potensial lainnya yang tidak disebutkan namanya.

Ia takut melakukan kesalahan dan takut akan ketidaksempurnaan. Di kartu rapor kelas satu, gurunya menulis, “Suatu hari nanti Janet akan merasa membuang-buang waktu untuk sangat khawatir melakukan kesalahan.”

Rasa takut Janet terwujud sebagai ketegangan kronis di tubuhnya, terutama di perut dan daerah panggulnya, seolah-olah dia bisa menangkal ketakutan dan mengendalikan dunianya dengan mengeraskan daerah-daerah itu. Dan selintas ia sering berfikir, “Kalau suatu hari aku memiliki masalah kesehatan, pasti asalnya dari perut dan panggul.”

Benar saja, di sanalah dia sakit, dimulai dengan usus buntu yang terus menerus. Kemudian suatu hari, bertahun-tahun setelah menopause, mulai pendarahan di vaginal. Jauh di lubuk hatinya, ia tahu ada kanker.

Janet menikah dengan orang yang sangat dicintainya. Meskipun dia sangat senang bisa menikah, pernikahannya menimbulkan kegelisahan yang luar biasa, karena kecenderungan perfeksionisnya muncul, bersamaan dengan ketakutannya bahwa sekarang ia bisa kehilangan pria yang dicintainya. Suara ketakutan di kepalanya memiliki satu kata yang selalu ada: “Hati-hati.”

Janet merasa bahwa rasa takut telah melemahkan sistem kekebalan tubuhnya dan membiarkan kanker rahimnya bertahan di tubuhnya. Ia sadar, tapi kesadarannya tidak membuatnya belajar mengatasi rasa takut, malah rasa takut bertambah parah. Ia selalu takut pada dokter, jarum, rumah sakit, dan rasa sakit, dan hal-hal itu sekarang merupakan bagian rutin dari hidupnya.

Jadi tidak heran kalau setahun setelah pengobatan kanker secara agresif, kankernya kambuh lagi. Masuk akal bagi Janet. Ia faham bahwa ketika area tubuh secara kronis tegang, ia menghalangi aliran energi, oksigen, dan sirkulasi ke bagian tubuh itu, dan membuatnya rentan terhadap penyakit. Maka ia pun memutuskan untuk mengobati kankernya yang kedua kali ini dengan pengobatan emosi.

Kini ia sadar kanker mengharuskannya untuk sepenuhnya menghadapi ketakutan terburuknya, satu napas pada satu waktu, detik demi detik, satu kaki gemetar di depan lain. Ia menjadi mindful, menikmati apa adanya yang terjadi di detik ini. Janet kemudian menemukan bahwa ia tak lagi ditekan dengan rasa takut. Kini ia memeluknya, menjadi sepenuhnya hadir bersamanya, dan belajar darinya. Dan sekarang dia bebas dari kanker, lahir batin bebas.

Sebuah Studi Mengevaluasi Korelasi Antara Kanker dan Stres

Sebuah studi Norwegia yang dilakukan melalui University of Bergen, diikuti 62.591 orang di Norwegia, bisa menjelaskan hal ini. Survei ini menemukan bahwa orang yang paling cemas, 25 persen lebih tinggi kemungkinan memiliki sel abnormal yang mungkin menjadi kanker.

Belajarlah dari setiap kejadian, dan tumbuhlah bersamanya.

FEAR (takut) bisa diterjemahkan menjadi False Evidence Appearing Real (Kejadian Palsu yang Dirasakan Nyata). Jadi sesungguhnya yang ditakutkan itu tidak ada, palsu saja. Pelan-pelan kita perlu menikmati apa yang dianggap menakutkan. Misalnya takut jarum suntik. Saat diharuskan menghadapinya, coba hadapi dan rasakan, ternyata jarum ini tidak apa-apa kan. Sebagai ibu kita bisa bilang ke anak, “Kayak semut saja kok.” Nah kita perlu lakukan ini ke diri sendiri. Setiap hal yang kita takuti bisa kita katakan, “Kayak digigit semut saja kok.”

Setiap manusia punya respon yang berbeda terhadap stress. Orang yang satu bisa tetap tenang secara fisiologis, tubuhnya tetap relaks dan hatinya damai – dalam menghadapi kejadian kehidupan yang mengerikan sekalipun. Orang lain bisa ketakutan setengah mati, tegang dan seluruh tubuhnya kaku saat menghadapi hal yang sama.

Stress itu penting, tapi respon kita terhadap stress yang menentukan respons fisiologis tubuh, bukan sumber stress nya itu sendiri.

Belajar dari rasa takut akan membantu kita berdamai dengan berbagai kejadian. Belajar mengatasi rasa takut akan satu hal membuat kita mampu menghadapi hal berikutnya, satu persatu. Maka kejadian seberat apapun justru akan membantu kita sembuh secara emosional, mental, dan spiritual. Kejadian yang penuh tekanan tidak perlu menjadi penyebab masalah kesehatan.

Belajarlah terus perlahan-lahan. Pelajari teknik bernafas untuk mendamaikan perasaan dan jiwa, dan berdampak pada sel-sel yang damai. Penuhi hati dan pikiran dengan energi cinta dan hal-hal yang positif, maka sel dan seluruh organ pun akan menguat dan penuh dengan energi. Berolah raga, tertawa, tersenyum, berpelukan, bersilaturahmi dengan penuh bahagia bisa mengeluarkan berbagai zat yang menyembuhkan seluruh tubuh.

Ibadah, dzikir, tafakur, mengembalikan kita kepada Sang Maha Besar. Nikmatilah kehadiranNya di hati kita, agar tak ada lagi yang bisa menakutkan kita. BersamaNya, rasakan kedamaian dan kebahagiaan setiap saat, bebas dari rasa takut.

Nah, rasa takut apa yang bisa mulai kita atasi hari ini dengan lebih baik? Apa rasanya bebas dari rasa takut yang satu ini? Bagaimana agar kita terus bebas lahir batin dari rasa takut yang satu ini seumur hidup?

 

Sumber:

Does Fear Cause Cancer? 

Ditayangkan juga di:

Apa yang ditakuti, itu yang terjadi, juga kanker

Menjadi pribadi sehat lahir batin bebas kanker

I love and approve of myself,just as I am.png

Galen, seorang dokter Yunani yang terkenal cermat dalam pengamatannya terhadap pasien, mencatat bahwa wanita dengan kanker payudara sering memiliki beberapa kemiripan.

W. Douglas Brodie, MD. menyimpulkan dari pengamatannya dalam menghadapi ribuan pasien kanker selama 28 tahun, bahwa ada beberapa ciri kepribadian tertentu yang secara konsisten hadir pada individu yang rentan terhadap kanker.

Anita Moorjani, seorang penerima kurikulum kanker stadium 4 yang berhasil bangkit dan sembuh, dalam interview dan berbagai tampilan publiknya juga menyatakan bahwa para penerima kurikulum kanker punya kepribadian tertentu. Dan Louise Hay menyebutkan bahwa kanker biasanya didasari oleh sebuah emosi tertentu, resentment, penolakan atau pemberontakan dalam diri atas apa yang terjadi padanya. Dalam hal apa mereka berontak dan menolak kenyataan hidup, itulah yang menentukan jenis kankernya.

Kepribadian khas yang rentan kanker biasanya punya kecenderungan menekan “emosi beracun” terutama kemarahan. Biasanya mulai di masa kecil, individu ini telah menahan permusuhan dan emosi yang tidak dapat diterima lainnya. Mereka sering kali merasa kesepian dan takut tidak diterima. Persepsi ini belum tentu benar, tapi persepsi inilah yang menjadi kenyataan yang membuat tubuh merespon dan mencoba mellindungi diri dengan menimbulkan kanker.

Misalnya pasien kanker payudara umumnya:

  • Pernah mengalami kejadian, atau membentuk pola hidup di masa kecil yang membuatnya merasa tak dicintai. Pola ini ditangkap otak sebagai “pola hidup di dunia” dan karenanya mereka ulang lagi dengan pasangan, sehingga muncul masalah dengan pasangan yang memperdalam perasaan tidak berharga dan tidak dicintai.
  • Dengan perasaan itu mereka merasa harus melayani dan membahagiakan orang agar bisa mendapatkan cinta dan perhatian tersebut. Jadi mereka melayani bukan karena merasa penuh cinta, tapi kosong akan cinta. Maka mereka akan banyak berharap dan menuntut. Saat kecewa sulit untuk ikhlas.
  • Kebutuhan itu membuat mereka sangat teliti, patuh, bertanggung jawab, peduli, pekerja keras, dan biasanya sangat cerdas.
  • Harapan yang tinggi dan kecenderungan untuk menuntut membuat mereka sering berkata, “Seharusnya begini, seharusnya begitu,” atau dengan khawatir bertanya “Bagaimana kalau begini,” dan “Bagaimana kalau begitu.” Dengan pikiran-pikiran ini mereka menciptakan sendiri beban hidupnya yang setiap hari memakan energinya.
  • Kebiasaan mencerna berbagai perasaan negatif itu menimbulkan kemarahan, kebencian dan kadang permusuhan yang tersimpan rapih dan sulit mereka keluarkan.
  • Mereka “menderita dalam diam,” dan menanggung beban mereka tanpa keluhan. Mereka tak mau dibantu karena takut bantun itu mengurangi peran mereka sebagai “pemberi cinta bagi dunia.”
  • Tidak mampu menghadapi stress, dan sebelum kanker muncul biasanya ada stress pamungkas yang tak bisa mereka ajak “berdamai” dengan tubuh, pikiran dan jiwa.

Dalam proses penyembuhan, aspek kepribadian ini perlu diatasi. Senang membahagiakan orang lain, melayani, sangat teliti, adalah sangat baik. Tapi emosi yang mendasarinya perlu diubah. Apapun metode penyembuhan yang dipilih, penyembuhan emosi dan spiritual perlu dilakukan, agar kanker tidak datang kembali.

Beberapa hal yang perlu dipelajari oleh para penerima kurikulum kanker dan semua yang memiliki kepribadian ini adalah:

  • Menyadari bahwa mereka dipenuhi dengan cinta. Sang Maha Cinta lah yang menciptakan mereka dengan penuh cinta dan menyediakan berbagai kebutuhan mereka dengan penuh cinta sampai akhir hayat.
  • Menikmati dan menghayati cinta tersebut, dan memenuhi seluruh hati dan jiwa mereka dengan penuh cinta sehinga mereka yakin dan percaya diri bahwa mereka penuh cinta dan layak dicintai.
  • Membangun kebiasaan mengisi seluruh sel tubuh dengan cinta, sehingga “cinta” benar-benar menjadi kebiasaan, darah daging dan nyawanya.
  • Saat mereka yakin bahwa mereka penuh cinta, mampu memenuhi diri dengan cinta mereka akan lebih mampu untuk ikhlas, karena apapun yang terjadi mereka yakin itu adalah ketentuan Allah, yang terlihat buruk sekalipun.
  • Setelah tubuh, jiwa dan pikiran terisi penuh dengan cinta, baru bisa melayani dan membahagiakan orang lain dengan dasar cinta, bukan untuk kebutuhan diri.
  • Melepaskan kebiasaan berharap, menuntut dan berkata, “Seharusnya…” atau “Bagaimana kalau…” Semua baik dan semua adalah kesempatan untuk belajar.
  • Memaafkan dan mensyukuri semua yang terjadi di masa lalu dan yakin akan kebaikan Sang Pencipta dan Sang Maha Pelindung untuk masa depan sehingga lebih mudah hidup 100% di masa ini saja, menikmatinya secara penuh.
  • Melayani dan membahagiakan orang lain, dengan dasar cinta, tanpa berharap ada balasan, tanpa tuntutan, dan tidak mempermasalahkan apapun balasan dan respon dari yang dicintai.
  • Bahagia saat semua orang lain bahagia, termasuk mereka yang dianggap pernah “punya masalah” di masa lalu, sehingga uneg-uneg masa lalu bisa dilepas. Di tahap inilah hati pelan-pelan disembuhkan, lapis demi lapis dan pelan-pelan semua trauma bisa disembuhkan.

Tak ada sakit yang tak ada obatnya, begitu juga penyakit hati. Jadi marilah kita jaga hati baik-baik. Yang ada di hati seringkali hanya prasangka buruk, tapi prasangka buruk inilah yang membinasakan kita semua.

Yuk, apa yang bisa kita bersihkan dari hati kita hari ini dengan lebih baik lagi? Apa rasanya kalau bisa bersih dari hal itu? Dan bagaimana caranya agar kita selalu bebas daripadanya?

Sumber:

http://www.healingcancernaturally.com/emotions-and-cancer-healing.html#positivethinkingserotonine

You Can Heal Your Life, Louise Hay

Cancer Forced Me To Forgive

Ditayangkan juga di: Kepribadian Rawan Kanker

Semua Bisa Menyembuhkan

photo_2017-03-20_16-01-25.jpg

Allah mengatakan bahwa tiada penyakit yang tiada obatnya, kecual ajal. Dan Rasulullah mengatakan bahwa dalam tubuh manusia ada segumpal daging yang kalau ia baik, maka seluruh anggota tubuh akan baik. Sebaliknya kalau ia buruk, seluruh anggota tubuh akan buruk. Daging itulah hati. Maka sesungguhnya hati inilah yang menjadi alat pertama untuk menyembuhnkan penyakit apapun. Kalau kita mau seluruh anggota tubuh kita baik dan sehat selalu, maka hati harus kita jaga untuk baik selalu.

Menjaga hati sangat penting, karena hati bisa mempengaruhi pikiran, perkataan dan perbuatan. Saat hati sedang baik, maka perasaan, perkataan dan perbuatan kita akan menjadi baik. Saat hati sedang rusuh, kesal, dendam, benci, maka seluruh anggota tubuh akan buruk.

Dan pikiran, perkataan dan perbuatan ini mempengaruhi seluruh sel dalam hidup kita. Air ternyata menyerap energi dari hati, perkataan, pikiran dan perbuatan. Saat hati, perasaan, perkataan dan perbuatan baik, air akan membentuk molekul yang baik. Maka air yang baik akan mudah menghantar oksigen dan nutrisi.

Saat hati, perasaan, perkataan dan perbuatan buruk, air akan membentuk molekul yang buruk. Molekul air yang buruk akan menyebabkan kondisi tubuh yang buruk pula. Kesehatan kita terganggu, dan kalau hal ini berjalan dalam jangka waktu lama, kesehatan tubuh akan benar-benar terganggu.

Bahkan seorang healer kondang dari Amerika, Louis Hay, mengatakan bahwa kanker adalah hasil makan hati yang menahuh. Nah…

Berikut ini adalah video yang berhasil kami rekam dan tayangkan secara live di facebook dengan topik “Semua Bisa Menyembuhkan” dalam kegiatan pertemuan anggota Lavender Ribbon Cancer Support Group di Yogyakarta, 19 Maret 2017.

Kita simak yuk bagaimana emosi kita bisa berdampak pada kesehatan kita dan bagaimana kita bisa mengatasinya, menyembuhkan diri kita sendiri:

Semoga berkah dan bermanfaat ya.

Ditayangkan juga di: Semua orang bisa menyembuhkan, dengan izinNya.