Persembahanku untukmu: Sertifikat 5 Tahun Paska Diagnosa

Sahabat tercinta,

Sertifikat di atas adalah sertifikat dari C Care, menyatakan bahwa aku berhasil menjadi “survivor” setelah 5 tahun didiagnosa kanker, berkat ridloNya.

Sertifikat ini ditandatangani oleh Pak Warsito yang memanduku secara langsung, memastikan bahwa benar, selama lima tahun ini tak ada perkembangan dari status kankerku – survivor dengan status progression free.

Sertifikat ini adalah persembahan untuk dunia. Sertifikat ini mensyukuri dan merayakan kehidupan yang Allah berikan, lima tahun paska diagnosa kanker.

Sertifikat ini penting, menyatakan bahwa kanker bisa diatasi dengan baik. Sehingga aku punya dasar untuk mengatakan bahwa kanker bukanlah hal yang menakutkan.

Banyak yang menghubungiku dalam kesedihan karena akan meninggal setelah diagnosa kanker. Nggak mesti kan? Umur ada di tangan Allah. Tenanglah.

Sertifikat ini penting, karena dengannya teman-teman bisa melihat bahwa selama lima tahun kanker tak membuatku menderita. Aku bisa tetap produktif, bahagia sejahtera, dan yang paling penting aku pun bisa terus mengejar kedekatan denganNya sebagai wakilNya di muka bumi.

Jadi jangan pernah lagi bilang “vonis kanker” karena Kanker bukan hukuman pengadilan.
Jangan pernah bilang lagi “penderita kanker” karena kanker bukan pembawa derita. Sikap kitalah yang menentukan kita menderita atau tidak. Bukan kankernya.
Jangan pernah lagi bilang “penyakit kanker” karena kanker tidak selalu membawa sakit. Dan Mukhrejee pun mengatakan kanker bukan penyakit tapi “malady.”

Sebutlah “kurikulum kanker” agar kita menjadikan kanker sebagai kesempatan belajar. Kesempatan emas yang belum tentu bisa kita dapatkan lagi untuk menjadi hambaNya yang lebih baik. Hidup terasa lebih berkualitas.

Sebutlah “sekolah kanker” agar kita kembali ke sebuah masa menyenangkan. Masa di mana banyak sekali persahabatan. Tengoklah teman sekelas yang perlu kita bantu dan dukung. Dan perhatian kita pun bisa beralih untuk membahagiakan orang lain, tak lagi fokus pada keluhan diri sendiri. Hidup menjadi lebih berarti.

Semoga suatu masa di mana kanker tak lagi menimbulkan demotivasi, tak lagi membuat depresi, segera akan datang.
Dan kanker akan menjadi sebuah momentum transformasi yang begitu berharga.

Dan semoga “survivor” telah pula berubah menjadi “thriver” karena hidup tidak sekedar hanya untuk “survive.”

Kenapa hal itu penting bagimu, sahabat?

Apa saja kebaikan yang bisa terjadi kalau hal itu menjadi kenyataan?

Daan… Kira-kira apa hal terbaik yang bisa kita lakukan sekarang ini juga untuk mewujudkan hal itu?

Terima kasih suamiku tersayang, Siraj Bustami, dan anak-anakku Hana dan Fia.

Terima kasih untuk kedua orang tuaku tercinta, Indra dan Miranty Abidin.

Terima kasih untuk Pak Warsito, dr. Hanson, Guru Reva, Sifu James, Mbak Lyra, dan semua guru yang membimbingku lima tahun ini.

Terima kasih untuk semua sahabat, saudara, coaches, Lavenderians, Hanara Group, dan semua sahabat media sosial.

Sertifikat ini kupersembahkan untuk semua. Semoga bersamanya keberkahan diturunkanNya untuk semesta. Aamiin YRA.

Buku pengalaman menghadapi kanker menggunakan ECCT

image-1.jpg

Pada tanggal 22 Desember 2015, persis di hari Ibu, Lavender Ribbon Cancer Support Group meluncurkan buku ini secara gratis dalam acara pembahasan mengenai Electro Capacitative Cancer Therapy (ECCT). Buku yang ditulis oleh Indira Abidin dan para Relawan Pejuang Kanker ini mengisahkan pengalaman menghadapi kanker dengan menggunakan ECCT. Berbagai perjalanan para penerima kurikulum kanker (sebutan bagi “pasien kanker” di Lavender Ribbon Cancer Support Group) digelar di sana dengan sangat jelas. Berbagai perjalanan emosi, kepasrahan, perjalanan upaya mencari kesembuhan dan akhirnya pertemuan dengan ECCT dapat dibaca dalam buku ini.

Indira Abidin dan para Relawan Pejuang Kanker menulis buku ini dengan melakukan wawancara pada teman-teman pengguna ECCT untuk membagun motivasi para penerima kurikulum kanker lainnya. Kanker sampai saat ini masih dianggap sebagai sesuatu hal yang menakutkan, momok yang bahkan dapat menimbulkan depresi.

Indira dan teman-teman mengalami sendiri bagaimana para anggota Lavender Ribbon Cancer Support Group dan para penerima kurikulum kanker lainnya benar-benar harus berjuang mengatasi ketakutannya sendiri, kecenderungan demotivasi dan berbagai pergulatan emosi lain, sampai akhirnya menemukan pelabuhan yang menenangkan dan memberi harapan.

Buku ini dijual dengan harga Rp 75.000. Semua keuntungan bersih dari hasil penjualan buku ini akan diserahkan untuk Lavender Ribbon Cancer Support Group. Semoga hasil penjualan dapat turut membantu didirikannya Rumah Lavender, tempat berkumpul para anggota untuk belajar, membangun diri dan saling membantu tumbuh kembang dari kanker menjadi pribadi-pribadi pembawa rahmat bagi alam semesta. Inilah yang menjadi cita-cita Indira dan alm Nita mendirikan Lavender di tahun 2014.

Yuk, beli buku ini yuk. Silakan kontak Mbak Emmy di nomor +62 858 11241429.

Kami datang untuk mendukung keberlangsungan layanan ECCT, hope4nohope

Bapak, Ibu, Sahabat-sahabat EdWar Tech, Yayasan Lavender dan hadirin sekalian,
Terima kasih atas kesedian EdWar Tech menerima kami, Yayasan Lavender Indonesia, di pusat riset kanker yang kita cintai ini.

Kami hadir untuk menyatakan keprihatinan kami atas apa yang terjadi pada penelitian ECCT dan ECVT saat ini. Banyak sekali penerima anugerah kanker yang sangat ingin mendapat layanan ECCT dan ECVT tapi harus gigit jari karena tempat ini tak boleh lagi menerima tamu baru. Mereka ingin datang karena sebagian besar tak lagi dinyatakan punya harapan oleh dokter yang mereka datangi. Hal ini sangat menyedihkan hati kami.

Kami hadir untuk menyatakan dukungan kami. Banyak di antara anggota kami kembali punya harapan setelah menggunakan ECCT. Banyak pula yang sembuh dan kini menikmati hidup tanpa sel kanker. Semua berkat EdWar Tech.

Memang ada yang tak berhasil sembuh, akhirnya harus mengambil metode lain atau akhirnya berpulang ke Rahmatullah. Kami percaya tak ada metode yang menjamin kesembuhan 100%, tak juga metode konvensional. Kami yakin metode yang telah teruji ini efektif, dan telah teruji bukan hanya pada kami, penggunanya di Indonesia, tapi juga di Jepang dan berbagai negara lain. Tapi keberhasilan bukan di tangan manusia.

Setiap manusia unik dan membutuhkan penanganan yang unik. Banyak yang bisa sembuh dengan ECCT, banyak pula dengan cara lain.

Untuk melayani kebutuhan manusia yang unik inilah kita butuh tersedianya berbagai jenis metode sehingga kami bisa memilih metode yang paling sesuai dengan kondisi kami.

Untuk itulah kami harus memastikan keberlanjutan layanan ECCT bagi seluruh penerima anugerah kanker di Indonesia. Kami punya hak untuk memilih.

Kami juga hadir untuk menyatakan kesediaan kami menjadi komunitas pendamping C Care untuk membantu para pengguna ECCT mempelajari berbagai metode pendukung seperti pengelolaan stress, pengaturan pola makan, dll. Kami berharap pendampingan kami dapat meningkatkan prosentase kesembuhan pengguna ECCT.

Kami siap mendukung EdWar Tech dan kami berharap semua yang kita perjuangkan bersama dapat membawa harapan bagi mereka yang tak lagi punya harapan, dapat pula membawa kebanggaan kalau Indonesia mampu menjadi pusat penelitian dan layanan ECCT bagi dunia.

Marilah kita bergandengan tangan bersama, demi kemanusiaan, memastikan keberlangsungan pelayanan ECCT di Indonesia.

Indira Abidin

atas nama seluruh warga
Yayasan Lavender Indonesia