Allah kirimkan kanker untuk mengingatkanku. Alhamdulillah.

Kanker.png

Oleh: Diah, Lavender Ribbon Cancer Support Group, dalam rangka #WorldCancerDay dan Ulang Tahun Lavender Ribbon Cancer Support Group

Saat mendengar kata ‘kanker’ yang ada dibenakku adalah sesuatu yang mengerikan. Apalagi pernah ada pengalaman kakak iparku wafat di usia terbilang muda, 46 th, setelah menghadapi kanker kelenjar getah bening.

Sebetulnya aku sudah mulai merasa ada yang tidak beres ditubuhku sejak tahun 2011. Waktu itu aku sedang mengalami masa-masa “sulit” merawat bapak yang sudah sepuh dan sakit-sakitan. Dilanjut dengan ibu yang mulai drop setelah bapak sedo (wafat – red) diakhir tahun. Akhirnya ibu pun wafat menyusul bapak selang tidak sampai setahun.

Setelah itu semakin terasa ada yang aneh ditubuhku, meski aku tetap dapat beraktifitas biasa dan berolah raga.

Awal 2015 mulai terasa ada benda aneh diatas payudara kiri, seperti sebatang tulang lunak kecil panjang. Saat aku memeriksakan diri di poli bedah di rumah sakit dikota, analisa sementara hanya kemungkinan ada infeksi. Aku pun diberi antibiotik dan pereda nyeri. Tak ada perubahan. Maka aku pindah ke rumah sakit pemerintah daerah karena di rumah sakit yang pertama tadi tidak ada alat laboratorium.

Waktu kusampaikan aku ingin USG di rumah sakit kedua, aku tidak mendapat tanggapan yang memuaskan dari dokter yang memeriksa waktu itu. Dokter bedahnya tidak berada ditempat. Yang ada hanya dokter jaga di poli tsb. Akhirnya aku hanya diberi antibiotik lagi.

Limbung menerima diagnosa

Awal 2016 semakin terasa aneh kalau diraba diatas payudara tadi. Sampai suatu hari aku ketemu tetangga almarhum ibu. Beliau adalah dokter yang baru lulus patologi anatomi. Waktu aku kerumahnya dan cerita masalahku beliau langsung kaget dan mencoba melihat kondisiku. Beliau pun menyarankan besok pagi ke rumah sakit untuk periksa di lab.

Saat hasil lab keluar, kuintip hasilnya. Dan apa yang kulihat membuat tubuhku lemas dan dunia serasa runtuh. Di sana tertulis bahwa memang ada yang tidak beres di payudara kiri. Saat bertemu dengan dokter yang membacakan hasil mamoku badanku sudah lemas tak berdaya dan airmata sudah tak terbendung lagi.

Waktu itu dokter memberi pengantar untuk biopsi ke ahli patologi yang paling mumpuni di kotaku. Beliau juga menerangkan prosedur rumah sakit untuk tindakan selanjutnya. Jika aku berkenan aku akan segera didaftarkan untuk antri operasi. Untuk kemo nanti aku harus ke Surabaya atau mungkin Solo karena Madiun belum bisa memberikan fasilitas kemo.

Dan yang lebih mengerikan lagi, aku mendengar bahwa di Madiun, kotaku, untuk operasi semacam ini bisanya payudara dikepras habis, tidak bisa diambil benjolannya saja. Oh my God….Gusti Allah nyuwun pangapuro…..badanku terasa limbung….

Aku teringat tetangga yang juga pernah mengalami hal yang sama, dan lari ke Surabaya untuk mencari rumah sakit dan dokter yang lebih baik sehingga hanya diambil benjolannya saja. Lalu aku ingat bahwa ada teman kuliah satu kamar kos yang beberapa tahun terakhir ini bercerita terkena kanker payudara dan memakai alat rompi untuk pengobatannya.

Selama seminggu aku dalam kebimbangan. Kuhubungi teman yang sudah memakai rompi listrik temuan pak Warsito itu. Waktu itu temanku bercerita ada masalah di pusat riset p warsito. Karena ingin mendapat info lebih aku browsing-browsing. Duuuh semakin terpuruk rasanya harapanku waktu membaca diinternet tentang kondisi C Care, pusat riset Pak Warsito, saat itu. Padahal aku sudah memutuskan untuk tidak operasi dan ingin memakai rompi p warsito.

Memutuskan metode: ECCT

Kondisi psikisku waktu itu sangat tidak baik apalagi teman-teman dekat di pengajian ikut mendorong-dorong supaya aku cepat mengambil tindakan untuk operasi.

Minta maaf ya waktu itu aku menganggap mereka sangat sok tahu, bahwa operasi pasti akan menyelesaikan masalahku. Sampai aku sempat malas untuk bertemu dengan mereka. Aku sudah memutuskan untuk tidak operasi. Jujur aku takut dan membayangkan sesuatu yang mengerikan ditubuhku jika harus menjalani kemo setelahnya.

Saat itu keadaan perekonomian keluarga juga sedang carut marut. Pertama kali sikap pasanganku cenderung pasif karena ia pun mungkin bingung dengna keadaan yang di luar harapannya dengan kondisi perekonomian seperti itu. Alhamdulillah pasangan saat itu mengajak untuk lebih mendekat kepadaNya. Akhirnya pasanganku pun bisa menerima treatment yang aku pilih saat itu (rompi). Ia memberikan dukungan dengan bersusah payah mencarikan dana.

Aku terus menerus browsing di internet tentang rompi Pak Warsito dan semakin mantap untuk memakainya, dengan segala pertimbangan yang menyertai. Kalaupun aku sampai memilih operasi aku tidak mau operasi di Madiun, aku mau di Surabaya saja, seperti tetanggaku yang sudah menjalaninya. Aku tahu hal itu membutuhkan biaya yang sangat banyak dan suami harus menungguiku dalam proses itu wira wiri selama setahun paling tidak, Madiun -Surabaya. Aku tahu, tapi itu lebih baik kurasakan.

Akhirnya aku semakin mantap untuk memilih rompi Pak Warsito untuk mengatasi masalahku. Alhamdulillah waktu itu aku menemukan blog mbak Indira Abidin. Di sana ada beberapa cerita testimoni beberapa pasien C Care. Disitu aku membaca ada pasien dari Madiun, Mbak Afiana. Berkat bantuan Mbak Lang-Lang aku mendapat nomor wa Mbak Indira.

Aku berusaha mengubungi Mbak Indira untuk mendapatkan nomor Mbak Afiana. Tanggapan Mbak Afiana sangat baik. Esok paginya beliau langsung datang ke rumahku. Aku seperti mendapatkan saudara baru. Akhirnya ditemani Mbak Afiana yang kebetulan juga mau kontrol di Alam Sutra, dan ditemani Mbak Lang-Lang aku berhasil mendapatkan alat rompi Pak Warsito.

Alhamdulillah aku pun mulai memakai rompi Pak Warsito. Hidupku pun aku sesuaikan. Aku mengubah pola makanku, pola hidup dan pola pikirku. Semua berubah drastis. Aku berusaha makan lebih sehat, hidup lebih baik dan sehat. Aku juga selalu berusaha lebih berfikir positif dalam menghadapi kehidupan.

Alhamdulillah ya Allah. Berkat kanker aku lebih dekat denganMu, lebih sabar dan ikhlas

Saya selalu berusaha untuk sembuh, walaupun kondisi ekonomiku benar-benar serba terbatas. Aku pun selalu berusaha mendekat kepadaNya, mensyukuri kondisi apapun yang ada saat ini. Aku berbaik sangka pada Allah, yakin bahwa Allah pasti akan memberikan kesembuhan. Alhamdulillah semua ini membuatku lebih semangat untuk sembuh dan berusaha mencapai kesembuhan.

Alhamdulillah aku diikut sertakan dalam grup WA lavender Surabaya dan juga grup WA ECCT User. Aku pun mendapat banyak teman senasib seperjuangan. Hal ini sangat membantu kondisi psikisku. Di group-group ini aku banyak belajar untuk menyikapi apa yang sedang kualami saat ini.

Pengalaman teman-teman sangat berharga bagiku. Hatiku menjadi lebih tenang, ikhlas, apalagi Mbak Indira mengenalkan istilah ‘kurikulum kanker’ dan bukan ‘penyakit kanker’ sampai kadang lupa kalau sedang ada ‘makhluk’ lain sedang menghuni tubuhku.

Aku merasa sangat terharu dan tersentuh di Lavender. Dengan banyaknya teman mataku sangat terbuka. Kini aku bisa melihat bahwa banyak sekali permasalahan dalam hidup ini. Masalahku bukan satu-satunya masalah. Semua permasalahan teman-temanku juga menjadi pengalaman spiritual yang tak terlupakan dalam hidup. Menyelami semua itu semua membuatku merasa bahwa Allah begitu dekat.

Terima kasih untuk Mbak Indira yang telah banyak memberi masukan berharga. Terima kasih untuk teman-teman di grup, terima kasih untuk suamiku tercinta yang telah banyak mendorongku untuk lebih ‘kuat’ menghadapi hidup, terima kasih anak-anakku tercinta. Ibu masih ingin bersamamu lebih lama, melihatmu menjadi dewasa dan mandiri dalam hidupmu kelak. Tak terhingga terima kasih padaMU ya Allah. Kau telah mengingatkanku. Dengan kondisi semacam ini aku jadi lebih tunduk kepadaMU dan selalu ingat bahwa kematian memanglah tak berjarak bagi makhlukmu.

Sekarang aku merasa lebih bisa menjalani hidupku dengan pasrah, ikhlas, semeleh dan lebih bisa meredam hati, perasaan, dan keinginan. Aku jadi punya banyak teman, banyak saudara. Lavender banyak memberikan dukungan moral, spiritual. Berbagai pengetahuan, tips tercurah terus. Kami saling berbagi hati dan pengalaman. Inilah hikmah dari semua ini. Semoga Lavender terus berkembang dengan pengelolaan yang juga makin professional, sumber dana dan SDM yang mumpuni.

Terima kasih ya Allah, izinkan aku tetap istiqomah dalam perasaan dan hati semacam ini. Karena ini membuat jiwaku tenang. Alhamdulillah, kini aku menjadi lebih dekat denganMu. Hatiku kini lebih ikhlas, lebih sabar menjalani kehidupan ini.

Buat teman-teman yang baru mengalami hal yang sama, Insyaa Allah inilah yang terbaik untuk kita harus jalani. Allah sangat mengetahui apa yang terbaik untuk kita. Jangan mengeluh, tetap semangat dan berusaha melawan rasa tidak berdaya. Kita pasti bisa, dengan izinNya.

—————–

Ingin membantu teman-teman penerima kanker di Lavender? Silakan kirim donasi anda ke Yayasan Lavender Indonesia di Bank Mandiri nomor rekening 1270007342932. Kirim bukti transfer ke Indri Yusnita via wa atau sms di +62 815 8700930.

Nafas Syukur Usai Vonis Kematian

Napas Syukur Usai Vonis Kematian

Nama saya Widiyani. Biasa dipanggil Titik. Pada Rabu sore saat Juni 2012, saya mendapati benjolan di payudara dan ketiak.

Saya pun langsung memeriksakan diri keesokan harinya. Saya langsung cek mamografi dan USG mamae. Pada saat saya menyerahkan hasil tersebut kepada dokter onkologi, alangkah terkejutnya saya. Dokter memarahi saya karena saya terlambat memeriksakan diri. Padahal, saya cek langsung tanpa menunda setelah menemukan benjolan.

Dokter ternyata langsung menjatuhkan vonis kanker stadium lanjut. Ia bahkan berkata, “Masih bagus jika usia kamu bertahan sampai Desember 2012.”

Continue reading “Nafas Syukur Usai Vonis Kematian”

Titik Terang Kesembuhan

Titik Terang Kesembuhan Nama saya Tri Praptini, asal Pekalongan. Pertama kali saya menerima diagnosa tumor ganas grade 3 adalah pada bulan Agustus 2014. Pada hasil biopsi saya tidak menemukan informasi stadium berapa tumor ganas tersebut. Saya fikir stadium sama dengan grade. Saya sudah tidak bisa berfikir lagi saat itu. Saya kalut.

Saya serahkan hasil biopsi kepada dokter dan dokter menyuruh saya langsung ambil chemotherapy 1 paket. Menurutnya mungkin saya harus ambil 2 paket dan setelah itu saya harus menjalani operasi pengangkatan payudara.

Continue reading “Titik Terang Kesembuhan”

Suwarni, Survivor Kanker Payudara yang Sembuh Total berkat Alat Ciptaan sang Adik

Teman-teman Lavender,

Ini kisah kakak Dr. Warsito yang sempat kita bahas dalam group. Sumber artikel adalah:http://infoislami.com/suwarni-survivor-kanker-payudara-yang-sembuh-total-berkat-alat-ciptaan-sang-adik/
Kita simak yuk.

Suwarni, Survivor Kanker Payudara yang Sembuh Total berkat Alat Ciptaan sang Adik

inShare

Dr-Warsitoinfoislami.com – Suwarni adalah sosok yang menginspirasi ilmuwan UI Warsito P. Taruno menciptakan alat terapi kanker payudara. Berkat alat terapi berbasis listrik statis tersebut, kanker payudara stadium IV yang diderita Suwarni sembuh total hanya dalam hitungan bulan.

SEKARING RATRI A., Solo

SUWARNI, 50, beberapa kali tersenyum menyaksikan polah tingkah cucu perempuannya yang tengah asyik bermain dengan sepedanya. Perempuan berjilbab itu juga terlihat sehat dan bahagia. Untuk ukuran perempuan setengah baya, Suwarni tergolong masih energik. Padahal, perempuan berkacamata itu adalah salah seorang survivor kanker payudara. Namun, tidak seperti survivor kanker payudara pada umumnya yang bisa sembuh atas bantuan dokter. Suwarni yang pernah mengidap kanker payudara stadium IV berhasil sembuh total berkat temuan adik kandungnya, ilmuwan Universitas Indonesia (UI) Warsito P. Taruno. “Adik saya itu benar-benar malaikat penolong saya. Benar-benar mukjizat ini,” ujar Suwarni saat ditemui di kediamannya, kawasan Triyagan, Mojolaban, Sukoharjo (31/12). Suwarni mengaku shock saat mengetahui dirinya menderita kanker. Sebab, gaya hidup dan pola makannya cukup sehat. Apalagi, dia tinggal di daerah pinggir kota yang jauh dari polusi kendaraan. Ibu tiga anak itu mulai merasakan gejala penyakit ganas tersebut pada pertengahan 2009. Dia menuturkan, secara tidak sengaja, payudaranya terbentur kaca spion motor. Benturan itu tidak keras, namun rasa sakit yang dirasakan cukup hebat. Meski begitu, dia memilih membiarkan hal tersebut. Rasa sakit itu kembali timbul saat payudaranya tidak sengaja terkena kepala cucu. Sekali lagi, Suwarni merasakan sakit yang luar biasa.

Seperti sebelumnya, dia memilih mengabaikan rasa sakit tersebut hingga akhirnya dia melihat perubahan pada tekstur payudaranya. Puting payudaranya tiba-tiba terdorong ke dalam. “Di bawahnya juga ada benjolan,” kenang perempuan kelahiran 23 Juli 1961 itu. Suwarni menunjukkan perubahan tersebut kepada suaminya. Sang suami langsung memaksa dia untuk memeriksakan diri. Suwarni menurut. Pada 4 Februari 2010, Suwarni memeriksakan diri ke Rumah Sakit Umum dr Moewardi, Solo. Menurut istri Suparjo itu, saat dirinya menjelaskan gejala-gejala yang dialami, sang dokter langsung tahu bahwa dirinya menderita kanker payudara stadium IV. Dengan kata lain, kondisi Suwarni sudah parah. Dokter yang menangani Suwarni adalah seorang dokter spesialis onkologi ternama di Solo, yakni dr Djoko Dlidir SpBOnk. Mendengar keterangan dokter tersebut, Suwarni langsung shock. “Saya sampai gemetar,” kata Suwarni dengan mata memerah. Sebab, lanjut dia, selama ini dirinya tidak pernah menderita penyakit berat. Setelah itu, dia menjalani serangkaian tes di laboratorium. Sepulang dari rumah sakit, Suwarni memberanikan diri memberi tahu anak-anaknya. Semua menangis mengetahui kondisi ibunya. Keesokan harinya dia kembali menemui dokter. Namun, Suwarni diharuskan kembali melakukan pemeriksaan laboratorium. “Sebab, sebelumnya ada yang salah,” katanya. Berselang dua hari kemudian, nenek dua cucu itu kembali memeriksakan diri. Melihat kondisi Suwarni, dokter memutuskan melakukan operasi sehari kemudian. Dua minggu pascaoperasi, Suwarni merasa lega. Dia mulai beraktivitas seperti biasa. Berdasar hasil pengangkatan sel kanker, dokter mendeteksi bahwa kanker tersebut termasuk ganas. Karena itu, Suwarni diharuskan untuk melakukan kemoterapi.

Namun, dia ragu. Padahal, seluruh keluarganya mendukung dia agar melakukan kemoterapi. “Karena waktu saya tanya, dokternya ternyata tidak berani jamin saya bisa sembuh jika kemoterapi. Sebab, itu cuma nunda. Apalagi, biayanya mahal, hampir Rp 20 juta sekali kemoterapi,” jelasnya. Awalnya Suwarni hanya memberi tahu kakak perempuannya yang berada di Jakarta. “Kakak perempuan saya terus cerita ke Warsito. Saya ndak berani cerita ke Warsito karena saya takut ngganggu,” jelasnya. Begitu tahu sang kakak menderita kanker, Warsito langsung menelepon Suwarni. Suwarni juga sempat menanyakan harapan hidup dirinya kepada dokter. Menurut dokter yang merawatnya, dia hanya memiliki waktu paling lama dua tahun ke depan. Mendengar itu, Suwarni memberanikan diri curhat kepada sang adik, Warsito.

“Dia bilang, Yu (Mbak -panggilan Warsito kepada Suwarni, Red) ndak usah mikir macem-macem. Jangan malah banyak pikiran. Yang penting makan yang banyak,” ujar Suwarni menirukan ucapan adiknya yang enam tahun lebih muda darinya itu. Sekitar tiga bulan kemudian, sang adik kebetulan ada kunjungan ke Jogjakarta bersama Menristek, kala itu, Suharna Surapranata. Sebagai informasi, hingga kini Warsito adalah staf khusus Kemenristek. Ternyata, dalam kurun waktu tiga bulan setelah mendengar curhat sang kakak, Warsito menciptakan alat terapi kanker payudara khusus untuk kakaknya.

Alat yang bentuknya mirip penutup dada berwarna hitam itu diantarkan langsung ke rumah Suwarni oleh staf Warsito. “Sementara dia kasih instruksi lewat telepon. Ya dia bilang, Yu ini harus dipakai 24 jam, tapi jangan kena air,” ungkapnya.

Setelah mendapat alat tersebut, keesokan harinya Suwarni kembali mendatangi dokter. Dia menunjukkan alat tersebut. Sang dokter meminta Suwarni melakukan pemeriksaan di laboratorium setelah pemakaian alat tersebut selama sebulan.

Sebulan berlalu, Suwarni melakukan tes dan menyerahkan hasilnya kepada dokter itu. Sang dokter pun mengakui, hasil tes tersebut menyatakan penyakit kanker payudaranya sudah negatif. Meski begitu, sang dokter tetap meminta Suwarni terus memeriksakan diri.

Sesuai dengan arahan dokter, sebulan berikutnya Suwarni yang rutin menggunakan alat tersebut sekali lagi melakukan tes di laboratorium. Seperti sebelumnya, dia membawa hasil tes tersebut kepada dokter. “Bulan berikutnya saya checkup lagi. Pas dokternya lihat hasil lab-nya, dia lihat lama sekali, kira-kira seperempat jam. Lalu, dia bilang, alhamdulillah, ini mukjizat buat Ibu, sudah bersih ini,” ujar Suwarni. Mendengar jawaban sang dokter, Suwarni pun merasa lega bukan main. Meski begitu, dia tetap rutin melakukan pemeriksaan di laboratorium. Hingga Desember 2011, Suwarni masih melakukan pemeriksaan. Hasil pemeriksaan tersebut selalu dikirimkan kepada sang adik.

“Saya kirim ke dia semuanya. Dia terus pantau apa sel kankernya ada lagi atau ndak dan, alhamdulillah, sampai sekarang ndak ada,” jelasnya. Selain sel kanker, penyakit-penyakit lainnya ternyata membaik. Suwarni menyebutkan, dirinya juga memiliki tekanan darah tinggi dan asam urat. Namun, setelah menggunakan alat tersebut, tekanan darahnya mulai normal.

Kesembuhan Suwarni itu pun mengagetkan Warsito. Karena itu, dia ingin mendalami lebih jauh alat temuannya tersebut. Bahkan, sang kakak pernah diundang ke kantornya untuk memberikan testimoni kepada kalangan medis internasional yang tertarik dengan temuannya itu.

“Saya pernah dipertemukan sama orang India yang tinggal di Malaysia dan orang Singapura. Mereka tertarik sama alatnya adik saya,” katanya. Dengan keberhasilan sang adik tersebut, Suwarni berharap agar banyak perempuan pengidap kanker payudara seperti dirinya bisa disembuhkan. Memang, selain mengandalkan temuan sang adik, Suwarni menerapkan hidup yang benar-benar sehat. Dia memperbanyak berolahraga dan mengonsumsi sayur serta buah-buahan. Hingga kini, Suwarni masih memakai alat tersebut, namun hanya 12 jam sehari. “Tapi, kadang ya tidak saya pakai,” imbuh dia. Sementara itu, dr Djoko Dlidir SpBOnk mengaku tidak ingat pernah menangani pasien bernama Suwarni. Menurut dr Djoko, dirinya menangani ribuan pasien kanker payudara yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. “Waduh, saya ndak ingat ya. Kalau ndak lihat rekam medisnya, saya ndak ingat detailnya,” jelasnya ketika ditemui di Hotel Lor In, Solo, Sabtu malam (31/12).

Namun, menurut onkolog ternama di Kota Solo itu, dirinya tidak pernah memvonis negatif hasil tes kanker payudara pasiennya. Sebab, menurut dia, sel kanker bisa saja tumbuh, bahkan setelah belasan tahun. “Saya ndak pernah bilang negatif, tetap harus kontrol. Sebab, pasien yang sudah sebelas tahun bersih bisa tumbuh lagi kok,” imbuh dia. Meski begitu, dia sangat mengapresiasi upaya yang dilakukan Warsito. Menurut dia, yang terpenting adalah kesembuhan pasien. “Kami kalangan medis tidak masalah dengan adanya penemuah-penemuan seperti itu. Itu justru membantu sekali. Kan yang paling penting adalah pasien itu sembuh,” katanya. (drwarsito.wordpress/at/ii)