Mau lancar dengan herbal? Bangun Taman Obat Keluarga yuk

Pada Hari Kartini, 21 April 2018 lalu, selain edukasi mengenai VCO, kami juga menghadirkan Ibu Erna Setiawati, seorang “tokoh Taman Obat Keluarga” atau lazim disebut TOGA.

Ibu Erna sangat berpengalaman mengelola TOGA. Dari membuat TOGA sederhana di rumahnya, sampai menjadi wirausaha jamu, dan akhirnya mendapat pengakuan dan turut berkontribusi dalam penyusunan pedoman TOGA oleh Kemenkes.

Memiliki TOGA memungkinkan kita melakukan self care, pemeliharaan kesehatan mandiri di rumah dengan memanfaatkan apa yang ada.

Masyarakat Indonesia secara historis sesungguhnya sudah pandai sekali memanfaatkan tanaman obat untuk keluarga. Sayang tidak diwarisi oleh generasi zaman NOW.

Tujuan TOGA:

– meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup

– mencegah penyakit beresiko

– mempercepat proses penyembuhan, karena daya tahan tubuh baik

– mengurangi pengeluaran pembiayaan kesehatan keluarga, mengurangi beban kesehatan publik negara

Tanaman obat harus:

– aman, tidak mengandung kandungan racun yang tinggi. Biasanya yang racun nya tinggi itu pahit dan bergetah. Misalnya daun sirsak, kadar racunnya tinggi. Tidak boleh untuk pencegahan atau dikonsumsi terus menerus tanpa bimbingan pakar. Bisa merusak liver.

– mudah diolah sendiri di dapur, tidak butuh mesin-mesin mahal

– sesuai tradisi masyarakat Indonesia. Beda budaya bisa beda kebutuhannya, belum tentu cocok.

TOGA yang juga disebut Apotek Hidup bisa dibuat di teras, pekarangan rumah, digunakan sebagai obat dan juga memperindah rumah.

TOGA melestarikan budaya obat tradisional, mencegah kelangkaan tanaman obat. Sayang sekali kalau herbal Indonesia hanya diekspor ke luar negeri dan dimanfaatkan oleh luar negeri, karena orang Indonesia sendiri tak mau menanamnya.

Saat ini mengkudu mulai langka karena tak banyak yang mau menanam mengkudu. Padahal dulu banyak sekali dan buahnya bertebaran di mana-mana. Di luar negeri mengkudu sangat laku, bernilai jual tinggi dan dijadikan suplemen berharga mahal. Di sini mengkudu tak mendapat penghargaan yang sama.

Dengan memiliki TOGA sebuah keluarga dapat memenuhi berbagai kebutuhan kesehatannya. Pemerintah menganjurkan tiap rumah memiliki minimal 5 tanaman obat untuk mengatasi hal yang sering terjadi dalam tiap rumah tangga.

Bukan hanya untuk penyembuhan, TOGA juga bertujuan memperbaiki status gizi. Jadi bisa dilengkapi dengan sayur dan buah. TOGA juga membuat lingkungan lebih asri, lebih segar dan banyak oksigen. Memiliki TOGA juga bisa mengurangi biaya ke salon, karena TOGA bisa dibuat lulur, parem dan berbagai obat kecantikan.

Membeli herbal

Untuk membeli herbal yang dijual di pasar, perhatikan nomor registrasi izin edar. Jangan konsumsi yang tidak ada izin nya. Kalau tidak yakin benar malah bisa bahaya.

Berbagai jenis obat tradisional:

– jamu: aman, claim empiris, belum diteliti klinis

– obat herbal terstandar (OHT) : aman, sudah diteliti ilmiah, sudah terstandardisasi

– fitofarmaka: aman, sudah diteliti menggunakan manusia. Dokter lebih percaya yang ini karena sudah evidence based

BPOM menganjurkan untuk hanya mengkonsumsi yang ekstrak, jangan yang bubuk/serbuk. Cari yang tulisannya “ekstrak.”

Tujuan tanaman obat adalah obat, jadi jangan makan yang ada ampas nya karena bisa memperberat pencernaan nya.

Kalau serbuk, waktu diseduh mengambang. Kalau ekstrak, langsung larut. Ada yang tulisannya ekstrak, tapi isinya ada serbuknya. Nah waktu diseduh pasti ada yang mengambang. Jangan pilih yang seperti itu.

Teh herbal juga cari yang tubruk, jangan celup.

Sirup adalah obat yang ada gula nya. Boleh saja memilih sirup kalau kebutuhannya untuk kebugaran saja. Tapi untuk obat sebaiknya tidak. Dan jangan pilih yang pakai gula pasir, karena sudah mengandung berbagai zat yang tidak natural.

Membuat obat herbal

Membuat obat dari tanaman:

– iris tapi jangan terlalu tipis.

– keringkan di matahari, tutup dengan kain hitam supaya merata sampai bawah. Keringan tanaman yang sudah diiris dan dikeringkan disebut simplisia.

– perhatikan kebersihan. Kalau lagi sakit sebaiknya tidak mengolah herbal.

– simpan di suhu ruang, bukan kulkas.

Mengkonsumsi obat herbal

Simplisia diblender dan dijadikan serbuk untuk diambil konsentrat nya. Air nya sudah tidak ada lagi, sehingga bisa keluar zat aktif nya.

Baru diseduh.

Zat aktif akan keluar lebih banyak saat obat herbal diseduh langsung dari serbuk daripada kalau dari simplisia (keringan) atau segar.

Merebus lebih efektif daripada hanya menyeduh, karena herbal mengalami pemanasan lebih lama. Jadi zat aktif lebih banyak lagi yang keluar.

Merebus herbal juga lebih baik dari serbuk, dibanding dari yang segar atau keringan.

Tata cara merebus obat herbal

Supaya efektif dan aman, perhatikan:

– pakai api kecil

– alat harus bersih

– gunakan perangkat dari stainless steel, tanah, keramik, email, kaca. Jangan pakai panci atau peralatan yang dibuat dari bahan lain (alumnium baja dll). Zat kimia dalam herbal bisa bersenyawa dengan zat-zat yang ada dalam panci dan membahayakan kesehatan.

– masukan herbal saat air dingin. Siram bahan-bahan dengan air dan diamkan sebentar supaya memuai, baru direbus.

Kalau mau ambil aroma dari herbal yang digunakan (misalnya bau mint atau kayu manis) masukan belakangan. Saat air akan mendidih baru dimasukkan dan langsung ditutup supaya minyak atsiri (essential oils) tidak menguap.

Gula menghambat proses pengeluaran sari. Jadi kalau mau pakai gula, masukkan belakangan.

Garam malah mengikat sari, jadi boleh dimasukkan di depan, sebelum herbal dimasukkan.

Teknik parut:

Bahan segar – diparut – diperas – disaring – direbus.

Jangan diminum mentah, karena pada rimpang seperti kunyit, zat warna bisa menempel di dalam tubuh.

Herbal kemopreventif:

Adalah herbal yang dapat mencegah penyebaran sel kanker, meningkatkan daya tahan tubuh. Antara lain:

– Kunyit

– cabe

– jahe

– tomat

– madu

– brokoli

Ingat, bahwa herbal pun, meskipun alami, tetap adalah zat asing bagi tubuh. Pastikan ada pembimbing yang benar-benar faham dan membimbing dari hari ke hari, apa dampak herbal pada tubuh anda, karena satu zat herbal belum tentu bisa dikombinasikan dengan herbal lain atau dengan treatment yang sedang dijalani.

Nah, tunggu apa lagi, yuk segera buat TOGA di perkarangan rumah yuk.

Minim lahan? Pot pun bisa digunakan kok.

Relax itu aku dan kamu

Assalamualaikum ww

Teman-teman,

Tegak Senyum Relax adalah Pesan guruku yang selalu membantuku menghadapi berbagai ujian.

Tegak Senyum Relax… rasanya Pas sekali untuk semua teman Lavender. Aku tulis kan ini untuk kita semua ya…

Relax itu letting go

Melepas semua ikatan

Satu persatu

Relax itu let it flow

Izinkan segalanya mengalir

Seperti air yang suci

Relax itu yakin

Bahwa semua itu baik

Dihadirkan oleh Sang Maha Baik

Relax itu luwes

Tidak kaku dengan “harusnya…”

Menerima tanpa harus analisa

Relax itu tenang

Karena semua sudah dirancang

Oleh Yang Maha Penyayang

Relax itu nikmat

Membuka semua indra

Sadar semua begitu indah

Relax itu berserah

Bekerja sebaik yang kita bisa

Dengan apa yang ada

Relax itu tak pusing target

Menatap cita2 dengan bahagia

Yakin dengan waktu Sang Kuasa

“Sudah begini kok belum berhasil?”

Relax … waktu Allah beda

“Sudah jam segini kenapa belum ada?”

Relax… artinya memang belum saatnya.

“Ini kenapa? itu kenapa? kok…?”

Relax… itu yang Allah kasih, nikmati saja.

Senyum Tegak Relax…

Ini PR ku dan PR mu

BersamaNya kita melangkah

Bersamamu kunikmati masa

Kini aku yakin

Karena Allah selalu ada

Dan kamu dikirimNya untuk ada di sisiku

Terima kasih teman-teman sayang.

Terima kasih guru-guruku.

Untukmu aku diciptakan.

I love you all.

🌸🌿🌸🌿🌸🌿

Persembahanku untukmu: Sertifikat 5 Tahun Paska Diagnosa

Sahabat tercinta,

Sertifikat di atas adalah sertifikat dari C Care, menyatakan bahwa aku berhasil menjadi “survivor” setelah 5 tahun didiagnosa kanker, berkat ridloNya.

Sertifikat ini ditandatangani oleh Pak Warsito yang memanduku secara langsung, memastikan bahwa benar, selama lima tahun ini tak ada perkembangan dari status kankerku – survivor dengan status progression free.

Sertifikat ini adalah persembahan untuk dunia. Sertifikat ini mensyukuri dan merayakan kehidupan yang Allah berikan, lima tahun paska diagnosa kanker.

Sertifikat ini penting, menyatakan bahwa kanker bisa diatasi dengan baik. Sehingga aku punya dasar untuk mengatakan bahwa kanker bukanlah hal yang menakutkan.

Banyak yang menghubungiku dalam kesedihan karena akan meninggal setelah diagnosa kanker. Nggak mesti kan? Umur ada di tangan Allah. Tenanglah.

Sertifikat ini penting, karena dengannya teman-teman bisa melihat bahwa selama lima tahun kanker tak membuatku menderita. Aku bisa tetap produktif, bahagia sejahtera, dan yang paling penting aku pun bisa terus mengejar kedekatan denganNya sebagai wakilNya di muka bumi.

Jadi jangan pernah lagi bilang “vonis kanker” karena Kanker bukan hukuman pengadilan.
Jangan pernah bilang lagi “penderita kanker” karena kanker bukan pembawa derita. Sikap kitalah yang menentukan kita menderita atau tidak. Bukan kankernya.
Jangan pernah lagi bilang “penyakit kanker” karena kanker tidak selalu membawa sakit. Dan Mukhrejee pun mengatakan kanker bukan penyakit tapi “malady.”

Sebutlah “kurikulum kanker” agar kita menjadikan kanker sebagai kesempatan belajar. Kesempatan emas yang belum tentu bisa kita dapatkan lagi untuk menjadi hambaNya yang lebih baik. Hidup terasa lebih berkualitas.

Sebutlah “sekolah kanker” agar kita kembali ke sebuah masa menyenangkan. Masa di mana banyak sekali persahabatan. Tengoklah teman sekelas yang perlu kita bantu dan dukung. Dan perhatian kita pun bisa beralih untuk membahagiakan orang lain, tak lagi fokus pada keluhan diri sendiri. Hidup menjadi lebih berarti.

Semoga suatu masa di mana kanker tak lagi menimbulkan demotivasi, tak lagi membuat depresi, segera akan datang.
Dan kanker akan menjadi sebuah momentum transformasi yang begitu berharga.

Dan semoga “survivor” telah pula berubah menjadi “thriver” karena hidup tidak sekedar hanya untuk “survive.”

Kenapa hal itu penting bagimu, sahabat?

Apa saja kebaikan yang bisa terjadi kalau hal itu menjadi kenyataan?

Daan… Kira-kira apa hal terbaik yang bisa kita lakukan sekarang ini juga untuk mewujudkan hal itu?

Terima kasih suamiku tersayang, Siraj Bustami, dan anak-anakku Hana dan Fia.

Terima kasih untuk kedua orang tuaku tercinta, Indra dan Miranty Abidin.

Terima kasih untuk Pak Warsito, dr. Hanson, Guru Reva, Sifu James, Mbak Lyra, dan semua guru yang membimbingku lima tahun ini.

Terima kasih untuk semua sahabat, saudara, coaches, Lavenderians, Hanara Group, dan semua sahabat media sosial.

Sertifikat ini kupersembahkan untuk semua. Semoga bersamanya keberkahan diturunkanNya untuk semesta. Aamiin YRA.

Mau sembuh? sehat secara permanen? Kuncinya hanya yang satu ini.

Syaikh Ali Musthafa Thantawi pernah mengatakan, “Jangan sekali-kali mengabaikan hati. Karena hati adalah rumah bagi dua hal paling suci di dunia ini, yaitu iman dan cinta.”

Abu Bisyr, seorang murid Ali bin Abu Thalib ra, menyampaikan bahwa orang-orang terdahulu sedikit beramal tetapi mendapatkan pahala yang banyak. Hal itu disebabkan karena mereka selalu menjaga hati, sehingga hati-hati mereka sungguh bersih. (Az-Zuhud II/600).

Imam Ibnul Qayyim pun pernah mengatakan:
“Hati ibarat raja bagi anggota tubuh.
Anggota tubuh akan melaksanakan segala perintah hati dan menerima semua arahannya.
Anggota tubuh tidak akan melaksanakan sesuatu kecuali yang berasal dari keinginan hati.
Oleh karena itu, hati merupakan penanggung jawab mutlak terhadap anggota tubuh karena seorang pemimpin akan ditanya tentang yang dipimpinnya.
Jika demikian adanya, maka upaya memberi perhatian yang besar terhadap hal-hal yang menyehatkan dan meluruskan hati merupakan upaya terpenting.
Dan memperhatikan penyakit-penyakit hati serta berusaha untuk mengobatinya merupakan ibadah yang paling besar.”

“Di dalam hati tersebut terdapat perasaan cinta dan iman kepada Allah, perasaan ikhlas dan tawakkal kepadaNya.
Semua itu merupakan unsur kehidupan bagi hati.
Namun, di dalam hati juga terdapat rasa cinta kepada syahwat, lebih mementingkannya serta memperturutkan segala keinginan.
Di dalam hati juga terdapat sifat hasad, sombong, ujub, dan ambisi untuk menjadi orang yang paling unggul, serta bertindak semena-mena di muka bumi dengan kekuasaan yang dimiliki.
Semua itu merupakan unsur yang akan membuat diri hancur dan binasa.”

“Karena itu, surga tidak bisa dimasuki oleh orang-orang yang berhati kotor, dan tidak pula bisa dimasuki oleh orang yang di hatinya terdapat noda-noda dari kotoran tersebut.

Barangsiapa yang berusaha mensucikan hatinya di dunia, lalu menemui Allah (mati) dalam keadaan bersih dari kotoran-kotoran hati, maka dia akan memasuki surga tanpa penghalang. Adapun orang yang belum membersihkan hatinya selama di dunia, maka jika kotoran hati tersebut dari najis murni -seperti hatinya orang-orang kafir-, maka dia tidak akan bisa masuk surga selama-lamanya.

Dan jika kotoran tersebut sekadar noda-noda yang mengotori hati, maka dia akan memasuki surga setelah disucikan di dalam neraka dari kotoran – kotoran tersebut.”

Itu kata orang-orang terdahulu.

Lalu Bruce Lipton, seorang dokter dan peneliti di abad 21 mengatakan bahwa penyakit tidak diturunkan. Orang yang punya DNA yang sama belum tentu memiliki penyakit yang sama. Ternyata persepsi, pikiran yang menciptakan suasana bagi sel yang akhirnya menentukan seseorang sehat atau tidak. Dan ini semua asalnya dari hati.

WHO pun sudah mengakui bahwa sehat yang sesungguhna yharus mencakup sehat rohani, bukan hanya sehat jasmani.
Ternyata kini diakui bahwa 90% penyakit berasal dari stress, yang berasal dari penyakit hati.

Ternyata benar, di dalam tubuh ada segumpal daging yang kalau ia baik, semua tubuh akan baik dan kalau ia buruk seluruh tubuh akan buruk.

Maka, marilah kita hidup secara sadar. Hidup dari detik ke detik, menyadari apa yang ada dalam hati. Setiap ada hal yang tidak enak di hati menandakan ada yang harus diperbaiki.
Rasa tidak terima, kesal, tidak suka, apalagi kalau sampai benci dan dendam, perlu segera diobati.

Ada yang bikin kesal, mengkhianati kita, membuat kita marah, langsung katakan, “Allah ingin memberikan surga, maka orang ini dikirimNya padaku agar aku membuktikan bahwa aku sabar dan layak masuk surga.

Langsung bilang, “Alhamdulillah,” dan langsung syukuri. Hadapi dengan perasaan syukur. Lakukan berulang-ulang, insya Allah syukur dan sabarlah yang akan menjadi raja, menggantikan berbagai sakit dalam hati.

Jadi perasaan apa yang bisa kita perbaiki dengan lebih baik lagi agar kita bisa menjaga hati lebih baik lagi hari ini?

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. 91: 8-10).

via Hati: sumber sukses dunia dan akhirat — Indira Abidin’s Blog

Tumor otak pun bisa jadi berkah, kisah Bubu dan Baba 3

26 desember 2015 

Baba di operasi nyaris 8 jam.

Alhamdulillah semua berjalan lancar.
Selama menikah kami tidak pernah pergi berdua, selalu bersama anak-anak kami. Honeymoon pertama kami adalah di Siloam. Bedanya dia di ruang ICU, aku di ruang tunggu🤗.

Alhamdulillah Baba sadar tiga jam setelah operasi, tidak sampe tiga hari. Alhamdulillah. Dan langsung mengenali aku. Kami tinggal di ruma sakit selama enam hari.

28 desember 2015

Baba mulai menjalankan food combining

31 januari 2015

Baba di perbolehkan pulang, dan.bisa.jumatan lagi di komplek..masyaAllah😍

3 januari 2016

Hasil PA keluar. Hasilnya.. grade IV, terganas, jadi harus segera dilanjutkan treatment radiasi 30x, dan kemoterapi selama 3 cycles.

11 januari 2016

Radiasi pertama

Pola makan selama radiasi dan kemo tetep food combining. Alhamdulillah setiap tes darah hasilnya selalu baik.

Selama menjalani radiasi Bubu menyiapkan buah buahan dan juga salad untuk bekal. Baba berhenti meng konsumsi protein hewani.

Baba juga mulai meng konsumsi obat-obatan selama radiasi plus temodal yaitu kemo secara oral. Aku tahu berat bagi Baba meminum sekian banyak obat-obatan, yang selama ini dia hindari. Baba ikhlas menjalaninya demi kami keluarga kecilnya. Protokoler yang dilakukan sebelum menenggak tablet-tablet itu, Baba membaca doa dan dzikir, memohon pada sang Illahi.

Awal februari 2016

Mulai menjalani diet Alkaline, belajar raw food, diet lalap, Baba semakin segar dan sehat meski dalam tahap radiasi. Tanpa kemo lagi, karena Baba tidak mau melanjutkan kemo. Belajar diet alkaline dengan bapak Wied Harry.

Akhir februari 2016

Selesai radiasi, hasil CT Scan sangat baik, para dokter ikut bangga.
Baba juga memakai helm elektromagnet, hasil scannya selalu membaik.

Awal maret 2016 

Memutuskan berhenti semua obat-obatan. Termasuk tidak pernah mengkonsumsi food suplement dan obat-obatan herbal. Semua pure alami tanpa olahan.
Masyaallah..

Baba tetap konsisten menjaga pola makan food combining alkaline dan semangat untuk sehat.

Amazingly, pandangannya mulai membaik. Baba bisa kembali membaca dan juga mengaji. Alhamdulillah per 3 bulan MRI hasilnya selalu membaik.


Sampai saat ini, sudah enam bulan sekali cek up, dan dinyatakan sudah tidak aktif.
Kami tak hentinya bersyukur menerima anugerah ini di masa yang ramah informasi.

Dan kami begitu mendapat indahnya manfaat dari silaturahmi. Surrounding by amazing family and lovely friends… Mereka semua selalu siap membantu kami, masyaAllah.
Alhamdulillah.

Maka nikmat Tuhan kamu mana yang kau dustakan?

Selama ini kami, bersama anak anak:
♡ bersyukur selalu tak berujung.
♡ selalu berserah diri pada Allah dan tak hentinya menuntut mukjizatNya. Allah suka di tuntut umatNya.
♡ yakin akan kemampuan tubuh kita dalam penyembuhan.
♡ menikmati segala prosesnya.
♡ percaya dengan ikhtiar-ikhtiar yang dijalani karena setiap orang memiliki jalan ceritanya masing masing.
♡ penuhi dengan kasih sayang dan terus produksi endorphin
♡ menanamkan happy thoughts pada kami dan anak anak kami, Sae, Uma dan Nesto. Kami minta mereka simpan dalam sub concious mind mereka Baba yang sehat, ceria, dan barokah. Alhamdulillah ini adalah bagian terpenting dari segala ikhtiar kami, anak anak soleh yang senantiasa mendoakan Babanya. Masya Allah
Subhannallah walhamdulillah walailahaillallah huallahuakbar.

Miracles do exist

Allahuakbar😇😇😇
9 agustus 2017

Dinda Aspira

☆☆

Indah sekali ya, teman-teman Lavender. Bubu dan Baba adalah teladan-teladan bagi kami di group. Sikap yang positif dan selalu happy membuat kami selalu bahagia mengikuti perjalanan Bubu dan Baba.

Dan betapa saya menyaksikan bahwa kurikulum tumor otak ini adalah kurikulum yang bisa dijalani dengan sangat baik sehingga hasil ujian nya pun mendapat nilai lulus gemilang dari Sang Pemberi Tumor dan Penyembuhnya.

Semoga kisah ini bisa menyemangati teman-teman semua. Aamiin.