Pesan Ibu Dewi Motik: jaga hati, terima hidup apa adanya. Insya Allah kita selalu sehat

WhatsApp Image 2017-07-31 at 2.29.07 PM.jpeg

Kami bahagia sekali kedatangan Bu Dewi Motik pada acara Halal Bihalal Lavender Ribbon Cancer Support Group di hari Minggu 30 Juli 2017 lalu. Beliau berbagi pengalaman mendampingi ibunya menghadapi kanker. Kita simak yuk.

Lihatlah kanker dari sisi positif

“Dulu ibu saya meninggal setelah enam bulan menghadapi kanker. Kami punya waktu enam bulan penuh untuk mempersiapkan segalanya. Kami berlomba-lomba berfoto dengan beliau, dan setiap kali foto beliau kami dandani, kami manjakan beliau dan berikan apapun yang terbaik bagi beliau. Beliau pun menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat baik, sampai makam, kafan, dan segala hal terkait kepulangannya telah disiapkan dengan baik. Jadi saat beliau berpulang, kami merasa kami sudah melakukan segalanya yang terbaik.

Berbeda dengan ayah. Ayah berpulang setelah terserang sakit jantung saat sedang di Taiwan. Begitu mendadak. Kami sama sekali tak punya persiapan. Saat berangkat ke Taiwan beliau sehat wal afiat. Jadi beliau pun tak ada persiapan apapun.

Jadi lihatlah kanker dari sisi positif. Kita semua punya kesempatan mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik-baiknya, tidak mendadak. Syukuri waktu bersama itu, sayangi beliau dan dampingi dengan baik.”

Ikhtiar dengan segala macam cara perlu, asal tidak musyrik, dan pilihlah yang paling nyaman bagi yang didampingi

“Ikhtiar itu wajib. Apapun hasilnya, itu urusan Yang Maha Kuasa, tapi kita wajib berikhtiar dengan segala macam cara. Selama tidak menyekutukan Allah, tidak musyrik, tidak syirik. Jangan dibatasi.

Dulu kami semua anaknya punya pendapat yang berbeda-beda. Semua punya uang dan semua merasa ingin memberikan yang terbaik. Ada yang mau bawa ke Belanda, ada yang mau ke Jepang, ada yang mau ke Singapura. Nah yang seperti ini bisa bahaya bagi yang didampingi. Sangat tidak baik. Ikutilah apa yang diinginkannya, dan nyaman baginya.

Akhirnya kami memutuskan untuk membawa Ibu ke Singapura karena dekat dan masih mudah bagi kami semua mendampinginya.

Setelah saya rasakan apa yang ada di Singapura, saya saran, sebaiknya berobat di Indonesia sajalah. Banyak yang bisa memberikan cinta, memberikan sayang dan perhatian. Dan semua perhatian tersebut membawa doa yang baik bagi semua.”

Jangan pelihara dendam. Terimalah hidup sepenuhnya.

“Ibu saya sangat sehat. Beliau selalu makan yang terbaik dan tersehat. Selalu empat sehat lima sempurna. Beliau juga menyusui delapan anaknya dan keluarganya sangat baik dan sukses. Secara penelitian kanker payudara juga umumnya terjadi di usia 40-50 tahun. Jadi sebenarnya secara teori tak ada yang bisa membuatnya terkena kanker.

Ternyata kanker bisa terjadi pada siapapun, termasuk pada orang-orang yang sehat, menyusui delapan anaknya dan di usia yang tak lazim terjadi diagnosa breast cancer.

Mungkin sebabnya adalah masalah emosi di masa kecil. Ibu saya ditinggal ibu kandungnya di usia kecil, sementara ayahandanya adalah seorang Pangeran. Di masa kecilnya, tanpa ibu kandungnya, Ibu mengalami banyak hal yang tidak berkenan di hatinya. Beliau sering bertanya, “Kenapa saya diperlakukan seperti ini?” Hal ini membuat Ibu benar-benar menjaga penampilan dan tak pernah mau terlihat lemah atau sakit.
 Ternyata hal tersebut terbawa seumur hidupnya. Ada ganjalan yang terus dirasa tidak enak. Mungkin ini sebabnya.

Dan selama sakitnya Ibu pun selalu tampil cantik. Tak boleh ada yang melihatnya tidak sempurna. Ia sangat tak suka kalau ada tamu melihatnya sakit. Sebagai anak, biarkanlah orang tua tampil seperti apa yang mereka inginkan. Mereka tak ingin terlihat sakit, ya ikuti saja. Tidak apa-apa.

Dan bagi kita semua, pelajarannya, janganlah pelihara dendam atau rasa tak enak berlama-lama. Terima saja hidup apa adanya. Terima orang-orang dalam hidup kita apa adanya. Semua yang bekerja pada saya sudah lama sekali ada, karena saya terima mereka apa adanya. Dengan begitu hidup kita enak dan ringan.

Cintai Tuhan, cintai lingkungan dan cintai dirimu, maka kau akan damai dengan semuanya, termasuk dengan kanker.”

 Belajar dari yang sukses, apa kuncinya?

“Rima Melati adalah sahabat saya. Saat beliau sakit, saya lihat ia kurus, lunglai. Sekarang Rima Melati tampil sangat cantik dan sehat. Rima Melati adalah contoh sukses. Ia sangat memelihara hablum minallah hablum minanas. Ia juga sangat berfikir positif dan menekuni proses kesembuhannya dengan baik.

Titik Puspa juga contoh sukses. Sekarang ia sehat, kuat dan cantik. Padahal Titik Puspa juga pernah menghadapi kanker. Dengan metode latihan pernafasan, alhamdulillah Titik Puspa bisa sembuh.

Banyak kok contoh sukses. Teruslah berusaha dengan menjaga hubungan dengan Sang Maha Pencipta dan sesama manusia (hablum minallah, hablum minannas). Saat ini pun malaikat berdoa di atas kita semua, mendoakan kita semua. Semoga Allah mengabulkan semua doa kesembuhan bagi kita semua.”

 

Foto: acara halal bihalal Lavender Ribbon Cancer Support Group bersama Ibu Dewi Motik dan dr. Ferdinan.

Mengenang Rini Medrian, Lavenderian berhati lembut


Sahabat Lavender,

Berikut ini adalah catatan Mbak Indira Abidin mengenai sahabat terkasih kita, alm Rini Medrian. Kita doakan bersama semoga Rini menanti kita di pintu surga suatu hari nanti dan semoga Allah berkahi semua keluarganya.

Aamiin.
Arti hidup manusia tidak ditentukan oleh panjang dan pendeknya. Ada yang umurnya pendek tapi sungguh penuh arti. Rasulullah “hanya” berumur 63 tahun, namun usia itu cukup untuk menyampaikan pesan Allah bagi umat manusia. Semua tugas dan missi hidupnya usai dalam 63 tahun. Ada pula yang berumur sampai di atas 70 tahun tapi tidak sesuai dengan tujuan penciptaannya. Bukan panjang pendek umur yang penting, tapi apakah umur tersebut ditutup dengan baik dan berkah?

Itulah yang ditunjukkan oleh sahabatku, alm Sinta Rini Medrian.

Rini dan aku adalah sama-sama penerima kurikulum kanker, bertemu di Lavender Ribbon Cancer Support Group dan kami banyak sekali menemukan kesamaan cara pandang. Rini mengikuti beberapa training yang juga aku ikuti. Kami sama-sama lulusan Magnetic Baar Power (MBP) yang diadakan oleh Mbak Auk Murat, sama-sama sempat menggunakan Electro Capacitative Cancer Therapy (ECCT) dan pada akhirnya kami sama-sama belajar self healing di Hanara.

Dari yang awalnya Rini tertutup mengenai kurikulum kankernya sampai akhirnya ia mampu menceritakannya dengan ringan dan tanpa beban. Beberapa blog post telah ditulisnya untuk berbagi pengalaman mengenai ilmu yang didapatnya dari kurikulum kankernya. Dari yang awalnya sangat mengandalkan logika sampai yang akhirnya benar-benar berhati lembut dan berjiwa tenang. Di akhir hidupnya Rini mampu mengobati sakitnya dengan dzikir, mampu membaca pengaruh dari setiap jenis dzikir yang berbeda pada organ-organ tubuh yang berbeda, bahkan tahu kapan adzan hadir tanpa harus melihat matahari, atau jam. Rini bisa merasa, meraba, menghayati dan menyelami jiwanya sendiri. Ia menjadi jiwa yang tenang dan siap dikumpulkan oleh Sang Penciptanya di akhir hidupnya.

Rini menjalani proses kurikulum kankernya dengan sangat tekun. Setiap pelatihan ditekuninya dan langsung diterapkannya pada kehidupannya. Setiap kejadian disyukurinya dan diambil pelajaran serta hikmahnya. Dari berbagai ilmunya ia sadar bahwa yang penting adalah membangun ketenangan jiwa dan kesatuan antara badan, pikiran dan jiwa. Itulah sebabnya ia berguru di Hanara. Kami pun belajar berbagai ilmu tubuh, bagaimana jiwa, pikiran dan tubuh saling terkoneksi satu sama lain. Berbagai pelajaran didapatnya di sana. Rini berhasil mengasah Spiritual Intelligence nya di sana. Bukan hanya dengan badan pikiran dan jiwa, kami pun belajar menyatukan diri dengan alam.

Dalam prosesnya tiba-tiba Rini menjadi sangat sensitif terhadap radiasi handphone. Ia tak lagi bisa pergi ke mana-mana karena dari perjalanan sampai tujuan banyak sekali handphone yang membuatnya tersiksa. Dan saat itulah ia benar-benar menyelami hidupnya berdua bersama ibunya. Rini mengatakan bahwa itulah saatnya Allah memintanya mulai belajar untuk menghadapi kematian. Rupanya bukan hanya dengan tubuh, pikiran, jiwanya dan alam. Kini ia diminta Allah belajar menyatukan diri denganNya.

Ia berkata pada ibunya, bahwa ia bukan takut mati, tapi takut amalnya belum cukup untuk bisa diterima olehNya dalam surgaNya. Rupanya setelah itulah ia diberikan waktu oleh Allah untuk mencukupkan semua amal ibadahnya, fokus hidup hanya untuk berdzikir.

Setelah sekian lama hidup di Jakarta bersama suami, Oddy Medrian, dalam proses ini Rini dituntun oleh Allah untuk tinggal berdua ibunya di Cimahi, diurus kembali oleh ibunya yang luar biasa tangguh dan mendalami dzikir bersama ibunya. Suaminya datang Jumat malam dan pulang kembali Senin pagi ke Jakarta. Jadi Rini fokus menjalani dzikir tanpa harus urus apa-apa lagi. Dan ibu serta suaminya puas mengurus Rini pagi sampai malam. Setiap habis shalat pun ibunya memberi Rini air minum yang didoakannya selama shalat.

Di rumah Rini mengobati semua rasa sakitnya dengan dzikir. Ia tak pernah sekalipun mengeluh mengenai sakitnya. Rini selalu berprasangka baik pada Allah. Saat suaminya atau ibunya merasa khawatir, galau atau apapun yang di luar jalur, Rini selalu mengingatkan untuk kembali syukur, kembali ikhlas dan tersenyum. Ia pun berhasil mempelajari dzikir apa yang baik untuk setiap sakit yang dirasakannya. Tak pernah ada keluhan keluar dari mulutnya. Hanya penghayatan dan pencarian hikmah dari setiap kejadian.

Mendengar Rini sangat sensitif terhadap berbagai hal, bukan hanya radiasi handphone tapi juga microwave, atau pesawat yang terbang di atas rumahnya, aku teringat kisah putri yang tidur di atas puluhan tumpukan kasur dan masih bisa merasakan bahwa di bawah tempat tidur ada kacang. Aku cerita pada anakku, Hana, “Tante Rini itu seperti princess. Princess itu sangat sensitif dan bisa merasa kalau ada yang tidak beres, sekecil apapun.” Itulah Rini bagiku. Dan betapa saat itu aku ingin menggali ilmu yang dipelajarinya mengenai dzikir dan organ tubuh, dzikir dan rasa, dzikir dan jiwa.

Beberapa bulan menjelang akhir hayatnya Rini berusaha keras membangun tenaganya karena ia ingin mendampingi suaminya yang pindah ke Singapura. Dan akhirnya ia berhasil. Sampai akhirnya suaminya bisa berkomunikasi Singapura-Cimahi via whats app. Semua kondisinya membaik, dan semua mengira Rini sebentar lagi akan siap pindah ke Singapura. Aku pun sampai berencana untuk mengunjungi Rini di Singapura. Rupanya Allah memberi Rini kesempatan untuk menikmati kembali hidupnya dengan energi barunya. Dan selama beberapa bulan itu Rini benar-benar seperti “kejar setoran” melakukan dzikir sebanyak-banyaknya. Tujuan awalnya adalah agar ia bisa punya energi untuk bisa pindah ke Singapura, tapi ternyata Allah berkehendak lain. Itu semua adalah agar ia bisa benar-benar siap dan “cukup” untuk bisa pindah ke dalam surgaNya.

Setelah semua kondisi membaik, tiba-tiba Rini kejang. Aku pun sangat kaget ketika diberi tahu, karena aku fikir aku akan bisa menemui Rini di Singapura dengan kondisinya yang membaik semua. Kukirim doa padanya dan kuminta teman-temanku berdoa bersama baginya. Rupanya berbagai doa, shalat permohonan semua orang termasuk Rini sendiri, suaminya dan berbagai komunitas membuatnya sangat kuat. Meskipun tensinya turun naik Rini tidak pernah tidak sadar. Dan mulutnya selalu bergerak untuk berdzikir. “Kejar setoran,” kata ibunya. Ketika suaminya melafazkan doa tak sesuai urutan, Rini tahu dan memintanya memperbaiki urutan doanya.

Dan di akhir, Rini hanya seperti sedang khusuk dzikir saat dipanggilNya. Tiba-tiba dua butir air mata keluar di matanya, dan mulutnya tersenyum. Badannya berisi kembali dan kulitnya sangat bersih, putih, tak ada kotoran kulit mati sama sekali. Ibunya berkata pada suaminya, “Abang tahu apa artinya dua butir air mata dan bibir yang tersenyum?”

“Apa Mah?” tanya suaminya.

“Rini melihat pintu surga. Ini yang Rasulullah pernah sampaikan,” kata ibunya lagi.

Dan sepanjang jalan di ambulance, suaminya pun mengatakan pada alm Rini yang didampinginya pulang ke rumah, “Baby, indah sekali kepergianmu. Semua orang bisa iri dengan cara seperti ini,” bisiknya pada alm istrinya dengan penuh bahagia.

“Rupanya kematian adalah ketidakpastian yang bisa kita siapkan dengan baik,” demikian kesimpulan suaminya menyaksikan semua proses yang dialami Rini.

Semua proses pemakaman berjalan dengan sangat lancar, jauh lebih cepat daripada perkiraan semua pihak. Alam pun menyambut dengan syahdu, teduh penuh kelembutan.

Dan rumah duka pun berubah menjadi rumah syukur, di mana semua orang bersyukur bisa menyaksikan kepergian yang begitu damai, begitu dekat dengan Sang Pencipta dan begitu penuh makna. Akhir hidupnya begitu penuh makna dan sarat pelajaran bagi mereka yang dekat dengannya. Dan kita semua sadar bahwa semua keindahan ini dihadiahkan oleh Allah melalui kanker. Kalau bukan karena adanya kanker, belum tentu Rini punya kesempatan indah seperti ini.

Dan semoga aku bisa meneruskan berbagai pelajaran ini agar dunia pun bisa belajar dari akhir yang indah ini. Semoga dunia bisa faham, bahwa kanker bisa menjadi hadiahNya yang sangat sarat makna. Tergantung pada bagaimana kita memberi arti padanya. Tergantung syukur kita atasnya.

_________________________________

Ingin membantu teman-teman penerima kanker di Lavender? Silakan kirim donasi anda ke Yayasan Lavender Indonesia di Bank Mandiri nomor rekening 1270007342932. Kirim bukti transfer ke Indri Yusnita via wa atau sms di +62 815 8700930.

Sumber: ow.ly/IZM7308Uwqp

#WorldCancerDay

Untuk yang ingin membaca blog Rini, silakan buka Love, Grow and Glow, https://lovegrowandglow.wordpress.com/

Mensyukuri kanker dengan positive thinking dan perubahan hidup

Kita wajib menjaga badan sendiri karena badan ini milik Allah, jangan sampai dirusak oleh pola makan dan pola pikir atau pola hidup yang kita pilih sendiri..png

Oleh: Berry Roslina, Lavender Ribbon Cancer Support Group, dalam rangka #WorldCancerDay dan Ulang Tahun Lavender Ribbon Cancer Support Group

Saya Betty Roslina. Saya menerima diagnosa kanker di bulan Oktober 2013. Pertama kali mendapat diagnosa ini saya stress bukan kepalang. Bagi saya pada saat itu kanker adalah sakit berkepanjangan dan mendekati kematian. Saya takut akan merepotkan orang lain. Saya khawatir anak-anak belum bisa mandiri dan saya tidak bisa menitipkan mereka pada orang lain, meskipun ada yang mau menjamin sekalipun.

Saat itu saya langsung menjalani mastektomi. Saya merasa terdesak, tak punya waktu untuk mencari informasi lain, padahal saya ingin mencari tahu soal herbal. Saya stress dan merasa tak ada jalan lain selain mastektomi. Keluarga ikut saja. Semua menyerahkan keputusan pada saya.

Setelah mastektomi sebenarnya saya harus menjalani kemoterapi sebanyak enam kali selang tiga minggu sekali. Saat itu saya merasa punya waktu untuk mencari informasi. Saya pun mencoba menggali berbagi informasi dan menemukan bahwa banyak yang sembuh kanker tanpa harus kemoterapi. Saya juga menemukan cerita pengalaman orang yang menjalani kemoterapi sampai lumpuh kena tulang tdan otak. Karena kesal tidak mengalami kemajuan maka ia meninggalkan kemoterapinya dan beralih memperbaiki pola makan dan herbal. Berangsur-angsur ia mengalami banyak kemjuan, bisa menjalani bisnis kembali meskipun dengan keterbatasan gerak. Cerita itu menginspirasi saya untuk meninggalkan pilihan kemo. Saya berkomitmen untuk membentuk pola hidup sehat, pola pikir sehat dan pola makan sehat.

Saya juga banyak berserah diri hanya pada Allah, banyak membaca doa sehingga saya bisa mengatasi keresahan jiwa saya dan perlahan-lahan bebas dari stress. Kanker membantu saya untuk sadar bahwa saya harus bersiap-siap untuk mati. Saya kini pasrah, siap tidak siap ya harus siap. Kematian bisa datang kapan saja, pada siapa saja, tidak harus melalui kanker dan tidak harus ke pasien kanker.

Kuncinya: Positive thinking.

Kini sudah tiga tahun berlalu, alhamdulillah badan terasa lebih sehat dan saya berusaha untuk selalu sehat. Kanker membantu saya untuk lebih berhati-hati dalam menjaga badan. Lebih memperhatikan pola makan, pola pikir dan pola hidup yang baik bagi kesehatan tubuh lahir batin. Ph tubuh bagiku sangat penting. Saya jaga pH tubuh melalui berbagai makanan dan pola pikir yang menyehatkan.

Positive thinking saja. Kita harus benar-benar tahu badan sendiri. Kita wajib menjaga badan sendiri karena badan ini milik Allah, jangan sampai dirusak oleh pola makan dan pola pikir atau pola hidup yang kita pilih sendiri.

Keluarga alhamdulillah ikut saja dengan keputusan-keputusan saya. Bagi saya, diperlakukan seperti orang sehat sudah cukup. Alhamdulillah tidak ada yang membebani saya. Saya pun alhamdulillah tak menjadi beban siapapun.

Saya masih sangat mengharapkan ada obat kanker yang paten, agar kita bisa sembuh tanpa haru menjalani kemoterapi. Obat itu juga harus bisa terjangkau oleh kalangan ekonomi bawah. Ini impian saya sampai saat ini.

Hikmah di balik kanker

Pelajaran yang sangat berharga bagi saya selama menjalani kurikulum kanker ini, adalah berbagi. Ternyata saya tak sendiri. Menjadi anggota Lavender Ribbon Cancer Support Group membuat saya bertemu banyak teman senasib sepenanggungan yang bisa diajak berbagi.

Kisah-kisah mereka yang sukses menjalani kurikulum kanker benar-benar penting. Dengan banyak yang berhasil sehat kembali, insya Allah para penerima kurikulum kanker akan bisa belajar mendapat ilmu untuk bisa ikut menjadi sehat seperti mereka. Semua cerita sukses dapat menjadi inspirasi.

Saya banyak sekali belajar dari komunitas ini. Saya pasrah dan menyerahkan diri pada Sang Maha Pencipta. Badan dan kematian adalah milik Allah. Marilah kita usahakan agar bisa menjaganya kesehatan tiap hari.

Bagi teman-teman yang baru menerima diagnosa kanker, terus semangat. Carilah informasi sebanyak mungkin sebelum mengambil keputusan pengobatan.

Yaa Alloh aku panjatan syukur atas karuniamu yang telah Kau limpahkan dengan memberikan pengalaman mengalami kanker, karena berkat pengalaman itu aku lebih mensyukuri, bahwa ternyata aku masih bisa menikmati kehidupan dunia ini.

Terimakasih Yaa Alloh…….

Terimakasih Yaa Alloh…….

Terimakasih Yaa Alloh…….


Ingin membantu teman-teman penerima kanker di Lavender? Silakan kirim donasi anda ke Yayasan Lavender Indonesia di Bank Mandiri nomor rekening 1270007342932. Kirim bukti transfer ke Indri Yusnita via wa atau sms di +62 815 8700930.

Mencari surga yang dirindukan 3 – sakit itu bukan untuk dikeluhkan tapi untuk disyukuri dan dinikmati

Sakit bukan untuk dikeluhkan.Sakit adala.png

Oleh Lilik Andini, Lavender Ribbon Cancer Support Group, dalam rangka #WorldCancerDay dan Ulang Tahun Kedua Lavender Ribbon Cancer Support Group

Sakit itu untuk disyukuri

Selama 4 tahun yang diwarnai dengan harap dan cemas itulah aku mendapatkan banyak pengajaran. Salah satunya adalah belajar menikmati. Menikmati segala rasa sakit yang bertubi-tubi di tubuh ini. Menikmati ketidakberdayaan jasad hingga harus bergantung kepada orang lain. Menikmati segala bentuk pemberianNya. Tentu saja ini bukanlah hal yang mudah. Aku belajar bahwa ketika mengeluh, rasa sakit malahan menjadi berkali-kali lipat rasanya, walaupun mengeluh itu hanya sekedar bersuara pelan menahan sakit. Saat kita mengeluh, pikiran kita hanya fokus ke sakitnya, bukan ke proses penyembuhannya.

Tapi ketika aku terima rasa sakit itu, aku berusaha menikmatinya, maka rasa sakitnya akan jauh berkurang. Ternyata jika rasa sakit itu kita terima dengan diam dan ikhlas, maka rasa sakitnya akan berkurang, dan proses penyembuhannya pun terjadi. Yang kulakukan saat rasa sakit yang amat sangat itu datang adalah terus meyebut Allah di lisan dan hati saya. Benar-benar hanya dengan itu sakitnya bisa reda.  Saat itu aku sudah minum obat penahan sakit level tinggi (morphin), tapi morphin tidak membantu menghilangkan sakit, malah tubuh nggak karuan rasanya. Menyebut nama Allah lebih ampuh ternyata.

Ibarat berenang melawan arus yang kuat, maka kita akan babak belur dibuatnya. Alih-alih melawan, dengan menerima dan menikmati maka kita akan mengalir bersama ketetapanNya. Kesimpulannya, sakit bukan untuk dilawan atau untuk dikeluhkan, tapi untuk diterima, disyukuri dan dinikmati.

Doaku tak pernah putus asa agar Allah senantiasa membimbing dan mengajariku. Dan sungguh aku merasakan bimbingan dan pengajaranNya dalam setiap proses perjuanganku, yang  membuatku takjub luar biasa. Allah memang Maha Kasih dan Sayang. Allah tak akan pernah meninggalkan hambaNya yang meminta pertolongan padaNya. Bukan satu dua kali aku merasa takut dan lemah harapan. Sering terbersit apakah aku sangggup menjalani kurikulum ini. Hingga aku menguatkan diri dengan berpikir bahwa aku hanya akan memiliki dua pilihan pada akhirnya, yaitu sembuh dan sehat atau mati saat berjuang melawannya. Tak ada yang lain. Ajal telah ditetapkan di Lauh Mahfudz. Tak akan dimajukan pun dimundurkan meski sesaat. Ketetapan Allah sudah pasti. Kematian kita pun sudah pasti. Kita bisa mati kapan pun, tak harus lewat penyakit bernama kanker ini. Yang bisa kita ikhtiarkan adalah kualitas menjalani kehidupan kita masing-masing. Bagaimana agar dalam hidup kita selalu menghadapkan wajah kita kepada Allah, bukan pada dunia.

 

Kanker: cara bersegera mendekat menuju Allah

Lalu aku membayangkan saat dulu jasad ini masih sehat, apakah aku sudah menjalani kehidupan aku sesuai dengan harapanNya? Mungkin belum. Mungkin Allah menginginkan aku mendekat padaNya lewat kanker. Aku dan tentunya kita semua menginginkan kematian yang husnul khotimah. Memenuhi panggilanNya saat hati kita sedang menghadap padaNya. Bagiku pada saat itu, akan lebih mudah mempersiapkan diri untuk mati karena kanker  ketimbang mempersiapkan diri untuk sembuh dari kanker. Aku tak ingin badan yang sehat justru membuatku lalai dari Allah. Seringkali kesehatan, kemapanan dan kesenangan duniawi membuat kita lupa mempersiapkan bekal untuk mati.

Bersahabat dengan kanker membuatku hanya ingin meninggal dengan selamat. Pikiran dan hati yang selamat. Yang menerima bulat segala ketetapanNya, agar kemudian aku bisa melanjutkan perjalanan ke alam berikutnya dengan bekal yang cukup. Jadi jika ada yang bertanya kepadaku, apa yang kamu dapatkan dari kanker? Maka aku akan menjawab, kanker memberi aku pelajaran besar tentang penerimaan, sabar menjalani ketetapannya dan bersyukur atasnya, serta ikhlas menjalani takdirNya.

Apakah ada saat di mana aku mengeluh? Pasti. Tapi aku tak mau hanyut dalam keluhan, kesedihan, dan keputusasaan. Bersegeralah menguatkan kembali genggaman tangan kita denganNya. Mintalah padaNya kekuatan, menjeritlah hanya padaNya, jika tak sanggup menahan derita maka mengeluhlah hanya padaNya, bukan kepada makhlukNya. Sehingga dalam kondisi apa pun kita senantiasa terhubung dengan Allah, selalu mengingatNya, berdzikir dalam naik-turunnya kehidupan dunia.

Banyak pertolongan Allah yang kuterima dan rasakan selama menjalani kurikulum kanker, di antaranya hadirnya orang-orang yang membantu baik materiil maupun moril.

Keadaan ekonomi keluarga kami saat itu sangat tidak memungkinkanku berobat ke dokter, tapi Allah yang membuat semua itu mungkin. Melalui bantuan keluarga dan teman-teman komunitas pengajian, aku bisa berobat ke rumah sakit dan menjalani rangkaian kemotherapi dan radiasi. Kita semua tau, tak sedikit uang yang harus dikeluarkan untuk itu, namun Allah membuat itu mungkin, Subhanallah, Alhamdulillaah, Allahu Akbar.

Secara moril support berupa semangat dan nasehat juga banyak kudapatkan. Terutama dari Guruku. Sosok beliau sangat berarti buatku. Beliaulah yang selalu menasehati dan mengingatkan untuk bisa memanfaatkan sakit sebagai momen berdialog dengan Allah, Sang Pemberi Kurikulum. Nasehat ini sangat berarti dan berharga saat itu bahkan sampai saat ini.

Karena dengan selalu berdialog denganNya, aku punya tempat mencurahkan semua perasaan yang tak mungkin  dicurahkan kepada orang lain, sekaligus mendapat jawaban atas semua masalahku.

Pesanku bagi semua sahabat dan dokter

Sungguh sahabat-sahabatku, hanya itulah yang akan menolong kita. Tak ada yang lain. Bukan semata kecanggihan teknologi, bukan manjurnya obat-obatan, bukan hebatnya para dokter, karena itu semua juga dalam kuasa-Nya. Sesungguhnya Allah itu dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher kita, namun seringkali kita lalai dan alpa.

Kanker hanyalah salah satu cara agar kita bersegera mendekat menuju Allah. Karena lewat kanker kita mengingat mati. Karena ingin mati dalam keadaan selamat, maka kita pun berupaya keras mempersiapkan bekal yang baik dan cukup untuk menghadapi kematian.

Orang sakit berjihad dengan cara menempuh semua yang harus ditempuh untuk mencapai kesembuhan dengan penyikapan yang tepat. Bila kita sanggup menjalani kurikulum besar ini dengan hati yang selalu terhubung pada-Nya, maka insya Allah hati kita akan tenang. Sehingga kita akan siap menghadapi kemungkinan sembuh atau bahkan mati.

Bagi semua dokter, sikap tenang dan positif seorang dokter dalam menghadapi pasien kanker sangat penting, karena rasanya siapapun yang menerima vonis kanker atas dirinya, pada umumnya akan shock saat mendengarnya.

Aku tahu bahwa aku sangat beruntung karena tak semua orang mengalami hal yang sama. Harapanku, ke depan, semoga dokter lebih banyak berperan dalam membantu pemulihan pasien secara permanen. Dokter dapat berperan banyak dan sangat membantu dalam bersikap tenang dan menyampaikan kata-kata positif bagi pasien. Dokter perlu mendiagnosa dengan cermat dan teliti. Separah apapun kondisi penyakit dan kondisi pasien, dokter tetap perlu membesarkan hati dan membantu memberi harapan. Dokter dapat mengoptimalkan pengobatan terhadap pasien baik dari aspek obatnya maupun aspek mental dan psikisnya.

Bagi semua teman dan keluarga pasien, perhatian dan dukungan teman-teman, baik materil maupun moril juga berpengaruh besar dalam proses kesembuhan. Di saat kondisi fisik dan mental melemah saat menjalani pengobatan, aku terus mendapat semangat mereka untuk tidak berputus asa dan terus semangat utk berjuang.

Selamat berjuang sahabat-sahabatku terkasih, jadikanlah momen ini sebagai kesempatan emas untuk mendekat padaNya. Doaku akan selalu menyertai sahabat semua.

Tamat.

Selengkapnya:

Mencari surga yang dirindukan 1: pengalaman menghadapi kanker dan poligami sekaligus

Mencari surga yang tak dicari 2: poligami sebagai pengingat, kanker sebagai peredam

Mencari surga yang tak dicari 3: sakit itu untuk disyukuri, bukan untuk dikeluhkan.


Ingin membantu teman-teman penerima kanker di Lavender? Silakan kirim donasi anda ke Yayasan Lavender Indonesia di Bank Mandiri nomor rekening 1270007342932. Kirim bukti transfer ke Indri Yusnita via wa atau sms di +62 815 8700930.

 

 

Hanara Well Being Center, tempat kami membangun kesehatan body mind soul

 

 

whatsapp-image-2016-09-09-at-11-05-04-am

Dalam setiap makhluk, ada energi kehidupan, life energy, yang dalam Kedokteran Cina disebut Qi. Energi inilah yang menjadi penopang kehidupan seluruh makhlukNya yang hidup. Qi mengalir ke seluruh organ dan anggota tubuh. Saat semua anggota tubuh mendapat pasokan yang cukup, anggota tubuh tersebut akan sehat dan menjalankan fungsinya dengan baik. Saat pasokan tak cukup, mulailah anggota tubuh tersebut melemah. Ibarat bunga di pot yang tak mendapat nutrisi dan air yang cukup, kalau dibiarkan tanpa pasokan qi, anggota tubuh akan sakit dan tak lagi mampu menjalankan fungsi dengan baik.

Sakit tidak akan datang tiba-tiba. Saat anggota tubuh mulai kekurangan pasokan akan muncul berbagai keluhan seperti jerawat, sering kaget, obesitas, kecemasan, dll. Kedengerannya sepele, tapi sesungguhnya kalau dibiarkan semua keluhan itu bisa menjadi keluhan yang lebih serius dan berujung pada sakit yang serius.

Jadi penting sekali bagi kita untuk menjaga agar qi kita besar, mengalir deras, dan meridien, atau jalur energi tubuh di mana qi mengalir, terbuka lebar bebas sumbatan.

Sumbatan dapat terjadi dengan adanya stress, polusi, dan pola hidup yang kurang baik. Stress, perasaan serta pikiran negatif, prasangka buruk, amarah, sangat buruk dampaknya pada meridien dan qi. Kecemasan beberapa detik saja dapat menyebabkan sumbatan di berbagai tempat. Qi dapat melemah apabila kita kurang istirahat, dan tidak rajin mengaktivasi energi qi ini.

Di Hanara, yang dikelola oleh tiga pendekar,  dr. Hanson Barki, dr. Maya Danubrata dan Ibu Jeanny Barki, kita akan belajar bagaimana kita bisa memperbesar qi, membuka sumbatan meridien dan memperlebar meridien, agar kita bisa mandiri menjaga kesehatan lahir batin. Tujuannya bukan hanya sehat, tapi vibrant.

Tingkatannya adalah:

  1. Sakit, saat banyak keluhan terjadi dan hasil lab menunjukkan indikasi tidak normal
  2. Lemah, saat banyak keluhan, tapi hasil lab tidak menunjukkan indikasi tidak normal
  3. Sehat, saat tidak banyak keluhan terjadi
  4. Bahagia, saat perasaan selalu positif
  5. Vibrant, saat kebahagiaan kita juga membawa pengaruh positif di sekeliling kita

Kelas self healing

  1. Vibrant Breathing Class atau VBC

Qi bisa diaktivasi dengan pernafasan. Di kelas ini kita belajar mengaktivasi qi melalui pernafasan. Keunikan Hanara adalah adanya aktivasi qi sampai level 9, tidak hanya level 4 (tung kwan) seperti di tempat pelatihan lain.

Hanara juga memasukkan aspek mind dan soul dengan menghadirkan 5 vibrasi yang bertujuan membersihkan hati, dan mengembalikan manusia kepada fitrah sebagai manusia. Dengan kembalinya kepada fitrah, manusia dapat membangun potensi besar yang telah Allah berikan pada kita semua.

Lima vibrasi ini adalah: vibrasi ikhlas, menikmati, bersyukur, berbagi tulus ikhlas tanpa pamrih, bahagia bersama saat yang lain bahagia. Setelah itu kita bisa naik kelas pada vibrasi ikhlas yang lebih tinggi, yaitu meniadakan diri dan hanya menghadirkan Sang Pencipta, sang penentu segala hasil.

2. Vibrant Happy Healing atau VHH

Dalam kelas ini kita membawa 5 vibrasi dalam kehidupan sehari-hari. Vibrasi kasih saying, teguk happy, janji syukur dan bahagia, serta berlatih Special Sport untuk memperkuat lima anggota tubuh vital.

3. Life Energy Movement (LEM)

Dalam kelas ini kita belajar membuka meridien dan menghadirkan 5 vibrasi melalui gerakan.

Terapi

Untuk mempercepat proses, ada berbagai terapi yang juga bisa diikuti antara lain foot point, body point, kelas terapi LEM, dan lain-lain. Terapi-terapi ini sangat nikmat dan nyaman, memanjakan setiap anggota tubuh sambil membantu qi mengalir lebih lancar.

Ada juga kelas terapi MRI untuk emotional healing, membantu para peserta melepas beban emosi. Di kelas ini kita juga akan belajar bagaimana beratnya dampak mengeluh yang tampak sepele. Ternyata setiap keluhan melemahkan bukan hanya yang mengeluh, yang menerima keluhan dan yang dikeluhkan, tapi juga ruangan di mana keluhan terjadi.

Fasilitas sumber energi

Di Hanara Bandung ada Fountain of Youth, air terjun sumber energi serta ion negatif, dan Life Energy Pool, di mana peserta dapat melakukan detox secara langsung dengan masuk ke dalam kolam energi.

Melalui tes kinesiologi, dapat dilihat bahwa berada dalam lingkungan Hanara yang dilengkapi dengan kedua infrastruktur ini, kita akan menyerap energi untuk membantu meridien terbuka dan qi menjadi lebih besar. Hanya dengan berada di sana, tubuh sudah menerima terapi energi.

Pola makan selama di Hanara juga akan sangat diatur, dengan tujuan mengoptimalkan hasil latihan sebaik mungkin. Cara makan Hanara dapat dinikmati di Kafe Hanara, meskipun kita tetap harus cek makanan mana yang baik untuk kita.

Kelas komunitas

Pernafasan qi akan berdampak lebih besar apabila dilakukan secara bersamaan. Maka di Hanara Bandung, diadakan latihan bersama setiap hari Rabu, pukul 4-6 sore. Bagi yang ada di Jakarta ada pula latihan bersama setiap Sabtu pukul 8.30-12.30. Di Jakarta tidak ada fasilitas Fountain of Youth dan Life Energy Pool, maka waktu yang dibutuhkan memang lebih lama. Bagi mereka yang ingin lebih intensif mengaktivasi Qi nya, bisa berlatih di kantor Fortune Indonesia, Gedung Galaktika, Jl RM Harsono 2, Ragunan.

Program V28

Untuk anggota-anggota Lavender dan mereka yang butuh penanganan khusus, ada program intensif V28, di mana pesertanya mengikuti kelas-kelas self healing VBC, VHH, kelas terapi MRI. Peserta akan berlatih bersama setiap hari, di Bandung atau Jakarta. Peserta juga akan dipantau secara khusus oleh dr. Hanson, dr. Maya Danubrata dan Ibu Jeanny baik secara langsung saat kelas komunitas, maupun melalui what’s app group khusus untuk peserta program ini.

Selama 28 hari para peserta akan berlatih VBC selama 4 jam, SS dan menghadirkan 5 vibrasi dalam kehidupan sehari-hari. Peserta juga akan berlatih menuangkan rasa syukur tiga kali sehari, dari bangun tidur, selesai latihan, dan sebelum tidur, dengan pantauan dokter. Ternyata kualitas syukur juga menentukan potensi kesembuhan dan jalan menuju vibrant.

Yuk, kita bangun vibrant living yuk, menjadi rahmatan lil alamin, pembawa rahmat bagi alam semesta, demi pertemuan denganNya dan kerinduan akan utusanNya.