Berdoa itu prioritas utama dalam pengobatan, bukan pendukung

 

Dalam acara halal bihalal Lavender bersama dr. Ferdinan, semua peserta diajak mengangkat tangan. Dan Ibu Rahma Syarief (80 tahun), ibunda Mbak Rahmi, salah seorang anggota Lavender, berkata, “Dok, saya tidak bisa angkat tangan.”

“Sudah sejak kapan tidak bisa angkat tangan?” tanya dr. Ferdinan.

“Sudah sejak tujuh bulan lalu, dok,” kata Ibu Rahma.

“Ayo kita coba yuk. Angkat saja tangan sebisanya, kita coba angkat sambil berdoa pada Allah ya,” ajak dr. Ferdinan.

Dan dr. Ferdinan pun mulai membimbing untuk bisa berdoa bersama memohon kesediaan Allah mengangkat tangan Ibu Rahma.

“Yaa Allah, Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim, Yaa Kariim
hamba mohon dengan izinMu, dengan ridhaMu, dengan rahmatMu dan berkahMu karunialah hamba kekuatanMu. Karuniailah hamba kekuatanMu.
Yaa Allah, karuniailah hamba kekuatanMu untuk mengangkat tangan ini,” seru dr. Ferdinan

“Angkat terus tangannya, Bu,” ia pun menyemangati Bu Rahma. Mbak Titik, yang juga punya masalah yang sama setelah operasi ikut pula mencoba mengangkat tangannya.

“Yaa Allah, hanya Engkaulah yang bisa menambah kekuatan diatas kekuatan hamba. Hanya kepada Engkaulah hamba memohon untuk ditambahkan kekuatan diatas kekuatan yang telah Engkau karuniakan kepada hamba.

Hamba mohon Yaa Allah tambahlah kekuatan hamba, perbesarlah kekuatan hamba dan sempurnakanlah kekuatan hamba, hanya Engkaulah yang bisa menyempurnakannya Yaa Allah

Yaa Allah, jadikanlah kekuatan yang Engkau karuniakan kepada hamba bermanfaat bagi diri hamba, agama hamba, penghidupan hamba dan hari kemudian hamba.
Aamiin, aamiin ya rabbal ’alamin.”


Selama dr. Ferdinan berdoa dan menyeru kepada Allah swt Bu Rahma dan Mbak Titik terus mengangkat tangan mereka dan di akhir doa bersama tersebut keduanya sudah mengangkat tangan sampai maksimal. Dan keduanya pun menangis tersedu-sedu. Dan semua yang hadir pun larut dalam haru.

Setelah tujuh bulan tak bisa mengangkat tangan, dan setelah lima tahun tak meneteskan air mata Bu Rahma bisa mengangkat tangan dan menangis haru meneteskan air mata di hadapanNya. Air mata penuh syukur dan takjub akan kebesaranNya.

Allah memang Maha Besar.
Dr. Ferdinan berkata bahwa beliau sudah menuntut ilmu ke berbagai negara, sampai ke Amerika. Di seantero penjuru dunia tersebut itulah beliau menyimpulkan bahwa Sang Maha Kuasalah sumber kesembuhan paling hebat. Tak ada yang bisa menyamai kebesaranNya, karena memang Sang Penciptalah yang menciptakan sakit dan mengangkatNya.

Kita seringkali meremehkan Allah, dan tidak memprioritaskanNya dalam proses penyembuhan. Nomor satu yang dicari adalah manusia atau metode pengobatan, bukan Allah. Berdoa dan bermunajat padaNya dianggap hanya sebagai pendukung, nomor dua. Bukan metode utama.

Kita seringkali berburuk sangka pada Allah, resah karena masa lalu, khawatir akan masa depan. Bagaimana kalau begini, …. Bagaimana kalau begitu…. Tidak sadar bahwa ada Sang Maha Penjaga, Pengasih Penyayang yang memberikan musibah dan bencana bukan tanpa menghitung. Allah sudah menghitung kemampuan kita dan memberi beban benar-benar sesuai dengan kemampuan tersebut.

Kita seringkali lupa kepada Allah. Lupa bahwa Allah adalah sumber segala energi, sumber segala kekuatan dan kebesaran dalam alam semesta ini. Menciptakan alam semesta pun mudah bagiNya, apalagi hanya mengangkat sakit kita.

Mulailah buka mata, dan ingat padaNya
Mulailah percaya pada kebesaranNya
Mulailah ingat bahwa ada Sang Penyembuh yang sangat dekat
Sujudlah dan mintalah hanya padaNya
Utamakanlah Ia dalam segala proses

Karena sakit, ujian dan musibah sesungguhnya adalah caraNya memanggil
Agar kita kembali kepadaNya
Merapat dan mendekat, untuk bertemu denganNya
Proses penyembuhan adalah proses pertemuan denganNya
Jangan sampai rugi,
Mencari kesembuhan tanpa sempat bertemu denganNya.

Sekarang, bagaimanakah kita bisa makin merapat denganNya,
mendekat dengan lebih dekat lagi,
merayu dengan lebih hikmad lagi,
memohon dengan lebih khusuk lagi,
dengan lebih banyak masuk sepenuh-penuhnya dalam penghambaan padaNya?

Semoga semua yang kita lakukan mendapat ridloNya dan membuka jalan pada keberuntungan abadi dalam surgaNya.

Aamiin.

Sembuh itu urusan Allah. Hati-hati minta sembuh pada manusia, bisa-bisa syirik


Pada acara halal bihalal 30 Juli 2017 lalu kami pun kedatangan dr. Ferdinan. Kita simak paparan beliau yuk.

Minta sembuh hanya pada Allah

Hampir setiap hari kita disuguhi berita betapa banyak orang yang putus asa karena tak punya uang, atau tak mendapat tempat untuk berobat.
Pemerintah tidak punya sumber daya yang cukup untuk melayani seluruh warga negara Indonesia. Jadi kita sebagai warga negara harus belajar untuk mandiri menghadapi gangguan kesehatan kita sendiri.

Dan sesungguhnya memang hanya Allah yang menyembuhkan. Dokter, RS dan siapapun hanya menjadi alatNya. Kalau Allah menentukan kita sembuh, berapapun uang kita, ada atau tidak tempat untuk kita, kita pasti disembuhkanNya.

Pada saat kita bilang “Dok, sembuhkan saya” sesungguhnya kita sudah menyekutukan Sang Maha Kuasa. Karena dokter tak pernah bisa menyembuhkan tanpa izinNya. Jadi minta sebenarnya hanya sama Allah.
Jadi jangan pernah minta “disembuhkan oleh dokter” itu salah besar.

Kalau sakit berobatlah. Allah tidak bilang kita wajib sembuh, kita hanya wajib ikhtiar. Rasulullah SAW pun meninggal dalam keadaan sakit. Itu salah satu pelajaran dari Allah. Jadi jangan takut. Mau sembuh, mau terus sakit, bukan urusan kita. Yang penting ikhtiar, berobat. Urusan hasil itu mutlak hak Allah. Tidak usah pusing urusan hasil.

Syukuri sakit

Tidak semua orang menerima sakit. Jadi bersyukurlah kalau mendapat sakit. Sakit kita sudah tercatat 50.000 tahun lalu, kita hanya tinggal menikmati dan mensyukuri saja.

Saat kita sakit malaikat mengambil kekuatan fisik kita, rasa lezat di lidah, cahaya di wajah dan terakhir dosa. Saat kita disembuhkan semua dikembalikan kepada kita kecuali dosa. Betapa nikmatnya. Doa saat kita sakit pun menjadi doa yang dikabulkan. Betapa nikmatnya, jadi nikmati saja. Syukuri saja. Tak perlu kita keluhkan.

Jenis penyakit

Penyakit ada dua: penyakit hati dan penyakit fisik.

Penyakit hati mencakup:
– Penyakit syubhat: Kekufuran, kemunafikan, keraguan, dan kebid’ahan
– Penyakit syahwat: zina, menyukai kekejian dan kemaksiatan

Penyakit hati harus segera diatasi karena membawa kebinasaan abadi. Penyakit hati seringkali tidak disadari, tidak terlihat dan tidak terasa, sehingga yang mendapatkannya tidak merasa wajib melakukan apa-apa.

Padahal kalau kita tak sembuhkan penyakit hati kita akan binasa. Kita harus jaga diri dan keluarga untuk selalu ada dalam jalanNya, meskipun kita sedang sakit sekalipun.

Ingat saja kaum Nabi Luth yang dikuasai penyakit syahwat, Allah binasakan mereka dan jadikan mereka contoh bagi kita semua kaum di zaman berikutnya.
Ingat juga Pompei yang penuh dengan maksiat, dan kebinasaan yang Allah abadikan untuk disaksikan oleh seluruh dunia sampai sekarang.
Jagalah diri dan keluarga dari makanan, minuman, harta dan segalanya yang haram, agar kita selamat dari penyakit hati ini.

Penyakit fisik mencakup:
Berbagai penyakit yang terlihat, terdiagnosa oleh medis dan terasakan oleh badan. Biasanya disebut diakibatkan oleh virus, bakteri, gaya hidup dan lain sebagainya. Tapi sesungguhnya ujungnya adalah ketentuan Allah.

Saat penyakit hati yang tidak diatasi menjadi penyakit fisik, sesungguhnya hal ini adalah bentuk kasih sayang Allah, untuk menyadarkan hambaNya. Maka ikhtiar apapun yang diambil, yang penting adalah pertemuan dengan Allah. Kalau kita diberi sakit dan dalam proses mencari kesembuhan kita tidak bertemu dengan Allah, kita rugi besar.

Metode penyembuhan apapun bisa berhasil dan bisa gagal, hanya izin Allah yang menyembuhkan. Bukan metodenya.

Penyembuhan berdasarkan Al Quran dan hadits: metode kekuatan doa.

Doa bisa menurunkan izin Allah untuk terjadinya perubahan dalam hal apapun.
Saat berdoa, air pun bisa berubah warna, rasa dan bisa menyembuhkan.

Di sebuah sekolah, dr. Ferdinan mengadakan percobaan. Anak-anak diajak berdoa untuk mengubah warna dan rasa air. Dan ternyata benar, doa tersebut berhasil mengubah warna dan rasa air tersebut.

Banyak orang merasa bahwa doa itu kuno dan tak mungkin cukup untuk bisa menjadi obat. Padahal yang memberikan semua sakit adalah Allah, dan hanya Allah yang bisa mengangkatnya, maka berdoa kepadaNya menjadi yang paling wajib dan nomor satu, paling penting dan paling efektif.

Berfikir secara ilmiah penting, tapi berfikir ilahiah itu jauh lebih efektif. Berdoalah, insya Allah dikabulkan.

Penyembuhan Energi dan Biomagnetik

Pada saat ruh masih ada dalam tubuh manusia, manusia hidup. Kehadiran ruh secara fisik ditandai dengan adanya listrik tubuh. Saat listrik tubuh diaktivasi secara tepat, berbagai sakit dalam tubuh bisa teratasi. Hal ini dibuktikan oleh Pak Warsito dengan jaket listriknya yang membantu mengatasi kanker.

Banyak juga yang melakukan penyembuhan dengan energi. Tubuh yang sakit adalah tubuh yang lemah energi. Maka dengan diberikan energi, vibrasi atau frekwensi, energi tubuh akan meningkat dan sakit dapat diatasi.

Satu hal yang sering orang terlupa adalah bahwa Allah swt adalah sumber segala energi yang ada di alam semesta. Maka carilah energi Allah yang Maha Dahsyat dan mampu mengangkat kondisi tubuh selemah apapun. Sayangnya ini yang seringkali dilupakan.

Dzulqarnain berkata, “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka (Ya’juj dan Ma’juj). QS 18:95

Ketahuilah bahwa semua kekuatan itu milik Allah. QS4:139

Kunci kesembuhan bersama Allah

1. Al Quran

Berbagai ayat Al Quran menyatakan bahwa Quran adalah obat. Hadits-hadits Rasulullah saw pun menegaskan hal yang sama. Rajin-rajinlah membaca Al Quran.

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit- penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. QS 10:57

2. Iman dan keyakinan

Kunci segala kesembuhan sesungguhnya adalah keyakinan. Iman yang kuat bahwa Allah adalah sumber segala kekuatan dan kesembuhan.

Maka kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman. QS61:14

3. Tobat

Dia akan menambahkan kekuatan Kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa. QS11:52

Maka bertobatlah, mohonlah ampunanNya setiap saat karena setiap saat pula kita ada kemungkinan berbuat dosa, baik kita sadar atau tidak.

4. Doa

Berdoalah, karena hanya doa yang dapat menurunkan izinNya untuk mengubah ketentuanNya akan sakit yang ada pada kita. Memohonlah kepada Allah dengan ihsan, seperti kita lihat Allah dengan langsung. Karena Allah kalau sudah ridlo mengubah sesuatu hanya dengan “Kun Fayakun” (jadilah) maka terjadilah.

Doa ada yang langsung dikabulkan, ditunda oleh Allah, atau diganti dengan yang lebih baik. Jadi kalau tak langsung dikabulkan jangan merasa tidak ada gunanya. Kita tak pernah tahu apa yang terbaik. Allah pasti kasih yang terbaik. Dan kalau doa belum dikabulkan bukan berarti Allah meninggalkan kita. Ikhlas, terima, nikmati dan syukuri, terus berdoa. Mungkin Allah memang merasa kita butuh untuk terus berdoa mendekat kepadaNya. Mungkin kalau langsung dikabulkan kita akan lupa padaNya dan melakukan hal-hal yang menjauhkan kita dariNya.

Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu. QS2:86

Dalam Islam air dan udara pun bisa jadi obat, jadi tidak usah pusing, jadikan Al Quran sebagai obat.

Beberapa hal yang dapat dilakukan

1. Doa Nabi Ayub as:

Dan Ayub, ketika ia berdoa kepada Tuhannya, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”
21:83

Dan Allah pun ridlo kesembuhan diberikan untuk Nabi Ayub as setelah sakit selama 18 tahun. Dari fisik yang sakit, busuk, penuh belatung, menjadi fisik yang tampan dan seperti berusia remaja. Doa ini menjadi anti aging paling efektif sepanjang zaman. Tak ada yang mengalahkan sampai saat ini.

2. Al Kahfi 18:39

“MAA SYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH”
(Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah

3. Metode-metode Rasulullah saw:

– Meletakkan tangan di atas bagian yang sakit, dan berdoa dengan khusuk
– Meletakkan tangan di atas bagian yang sakit, atau sumber sakit (belum tentu sama dengan bagian yang sakit), berdoa dengan khusuk, dan memutar tangan tersebut berlawanan dengan arah jarum jam, seperti gerakan thawaf.
– Mendoakan air dan meminumnya

Bisa dilakukan sendiri:

Bersiaplah dengan tafakur, merenungkan kebesaran Allah, meyakininya dalam hati.
1. Ta’awwudh: A’udhu billahi minash shaitanir rajim
2. Basmalah: Bismillahirahmanirrahiim
3. Hamdalah: Alhamdulillahi rabbil’alamiin
4. Istighfar: Astaghfirullah halaziim
5. Syahadat: Asyhadu ‘al la ilaha illa l-Lah wa ashadu ‘anna Muhammadar rasulu l-Lah
6. Salawat: Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad
7. Jantung zikir: Laa ilaaha illallah wallahu akbar
‘La Ilaha Illallah, Wahdahu La Sharika Lahu, Lahul-Mulku Wa Lahul-Hamdu, Yuhyi Wa Yumitu, Wa Huwa Ala Kulli Shai’in Qadir
Laa ilaaha illallah Walaa haula Wala quwwata illa billahil ’aliyil aziim
8. Alfatihah

Yaa Allah, Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim, Yaa Kariim hamba mohon dengan izin-Mu, dengan ridha-Mu, dengan rahmad-Mu dan berkah-Mu karunialah hamba kekuatan-Mu. Karuniailah hamba kekuatan-Mu. Yaa Allah Karuniailah hamba kekuatan-Mu.

Yaa Allah, hanya Engkaulah yang bisa menambah kekuatan diatas kekuatan hamba. Hanya kepada Engkaulah hamba memohon untuk ditambahkan kekuatan diatas kekuatan yang telah Engkau karuniakan kepada hamba.

Hamba mohon Yaa Allah tambahlah kekuatan hamba, perbesarlah kekuatan hamba dan sempurnakanlah kekuatan hamba, hanya Engkaulah yang bisa menyempurnakannya Yaa Allah

Yaa Allah, jadikanlah kekuatan yang Engkau karuniakan kepada hamba bermanfaat bagi diri hamba, agama hamba, penghidupan hamba dan hari kemudian hamba. Aamiin, aamiin ya rabbal ’alamin

“MAA SYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH”
(Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). QS. Al-Kahfi, 18:39

Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. Yasin 36:82

Kanker membantu kita menjadi manusia cerdas, yang selalu ingat hari akhir


Seorang murid berguru ke Negeri Cina, untuk menemukan metode pengobatan bagi orang tuanya yang kala itu sedang sakit. Ia berguru dan berguru, belajar berbagai hal untuk bisa dibawa ke tanah airnya dan mengobati orang tuanya. Di tengah pencariannya, tiba-tiba ia menerima kabar bahwa salah satu orang tuanya meninggal dunia. Betapa ia sedih luar biasa. Dunianya seakan hancur, ia frustasi dan susah menerima fakta bahwa ia tak bisa membantu kesembuhan orang tuanya.

Di tengah kesedihannya, gurunya menghiburnya, “Jangan bersedih. Yang sudah berpulang sudahlah. Sekarang kau fokus untuk belajar sebaik mungkin, dan sepulangnya kau ke tanah air, berbuatlah banyak kebaikan dengan ilmumu ini.”

Murid ini sangat kecewa dan tidak bisa terima kalau gurunya tidak memahami kesedihannya. Betapa tega.

“Kok guru tidak memahami kesedihanku? Aku sangat mencintai mereka, kenapa aku tidak boleh sedih?”

“Kamu sedih itu untuk dirimu sendiri atau untuk orang tuamu? Bukankah kau sedih karena kau merasa ditinggal? Engkau sedih karena mereka tak ada lagi di sini untuk menyayangimu, bukan? Kau bersedih bukan karena cintamu pada mereka, tapi karena kau merasa tidak lengkap tanpa mereka.” tegas sang guru.

“Coba kau fikirkan, apa yang diinginkan Sang Maha Pengasih Penyayang yang sangat mencintaimu, dengan memanggil orang terkasihmu pulang menghadapNya? Mungkin Ia ingin kau lanjutkan perjuangannya, mungkin ia ingin kau mulai mandiri, mungkin menurutNya kini giliranmu memimpin keluarga besarmu. Coba renungkan, apa cinta yang diberikanNya melalui kejadian ini?” tanya gurunya.

Si murid tercenung. Iya, ya… kebaikan apa yang didapat oleh orang tuanya kalau ia bersedih? Sesungguhnya ia sedih bukan karena ia cinta pada orang tuanya, tapi karena ia cinta pada dirinya sendiri. 

Rasa takut, khawatir, gamanglah yang membuatnya menangis. Ia terus tercenung, sibuk mencerna kesadaran barunya.

“Saya mengerti, Guru. Memang kesedihan ini timbul bukan dari kecintaanku pada orang tuaku, tapi kekhawatiranku atas masa depanku. Aku memang belum ikhlas, belum bisa menerima ketentuan Sang Maha Kasih atasku, aku merasa ditinggal dan diperlakukan tidak adil oleh Sang Maha Kuasa. Padahal Ia sangat mencintaiku lebih dari orang tuaku sekalipun,” jawabnya.

“Kalau kau benar-benar cinta pada orang tuamu, berbuatlah sebanyak-banyaknya kebaikan, karena kebaikan itulah yang akan sampai pada orang tuamu,” tegas gurunya dengan lembut.

Si murid pun tersenyum. Kini ia mengerti, mengapa kesedihannya sesungguhnya bukan didasari oleh cintanya pada orang tuanya, tapi lebih pada egonya yang sedang tersakiti karena tidak bisa menerima kehendak Sang Kuasa.

Kini si murid telah menjadi guru, dan kepada semua orang ia berpesan, “Janganlah bersedih saat ada yang meninggal. Berbuatlah kebaikan sebanyak-banyaknya, karena kebaikan itu yang akan sampai kepada mereka. Kesedihanmu mungkin malah akan menjauhkanmu dari mereka.”

Teman,

Memang kita selalu sedih saat ada yang meninggal. Dan kita seringkali tenggelam dalam kesedihan itu. Bahkan ada yang bertahun-tahun belum bisa “move on” dari kesedihan ditinggal oleh mereka yang terkasih. 

Kita menyebut kesedihan itu sebagai “bukti cinta” tapi sadarkah kita, bahwa kesedihan itu tak menghasilkan kebaikan apa-apa bagi mereka yang kita cintai? Baik yang berpulang dan mereka yang masih ada?

Saat ada yang meninggal, berbuatlah kebaikan sebanyak-banyaknya. 

🌹Orang tua akan mendapatkan pahala amal jariah dari semua kebaikan anaknya. 

🌹Sambunglah silaturahmi mereka dengan teman-teman dan saudara-saudara mereka. 

🌹Lanjutkan perjuangan mereka, 

🌹Berikan doa yang tak putus-putus setiap hari. Itulah bukti cinta pada mereka yang sudah tiada.

Kita bisa jadi sedih, tapi mereka bisa jadi sedang tersenyum memandang pada kita semua sambil berucap, “Sabar ya. Kita bisa bertemu lagi nanti, pada waktunya. Kini jalankanlah tugasmu. Doakan kami, dan berbuatlah kebaikan, karena itu yang membuat kami bahagia.”

Doakanlah bahwa mereka bahagia dalam taman surgaNya. 

Jagalah kesehatan lahir batin denga kebahagiaan dan rasa syukur, agar makin banyak kebaikan yang dapat kita perbuat. 
Berbuatlah kebaikan pada semua yang mereka kenal. Hentikan kesedihan, karena kesedihan membuat kita jauh dari apapun yang dapat menolong mereka di sana.

Mereka yang selalu ingat kematian adalah manusia-manusia yang paling cerdas, karena mereka punya perspektif perencanaan jangka paling panjang. Dan berpulangnya seseorang kepada Sang Pencipta adalah momentum untuk mengingatkan kita selalu bahwa hidup ada akhirnya. Dan kita harus selalu siap. 

Maka jadikanlah proses kematian sebagai proses pendewasaan diri, proses mendekatkan diri kepadaNya. 

Doakan terus agar suatu hari kita semua bisa berkumpul kembali dalam surgaNya, untuk menikmati jamuanNya di atas piring emas, memakai sutra hijau, di dalam istana-istana indah. Sungai mengalir di bawah kita, dan berbagai jenis buah-buahan bertebaran di mana-mana. Tanah pun indah, semerbak seperti kasturi, dan batunya ditaburi berlian dan batu permata. Tak akan ada lagi sakit, tak akan lagi ada sedih. Yang ada hanya damai dan bahagia bersama.

Insya Allah.. keindahan ini yang akan kita nikmati kalau kita terus berbuat kebaikan, amal sholeh hanya untukNya. Fokus untuk membangun dan melayani orang lain dalam jalanNya. Aamiin.

Everything shall pass one day. 

This too shall pass.

http://ow.ly/lp9T309BTVl

Mencari surga yang dirindukan 1 – pengalaman menghadapi kanker dan poligami sekaligus

BERSAMA kesulitan ada kemudahan (1).png

Oleh Lilik Andini, dalam rangka Ulang Tahun kedua Lavender Ribbon Cancer Support Group dan Hari Kanker Dunia 2017

Empat tahun sudah masa berlalu sejak aku dinyatakan sembuh dari kanker. Ya, Mei 2012 lalu dr. Heri Fajari Sp.Onkologi menyampaikan bahwa aku sudah bebas kanker. Aku seperti terlahir kembali. Alhamdulillah. Tapi aku sadar, tak mungkin aku bisa bebas sepenuhnya dari sel-sel kanker ini. Ia akan terus menjadi bagian dari hidupku, pengingat abadi yang tak pernah pergi. Perlakuan yang baik dan tepat terhadap jasad, perasaan, pikiran, penjagaan makanan akan membuat sel-sel ini bersahabat.

Shock menerima diagnose dan dokter yang menenangkanku

Menengok kembali ke masa-masa berproses dengan kanker, di tahun 2009 pada bulan April aku menerima diagnosa ini. Dokter menjatuhkan vonis Kanker Nasofaring stadium 3B pada saat itu. Aku ingat betul betapa aku merasa seperti mendengar petir di siang bolong. Dalam kebingungan menerima berita ini reaksi aku spontan menangis, sambil berusaha keras mencernanya dengan baik. Aku menangis karena kaget, shock, nggak nyangka akan dengar diagnosa kanker dari dokter. Shock yang dikhawatirkan ya mati. Dari yang kulihat dan kudengar, kalau kena kanker jarang ada yang bisa sembuh.

Sikap dr.  Hari Fadjari yang menanganiku waktu itu tidak menampakkan tentang beratnya kanker. Beliau membuatku tenang. Saat memegang benjolan di leherku, beliau bilang “Ah, masih kecil ini mah, insyaAllah satu siklus kemo juga beres”.

Kata-kata beliau sangat membesarkan hati dan membuatku bersemangat berjuang menjalani pengobatan demi kesembuhan. Itu peranan dokter yang cukup besar bagiku.

Aku berupaya sekuat tenaga menguatkan diri menerima ketetapanNya. Bersyukur Allah cepat mengembalikan kesadaran berpikirku, Allah masih menguatkanku. Aku menenangkan diri, mengumpulkan segenap keberanian untuk menanyakan pada dokter apa yang berikutnya harus aku lakukan. Dokter menyarankan agar diagnosanya lebih akurat aku direkomendasikan untuk segera melakukan biopsy, proses standar bagi para pasien kanker agar pengobatan tepat sasaran.

Sempat ragu dengan tindakan biopsy ini, karena informasi yang aku dengar cukup menakutkan, katanya biopsi seperti membangunkan macan tidur. Entahlah, rasa kaget masih belum hilang, setidaknya aku butuh waktu untuk bisa mendapatkan informasi yang cukup dulu, beristirahat sambil menguatkan hati. Dokter mempersilahkan sambil mengingatkan bahwa lebih cepat lebih baik karena berpacu dengan penyebaran kanker (metastase).

Dari pengalaman hidup dan pengajaran yang aku dapatkan, aku meyakini bahwa segala tindakan dan keputusan harus diawali dengan niat dan akad. Akad kepada Allah ta’ala, Sang Pemilik rahasia takdir. Dia-lah yang menetapkan kurikulum kanker ini bagi aku, maka aku akan mengembalikan hanya kepada-Nya jua. Aku akan pasrahkan dan serahkan bagaimana kurikulum ini harus aku jalani. Semua terserah pada-Nya. Jika Dia memberikan kebaikan ujian ini kepada aku, maka aku tahu Dia juga akan membantu aku menjalaninya.

QS Al Insyirah: 5-6

“… fa inna ma ‘al-usri yusroo, inna ma ‘al-usri yusroo…”

“..bahwa sesungguhnya BERSAMA kesulitan ada kemudahan,

sesungguhnya BERSAMA kesulitan ada kemudahan…”

(Bersambung)


Selengkapnya:

Mencari surga yang dirindukan 1: pengalaman menghadapi kanker dan poligami sekaligus

Mencari surga yang tak dicari 2: poligami sebagai pengingat, kanker sebagai peredam

Mencari surga yang tak dicari 3: sakit itu untuk disyukuri, bukan untuk dikeluhkan.


Ingin membantu teman-teman penerima kanker di Lavender? Silakan kirim donasi anda ke Yayasan Lavender Indonesia di Bank Mandiri nomor rekening 1270007342932. Kirim bukti transfer ke Indri Yusnita via wa atau sms di +62 815 8700930.

Lihat juga :

Kanker yang menjadikanku lebih sabar dan ikhlas

 

Mengapa Tuhan memilihku untuk penyakit ini? Mengapa tidak?

IMG_0385

Terlalu bagus untuk tidak dibagikan:

Arthur Ashe, pemain Wimbledon legendaris sekarat karena AIDS yg berasal dari darah yg terinfeksi virus ketika operasi jantung pada 1983.

Dia menerima surat dari para penggemarnya, salah satu dari mereka ada yg menyampaikan:
“Mengapa Tuhan memilih Anda untuk mendapatkan penyakit yg buruk seperti ini??”

Terhadapnya, Arthur Ashe menjawab:
Lima puluh juta anak mulai bermain tenis,
Lima juta dari mereka belajar bagaimana bermain tenis,
Lima ratus ribu belajar tenis secara profesional,
Lima puluh ribu bertanding dalam turnamen,
Lima ribu mencapai Grand Slam,
Lima puluh mencapai Wimbledon,
Empat mencapai semifinal,
Dua mencapai final dan ketika saya menggenggam pialanya, saya tak pernah bertanya pada Tuhan, “Kenapa (harus) saya?”

Jadi ketika sekarang saya sakit, bagaimana bisa saya menanyakan kepada Tuhan, “Kenapa (harus) saya?”

Kebahagiaan membuatmu tetap manis.
Cobaan membuatmu kuat. Kesedihan membuatmu tetap menjadi manusia.
Kegagalan membuatmu tetap rendah hati.
Kesuksesan membuatmu tetap berpijar.
Namun, hanya iman yg membuatmu tetap melangkah.

Kadang engkau merasa tidak puas terhadap kehidupanmu sementara banyak orang di dunia ini memimpikan bisa hidup sepertimu.

Anak kecil di ladang memandang pesawat terbang di atasnya, dan memimpikan bisa terbang, tetapi sang pilot di pesawat itu memandang ladang di bawahnya dan memimpikan bisa pulang ke rumah.

Begitulah hidup.
Nikmatilah hidupmu.

Jika kekayaan adalah rahasia kebahagiaan, tentu orang-orang kaya akan menari-nari di jalanan.
Tapi? Hanya anak2 miskinlah yg melakukannya.
𞮗

Jika kekuatan memang menjamin keamanan, tentu orang-orang penting akan berjalan tanpa pengawalan.
Tapi? Hanya mereka yg hidup sederhana yg bisa tidur nyenyak.

Jika kecantikan dan kepopuleran memang membawa kita pada hubungan yang ideal, tentu para selebriti pasti punya perkawinan yg terbaik.

Hiduplah sederhana
Berjalanlah dengan rendah hati.
Dan mencintailah dengan tulus

Kiriman Mbak Andari di group telegram Lavender Ribbon.

🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉