Mau sembuh? sehat secara permanen? Kuncinya hanya yang satu ini.

Syaikh Ali Musthafa Thantawi pernah mengatakan, “Jangan sekali-kali mengabaikan hati. Karena hati adalah rumah bagi dua hal paling suci di dunia ini, yaitu iman dan cinta.”

Abu Bisyr, seorang murid Ali bin Abu Thalib ra, menyampaikan bahwa orang-orang terdahulu sedikit beramal tetapi mendapatkan pahala yang banyak. Hal itu disebabkan karena mereka selalu menjaga hati, sehingga hati-hati mereka sungguh bersih. (Az-Zuhud II/600).

Imam Ibnul Qayyim pun pernah mengatakan:
“Hati ibarat raja bagi anggota tubuh.
Anggota tubuh akan melaksanakan segala perintah hati dan menerima semua arahannya.
Anggota tubuh tidak akan melaksanakan sesuatu kecuali yang berasal dari keinginan hati.
Oleh karena itu, hati merupakan penanggung jawab mutlak terhadap anggota tubuh karena seorang pemimpin akan ditanya tentang yang dipimpinnya.
Jika demikian adanya, maka upaya memberi perhatian yang besar terhadap hal-hal yang menyehatkan dan meluruskan hati merupakan upaya terpenting.
Dan memperhatikan penyakit-penyakit hati serta berusaha untuk mengobatinya merupakan ibadah yang paling besar.”

“Di dalam hati tersebut terdapat perasaan cinta dan iman kepada Allah, perasaan ikhlas dan tawakkal kepadaNya.
Semua itu merupakan unsur kehidupan bagi hati.
Namun, di dalam hati juga terdapat rasa cinta kepada syahwat, lebih mementingkannya serta memperturutkan segala keinginan.
Di dalam hati juga terdapat sifat hasad, sombong, ujub, dan ambisi untuk menjadi orang yang paling unggul, serta bertindak semena-mena di muka bumi dengan kekuasaan yang dimiliki.
Semua itu merupakan unsur yang akan membuat diri hancur dan binasa.”

“Karena itu, surga tidak bisa dimasuki oleh orang-orang yang berhati kotor, dan tidak pula bisa dimasuki oleh orang yang di hatinya terdapat noda-noda dari kotoran tersebut.

Barangsiapa yang berusaha mensucikan hatinya di dunia, lalu menemui Allah (mati) dalam keadaan bersih dari kotoran-kotoran hati, maka dia akan memasuki surga tanpa penghalang. Adapun orang yang belum membersihkan hatinya selama di dunia, maka jika kotoran hati tersebut dari najis murni -seperti hatinya orang-orang kafir-, maka dia tidak akan bisa masuk surga selama-lamanya.

Dan jika kotoran tersebut sekadar noda-noda yang mengotori hati, maka dia akan memasuki surga setelah disucikan di dalam neraka dari kotoran – kotoran tersebut.”

Itu kata orang-orang terdahulu.

Lalu Bruce Lipton, seorang dokter dan peneliti di abad 21 mengatakan bahwa penyakit tidak diturunkan. Orang yang punya DNA yang sama belum tentu memiliki penyakit yang sama. Ternyata persepsi, pikiran yang menciptakan suasana bagi sel yang akhirnya menentukan seseorang sehat atau tidak. Dan ini semua asalnya dari hati.

WHO pun sudah mengakui bahwa sehat yang sesungguhna yharus mencakup sehat rohani, bukan hanya sehat jasmani.
Ternyata kini diakui bahwa 90% penyakit berasal dari stress, yang berasal dari penyakit hati.

Ternyata benar, di dalam tubuh ada segumpal daging yang kalau ia baik, semua tubuh akan baik dan kalau ia buruk seluruh tubuh akan buruk.

Maka, marilah kita hidup secara sadar. Hidup dari detik ke detik, menyadari apa yang ada dalam hati. Setiap ada hal yang tidak enak di hati menandakan ada yang harus diperbaiki.
Rasa tidak terima, kesal, tidak suka, apalagi kalau sampai benci dan dendam, perlu segera diobati.

Ada yang bikin kesal, mengkhianati kita, membuat kita marah, langsung katakan, “Allah ingin memberikan surga, maka orang ini dikirimNya padaku agar aku membuktikan bahwa aku sabar dan layak masuk surga.

Langsung bilang, “Alhamdulillah,” dan langsung syukuri. Hadapi dengan perasaan syukur. Lakukan berulang-ulang, insya Allah syukur dan sabarlah yang akan menjadi raja, menggantikan berbagai sakit dalam hati.

Jadi perasaan apa yang bisa kita perbaiki dengan lebih baik lagi agar kita bisa menjaga hati lebih baik lagi hari ini?

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. 91: 8-10).

via Hati: sumber sukses dunia dan akhirat — Indira Abidin’s Blog

Kanker, ujian hidup, dan bulan Dzulhidjah

ibrahim.png

Bulan Dzulhidjah adalah bulan untuk mengenang sebuah keluarga yang luar biasa.

Belajar dari ikhlasnya seorang perempuan bernama Siti Hajar yang ditinggal sendirian bersama bayi kecilnya di padang pasir terik gersang tanpa kehidupan, seorang diri.
Belajar dari tegarnya seorang suami dan ayah baru, Nabi Ibrahim, yang menjalankan perintah Allah meninggalkan istri dan bayi kesayangannya di tengah padang pasir walaupun hati sedih.
Belajar dari kesabaran seorang anak, Nabi Ismail, saat diberi tahu bahwa ayahnya diperintahkan menjadikannya kurban.
Belajar dari iman dan penyerahan diri total ketiga tokoh ini, atas penjagaanNya, perlindunganNya, dan kasih sayangNya.
Sebagai hamba, apapun yang diperintahkan Pencipta, mereka ikuti, tanpa komentar, tanpa mengeluh, hanya diikuti dengan penuh ketaatan.

Bagi semua penerima kurikulum kanker, dan kurikulum hidup apapun, belajar dari mereka bertiga ini penting sekali. Ujian yang Allah berikan untuk mereka bertiga adalah ujian kasus ekstrim yang tidak diberikanNya lagi pada manusia manapun. Ujian apapun yang kita harus lalui tidaklah pernah seberat ujian bagi mereka.

Kanker?
Ga punya uang?
Banyak hutang?
Dikhianati pasangan?
Ditipu?
Dirampok?
Dihina?
Iya, tapi kan masih bisa hidup di tengah keluarga, masyarakat. Masih ada makanan kan?
Tidak harus menerima keputusan Allah ditinggal di padang pasir, kan?
Atau diperintahkan untuk disembelih kan?
Atau diperintahkan untuk menyembelih anak yang sangat dirindukan kan?

Mereka yang ditinggal di padang pasir sendirian pun masih dijaga.
Yang diperintahkan menyembelih dan disembelih pun ternyata dilindungi dan digantikan dengan yang lebih baik.
Dan semua menjalankan dengan bahagia, dan berakhir bahagia.
Bukan hanya bahagia di dunia, tapi bahagia abadi di akhirat.
Menerima manfaat kebaikan yang terus mengalir deras sampai akhir zaman berkat semua kesabaran, ketulusan, keikhlasan dan ketaatan yang mereka contohkan.

Setiap kali dirundung galau, ingat saja bahwa apapun ujian kita, tak ada apa-apanya dibanding ujian bagi mereka semua. Mereka digoda setan untuk mengeluh dan menolak perintah, tapi mereka tak tertarik. Pahala dan ganjaran dari Sang Maha Kasih lebih mereka rindukan.

Nah, kira-kira apa pelajaran penting Dzulhidjah dan kisah kehidupan keluarga Nabi Ibrahim yang dapat kita ambil untuk membantu kita mengatasi uijanNya?
Apa hal terbaik yang dapat kita lakukan sekarang untuk membangun ikhlas, syukur dan iman yang kuat dalam menghadapi ujian hidup kita?

Dan kalau sampai kisah kita pun Allah angkat menjadi suri tauladan bagi anak keturunan kita, kira-kira apa yang akan kita ceritakan?

Bagaimana kita bisa memberi contoh baik bagi anak keturunan kita dalam menghadapi ujian yang sedang kita jalankan?

Selamat menjalankan ibadah bulan Dzulhidjah, teman-teman.

Tumor otak pun bisa jadi berkah, kisah Bubu dan Baba 1

Sahabat Lavender,

Di bawah ini adalah tulisan Bubu (Mbak Dinda) mengenai Baba (panggilan sayang suaminya) dan anak-anak mereka, d SUN (Sae, Uma, Nesto), dalam menghadapi kurikulum tumor otaknya. Sungguh sangat dalam pelajaran yang bisa kita pelajari dari perjalanan ini. Kita simak yuk.

☆☆

Selamat sore teman-teman semua…

Terima kasih ya, Taman Lavender, sudah menjadi bagian dari keluarga kami, setia menemani setiap hari via group wa dengan segala bentuk motivasi dan curahan doa, terutama pencerahan-pencerahan dari teteh Indira Abidin. Tak lupa Ibu Adi Tri Kuswati yang pertama sharing tentang pengalaman “persahabatannya” bersama anugerahnya..

Masya Allah..hanya Allah yang dapat membalas segala bentuk cinta kakak-kakakku semuanya.

Ijinkan saya berbagi cerita bahagia. Semoga menjadi penambah motivasi untuk hidup bahagia dalam sehat yang manfaat. Aamiin!


☆Senang Bersamamu @sanitric☆

Cerita perjalanan kami sebelum suamiku Sani Tri Cristian (Baba) menerima anugerah, sampai dengan ikhlas berbahagia menjalaninya bersama.”
(Silahkan share tanpa ijin terlebih dahulu, agar dapat ikut berbahagia bersama kami).

“Bu, baba geleyeng bu..Baba langsung rebahan ya,” keluh Baba sepulang dari proyek.

Kalimat itu berulang hampir setiap malam, mulai dari awal tahun 2015.
Dan aku selalu mengecek suhu tubuhnya juga tensinya..semuanya normal.

Sejak kecil, Baba tidak pernah mau minum obat, kalau sakit obatnya hanya istirahat.

“Sepertinya, Baba kelelahan” batinku
Di pertengahan tahun 2015 keluhan Baba bertambah.

“Bu, kok sekarang keliatannya belereng (buram) ya? Coba Bubu di sisi kanan Baba…kok Baba gak bisa lihat jelas ya?” Tanya Baba serius, sembari memicing micingkan matanya.

“Periksa atuh ke dokter mata, Ba, besok ya,” ajak aku.
Mulailah kami gerilya ke dokter mata dan juga optik-optik mata. Dari sekian dokter dan optik yang kami sambangi jawabannya sama, “Ini sih bapak kecapean ya, istirahat saja dulu, minusnya hanya 0.25. Nanti cek lagi minggu depan,” kurang lebih itu jawaban mereka.

Hingga terjadilah Baba terjatuh dari sepeda di akhir bulan Agustus 2015. Sambil berlumuran darah, Baba berulang kali memohon maaf, karena selepas subuh pergi naik sepeda bareng teman-temannya, tanpa sepengetahuan Bubu. Padahal Bubu sudah berpesan tidak ber down hill dulu, selama matanya belum pulih. Saat itu tangan kirinya patah dan kuku jari kaki Baba terlepas.

Pemulihan setelah patah tulang cukup lama. Kami pun merayakan ulang tahun pernikahan kami yang ke 9 (16 September 2015) di rumah. Baba terbaring dan mengucap doa bersama anak-anak kami, Sae, Uma dan Nesto.

Selama istirahat di rumah penglihatan Baba semakin berkurang, Baba sampai sempat tidak dapat membaca lagi. Kami pun memutuskan berlangganan koran untuk melatih baca. Hasilnya? Tidak ada. Kondisi mata kanan baba semakin menurun. Kami kembali gerilya ke dokter mata, dokter umum dan hasil diagnosanya pun sama . Menurut mereka, Baba hanya kelelahan.

Bulan-bulan pun berlalu, akhirnya Baba memutuskan di rumah dulu tidak beraktifitas. Sampai di bulan November, aku mengajak Baba check up ke spesialis syaraf, ini berdasarkan saran dari kakakku, melihat dari keluhan Baba yang seperti geleyeng tanpa rasa sakit di kepala, tapi kepala terasa berat.

Hari itu kami periksa dan tebak apa kata diagnosa dokter spesialis syarafnya. Beliau menyarankan PIKNIK, “Matikan gadget, dan benar benar istirahat dulu, Pak” saran dokter itu. Suamiku benar over exhausted, batinku.

Sang dokter juga menyarankan ke spesialis mata untuk memeriksakan penglihatan yang semakin menurun..

Kami pun mengikuti anjurannya.
Saat di periksa di dokter mata barulah mulai terkuak ada sesuatu yang serius dengan Baba. Sang dokter mengajak aku ngobrol personal, Baba menunggu di luar

“Ibu, saya sarankan bapak menjalani CT Scan kepala, karena gejalanya persis dengan pasien saya minggu kemarin. Setelah CT Scan ternyata ada tumor di kepalanya dan menekan bagian optiknya sehingga tidak bisa melihat lagi,” jelas dokter mata tersebut.
—————
Hening sejenak
Bubu kaget. “Hello…dokter spesialis syaraf yang jauh lebih senior dari dokter mata ini aja cuman nyuruh piknik. Ini kok CT Scan,” umpatku dalam hati. Begitu panas rasanya saat itu. #istighfar Aku tidak menerima diagnosa dokter tersebut.

 

Bersambung

Pesan Ibu Dewi Motik: jaga hati, terima hidup apa adanya. Insya Allah kita selalu sehat

WhatsApp Image 2017-07-31 at 2.29.07 PM.jpeg

Kami bahagia sekali kedatangan Bu Dewi Motik pada acara Halal Bihalal Lavender Ribbon Cancer Support Group di hari Minggu 30 Juli 2017 lalu. Beliau berbagi pengalaman mendampingi ibunya menghadapi kanker. Kita simak yuk.

Lihatlah kanker dari sisi positif

“Dulu ibu saya meninggal setelah enam bulan menghadapi kanker. Kami punya waktu enam bulan penuh untuk mempersiapkan segalanya. Kami berlomba-lomba berfoto dengan beliau, dan setiap kali foto beliau kami dandani, kami manjakan beliau dan berikan apapun yang terbaik bagi beliau. Beliau pun menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat baik, sampai makam, kafan, dan segala hal terkait kepulangannya telah disiapkan dengan baik. Jadi saat beliau berpulang, kami merasa kami sudah melakukan segalanya yang terbaik.

Berbeda dengan ayah. Ayah berpulang setelah terserang sakit jantung saat sedang di Taiwan. Begitu mendadak. Kami sama sekali tak punya persiapan. Saat berangkat ke Taiwan beliau sehat wal afiat. Jadi beliau pun tak ada persiapan apapun.

Jadi lihatlah kanker dari sisi positif. Kita semua punya kesempatan mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik-baiknya, tidak mendadak. Syukuri waktu bersama itu, sayangi beliau dan dampingi dengan baik.”

Ikhtiar dengan segala macam cara perlu, asal tidak musyrik, dan pilihlah yang paling nyaman bagi yang didampingi

“Ikhtiar itu wajib. Apapun hasilnya, itu urusan Yang Maha Kuasa, tapi kita wajib berikhtiar dengan segala macam cara. Selama tidak menyekutukan Allah, tidak musyrik, tidak syirik. Jangan dibatasi.

Dulu kami semua anaknya punya pendapat yang berbeda-beda. Semua punya uang dan semua merasa ingin memberikan yang terbaik. Ada yang mau bawa ke Belanda, ada yang mau ke Jepang, ada yang mau ke Singapura. Nah yang seperti ini bisa bahaya bagi yang didampingi. Sangat tidak baik. Ikutilah apa yang diinginkannya, dan nyaman baginya.

Akhirnya kami memutuskan untuk membawa Ibu ke Singapura karena dekat dan masih mudah bagi kami semua mendampinginya.

Setelah saya rasakan apa yang ada di Singapura, saya saran, sebaiknya berobat di Indonesia sajalah. Banyak yang bisa memberikan cinta, memberikan sayang dan perhatian. Dan semua perhatian tersebut membawa doa yang baik bagi semua.”

Jangan pelihara dendam. Terimalah hidup sepenuhnya.

“Ibu saya sangat sehat. Beliau selalu makan yang terbaik dan tersehat. Selalu empat sehat lima sempurna. Beliau juga menyusui delapan anaknya dan keluarganya sangat baik dan sukses. Secara penelitian kanker payudara juga umumnya terjadi di usia 40-50 tahun. Jadi sebenarnya secara teori tak ada yang bisa membuatnya terkena kanker.

Ternyata kanker bisa terjadi pada siapapun, termasuk pada orang-orang yang sehat, menyusui delapan anaknya dan di usia yang tak lazim terjadi diagnosa breast cancer.

Mungkin sebabnya adalah masalah emosi di masa kecil. Ibu saya ditinggal ibu kandungnya di usia kecil, sementara ayahandanya adalah seorang Pangeran. Di masa kecilnya, tanpa ibu kandungnya, Ibu mengalami banyak hal yang tidak berkenan di hatinya. Beliau sering bertanya, “Kenapa saya diperlakukan seperti ini?” Hal ini membuat Ibu benar-benar menjaga penampilan dan tak pernah mau terlihat lemah atau sakit.
 Ternyata hal tersebut terbawa seumur hidupnya. Ada ganjalan yang terus dirasa tidak enak. Mungkin ini sebabnya.

Dan selama sakitnya Ibu pun selalu tampil cantik. Tak boleh ada yang melihatnya tidak sempurna. Ia sangat tak suka kalau ada tamu melihatnya sakit. Sebagai anak, biarkanlah orang tua tampil seperti apa yang mereka inginkan. Mereka tak ingin terlihat sakit, ya ikuti saja. Tidak apa-apa.

Dan bagi kita semua, pelajarannya, janganlah pelihara dendam atau rasa tak enak berlama-lama. Terima saja hidup apa adanya. Terima orang-orang dalam hidup kita apa adanya. Semua yang bekerja pada saya sudah lama sekali ada, karena saya terima mereka apa adanya. Dengan begitu hidup kita enak dan ringan.

Cintai Tuhan, cintai lingkungan dan cintai dirimu, maka kau akan damai dengan semuanya, termasuk dengan kanker.”

 Belajar dari yang sukses, apa kuncinya?

“Rima Melati adalah sahabat saya. Saat beliau sakit, saya lihat ia kurus, lunglai. Sekarang Rima Melati tampil sangat cantik dan sehat. Rima Melati adalah contoh sukses. Ia sangat memelihara hablum minallah hablum minanas. Ia juga sangat berfikir positif dan menekuni proses kesembuhannya dengan baik.

Titik Puspa juga contoh sukses. Sekarang ia sehat, kuat dan cantik. Padahal Titik Puspa juga pernah menghadapi kanker. Dengan metode latihan pernafasan, alhamdulillah Titik Puspa bisa sembuh.

Banyak kok contoh sukses. Teruslah berusaha dengan menjaga hubungan dengan Sang Maha Pencipta dan sesama manusia (hablum minallah, hablum minannas). Saat ini pun malaikat berdoa di atas kita semua, mendoakan kita semua. Semoga Allah mengabulkan semua doa kesembuhan bagi kita semua.”

 

Foto: acara halal bihalal Lavender Ribbon Cancer Support Group bersama Ibu Dewi Motik dan dr. Ferdinan.

Mengenang Rini Medrian, Lavenderian berhati lembut


Sahabat Lavender,

Berikut ini adalah catatan Mbak Indira Abidin mengenai sahabat terkasih kita, alm Rini Medrian. Kita doakan bersama semoga Rini menanti kita di pintu surga suatu hari nanti dan semoga Allah berkahi semua keluarganya.

Aamiin.
Arti hidup manusia tidak ditentukan oleh panjang dan pendeknya. Ada yang umurnya pendek tapi sungguh penuh arti. Rasulullah “hanya” berumur 63 tahun, namun usia itu cukup untuk menyampaikan pesan Allah bagi umat manusia. Semua tugas dan missi hidupnya usai dalam 63 tahun. Ada pula yang berumur sampai di atas 70 tahun tapi tidak sesuai dengan tujuan penciptaannya. Bukan panjang pendek umur yang penting, tapi apakah umur tersebut ditutup dengan baik dan berkah?

Itulah yang ditunjukkan oleh sahabatku, alm Sinta Rini Medrian.

Rini dan aku adalah sama-sama penerima kurikulum kanker, bertemu di Lavender Ribbon Cancer Support Group dan kami banyak sekali menemukan kesamaan cara pandang. Rini mengikuti beberapa training yang juga aku ikuti. Kami sama-sama lulusan Magnetic Baar Power (MBP) yang diadakan oleh Mbak Auk Murat, sama-sama sempat menggunakan Electro Capacitative Cancer Therapy (ECCT) dan pada akhirnya kami sama-sama belajar self healing di Hanara.

Dari yang awalnya Rini tertutup mengenai kurikulum kankernya sampai akhirnya ia mampu menceritakannya dengan ringan dan tanpa beban. Beberapa blog post telah ditulisnya untuk berbagi pengalaman mengenai ilmu yang didapatnya dari kurikulum kankernya. Dari yang awalnya sangat mengandalkan logika sampai yang akhirnya benar-benar berhati lembut dan berjiwa tenang. Di akhir hidupnya Rini mampu mengobati sakitnya dengan dzikir, mampu membaca pengaruh dari setiap jenis dzikir yang berbeda pada organ-organ tubuh yang berbeda, bahkan tahu kapan adzan hadir tanpa harus melihat matahari, atau jam. Rini bisa merasa, meraba, menghayati dan menyelami jiwanya sendiri. Ia menjadi jiwa yang tenang dan siap dikumpulkan oleh Sang Penciptanya di akhir hidupnya.

Rini menjalani proses kurikulum kankernya dengan sangat tekun. Setiap pelatihan ditekuninya dan langsung diterapkannya pada kehidupannya. Setiap kejadian disyukurinya dan diambil pelajaran serta hikmahnya. Dari berbagai ilmunya ia sadar bahwa yang penting adalah membangun ketenangan jiwa dan kesatuan antara badan, pikiran dan jiwa. Itulah sebabnya ia berguru di Hanara. Kami pun belajar berbagai ilmu tubuh, bagaimana jiwa, pikiran dan tubuh saling terkoneksi satu sama lain. Berbagai pelajaran didapatnya di sana. Rini berhasil mengasah Spiritual Intelligence nya di sana. Bukan hanya dengan badan pikiran dan jiwa, kami pun belajar menyatukan diri dengan alam.

Dalam prosesnya tiba-tiba Rini menjadi sangat sensitif terhadap radiasi handphone. Ia tak lagi bisa pergi ke mana-mana karena dari perjalanan sampai tujuan banyak sekali handphone yang membuatnya tersiksa. Dan saat itulah ia benar-benar menyelami hidupnya berdua bersama ibunya. Rini mengatakan bahwa itulah saatnya Allah memintanya mulai belajar untuk menghadapi kematian. Rupanya bukan hanya dengan tubuh, pikiran, jiwanya dan alam. Kini ia diminta Allah belajar menyatukan diri denganNya.

Ia berkata pada ibunya, bahwa ia bukan takut mati, tapi takut amalnya belum cukup untuk bisa diterima olehNya dalam surgaNya. Rupanya setelah itulah ia diberikan waktu oleh Allah untuk mencukupkan semua amal ibadahnya, fokus hidup hanya untuk berdzikir.

Setelah sekian lama hidup di Jakarta bersama suami, Oddy Medrian, dalam proses ini Rini dituntun oleh Allah untuk tinggal berdua ibunya di Cimahi, diurus kembali oleh ibunya yang luar biasa tangguh dan mendalami dzikir bersama ibunya. Suaminya datang Jumat malam dan pulang kembali Senin pagi ke Jakarta. Jadi Rini fokus menjalani dzikir tanpa harus urus apa-apa lagi. Dan ibu serta suaminya puas mengurus Rini pagi sampai malam. Setiap habis shalat pun ibunya memberi Rini air minum yang didoakannya selama shalat.

Di rumah Rini mengobati semua rasa sakitnya dengan dzikir. Ia tak pernah sekalipun mengeluh mengenai sakitnya. Rini selalu berprasangka baik pada Allah. Saat suaminya atau ibunya merasa khawatir, galau atau apapun yang di luar jalur, Rini selalu mengingatkan untuk kembali syukur, kembali ikhlas dan tersenyum. Ia pun berhasil mempelajari dzikir apa yang baik untuk setiap sakit yang dirasakannya. Tak pernah ada keluhan keluar dari mulutnya. Hanya penghayatan dan pencarian hikmah dari setiap kejadian.

Mendengar Rini sangat sensitif terhadap berbagai hal, bukan hanya radiasi handphone tapi juga microwave, atau pesawat yang terbang di atas rumahnya, aku teringat kisah putri yang tidur di atas puluhan tumpukan kasur dan masih bisa merasakan bahwa di bawah tempat tidur ada kacang. Aku cerita pada anakku, Hana, “Tante Rini itu seperti princess. Princess itu sangat sensitif dan bisa merasa kalau ada yang tidak beres, sekecil apapun.” Itulah Rini bagiku. Dan betapa saat itu aku ingin menggali ilmu yang dipelajarinya mengenai dzikir dan organ tubuh, dzikir dan rasa, dzikir dan jiwa.

Beberapa bulan menjelang akhir hayatnya Rini berusaha keras membangun tenaganya karena ia ingin mendampingi suaminya yang pindah ke Singapura. Dan akhirnya ia berhasil. Sampai akhirnya suaminya bisa berkomunikasi Singapura-Cimahi via whats app. Semua kondisinya membaik, dan semua mengira Rini sebentar lagi akan siap pindah ke Singapura. Aku pun sampai berencana untuk mengunjungi Rini di Singapura. Rupanya Allah memberi Rini kesempatan untuk menikmati kembali hidupnya dengan energi barunya. Dan selama beberapa bulan itu Rini benar-benar seperti “kejar setoran” melakukan dzikir sebanyak-banyaknya. Tujuan awalnya adalah agar ia bisa punya energi untuk bisa pindah ke Singapura, tapi ternyata Allah berkehendak lain. Itu semua adalah agar ia bisa benar-benar siap dan “cukup” untuk bisa pindah ke dalam surgaNya.

Setelah semua kondisi membaik, tiba-tiba Rini kejang. Aku pun sangat kaget ketika diberi tahu, karena aku fikir aku akan bisa menemui Rini di Singapura dengan kondisinya yang membaik semua. Kukirim doa padanya dan kuminta teman-temanku berdoa bersama baginya. Rupanya berbagai doa, shalat permohonan semua orang termasuk Rini sendiri, suaminya dan berbagai komunitas membuatnya sangat kuat. Meskipun tensinya turun naik Rini tidak pernah tidak sadar. Dan mulutnya selalu bergerak untuk berdzikir. “Kejar setoran,” kata ibunya. Ketika suaminya melafazkan doa tak sesuai urutan, Rini tahu dan memintanya memperbaiki urutan doanya.

Dan di akhir, Rini hanya seperti sedang khusuk dzikir saat dipanggilNya. Tiba-tiba dua butir air mata keluar di matanya, dan mulutnya tersenyum. Badannya berisi kembali dan kulitnya sangat bersih, putih, tak ada kotoran kulit mati sama sekali. Ibunya berkata pada suaminya, “Abang tahu apa artinya dua butir air mata dan bibir yang tersenyum?”

“Apa Mah?” tanya suaminya.

“Rini melihat pintu surga. Ini yang Rasulullah pernah sampaikan,” kata ibunya lagi.

Dan sepanjang jalan di ambulance, suaminya pun mengatakan pada alm Rini yang didampinginya pulang ke rumah, “Baby, indah sekali kepergianmu. Semua orang bisa iri dengan cara seperti ini,” bisiknya pada alm istrinya dengan penuh bahagia.

“Rupanya kematian adalah ketidakpastian yang bisa kita siapkan dengan baik,” demikian kesimpulan suaminya menyaksikan semua proses yang dialami Rini.

Semua proses pemakaman berjalan dengan sangat lancar, jauh lebih cepat daripada perkiraan semua pihak. Alam pun menyambut dengan syahdu, teduh penuh kelembutan.

Dan rumah duka pun berubah menjadi rumah syukur, di mana semua orang bersyukur bisa menyaksikan kepergian yang begitu damai, begitu dekat dengan Sang Pencipta dan begitu penuh makna. Akhir hidupnya begitu penuh makna dan sarat pelajaran bagi mereka yang dekat dengannya. Dan kita semua sadar bahwa semua keindahan ini dihadiahkan oleh Allah melalui kanker. Kalau bukan karena adanya kanker, belum tentu Rini punya kesempatan indah seperti ini.

Dan semoga aku bisa meneruskan berbagai pelajaran ini agar dunia pun bisa belajar dari akhir yang indah ini. Semoga dunia bisa faham, bahwa kanker bisa menjadi hadiahNya yang sangat sarat makna. Tergantung pada bagaimana kita memberi arti padanya. Tergantung syukur kita atasnya.

_________________________________

Ingin membantu teman-teman penerima kanker di Lavender? Silakan kirim donasi anda ke Yayasan Lavender Indonesia di Bank Mandiri nomor rekening 1270007342932. Kirim bukti transfer ke Indri Yusnita via wa atau sms di +62 815 8700930.

Sumber: ow.ly/IZM7308Uwqp

#WorldCancerDay

Untuk yang ingin membaca blog Rini, silakan buka Love, Grow and Glow, https://lovegrowandglow.wordpress.com/