Membatik dan healing


Kerajaan nusantara zaman dahulu selalu dipimpin oleh raja yang dipilih melalui berbagai proses yang menjamin raja bisa memimpin dengan bijaksana.

Ternyata setelah dicek dengan Kinesiologi, batik yang dipakai para raja, ratu, sultan, bupati zaman dulu mempunyai tingkat vibrasi 5 (menguatkan yang memakai dan lingkungannya). Hal ini penting untuk raja, ratu, sultan dan para bupati tersebut. 

Kita bisa cek sendiri. Kalau kita tes dengan teknik kinesiologi vibrasi batik raja berbeda sekali dengan vibrasi batik para abdi dalam dan rakyat kebanyakan.

Dengan demikian hanya dengan memakai batik tersebut para pemimpin bisa merasa damai dan memerintah dengan bijaksana, didasari suasana hati yang baik. Mereka yang ada di sekelilingnya pun bisa merasa hal yang sama.

Dibutuhkan pembatik yang juga mempunyai vibrasi tinggi untuk bisa menghasilkan batik seperti itu. Mereka adalah orang-orang yang mampu membangun pribadi ikhlas, selalu bersyukur, mampu menyebar kasih tulus tanpa pamrih dan selalu bahagia dengan kebahagiaan orang lain.

Para pembatik untuk raja adalah pembatik khusus sekelas resi dan empu. Tapi bukan tidak mungkin kita belajar dari mereka karena membatik bisa menguatkan kita secara emosi dan fisik, membantu menyembuhkan penyakit dengan izinNya.

Membatik melatih cerebelum yang menghubungkan otak kanan dan kiri. Otak tengah memastikan otak kanan dan kiri selaras sehingga kita bisa punya “sense” sehingga kita “tepat” dalam perkataan dan perbuatan

Kalau kita bicara buruk hipofisis mengeluarkan adrenalin yang mengatur adrenal mengeluarkan gula darah. Kalau sampai berlebihan bisa muncul banyak penyakit.

Kalau kita bicara baik, Thalamus yang akan aktif, dan akan keluarkan nor adrenalin. 

Membatik mengaktifkan Thalamus. Thalamus ini menangkap juga vibrasi-vibrasi yang ada di lingkungan. Vibrasi yang di keluarkan para resi dan ahli pembatik zaman dulu mampu ditangkap oleh Thalamus yang peka dan bekerja baik.

Ilmu pengetahuan yang kita miliki saja tak mungkin cukup mengatasi masalah-masalah kita. Ini yang disadari nenek moyang dan terutama raja. Raja butuh wisdom. Maka raja wajib mengaktifkan Thalamus. Raja mampu menangkap vibrasi yang  dibutuhkannya untuk memimpin dan membawa bermanfaat bagi orang banyak.

Banyak hal yang harus dilakukan untuk mengaktifkan Thalamus ini. Memakai kain yang tepat ikut membantu. 

Etika membatik:

– harmoni: ada banyak orang, karakter, dengan berbagai jenis batik. Kita harus jaga harmoni dalam interaksi

– saling hormat menghormati: dengan berbagai perbedaan dan apa yang orang lakukan untuk kita. Juga pada barang.

– kejernihan: jernih melihat dan jujur apa adanya

– ketenangan: kalau semua di atas dilakukan, lebih mudah bagi kita membangun jiwa raga yang tenang.

Berlatihlah membatik dan bangun kesehatan lahir batin dari kegiatan ini. Membatik penuh dengan art and practice of vibrant living

Batik berasal dari kata amba (luas) dan tik (membuat titik). Batik juga disebut sebagai “embat” melempar banyak titik yang membentuk disain.

Bayangkan setiap titik adalah momen kehidupan. Apapun yang terjadi dengan titik kita ikhlaskan saja. Rangkaian titik membangun kehidupan.

Pada saat ia membentuk garis ikuti saja, jangan punya banyak ekspektasi. Merangkai hidup penuh butuh kedalaman. Ujian nya adalah kemampuan kita ada dalam karya kita. Nanti bisa dicek, kalau dikinesiologi dengan mata terbuka maupun tertutup level kekuatannya ada di vibrasi 5. Bahkan kalau sampai dipakaikan HP tetap akan tahan. Batik berkualitas tinggi akan membuat yang pakai tahan vibrasi HP.

Tanggal 17 Agustus 2017 ini kami mengikuti program membatik di Hanara dalam proses healing. Sangat menyenangkan.

Ini Pak Johan yang karya batiknya sangat kuat vibrasinya sampai bisa menguatkan pemakainya dan melindungi dari radiasi HP. Beliau membatik dari kursi rodanya.

Tumor otak pun bisa jadi berkah, kisah Bubu dan Baba 3

26 desember 2015 

Baba di operasi nyaris 8 jam.

Alhamdulillah semua berjalan lancar.
Selama menikah kami tidak pernah pergi berdua, selalu bersama anak-anak kami. Honeymoon pertama kami adalah di Siloam. Bedanya dia di ruang ICU, aku di ruang tunggu🤗.

Alhamdulillah Baba sadar tiga jam setelah operasi, tidak sampe tiga hari. Alhamdulillah. Dan langsung mengenali aku. Kami tinggal di ruma sakit selama enam hari.

28 desember 2015

Baba mulai menjalankan food combining

31 januari 2015

Baba di perbolehkan pulang, dan.bisa.jumatan lagi di komplek..masyaAllah😍

3 januari 2016

Hasil PA keluar. Hasilnya.. grade IV, terganas, jadi harus segera dilanjutkan treatment radiasi 30x, dan kemoterapi selama 3 cycles.

11 januari 2016

Radiasi pertama

Pola makan selama radiasi dan kemo tetep food combining. Alhamdulillah setiap tes darah hasilnya selalu baik.

Selama menjalani radiasi Bubu menyiapkan buah buahan dan juga salad untuk bekal. Baba berhenti meng konsumsi protein hewani.

Baba juga mulai meng konsumsi obat-obatan selama radiasi plus temodal yaitu kemo secara oral. Aku tahu berat bagi Baba meminum sekian banyak obat-obatan, yang selama ini dia hindari. Baba ikhlas menjalaninya demi kami keluarga kecilnya. Protokoler yang dilakukan sebelum menenggak tablet-tablet itu, Baba membaca doa dan dzikir, memohon pada sang Illahi.

Awal februari 2016

Mulai menjalani diet Alkaline, belajar raw food, diet lalap, Baba semakin segar dan sehat meski dalam tahap radiasi. Tanpa kemo lagi, karena Baba tidak mau melanjutkan kemo. Belajar diet alkaline dengan bapak Wied Harry.

Akhir februari 2016

Selesai radiasi, hasil CT Scan sangat baik, para dokter ikut bangga.
Baba juga memakai helm elektromagnet, hasil scannya selalu membaik.

Awal maret 2016 

Memutuskan berhenti semua obat-obatan. Termasuk tidak pernah mengkonsumsi food suplement dan obat-obatan herbal. Semua pure alami tanpa olahan.
Masyaallah..

Baba tetap konsisten menjaga pola makan food combining alkaline dan semangat untuk sehat.

Amazingly, pandangannya mulai membaik. Baba bisa kembali membaca dan juga mengaji. Alhamdulillah per 3 bulan MRI hasilnya selalu membaik.


Sampai saat ini, sudah enam bulan sekali cek up, dan dinyatakan sudah tidak aktif.
Kami tak hentinya bersyukur menerima anugerah ini di masa yang ramah informasi.

Dan kami begitu mendapat indahnya manfaat dari silaturahmi. Surrounding by amazing family and lovely friends… Mereka semua selalu siap membantu kami, masyaAllah.
Alhamdulillah.

Maka nikmat Tuhan kamu mana yang kau dustakan?

Selama ini kami, bersama anak anak:
♡ bersyukur selalu tak berujung.
♡ selalu berserah diri pada Allah dan tak hentinya menuntut mukjizatNya. Allah suka di tuntut umatNya.
♡ yakin akan kemampuan tubuh kita dalam penyembuhan.
♡ menikmati segala prosesnya.
♡ percaya dengan ikhtiar-ikhtiar yang dijalani karena setiap orang memiliki jalan ceritanya masing masing.
♡ penuhi dengan kasih sayang dan terus produksi endorphin
♡ menanamkan happy thoughts pada kami dan anak anak kami, Sae, Uma dan Nesto. Kami minta mereka simpan dalam sub concious mind mereka Baba yang sehat, ceria, dan barokah. Alhamdulillah ini adalah bagian terpenting dari segala ikhtiar kami, anak anak soleh yang senantiasa mendoakan Babanya. Masya Allah
Subhannallah walhamdulillah walailahaillallah huallahuakbar.

Miracles do exist

Allahuakbar😇😇😇
9 agustus 2017

Dinda Aspira

☆☆

Indah sekali ya, teman-teman Lavender. Bubu dan Baba adalah teladan-teladan bagi kami di group. Sikap yang positif dan selalu happy membuat kami selalu bahagia mengikuti perjalanan Bubu dan Baba.

Dan betapa saya menyaksikan bahwa kurikulum tumor otak ini adalah kurikulum yang bisa dijalani dengan sangat baik sehingga hasil ujian nya pun mendapat nilai lulus gemilang dari Sang Pemberi Tumor dan Penyembuhnya.

Semoga kisah ini bisa menyemangati teman-teman semua. Aamiin.

Tumor otak pun bisa jadi berkah, kisah Bubu dan Baba 2

 

“Ok dok, makasih anjurannya nanti saya sampaikan ke suami saya,” jawab saya datar.
Keluarlah kami dari rumah sakit itu. Dan aku mulau bercerita pada Baba apa yang dokter mata katakan.

Baba pun seakan tidak terima. Dan dia bilang “Kita coba terapi dari dokter syarafnya aja dulu ya, Bu,” tutup Baba

Sebulan pun berlalu, aku sudah mulai terbiasa dengan kondisi Baba. Sat itu kartu BPJS kami baru saja selesai.

“Baba, kita coba CT Scan aja yuk pake kartu BPJS, beneran gratis gitu?” Ajakku iseng

“Ayo Bu, mumpung anak-anak libur ya,” baba menjawab dengan semangat.

Tanggal 20 Desember 2015

Kami check up dan CT Scan di rumah sakit. Karena pasien BPJS Baba harus menginap di RS. Aku pun berpamitan tanpa ada rasa khawatir sama sekali.

“Sampai besok ya Ba, insyaAllah hasilnya baik,” kataku penuh harap.

“Aamiin…sun buat d SUN ya neng,” jawab Baba.
Malam itu kami terpisah dan bisa tidur dengan nyenyak.

Tanggal 21 Desember 2015

Dokter membacakan hasil CT Scan.

Begitu ditarik lembaran fotonya aku langsung bisa melihat ada lingkaran yang cukup besar dan gelap di bagian otak Baba, nyaris setengah massa otak. Aku langsung mengucap, “innalillahi.”

Dokter perlahan menjelaskan apa arti foto tersebut, “Bapak, ada massa sebesar kurang lebih 5.5x7x11.5cm di bagian bawah kiri kepala Bapak,” papar dokter syaraf.

“Massa itu apa dok?” Tanyaku lirih

“Ehm…tumor bu,” jawab dokter pelan sekali, nyaris tak terdengar.

“Sabar ya Pak, Bu, kami akan rencanakan terapi secepatnya dengan dokter bedah syaraf ya,” tutup dokter.

Dokter pun meninggalkan kami yang terpaku. Tumor? Di otak?
“Baba, Bubu boleh nangis, Ba?” tanyaku

Baba langsung peluk aku erat sekali.

“Kuat, Bu, untuk Kakak, Teteh dan Mas. Baba kuat, Bu. Kita sama-sama, ya Bu,” Baba menenangkan aku.

Tidak lama dokter bedah syaraf datang dengan penjelasannya dan tahapan tahapan apa saja yang harus di lalui Baba suamiku.

“Selanjutnya MRI ya bu, diagnosenya adalah Brain Glioma. Untuk lebih akurat harus MRI. Saya buatkan surat pengantarnya, nanti dibaca lagi hasil fotonya, baru bisa kita rencanakan operasi pengangkatan tumor itu (biopsi). Spesimen dari tumor itu kemudian dites PA (Pathologic Assessment, analisa patologi – red), untuk mengetahui stadiumnya dan juga tahapan terapi setelah operasi. Saran saya secepatnya ya, Bu, tindakan operasi, karena ukurannya besar sekali,” jelas dokter bedah syaraf pada kami.

Memang besar sekali, actual sizenya kira kira pempek kapal selam palembang ukuran besar.

Atas seijin Baba, aku langsung broadcast ke keluarga dan sahabat terdekat untuk mendapat info penanganan terbaik bagi suamiku.

Malam itu aku juga langsung bertanya pada kakakku dr Ika Satya. Aku kirim juga foto-fotonya via wa, dan jawaban beliaulah yang membuat kami yakin akan kata ikhtiar. Baru terbuka sekarang, padahal beliau pas tahu kondisi adiknya beliau galau segalaunya dan menambahkan nama Baba dalam setiap doanya. Terima kasih ya, Mbak Ika.

Keesokan harinya kami mencoba antri MRI melalui BPJS, tapi kondisi Baba tidak fit. Jadinya kami pindah ke Siloam.

Dan langsung mendapat hasil mentah MRI dan kami bawa ke Prof Eka di Siloam, Karawaci. Terima kasih dear Pradita Gifani

22 desember 2015

Hasil baca dari prof dan timnya, Baba di nyatakan glioblastoma multiforme (https://en.m.wikipedia.org/wiki/Glioblastoma), dan di sarankan operasi. Dan juga tahapan berikutnya adalah tes PA, agar tahu grade/stadiumnya dan jumlah terapi radiasi plus kemo.

Baba langsung menyanggupi operasi.

Tanggal 23 desember 2015

Kami kontak ke siloam untuk minta jadwal operasi. Susternya langsung menginfokan jadwal operasinya di tanggal 26 Desember dan 25 Desember sudah harus masuk RS untuk rangkaian persiapan operasi.

Dokter sudah menjelaskan segala kemungkinan yang terjadi pasca operasi. Mendengarkan segala kemungkinan terburuk.

Tanggal 24 desember 2015

Kami sekeluarga pergi jalan- bersama tiga anak kami, quality time bersama mereka dan kami tidak cerita pada mereka Baba mau operasi. Hanya cerita mau periksa mata.

Malam itu kami berbincang berdua.

“Baba, Bubu pernah minta sesuatu tidak ke Baba?” tanyaku pelan.
“Minta apa ya, ggak ya Bu, Baba gak inget,” jawab Baba.
“Bubu minta Baba besok habis operasi bangun yaaa, gak pake lama,” pintaku kuat.
“Aamiin neng, kasih waktu paling lama 3 hari ya Bu, Baba pasti bangun kok, kita sama-sama lagi ya, Bu. Bubu yakin Baba sehat karena Baba yakin, Baba akan menua bareng Bubu dan anak anak,” papar Baba panjang.

Aamiin ya Allah…


25 Desember 2015

Tepat di ulang tahun Baba, hari Jumat, Baba minta Jumatan di mesjid komplek kami, sekalian minta doa para jamaah mesjid.

 

Bersambung…

Tumor otak pun bisa jadi berkah, kisah Bubu dan Baba 1

Sahabat Lavender,

Di bawah ini adalah tulisan Bubu (Mbak Dinda) mengenai Baba (panggilan sayang suaminya) dan anak-anak mereka, d SUN (Sae, Uma, Nesto), dalam menghadapi kurikulum tumor otaknya. Sungguh sangat dalam pelajaran yang bisa kita pelajari dari perjalanan ini. Kita simak yuk.

☆☆

Selamat sore teman-teman semua…

Terima kasih ya, Taman Lavender, sudah menjadi bagian dari keluarga kami, setia menemani setiap hari via group wa dengan segala bentuk motivasi dan curahan doa, terutama pencerahan-pencerahan dari teteh Indira Abidin. Tak lupa Ibu Adi Tri Kuswati yang pertama sharing tentang pengalaman “persahabatannya” bersama anugerahnya..

Masya Allah..hanya Allah yang dapat membalas segala bentuk cinta kakak-kakakku semuanya.

Ijinkan saya berbagi cerita bahagia. Semoga menjadi penambah motivasi untuk hidup bahagia dalam sehat yang manfaat. Aamiin!


☆Senang Bersamamu @sanitric☆

Cerita perjalanan kami sebelum suamiku Sani Tri Cristian (Baba) menerima anugerah, sampai dengan ikhlas berbahagia menjalaninya bersama.”
(Silahkan share tanpa ijin terlebih dahulu, agar dapat ikut berbahagia bersama kami).

“Bu, baba geleyeng bu..Baba langsung rebahan ya,” keluh Baba sepulang dari proyek.

Kalimat itu berulang hampir setiap malam, mulai dari awal tahun 2015.
Dan aku selalu mengecek suhu tubuhnya juga tensinya..semuanya normal.

Sejak kecil, Baba tidak pernah mau minum obat, kalau sakit obatnya hanya istirahat.

“Sepertinya, Baba kelelahan” batinku
Di pertengahan tahun 2015 keluhan Baba bertambah.

“Bu, kok sekarang keliatannya belereng (buram) ya? Coba Bubu di sisi kanan Baba…kok Baba gak bisa lihat jelas ya?” Tanya Baba serius, sembari memicing micingkan matanya.

“Periksa atuh ke dokter mata, Ba, besok ya,” ajak aku.
Mulailah kami gerilya ke dokter mata dan juga optik-optik mata. Dari sekian dokter dan optik yang kami sambangi jawabannya sama, “Ini sih bapak kecapean ya, istirahat saja dulu, minusnya hanya 0.25. Nanti cek lagi minggu depan,” kurang lebih itu jawaban mereka.

Hingga terjadilah Baba terjatuh dari sepeda di akhir bulan Agustus 2015. Sambil berlumuran darah, Baba berulang kali memohon maaf, karena selepas subuh pergi naik sepeda bareng teman-temannya, tanpa sepengetahuan Bubu. Padahal Bubu sudah berpesan tidak ber down hill dulu, selama matanya belum pulih. Saat itu tangan kirinya patah dan kuku jari kaki Baba terlepas.

Pemulihan setelah patah tulang cukup lama. Kami pun merayakan ulang tahun pernikahan kami yang ke 9 (16 September 2015) di rumah. Baba terbaring dan mengucap doa bersama anak-anak kami, Sae, Uma dan Nesto.

Selama istirahat di rumah penglihatan Baba semakin berkurang, Baba sampai sempat tidak dapat membaca lagi. Kami pun memutuskan berlangganan koran untuk melatih baca. Hasilnya? Tidak ada. Kondisi mata kanan baba semakin menurun. Kami kembali gerilya ke dokter mata, dokter umum dan hasil diagnosanya pun sama . Menurut mereka, Baba hanya kelelahan.

Bulan-bulan pun berlalu, akhirnya Baba memutuskan di rumah dulu tidak beraktifitas. Sampai di bulan November, aku mengajak Baba check up ke spesialis syaraf, ini berdasarkan saran dari kakakku, melihat dari keluhan Baba yang seperti geleyeng tanpa rasa sakit di kepala, tapi kepala terasa berat.

Hari itu kami periksa dan tebak apa kata diagnosa dokter spesialis syarafnya. Beliau menyarankan PIKNIK, “Matikan gadget, dan benar benar istirahat dulu, Pak” saran dokter itu. Suamiku benar over exhausted, batinku.

Sang dokter juga menyarankan ke spesialis mata untuk memeriksakan penglihatan yang semakin menurun..

Kami pun mengikuti anjurannya.
Saat di periksa di dokter mata barulah mulai terkuak ada sesuatu yang serius dengan Baba. Sang dokter mengajak aku ngobrol personal, Baba menunggu di luar

“Ibu, saya sarankan bapak menjalani CT Scan kepala, karena gejalanya persis dengan pasien saya minggu kemarin. Setelah CT Scan ternyata ada tumor di kepalanya dan menekan bagian optiknya sehingga tidak bisa melihat lagi,” jelas dokter mata tersebut.
—————
Hening sejenak
Bubu kaget. “Hello…dokter spesialis syaraf yang jauh lebih senior dari dokter mata ini aja cuman nyuruh piknik. Ini kok CT Scan,” umpatku dalam hati. Begitu panas rasanya saat itu. #istighfar Aku tidak menerima diagnosa dokter tersebut.

 

Bersambung

Syukur, sumber kesembuhan sakit apapun

thank you.png

Setiap kali ada yang menghubungi saya untuk menceritakan diagnosa kankernya, saya selalu memberikan ucapan selamat, dan mensyukurinya. Saya ingin mengkondisikan otaknya bahwa kanker pun perlu disyukuri. Karena saya merasakan sendiri betapa nikmatnya menghadapi kanker dengan rasa syukur.

 

Emosi positif, seperti rasa syukur, tenang, bahagia, sangat membantu kita kreatif mencari jalan keluar dari permasalahan apapun. Badan menjadi relaks, dan energi mengalir deras untuk menyembuhkan organ apapun yang sedang sakit.

Sebaliknya, panik, sedih, demotivasi, menutup otak dari kreativitas. Kita jadi tidak bisa berfikir jernih untuk mencari solusi-solusi terbaik yang bisa kita jalani dengan nyaman dalam kondisi yang ada. Dan yang paling berbahaya, begitu kita panik, sedih atau demotivasi, tubuh menegang, otot tak lagi kendur, semua mengalami kontraksi. Bagaimana energi bisa mengalir untuk menyembuhkan? Itulah sebabnya banyak penerima kurikulum kanker yang stadiumnya naik drastis justru ketika tahu bahwa kanker itu ada.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan melalui University of Missouri-Columbia, para penerima kurikulum kanker payudara dihubungi 30 bulan setelah selesai menjalani perawatan medis. Mereka menemukan bahwa dukungan sosial, persepsi positif terhadap kanker, keyakinan agama, spiritualitas, kemampuan memberdayakan diri, dan keyakinan akan pulih adalah hal-hal yang sangat penting dalam proses pemulihan paska pengobatan, untuk terus bebas kanker.

Temuan ini konsisten dengan model kesehatan psikoneuroimunologis dimana variabel psikososial bisa mengatasi stres dan mempengaruhi hasil kesehatan.

Sebuah studi oleh Tumor Center di University of Regensburg di Regensburg, Jerman mengamati pengalaman penerima kurikulum kanker payudara di Bavaria, Jerman tujuh tahun setelah pengobatan. 42% responden menunjukkan bahwa berpikir positif dan “semangat juang” adalah saran terpenting yang akan mereka berikan kepada sesama penerima kurikulum kanker payudara lainnya.

Sebuah studi di Capitol Medical University di Beijing, menemukan bahwa emosi positif sangat terkait dengan tekanan darah di kalangan orang tua dengan penyakit kardiovaskular.

Sebuah laporan yang diterbitkanUC San Diego Center for Excellence for Research and Training in Integrative Health and the Chopra Foundation dalam jurnal American Psychological Association menyatakan bahwa pasien yang memiliki rasa syukur tidur lebih nyenyak, tidak kelelahan, dan relatif lebih tidak rentan depresi. Mereka juga relatif tidak banyak mengalami peradangan sistemik.

Berbagai penelitian yang ada membuktikan bahwa emosi positif sangat terkait dengan kesehatan. Ada bukti kuat bahwa hubungan ini nyata dan bahkan bisa menyelamatkan nyawa. Setiap pemikiran positif bisa menjadi langkah menuju kesehatan dan kehidupan yang semarak.

Dan emosi positif tidak mahal. Kita bisa langsung bersyukur kapan saja, di mana saja, dengan siapa saja, termasuk diri sendiri. Kita bisa mulai sekarang, segera. Mulailah dengan senyum, mendekatkan diri pada Sang Maha Kasih dan membangun kebiasaan latihan pernafasan, tafakur sambil terus menghayati berbagai nikmat dan karuniaNya yang sungguh luar biasa besar. Syukuri semua itu, jangan biarkan bibir kering dari namaNya, dan ikhlaskan apapun yang terjadi, karena semua pasti baik. Kita hanya harus percaya dan yakin padaNya.

Murah, meriah dan penting. Jadi apa yang dapat kita lakukan saat ini juga untuk mulai lebih banyak lagi bersyukur, lebih banyak lagi berfikir positif, tersenyum dan berbagi dengan tulus ikhlas?

Bagaimana kita bisa sembuh, sehat, bahagia dan menjadi pembawa berkah bagi dunia melalui rasa syukur kita?

Bukan karena kita butuh balasan, atau karena kebaikan orang lain, tapi karena Sang Maha Pencipta sudah sedemikian baik pada kita, dan kita hanya harus mengembalikannya dalam bentuk syukur dan berbuat baik pada hamba-hambaNya yang lain.