Mensyukuri kanker dengan positive thinking dan perubahan hidup

Kita wajib menjaga badan sendiri karena badan ini milik Allah, jangan sampai dirusak oleh pola makan dan pola pikir atau pola hidup yang kita pilih sendiri..png

Oleh: Berry Roslina, Lavender Ribbon Cancer Support Group, dalam rangka #WorldCancerDay dan Ulang Tahun Lavender Ribbon Cancer Support Group

Saya Betty Roslina. Saya menerima diagnosa kanker di bulan Oktober 2013. Pertama kali mendapat diagnosa ini saya stress bukan kepalang. Bagi saya pada saat itu kanker adalah sakit berkepanjangan dan mendekati kematian. Saya takut akan merepotkan orang lain. Saya khawatir anak-anak belum bisa mandiri dan saya tidak bisa menitipkan mereka pada orang lain, meskipun ada yang mau menjamin sekalipun.

Saat itu saya langsung menjalani mastektomi. Saya merasa terdesak, tak punya waktu untuk mencari informasi lain, padahal saya ingin mencari tahu soal herbal. Saya stress dan merasa tak ada jalan lain selain mastektomi. Keluarga ikut saja. Semua menyerahkan keputusan pada saya.

Setelah mastektomi sebenarnya saya harus menjalani kemoterapi sebanyak enam kali selang tiga minggu sekali. Saat itu saya merasa punya waktu untuk mencari informasi. Saya pun mencoba menggali berbagi informasi dan menemukan bahwa banyak yang sembuh kanker tanpa harus kemoterapi. Saya juga menemukan cerita pengalaman orang yang menjalani kemoterapi sampai lumpuh kena tulang tdan otak. Karena kesal tidak mengalami kemajuan maka ia meninggalkan kemoterapinya dan beralih memperbaiki pola makan dan herbal. Berangsur-angsur ia mengalami banyak kemjuan, bisa menjalani bisnis kembali meskipun dengan keterbatasan gerak. Cerita itu menginspirasi saya untuk meninggalkan pilihan kemo. Saya berkomitmen untuk membentuk pola hidup sehat, pola pikir sehat dan pola makan sehat.

Saya juga banyak berserah diri hanya pada Allah, banyak membaca doa sehingga saya bisa mengatasi keresahan jiwa saya dan perlahan-lahan bebas dari stress. Kanker membantu saya untuk sadar bahwa saya harus bersiap-siap untuk mati. Saya kini pasrah, siap tidak siap ya harus siap. Kematian bisa datang kapan saja, pada siapa saja, tidak harus melalui kanker dan tidak harus ke pasien kanker.

Kuncinya: Positive thinking.

Kini sudah tiga tahun berlalu, alhamdulillah badan terasa lebih sehat dan saya berusaha untuk selalu sehat. Kanker membantu saya untuk lebih berhati-hati dalam menjaga badan. Lebih memperhatikan pola makan, pola pikir dan pola hidup yang baik bagi kesehatan tubuh lahir batin. Ph tubuh bagiku sangat penting. Saya jaga pH tubuh melalui berbagai makanan dan pola pikir yang menyehatkan.

Positive thinking saja. Kita harus benar-benar tahu badan sendiri. Kita wajib menjaga badan sendiri karena badan ini milik Allah, jangan sampai dirusak oleh pola makan dan pola pikir atau pola hidup yang kita pilih sendiri.

Keluarga alhamdulillah ikut saja dengan keputusan-keputusan saya. Bagi saya, diperlakukan seperti orang sehat sudah cukup. Alhamdulillah tidak ada yang membebani saya. Saya pun alhamdulillah tak menjadi beban siapapun.

Saya masih sangat mengharapkan ada obat kanker yang paten, agar kita bisa sembuh tanpa haru menjalani kemoterapi. Obat itu juga harus bisa terjangkau oleh kalangan ekonomi bawah. Ini impian saya sampai saat ini.

Hikmah di balik kanker

Pelajaran yang sangat berharga bagi saya selama menjalani kurikulum kanker ini, adalah berbagi. Ternyata saya tak sendiri. Menjadi anggota Lavender Ribbon Cancer Support Group membuat saya bertemu banyak teman senasib sepenanggungan yang bisa diajak berbagi.

Kisah-kisah mereka yang sukses menjalani kurikulum kanker benar-benar penting. Dengan banyak yang berhasil sehat kembali, insya Allah para penerima kurikulum kanker akan bisa belajar mendapat ilmu untuk bisa ikut menjadi sehat seperti mereka. Semua cerita sukses dapat menjadi inspirasi.

Saya banyak sekali belajar dari komunitas ini. Saya pasrah dan menyerahkan diri pada Sang Maha Pencipta. Badan dan kematian adalah milik Allah. Marilah kita usahakan agar bisa menjaganya kesehatan tiap hari.

Bagi teman-teman yang baru menerima diagnosa kanker, terus semangat. Carilah informasi sebanyak mungkin sebelum mengambil keputusan pengobatan.

Yaa Alloh aku panjatan syukur atas karuniamu yang telah Kau limpahkan dengan memberikan pengalaman mengalami kanker, karena berkat pengalaman itu aku lebih mensyukuri, bahwa ternyata aku masih bisa menikmati kehidupan dunia ini.

Terimakasih Yaa Alloh…….

Terimakasih Yaa Alloh…….

Terimakasih Yaa Alloh…….


Ingin membantu teman-teman penerima kanker di Lavender? Silakan kirim donasi anda ke Yayasan Lavender Indonesia di Bank Mandiri nomor rekening 1270007342932. Kirim bukti transfer ke Indri Yusnita via wa atau sms di +62 815 8700930.

Buku pengalaman menghadapi kanker menggunakan ECCT

image-1.jpg

Pada tanggal 22 Desember 2015, persis di hari Ibu, Lavender Ribbon Cancer Support Group meluncurkan buku ini secara gratis dalam acara pembahasan mengenai Electro Capacitative Cancer Therapy (ECCT). Buku yang ditulis oleh Indira Abidin dan para Relawan Pejuang Kanker ini mengisahkan pengalaman menghadapi kanker dengan menggunakan ECCT. Berbagai perjalanan para penerima kurikulum kanker (sebutan bagi “pasien kanker” di Lavender Ribbon Cancer Support Group) digelar di sana dengan sangat jelas. Berbagai perjalanan emosi, kepasrahan, perjalanan upaya mencari kesembuhan dan akhirnya pertemuan dengan ECCT dapat dibaca dalam buku ini.

Indira Abidin dan para Relawan Pejuang Kanker menulis buku ini dengan melakukan wawancara pada teman-teman pengguna ECCT untuk membagun motivasi para penerima kurikulum kanker lainnya. Kanker sampai saat ini masih dianggap sebagai sesuatu hal yang menakutkan, momok yang bahkan dapat menimbulkan depresi.

Indira dan teman-teman mengalami sendiri bagaimana para anggota Lavender Ribbon Cancer Support Group dan para penerima kurikulum kanker lainnya benar-benar harus berjuang mengatasi ketakutannya sendiri, kecenderungan demotivasi dan berbagai pergulatan emosi lain, sampai akhirnya menemukan pelabuhan yang menenangkan dan memberi harapan.

Buku ini dijual dengan harga Rp 75.000. Semua keuntungan bersih dari hasil penjualan buku ini akan diserahkan untuk Lavender Ribbon Cancer Support Group. Semoga hasil penjualan dapat turut membantu didirikannya Rumah Lavender, tempat berkumpul para anggota untuk belajar, membangun diri dan saling membantu tumbuh kembang dari kanker menjadi pribadi-pribadi pembawa rahmat bagi alam semesta. Inilah yang menjadi cita-cita Indira dan alm Nita mendirikan Lavender di tahun 2014.

Yuk, beli buku ini yuk. Silakan kontak Mbak Emmy di nomor +62 858 11241429.

Pegawai Puskesmas Itu Kembali Beraktivitas Normal

Pegawai Puskesmas Itu Kembali Beraktivitas Normal

Sebuah tempat yang amat masyhur dengan olahan susu di Jawa Barat ini menyimpan berjuta kenangan. Tentang perjuangan, tetes peluh, jejak usaha, tangis, serta tetes darah. Semua tersimpan rapi di dalam peti kehidupan dua tahun silam yang sesekali bisa dibuka untuk menjadi pecut hati. Betapa Tuhan telah melimpahkan berjuta nikmat kepada Bu Ayi Suryati (48 tahun) saat ini, setelah sebelumnya ia berada di alur perjuangan yang menguras miliaran peluh dan ratusan juta tetesan darah dari tubuhnya.

Continue reading “Pegawai Puskesmas Itu Kembali Beraktivitas Normal”

Mengapa Lavender Ribbon?

IMG_0186

Lavender adalah bunga yang bernama latin Lavandula. Tumbuh di pulau Canary, Cape Verde, Eropa, Mediterania, India dan barat daya Asia, lavender dikenal sebagai tumbuhan yang memiliki banyak khasiat.

Saat Indira Abidin dan Nita Yusuf menyusun berbagai persiapan pendirian komunitas untuk para pejuang kanker, mereka menemukan bahwa pita lavender adalah simbol kampanye untuk semu jenis kanker. Akhirnya dipilihlah Lavender Ribbon atau pita lavender sebagai nama dan lambang komunitas yang didirikan ini.

Memang lavender bukanlah bunga asli Indonesia. Namun selain karena warnanya telah dijadikan simbol kampanye kanker secara global, lavender juga banyak dikenal sebagai bunga yang memiliki manfaat kesehatan.

Lavender mengandung phytonutrients yang sangat baik untuk kesehatan tubuh. Ia juga mengandung antioksidan yang dibutuhkan tubuh dan dapat membunuh bakteri yang kerap menyebabkan sakit perut. Lavender juga memiliki efek menenangkan dan menidurkan. Hal ini sangat penting bagi para pejuang kanker yang pada umumnya belajar untuk mengelola stress dan membangun ketenangan bagi tubuh, pikiran dan jiwa dalam proses penyembuhannya.

Yuk, bergabung yuk dalam komunitas pendukung kanker, Lavender Ribbon Cancer Support Group. Dan jangan lupa coba juga gunakan minyak lavender untuk mulai mengenali khasiat-khasiatnya.

IMG_0250