1.000x semangat. Kanker melatih daya juang yang tinggi untuk bisa mengatasinya.

bahagia.png

Saya Nurul Munawaroh. Saya ibu dengan tiga orang putri yang solehah, alhamdulillah. Saat saya memasuki usia 40 tahun, aku menerima diagnosa kanker. Dimulai dengan benjolan dibawah telinga kanan yang hampir 1 tahun saya alami tanpa dirasa yang tak terasa sudah sebesar telur ayam.

Anak bungsu saya selalu menangis kalau saya tinggal ke kantor dan di sekolah. Gurunya mengatakan bahwa ia selalu menangisi mamanya. Pada suatu malam kami sedang berkumpul bersama sambil mengerjakan PR tiba-tiba anak bungsu saya bertanya dengan santai, “Mama kanker ya?”

Kami semua kaget dan saya hanya senyum saja sambil mengalihkan pembicaraan saya menjawab, “Iya nak, kanker alias kantong kering.”

Sebelum tidur anakku yang solehah ini berkata kepada saya, “Mama harus berobat, Ade sayang mama.” Kata-kata itu selalu teringat dan itulah langkah awal saya memulai pengecekan.

Diawali dengan tahap awal pengecekan jalur PPJS ke puskesmas sampai dengan rumah sakit besar. Keputusannya saya harus biopsi. Mendengar kata biopsy membuat hati ini bergetar. Saya pun terus berdoa semoga hasilnya baik-baik saja.  Dalam waktu 2 minggu saya menunggu dan alhamdulillah setelah dibacakan dokter mengatakan hasilnya saya positif terkena kanker nasofaring stadium 3 dan saya harus menjalani kemo dan radiasi.

Saya terdiam dan mensyukuri apa yang saya terima dan rasanya hari itu dunia terasa hening, diam seakan berhenti. Saya menangis dan menangis sekuat tenaga. Saya memikirkan nasib anak-anak saya. Saya menyendiri dan bertanya pada diri saya, “Ya Allah apa salah saya sehingga saya diberikan ujian seperti ini? Ini penyakit yang mematikan dan sering orang menganggap bahwa ini penyakit orang kaya karena mahal pengobatannya.”

Saya terus berdoa dan berdoa. Jawaban pun lalu saya dapati. Saya mulai yakin bahwa ini adalah kesuksesan yang tertunda dan saya harus lebih dekat lagi dengan Sang Pencipta Allah SWT. Saya pun harus lebih dekat lagi dengan keluarga. Saya terlalu sibuk mencari dunia dengan bekerja dan bekerja. Kini saatnya saya harus banting stir untuk penyembuhan penyakit saya. Saya harus sehat itu syaratnya.

Saya harus menjalani 35x radiasi dan 19x kemo. Subhanallah perjuangan panjang yang sangat saya nikmati. Setiap hari Senin sampai dengan Jum’at saya radiasi. Hari Sabtu test darah. Senin mulai kemo lagi. Begitu terus selama dua bulan tanpa putus.

Alhamdulillah benjolan saya mengecil dan saya tidak perlu dioperasi. Leher saya gosong seperti areng dan lidah saya keluh. Setiap kali makan muntah dan berat badan turun drastis 20kg. Dengan berbekal 1000x semangat sehat sehat sehat. Selama 40hari saya jalani Shalat Dhuha dan Tahajjud tidak putus.

Walau badan ini sangat lemah saya paksakan harus bangun. Meskipun lidah ini keluh saya paksakan bisa membaca Al Qur’an tiap hari 1juz walau terkadang tidak sampai karena kepala kalau sudah diradiasi sudah tergeletak tak bisa bergerak. Makanan dan minuman yang masuk selalu saya muntahkan. Hanya air zamzam yangg bisa masuk kebadan. Menelan air saja tidak bisa karena efek radiasi leher saya gosong.

Setiap orang yang melihat saya memberikan support dan doa. Tak henti-hentinya saya bersyukur masa-masa sulit saya sudah saya jalani. Benjolan saya sudah kempes dan kemo sesi 1 berhasil. Saya harus melanjutkan dengan sesi 2 dan 3 dengan satu bulan sekali kemo selama seminggu tiap hari selama setahun penuh. Akhirnya bulan Agustus 2016 saya dinyatakan bersih, dan harus rajin kontrol tiga bulan sekali. Perjuangan panjang walau berat saya nikmati dengan ikhlas, sabar dan bahagia jadi tidak akan terasa sakit, bahkan menjadi obat hati buat saya.

Dan yang membuat saya sangat bahagia setelah saya dinyatakan bersih dari sel kanker saya mendapat info dari travel haji bahwa saya bisa berangkat haji tahun 2016, padahal seharusnya tahun 2017.  Subhanallah  terjawab sudah bahwa ini adalah rahasia Allah SWT. Saya sehat berkat semangat dan sikap positif, berprasangka baik kepada Sang Pencipta Alam semesta. Kita hanya pasrah dan bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.

Saya ucapkan banyak berterima kasih atas bantuan support dari keluarga, kerabat dan sahabat sehingga semuanya bisa menjadi semangat saya, untuk sehat dan sehat.

Tujuan saya ingin berbagi cerita ini ke Group Lavender Ribbon untuk memberikan 1000x semangat sehat dan sehat. Sehat itu sangat penting diatas semuanya. Sahabat-sahabatku semua yang sedang menjalani proses kesembuhan harus punya daya juang yang tinggi. Memang sangat berat dan perlu banyak sekali ilmu buat kita. Kita harus banyak belajar dari pola pikiran, pola hidup, pola makan dan gaya hidup yang harus berubah dari yang sebelumnya. Saya ingin bisa aktif di group Lavender dengan kopi darat karena selama ini saya hanya menyimak dan mengambil ilmu-ilmu yang sangat bermanfaat yang saya dapati di group Lavender walau saya belum pernah bertemu tapi serasa saya ikut menjadi bagian dari keluarga Lavender dengan motto saya jauh dimata dekat dihati.

Terima kasih buat team Lavender. Bagi sahabat-sahabat yang ingin berinfak silakan transfer ke  Yayasan Lavender Indonesia, Bank Mandiri no rekening 1270007342932. Dan bagi sahabat-sahabat yang ingin bertanya detail perjuangan saya menghadapi penyakit kanker saya silakan ke WA saya 08161889106. Saya sangat senang bisa membantu sahabat-sahabat yang masih menjalani proses penyembuhan. Semoga hal ini bisa menjadi ladang amal buat kita semua. Pesan saya jangan pernah putus asa dan jangan menyerah dengan keadaan. Kita harus 1000x semangat, buat sahabat-sahabat Lavender.

 

 

 

 

 

 

 

 

Allah kirimkan kanker untuk mengingatkanku. Alhamdulillah.

Kanker.png

Oleh: Diah, Lavender Ribbon Cancer Support Group, dalam rangka #WorldCancerDay dan Ulang Tahun Lavender Ribbon Cancer Support Group

Saat mendengar kata ‘kanker’ yang ada dibenakku adalah sesuatu yang mengerikan. Apalagi pernah ada pengalaman kakak iparku wafat di usia terbilang muda, 46 th, setelah menghadapi kanker kelenjar getah bening.

Sebetulnya aku sudah mulai merasa ada yang tidak beres ditubuhku sejak tahun 2011. Waktu itu aku sedang mengalami masa-masa “sulit” merawat bapak yang sudah sepuh dan sakit-sakitan. Dilanjut dengan ibu yang mulai drop setelah bapak sedo (wafat – red) diakhir tahun. Akhirnya ibu pun wafat menyusul bapak selang tidak sampai setahun.

Setelah itu semakin terasa ada yang aneh ditubuhku, meski aku tetap dapat beraktifitas biasa dan berolah raga.

Awal 2015 mulai terasa ada benda aneh diatas payudara kiri, seperti sebatang tulang lunak kecil panjang. Saat aku memeriksakan diri di poli bedah di rumah sakit dikota, analisa sementara hanya kemungkinan ada infeksi. Aku pun diberi antibiotik dan pereda nyeri. Tak ada perubahan. Maka aku pindah ke rumah sakit pemerintah daerah karena di rumah sakit yang pertama tadi tidak ada alat laboratorium.

Waktu kusampaikan aku ingin USG di rumah sakit kedua, aku tidak mendapat tanggapan yang memuaskan dari dokter yang memeriksa waktu itu. Dokter bedahnya tidak berada ditempat. Yang ada hanya dokter jaga di poli tsb. Akhirnya aku hanya diberi antibiotik lagi.

Limbung menerima diagnosa

Awal 2016 semakin terasa aneh kalau diraba diatas payudara tadi. Sampai suatu hari aku ketemu tetangga almarhum ibu. Beliau adalah dokter yang baru lulus patologi anatomi. Waktu aku kerumahnya dan cerita masalahku beliau langsung kaget dan mencoba melihat kondisiku. Beliau pun menyarankan besok pagi ke rumah sakit untuk periksa di lab.

Saat hasil lab keluar, kuintip hasilnya. Dan apa yang kulihat membuat tubuhku lemas dan dunia serasa runtuh. Di sana tertulis bahwa memang ada yang tidak beres di payudara kiri. Saat bertemu dengan dokter yang membacakan hasil mamoku badanku sudah lemas tak berdaya dan airmata sudah tak terbendung lagi.

Waktu itu dokter memberi pengantar untuk biopsi ke ahli patologi yang paling mumpuni di kotaku. Beliau juga menerangkan prosedur rumah sakit untuk tindakan selanjutnya. Jika aku berkenan aku akan segera didaftarkan untuk antri operasi. Untuk kemo nanti aku harus ke Surabaya atau mungkin Solo karena Madiun belum bisa memberikan fasilitas kemo.

Dan yang lebih mengerikan lagi, aku mendengar bahwa di Madiun, kotaku, untuk operasi semacam ini bisanya payudara dikepras habis, tidak bisa diambil benjolannya saja. Oh my God….Gusti Allah nyuwun pangapuro…..badanku terasa limbung….

Aku teringat tetangga yang juga pernah mengalami hal yang sama, dan lari ke Surabaya untuk mencari rumah sakit dan dokter yang lebih baik sehingga hanya diambil benjolannya saja. Lalu aku ingat bahwa ada teman kuliah satu kamar kos yang beberapa tahun terakhir ini bercerita terkena kanker payudara dan memakai alat rompi untuk pengobatannya.

Selama seminggu aku dalam kebimbangan. Kuhubungi teman yang sudah memakai rompi listrik temuan pak Warsito itu. Waktu itu temanku bercerita ada masalah di pusat riset p warsito. Karena ingin mendapat info lebih aku browsing-browsing. Duuuh semakin terpuruk rasanya harapanku waktu membaca diinternet tentang kondisi C Care, pusat riset Pak Warsito, saat itu. Padahal aku sudah memutuskan untuk tidak operasi dan ingin memakai rompi p warsito.

Memutuskan metode: ECCT

Kondisi psikisku waktu itu sangat tidak baik apalagi teman-teman dekat di pengajian ikut mendorong-dorong supaya aku cepat mengambil tindakan untuk operasi.

Minta maaf ya waktu itu aku menganggap mereka sangat sok tahu, bahwa operasi pasti akan menyelesaikan masalahku. Sampai aku sempat malas untuk bertemu dengan mereka. Aku sudah memutuskan untuk tidak operasi. Jujur aku takut dan membayangkan sesuatu yang mengerikan ditubuhku jika harus menjalani kemo setelahnya.

Saat itu keadaan perekonomian keluarga juga sedang carut marut. Pertama kali sikap pasanganku cenderung pasif karena ia pun mungkin bingung dengna keadaan yang di luar harapannya dengan kondisi perekonomian seperti itu. Alhamdulillah pasangan saat itu mengajak untuk lebih mendekat kepadaNya. Akhirnya pasanganku pun bisa menerima treatment yang aku pilih saat itu (rompi). Ia memberikan dukungan dengan bersusah payah mencarikan dana.

Aku terus menerus browsing di internet tentang rompi Pak Warsito dan semakin mantap untuk memakainya, dengan segala pertimbangan yang menyertai. Kalaupun aku sampai memilih operasi aku tidak mau operasi di Madiun, aku mau di Surabaya saja, seperti tetanggaku yang sudah menjalaninya. Aku tahu hal itu membutuhkan biaya yang sangat banyak dan suami harus menungguiku dalam proses itu wira wiri selama setahun paling tidak, Madiun -Surabaya. Aku tahu, tapi itu lebih baik kurasakan.

Akhirnya aku semakin mantap untuk memilih rompi Pak Warsito untuk mengatasi masalahku. Alhamdulillah waktu itu aku menemukan blog mbak Indira Abidin. Di sana ada beberapa cerita testimoni beberapa pasien C Care. Disitu aku membaca ada pasien dari Madiun, Mbak Afiana. Berkat bantuan Mbak Lang-Lang aku mendapat nomor wa Mbak Indira.

Aku berusaha mengubungi Mbak Indira untuk mendapatkan nomor Mbak Afiana. Tanggapan Mbak Afiana sangat baik. Esok paginya beliau langsung datang ke rumahku. Aku seperti mendapatkan saudara baru. Akhirnya ditemani Mbak Afiana yang kebetulan juga mau kontrol di Alam Sutra, dan ditemani Mbak Lang-Lang aku berhasil mendapatkan alat rompi Pak Warsito.

Alhamdulillah aku pun mulai memakai rompi Pak Warsito. Hidupku pun aku sesuaikan. Aku mengubah pola makanku, pola hidup dan pola pikirku. Semua berubah drastis. Aku berusaha makan lebih sehat, hidup lebih baik dan sehat. Aku juga selalu berusaha lebih berfikir positif dalam menghadapi kehidupan.

Alhamdulillah ya Allah. Berkat kanker aku lebih dekat denganMu, lebih sabar dan ikhlas

Saya selalu berusaha untuk sembuh, walaupun kondisi ekonomiku benar-benar serba terbatas. Aku pun selalu berusaha mendekat kepadaNya, mensyukuri kondisi apapun yang ada saat ini. Aku berbaik sangka pada Allah, yakin bahwa Allah pasti akan memberikan kesembuhan. Alhamdulillah semua ini membuatku lebih semangat untuk sembuh dan berusaha mencapai kesembuhan.

Alhamdulillah aku diikut sertakan dalam grup WA lavender Surabaya dan juga grup WA ECCT User. Aku pun mendapat banyak teman senasib seperjuangan. Hal ini sangat membantu kondisi psikisku. Di group-group ini aku banyak belajar untuk menyikapi apa yang sedang kualami saat ini.

Pengalaman teman-teman sangat berharga bagiku. Hatiku menjadi lebih tenang, ikhlas, apalagi Mbak Indira mengenalkan istilah ‘kurikulum kanker’ dan bukan ‘penyakit kanker’ sampai kadang lupa kalau sedang ada ‘makhluk’ lain sedang menghuni tubuhku.

Aku merasa sangat terharu dan tersentuh di Lavender. Dengan banyaknya teman mataku sangat terbuka. Kini aku bisa melihat bahwa banyak sekali permasalahan dalam hidup ini. Masalahku bukan satu-satunya masalah. Semua permasalahan teman-temanku juga menjadi pengalaman spiritual yang tak terlupakan dalam hidup. Menyelami semua itu semua membuatku merasa bahwa Allah begitu dekat.

Terima kasih untuk Mbak Indira yang telah banyak memberi masukan berharga. Terima kasih untuk teman-teman di grup, terima kasih untuk suamiku tercinta yang telah banyak mendorongku untuk lebih ‘kuat’ menghadapi hidup, terima kasih anak-anakku tercinta. Ibu masih ingin bersamamu lebih lama, melihatmu menjadi dewasa dan mandiri dalam hidupmu kelak. Tak terhingga terima kasih padaMU ya Allah. Kau telah mengingatkanku. Dengan kondisi semacam ini aku jadi lebih tunduk kepadaMU dan selalu ingat bahwa kematian memanglah tak berjarak bagi makhlukmu.

Sekarang aku merasa lebih bisa menjalani hidupku dengan pasrah, ikhlas, semeleh dan lebih bisa meredam hati, perasaan, dan keinginan. Aku jadi punya banyak teman, banyak saudara. Lavender banyak memberikan dukungan moral, spiritual. Berbagai pengetahuan, tips tercurah terus. Kami saling berbagi hati dan pengalaman. Inilah hikmah dari semua ini. Semoga Lavender terus berkembang dengan pengelolaan yang juga makin professional, sumber dana dan SDM yang mumpuni.

Terima kasih ya Allah, izinkan aku tetap istiqomah dalam perasaan dan hati semacam ini. Karena ini membuat jiwaku tenang. Alhamdulillah, kini aku menjadi lebih dekat denganMu. Hatiku kini lebih ikhlas, lebih sabar menjalani kehidupan ini.

Buat teman-teman yang baru mengalami hal yang sama, Insyaa Allah inilah yang terbaik untuk kita harus jalani. Allah sangat mengetahui apa yang terbaik untuk kita. Jangan mengeluh, tetap semangat dan berusaha melawan rasa tidak berdaya. Kita pasti bisa, dengan izinNya.

—————–

Ingin membantu teman-teman penerima kanker di Lavender? Silakan kirim donasi anda ke Yayasan Lavender Indonesia di Bank Mandiri nomor rekening 1270007342932. Kirim bukti transfer ke Indri Yusnita via wa atau sms di +62 815 8700930.

Kalau Allah izinkan kanker terjadi pada saya, itulah yang terbaik bagi saya. Alhamdulillah

Sakit atau sehat.png

Oleh: Tri Praptini, Lavender Ribbon Cancer Support Group, dalam rangka World Cancer Day dan Ulang Tahun Lavender Ribbon Cancer Support Group

Saya dilahirkan di solo 51 tahun lalu, diberi nama Tri Praptini, menikah di tahun 1995. Setelah menikah saya meninggalkan Solo mengikuti suami yang pada saat itu dinas di Boyolali. Alhamdulillah saya dikaruniai 3 anak di Boyolali. Sebelum anak ke 3 lahir pada tahun 2000, suami pindah ke Rembang, kota kecil di Jawa Tengah. Setelah 7 tahun dinas di Rembang suami di pindah lagi ke Pekalongan tahun 2007, jadi kami tak pernah menikmati hidup bersama saudara dalam satu kota, baik dari suami atau dari saya.

Tahun 2010 saya merasakan ada kelainan di payudara sebelah kanan. Di belakang puting agak mengeras seperti waktu payudara mau terbentuk, sementara yang kiri tetap biasa. Karena saya tak pernah merasa apa-apa, saya cuek. Sering saya tanya ke teman tapi jawabannya tak terlalu saya pikirkan. Memang saat menyusui ketiga anakku aku merasa lebih enak di payudara sebelah kiri. Setelah saya amati, lama-lama payudara kanan saya berubah bentuk, meskipun saya tak pernah merasakan sakit sama sekali.

Pada tahun 2014, setelah lebaran saudara dari Solo pada datang ke rumah, karena saat lebaran saya tidak pulang kampung. Saat berkumpul saya tanya ke saudara yang ibu serta kakaknya pernah kena kanker payudara dan dua-duanya meninggal. Ia punya juga seorang kakak yang juga mendapat anugerah kanker payudara. Kakaknya yang satu ini alhamdulillah bisa sembuh setelah diperasi, kemo dan konsumsi obat selama 5 tahun, berkat semangat hidupnya yang sangat tinggi.

Sayapun bertanya berapa biayanya. Katanya ratusan juta. Deg…saya uang darimana, sementara suami seorang PNS dan saya hanya ibu rumah tangga dengan 3 anak. Anak saya yang pertama pun baru lulus SMA dan alhamdulillah diterima di ITS Surabaya. Saya berfikir kalau untuk biaya saya berobat sebesar itu, bagaimana dengan anak saya? Tentu ia akan butuh banyak dana untuk kost. Uang kuliah dan biaya hidup di Surabaya juga tidak murah.

Menerima diagnosa tumor ganas

Akhirnya awal Agustus 2014 saya beranikan untuk memeriksakan diri ke dokter onkologi di RSUD Kraton Pekalongan. Saya di USG dan ronsen, dan memang ada tanda sel-sel kanker di payudra kanan saya tapi alhamdulillah tak ada penyebaran di paru-paru. Ketika dokter lihat hasilnya saya disarankan untuk biopsi dan alhamdulillah karena ada askes semua gratis.

Setelah 10 hari hasil biopsi keluar. Ternyata tumor ganas grade 3. Bagai disambar petir, perasaan saya kacau, apalagi mengingat anak-anak saya masih sangat membutuhkan saya. Anak pertama baru masuk kuliah, yang kedua kelas 1 SMA dan yang ketiga sedang duduk di kelas 2 SMP.

Dari hasil biopsi saya disarankan untuk kemoterapi 2 paket, setelah itu baru bisa dimastektomi. Setelah itu konsumsi obat selama 5 tahun. Saya disuruh segera mengambil keputusan karena kata dokter cara itu yang benar.

Saya pertimbangkan saran dokter dengan suami dan suami menyerahkan semuanya kepada saya. Saya jawab saya nggak siap. Saya menyaksikan teman-teman saya yang menjalani kemo seperti tidak berdaya. Yaah mungkin tak semua orang begitu. Semua memang tergantung kesiapan mental masing masing. Tapi saya benar-benar tidak siap. Akhirnya saya putuskan untuk tidak menjalankan saran dokter.

Saya memberi tahu kakak dan adik di Jakarta. Akhirnya kakak memberi tahu ada rompi untuk kanker di Alam Sutra hasil riset Dr. Warsito. Kakak juga memberitahu bahwa temannya ada yang pakai untuk mengatasi kanker otaknya dan ternyata hasilnya baik.

Sampai disini saya berfikir lagi, berapa harga rompi itu, dan berapa pula biaya transport bolak balik Jakarta. Sedangkan uang sudah banyak keluar untuk anak saya yang masuk kuliah. Ia butuh banyak dana untuk bayar asrama selama 1 tahun, uang kuliah 1 semester dan lain-lain.

Ternyata kakak dan adik mengatakan bahwa mereka akan menanggung penuh biaya rompi. Alhamdulillah …. untuk langkah pertama Allah sudah memberi kemudahan bagi saya. Dan bukan hanya disitu Allah memberi kemudahan bagi saya. Di tengah kegiatan ospek anak saya ternyata diterima di STAN. Dan setelah saya serahkan semua kepadanya, ternyata dia pilih STAN di Tangerang, dekat Alam Sutra, meski cuma D1. Dengan keputusan anak saya, saya lebih mantap melangkah terapi ke CCare.

Setelah saya membuat keputusan, saya mencoba datang lagi ke dokter onkologi. Saya mengatakan bahwa saya memilih untuk tidak kemo, dan saya akan ganti dengan pemakaian alat elektromagnetik. Saya hanya minta resep obatnya yang harus saya konsumsi selama 5 tahun.

Apa yang terjadi? Dokternya marah-marah mendengar keputusan saya. Saya pun langsung pamit. Setelah itu saya seperti trauma dengan dokter dan rumah sakit. Pada saat itu pikiran dan hati saya betul-betul kacau, karena saya berharap bisa jalan dua-duanya secara parallel, C Care dan medis, ternyata kenyataannya tidak bisa begitu. Akhirnya saya jalani di ccare dan diajak adik ke bogor pengobatan herbal sinshe.

Menjalani hal ini semua ini dalam dua bulan setelah diagnose kanker bukan sesuatu hal yang mudah bagi saya. Suami saya pegawai LAPAS yang sangat tidak mudah untuk izin walaupun untuk mengantar saya berobat ke Jakarta sekalipun. Saya jalan sendiri semua ini. Suami saya belum pernah sekalipun mengantar ke Jakarta. Dan saya harus maklum.

Selama tiga bulan pertama saya sering menangis, apalagi saat ada yang bertanya di Jakarta ataupun sepanjang perjalanan di kereta. Menjawab pertanyaan-pertanyaan itu saya merasa nelongso. Akibatnya,  saya semakin drop. Saya seperti tak punya semangat, tak punya tenaga dan takut kematian. Maklum sudah setengah abad lebih. Hampir setiap hari saya menangis dan saya pun bertambah lemah. Makin banyak menangis saya makin lemah.

Mulai bangkit dan mendapat doa Ibu

Sampai suatu saat saya tak tega melihat anak-anak dan suami yang mulai ikut bingung dan mulai tak terurus. Saya mulai bangkit. Saya mulai bertanya pada diri saya sendiri, “Kenapa harus nelongso? Kenapa harus sedih? Bukankah kamu harusnya bersyukur masih bisa jalan kemana mana sendiri. Kamu tak perlu digotong atau ditopang, syukuri itu semua, hidup sudah ada yang mengatur. Cobalah sabar, ikhlas, selalu bersyukur dan yakin dengan ikhtiar yang kamu jalani. Hidup mati semua urusan Allah.” Berkali-kali kata-kata itu saya katakan pada diri saya sendiri.

Alhamdulillah kata-kata itu membuat saya benar-benar bangun. Saya bisa punya semangat untuk tetap bertahan hidup demi keluarga. Saya bertekad untuk tetap sehat dan harus semangat demi orang orang yang saya sayangi.

Pada bulan Agustus waktu saya menerima diagnosa tumor, saya tak berani cerita ke ibu. Baru bulan Desember waktu saya sowan mengunjungi ibu di Madiun, saya beranikan untuk bercerita. Dengan kondisi fit saya bercerita. Tujuan saya hanya satu..ingin didoakan ibu.

Pada saat itu ibu saya menangis. Tak menyangka sama sekali. Padahal saat itu pengobatan sudah berjalan empat bulan. Memang sebelumnya setiap kali bertanya saya selalu bilang saya baik-baik saja.  Dan saya selalu berusaha telepon dua hari sekali. Saya selalu berusaha menelepon saat saya tak galau sehingga tak bisa Ibu mencium ada hal yang tak beres. Saya putuskan untuk menyampaikan langsung saat sowan, takutnya kalau lewat telepon ibu bisa salah tangkap.

Alhamdulillah setelah saya cerita ke ibu, saya merasa beban saya berkurang dan saya yakin doa ibu yang paling tulus, insyaa Allah dihijabah Allah. Saya sangat yakin akan hal itu. Saya sangat lega.

Banyak saudara berkat Lavender

Setelah satu tahun menjalani treatment, saya merasa lebih tegar menghadapi semuanya. Apalagi setelah saya bergabung di group Lavender. Saya sangat merasakan banyak sekali manfaat di group Lavender. Setelah bergabung, saya banyak belajar mengenai kesabaran, keikhlasan. Saya juga belajar keyakinan akan kebesaran Allah, selain rasa simpati dan empati terhadap teman yang meskipun belum pernah ketemu sudah seperti saudara. Kami di Lavender saling memberi semangat, saling menghibur dan semakin lama saya rasakan diantara kami timbul rasa cinta kasih. Insyaa Allah manfaat dan berkah berlimpah bagi saudara-saudaraku di Lavender. Terimakasih Lavender, Lavender inilah adalah jalan yang diberikan Allah untuk saya tetap semangat.

November 2015 alhamdulillah anak pertama saya lulus STAN. Dan sekali lagi Allah memperlihatkan kebesaranNya dan kasih sayangnya kepada saya. Anak saya dapat penempatan Purwokerto. Ia sudah bisa membiayai dirinya sendiri. Jadi saya hanya tinggal memikirkan dua adiknya yang tahun depan harus masuk kuliah.

Hikmah kanker

Ternyata selain memberi ujian, Allah telah memberi saya dan keluarga saya banyak kemudahan. Saya sangat merasakan selama kita selalu bersyukur Allah akan menambahkan kenikmatan bagi kita. Alhamdulillah, itulah yang saya rasakan dan saya jalani sampai saat ini. Dan Alhamdulillah saya tetap fit.

Sampai sekarang saya masih terus menekuni dua pilihan ikhtiar saya, C Care dan sinshe herbal di Bogor. Dua tahun empat bulan sudah saya jalani semua proses penyembuhan ini. Tujuh belas kali sudah saya bolak balik Pekalongan Jakarta sendirian. Suami tak bisa menemani. Tempat terapi saya di mana pun ia tak tahu. Itulah konsekuensi yang harus dijalani istri seorang abdi negara. Dan saya ikhlas. Saya jalani semua dengan penuh syukur.

Saya mendapatkan banyak hikmah dari kurikulum tumor saya. Saya banyak belajar untuk lebih sabar, banyak bersyukur dan berusaha ikhlas dengan semua ketentuan Allah. Saya yakin apapun yang saya alami, itulah yang Allah izinkan terjadi pada saya, dan itulah yang terbaik bagi saya. Saya sangat berprasangka baik padaNya. Dan alhamdulillah berkat itu semua saya terus menikmati berbagai kemudahan dan karuniaNya. Alhamdulillah, ya Allah.

Bagi semua saudaraku yang juga menerima kurikulum kanker, jangan pernah merasa sakit. Insya Allah kita semua sehat. Karena sakit atau sehat ada dalam batin kita, ada dalam benak pikiran kita, dan mempengaruhi kondisi tubuh kita. Sakit atau sehat adalah pikiran. Kita sehat kalau kita pikir kita sehat. Dan insya Allah itulah yang menjadi doa kita bagi seluruh sel dalam tubuh kita, pikiran kita dan jiwa kita.

Semangat sehat!

Ingin membantu teman-teman penerima kanker di Lavender? Silakan kirim donasi anda ke Yayasan Lavender Indonesia di Bank Mandiri nomor rekening 1270007342932. Kirim bukti transfer ke Indri Yusnita via wa atau sms di +62 815 8700930.

 

 

Kanker membantuku lebih sabar, lebih ikhlas. Alhamdulillah.

Yakinlah kesembuhan bukan dari dokter, bukan dari mahalnya obat tapi dari keyakinan bahwa Allah yang menyembuhkanmu.png

Oleh: Afiana, Lavender Ribbon Cancer Support Group, dalam rangka #WorldCancerDay dan Ulang Tahun Kedua Lavender Ribbon Cancer Support Group

Penerima anugerah kanker, teruslah berkarya. Niatkan sebagai ibadah bagiNya.

20 Februari 2015, tepat sebulan satu hari dari ulang tahunku yang ke32, aku menerima diagnosa kanker, CA mamae invasive. Nyeri yang enam bulan aku rasakan, yang tadinya kufikir cuma pengaruh hormonal, ternyata adalah CA mamae. Allah berikan hadiah ini untuk saya.

Saat diberi tahu dokter aku menangis sedih. Kusalahkan Tuhan yang memberikan kanker. Kenapa aku? Aku tidak pernah ikut program KB hormonal, aku menyusui putriku sampai dua tahun, kenapa aku masih harus menghadapi kanker? Aku tak tahu apa yang Allah rencanakan bagiku. Tapi aku tetap yakin Allah punya hadiah yang spesial bagiku di balik semua ini. Aku yakin, tetap yakin.

Seminggu penuh aku mengurung diri dan menangis. Alhamdulillah Allah memberikan suami yang pengertian. Ia terus berusaha tegar di depanku. Tiap hari Minggu suamiku mengajak jalan-jalan ke mall untuk menghiburku. Tapi tetap aku tak mau. Aku menangis dan menangis. Suamiku pun mengalah. Dia tahu hobiku membaca. Dibelikannya aku buku-buku tentang Gus Dur. Ternyata inilah jalan Allah yang dibukakan melalui suamiku. Alhamdulillah.

Belajar dari Gus Dur dan bangkit

Dari cerita-cerita mengenai Gus Dur aku belajar bahwa penyakit apapun tak boleh menghalangi seseorang untuk tetap bersemangat hidup dan bermanfaat bagi orang lain. Gus Dur punya tumor pada matanya sejak kecil. Tapi Gus Dur tak pernah mengeluh. Gus Dur tetap bersemangat. Beliau mampu menjadi teladan bagi banyak orang, membawa manfaat bagi seluruh Indonesia, bahkan mampu menjadi presiden. Ia bisa menikmati hidup dengan bercanda dalam kondisi apapun. Setiap buku yang kubaca mengisahkan berbagai hal yang lucu, namun tetap menyentuh jiwa. Berkat cerita-cerita ringan inilah aku mulai bersemangat kembali.

Ya Allah, akhirnya pikiranku terbuka.

Dari situlah aku mulai bangkit. Aku mencoba untuk tegar. Aku mulai shalat istikharah, memohon petunjukNya, ikhtiar apa yang harus aku lakukan. Aku baca dalam Quran bahwa dalam lebah ada obat untuk berbagai penyakit. Dari situlah aku mulai mencoba berbagai produk lebah.

Kudengar juga dari adikku bahwa ada penemuan dari Dr. Warsito yang bisa membunuh sel kanker. Aku pun merasa bahwa inilah jawaban Allah untuk istikharah yang aku jalankan.

Aku pun memeriksakan diri ke dokter onkologi di Malang dan disarankan untuk operasi. Kalau saat operasi terjadi kebocoran, aku pun harus kemo. Suamiku tak mengizinkan kemo. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke Tangerang untuk mulai mencoba jaket ECCT, jaket listrik temuan Pak Warsito.

Alhamdulillah berkat doa dan dukungan semua saudara, Maret 2015 aku berhasil mendapat alat ECCT. Aku mendapat 1 bra ECCT dan 1 jubah ECCT. Mulailah terapi ECCT ku. Semiggu taka da rasa. Dua minggu pemakaian aku mual, muntah dan diare. Alat kupakai terus. Itulah dampak detox yang aku rasakan.

Teman-temanku penasaran dengan alat tersebut. Setiap orang yang mengunjungiku selalu bertanya soal jaket ini. Ada teman yang bilang, “Sebagai orang medis, carilah penyembuhan secara medis juga.”

Aku tahu ia khawatir dengan keadaanku. Aku tersebut. Kujawab, “Kita manusia. Allah yang maha tahu umur kita. Sakit bukan syarat mati. Yang sehat pun bisa meninggal. Jadi kita wajib ikhtiar. Aku tak tahu kapan matiku. Yang jelas di akhirat nanti kita akan mempertanggungjawabkan semua. Tanggung jawab saya sebagai istri, sebagai ibu, sebagai pegawai harus terus kujalankan. Aku tak mau disalahkan kalau lalai menjalankan tanggung jawab yang Allah berikan padaku. Maka dari itu aku memilih ECCT. Aku tetap bisa melayani suami, mengajari putriku dengan tugas-tugas sekplahnya dan tetap bisa menjalankan tugasku sebagai bidan, meskipun tentu tidak sesempurna biasanya.”

Temanku pun terdiam. Ia menyerah dengan kata-kataku dan berdoa untuk kesembuhanku. Aamiin.

Pola hidup baru

Kanker mengantarkanku pada pola hidup baru. Mulai saat itu aku berhenti makan protein hewani. Aku mulai membangun pola hidup yang tenang, santai, pelan-pelan tidak terburu-buru. Aku berusaha memaafkan semua yang menyakitiku. Aku berdamai dengan semua proses hidupku.

Alhamdulillah kondisiku membaik. Aku tetap fit. Pola hidup baruku benar-benar membantuku hidup lebih sehat lahir batin.

Propolis, madu, pollen dan royal jelly terus aku pakai. Untuk luka aku pakai aloe propolis cream. Aku akui aku kurang rajin, kurang telaten dan istikomah meminumnya. Meskipun demikian badanku terus fit, dan staminaku terjaga. Aku dapat menjalankan semua kewajibanku dengan baik. Alhamdulillah berkat semua yang kujalani kanker tak menghalangiku untuk terus berkarya dan bermanfaat bagi sesama.

Cobaan demi cobaan datang menjelang

Allah tak berhenti memberikan ujian bagiku. Di tengah prosesku menuju kesembuhan suamiku harus menjalani operasi batu ureter di pertengahan Ramadlan 2015. Lalu gentian aku mendapat rezeki putriku operasi usus buntu. Ya Allah, aku terus memohon kekuatan dariNya. Alhamdulillah aku terus diberikan kekuatan untuk merawat putriku.

Pada bulan Februari 2016 Allah beri aku hadiah kembali. Aku dipindah tugaskan dari desa yang dulu aku tempati. Desa sekarang lebih luas medannya, lenbih menantang di banding desa sebelumnya. Tapi kali ini mengurus putriku menjadi lebih repot. Tiap hari aku harus pulang ke rumah yang berjarak 30-an km untuk bisa terus mendampingi putriku bersekolah. Rupanya inilah ujian dari Allah, apakah aku tetap istiqomah untuk menjalankan pola hidup yang tenang dan sesuai kondisi tubuh.

Ternyata saat itulah aku lengah. Aku terlalu memforsir diri. Aku kelelahan. Aku lengah ketika kondisi sudah bagus, aku mulai bersepeda dengan jarak jauh. Akhirnya benjolan bertambah menonjol dan pecah.

Dengan pengalaman itu aku banyak belajar. Kini aku berusaha untuk kembali menata pikiran agar aku tak terlalu berambisi. Aku belajar tenang. Akhirnya demi kesembuhanku aku tinggal di tempat kerja suami dan ankku di rumah. Kami bertemu sekali seminggu. Sedih sekali, pasti. Tapi kalau ini yang Allah ingin aku jalankan, aku ikhlas.

Lavender bagiku, membuka hikmah di balik kanker

Alhamdulillah ketika galau datang, Allah kirimkan Mbak Indira dan teman-teman Lavender untuk terus berbagi hal-hal yang positif dan menenangkanku. Berkat apa yang dibagi dalam group aku sematkan dalam pikiranku bahwa dunia itu sementara. Dunia adalah ladang amal. Jika kita ikhlas bersyukur Allah berikan lebih dari yang kita duga. Berfikir positif itu kuncinya, tersenyum itu amalannya. Meski hati sedih, cobalah lebarkan bibirmu, tariklah ke atas dan tersenyumlah. Insya Allah dukamu beralih menjadi bahagia.

Kanker mengajarkan saya untuk lebih sabar, taat pada orang tua, pada suami. Kanker menyadarkanku bahwa aku selama ini egois, merasa paling benar sendiri. Kini aku belajar sabar dan nrimo. Bagiku dukungan suamiku dan keluargaku sangat berarti dan sangat kusyukuri. Suamiku dan keluargaku benar-benar tahu apa yang aku sukai. Mereka terus berusaha membuatku selalu happy. Alhamdulillah. NikmatMu yang mana lagi yang hendak kudustakan, ya Allah. Semua begitu indah.

Terima kasih, Lavender. Terima kasih, Teh Indi dan teman-teman semuanya. Semoga terus bermanfaat bagi semuanya.

Bagi semua pendamping, sebisa mungkin buatlah para penerima anugerah kanker ini selalu nyaman agar mereka juga bisa lebih sabar dan tenang dalam menjalani pelajaran kankernya. Bagiku hal inilah yang benar-benar berperan dalam proses kesembuhanku.

Bagi teman-teman dan siapapun yang juga menerima anugerah kanker, tersenyumlah. Itulah hadiah terindah dari Allah bagi kita semua. Yakinlah Allah akan menyembuhkan kita pada waktu yang paling tepat dan indah. Yakinlah kesembuhan bukan dari dokter, bukan dari mahalnya obat tapi dari keyakinan bahwa Allah yang menyembuhkanmu. Jangan pernah putus asa dan jangan bersedih karena Allah selalu ada dan mencintai kita. Allah itu kun fayakun, kalau bilang “terjadi” maka akan terjadi. Mari kita tunggu takdir kesembuhan dengan sabar, doa dan tetap istikomah dalam berikhtiar.

Tetaplah berkarya, manfaatkan umur. Selalulah merasakan sehat, pasti kita sehat. Aamiin.


Ingin membantu teman-teman penerima kanker di Lavender? Silakan kirim donasi anda ke Yayasan Lavender Indonesia di Bank Mandiri nomor rekening 1270007342932. Kirim bukti transfer ke Indri Yusnita via wa atau sms di +62 815 8700930

 

Serial Hanara: Bagaimanakah kita bisa makan untuk hidup?

Di bawah ini adalah catatan saya dari kelas makan sehat di Hanara yang dibawakan dr. Hanson dan dr. Aini.

Makanan apa yang baik bagi kita? Tubuh kitalah yang paling tahu.

Tubuh kita memiliki body wisdom untuk tahu apa yang baik bagi kita. Body wisdom dan nutrisi saling berhubungan.

Makanan yang baik meningkatkan body wisdom. Makin baik body wisdom akan membantu kita memilih hanya makanan yang baik.

Saat kita makan yang tidak baik bagi tubuh vibrasi kita tidak koheren, dan kalau kita makan sesuai kebutuhan tubuh yang dapat kita ketahui melalui body wisdom, vibrasi tubuh akan koheren.
Makan sesuai life energy medicine:

Prinsipnya makan bertujuan untuk perkuat 5 organ vital, minimal tidak melemahkan.

1. Biogenik: manfaat meningkatkan life energy (qi).

2. Biostatik: tidak melemahkan, tidak meningkatkan life energy.

3. Biosidik: melemahkan – jangan makan.

Jadi sebaiknya carilah makanan yang biogenik, minimal biostatik. Kalau sudah kuat semua, kita bisa lebih bebas memilih makanan karena  organ-organ kita akan cukup kuat menahan dampak makanan yang buruk dan membuang racun.

Tapi kalau ada organ tubuh yang lemah, qi tidak berjalan dengan baik, maka makanan yang buruk akan memperlemah fungsi organ. Kalau 5 organ vital sudah kuat yang lain akan kuat juga. Kalau yang 5 ini tidak kuat yang lain juga tidak kuat. Saat 5 organ tubuh bekerja optimal, body wisdom juga akan optimal.

Jadi untuk itu semua cukup kuat kita harus memilih makanan yang menguatkan organ yang lemah dalam tubuh kita.

Ginseng 100 tahun bisa memperkuat semua 5 organ vital. Makin tua ginseng makin ia tidak melemahkan organ tubuh. Ginseng 100 tahun susah carinya jadi cari hal-hal lain penggantinya.

Ada beberapa makanan minuman yang perlu kita coba:

Life energy water – vivari, dan kopi life energy, mampu meningkatkan semua organ utama secara rata. Vivari meningkatkan semua secara rata, sementara kopi fokus di ginjal dan jantung, memperkuat syaraf naik ke telinga. Keduanya ini tidak melemahkan organ vital apapun.

Beras genmai mampu meningkatkan fungsi limpa dan lambung.

Untuk air jangan sering-sering minum air RO, karena tubuh kita masih butuh mineral. Kalau tubuh butuh mineral dan akhirnya mengambil dari organ tubuh maka organ vital akan melemah.

Vivari istimewa karena kandungan h2o nya yang beda, yaitu 20H2O. Tiap sel punya pintu masuk air, aquaporin. Air biasa yang kena polusi rusak kualitasnya dan susah masuk sel. Vivari dikembalikan menjadi air murni. Sel akan mengenal air vivari dan mengizinkannya masuk dalam sel dengan baik.

Makin banyak minum vivari makin haus karena sel membutuhkannya. Banyak diminum pun tidak apa karena langsung masuk ke sel, tidak ke darah saja. Minum vivari banyak-banyak tidak apa-apa karena tidak memberatkan jantung.
Karakter individu unik. Yang baik untuk 1 orang belum tentu baik untuk yang lain.

Kebutuhan yang unik

Berbagai hal yang harus kita perhatikan saat makan:

– jenis makanan. Telur ceplok, goreng, rebus beda kualitas. Apel fuji, Malang, beda jenis dan beda manfaat, beda pula dampaknya bagi tubuh yang berbeda.

– jumlah: ada jumlah tertentu yang dibutuhkan tubuh. Begitu jumlah kebanyakan bisa jadi racun

– suhu: makan/minum yang pas suhu nya

Makanan juga sangat tergantung situasi tiap individu tiap saat.

Jadi yang bagus untuk seseorang di pagi hari belum tentu pas untuk orang itu di malam hari saat lagi stress, kurang tidur, kebanyakan sport, dll.

False alarm
;

Kadang badan minta sesuatu yang tidak dibutuhkan. Misalnya kalau habis olah raga, cari air soda supaya dua teguk cukup. Padahal harusnya air putih yang banyak.

Kinesiologi untuk mengetahui kebutuhan tubuh yang unik sesuai body wisdom.

Kinesiologi membantu kita memilih makanan ideal berdasarkan body wisdom. Letakkan makanan yang ingin kita cek di bawah telinga kita. Rentangkan tangan dan cek kekuatan tangan. Apabila tangan tetap kuat terentang, makanan tersebut baik secara umum bagi kita. Kalau tidak, makanan tersebut kurang baik bagi kita.

Adanya life energy pool dan fountain di Hanara membantu memperkuat body wisdom agar benar-benar mampu membedakan.

Cek kembali dengan meletakkan makanan pada anggota tubuh yang ingin kita perkuat. Kalau makanan tersebut baik bagi organ tersebut, perbanyaklah makanan tersebut.

Ini sayur, seharusnya baik bagi semua ya? Ternyata setelah dicek dengan tes kinesiologi kok sayur ini membuat tangan peserta kelas lemah semua. Ternyata ada pestisida. Setelah dicuci dengan vivari, hasil tes kinesiologi menunjukkan bahwa sayur ini baik bagi semua peserta.

Tujuh langkah agar makan membangun energi yang memperkuat tubuh:

1. Cuci bahan makanan dengan vivari. Minum vivari sebelum makan untuk memperkuat semua organ tubuh, siap menerima makanan yang akan masuk.

2. Persiapkan lingkungan dengan 5 vibrasi. Tebar vibrasi pada meja dan semua lingkungan.

3. Teguk happy: berdoa dan sampaikan pada seluruh tubuh: “Aku izinkan semua makanan dan minuman ini menyehatkan semua sel dalam tubuhku.”

4. Jaga struktur tubuh saat makan, jangan bungkuk, jangan silangkan kaki, bawa 5 vibrasi, tebar senyum dan tangkap kebahagiaan orang yang makan bersama (vibrasi ke5, aku happy karena kau happy).

5. Deteksi organ dengan peta lidah. Untuk aman, makan 5 rasa, 5 jenis, 5 warna

6. Kunyah 30x, nikmati, resapi, tidak bicara, bawa 5 vibrasi sepanjang makan

7. Syukuri makanan, pancarkan 5 vibrasi sebelum meninggalkan meja makan.

Memang kok sepertinya jadi repot ya saat makan. Memang untuk mendapat berkah Allah agar semua makanan yang kita makan memperkuat sel dan mendukung proses penyembuhan kita, memang tidak mudah.

Sekarang, seberapa kuat keinginan kita untuk bisa hidup dengan vibrant? Bukan sekedar sehat dan bahagia, tapi vibrant?

Seberapa ingin kita menjalani hidup produktif sampai Allah memanggil kita di batas umur, tanpa terganggu berbagai gangguan kesehatan?

Seberapa penting kebersamaan keluarga yang vibrant bagi hidup kita?