Kanker membantu kita menjadi manusia cerdas, yang selalu ingat hari akhir


Seorang murid berguru ke Negeri Cina, untuk menemukan metode pengobatan bagi orang tuanya yang kala itu sedang sakit. Ia berguru dan berguru, belajar berbagai hal untuk bisa dibawa ke tanah airnya dan mengobati orang tuanya. Di tengah pencariannya, tiba-tiba ia menerima kabar bahwa salah satu orang tuanya meninggal dunia. Betapa ia sedih luar biasa. Dunianya seakan hancur, ia frustasi dan susah menerima fakta bahwa ia tak bisa membantu kesembuhan orang tuanya.

Di tengah kesedihannya, gurunya menghiburnya, “Jangan bersedih. Yang sudah berpulang sudahlah. Sekarang kau fokus untuk belajar sebaik mungkin, dan sepulangnya kau ke tanah air, berbuatlah banyak kebaikan dengan ilmumu ini.”

Murid ini sangat kecewa dan tidak bisa terima kalau gurunya tidak memahami kesedihannya. Betapa tega.

“Kok guru tidak memahami kesedihanku? Aku sangat mencintai mereka, kenapa aku tidak boleh sedih?”

“Kamu sedih itu untuk dirimu sendiri atau untuk orang tuamu? Bukankah kau sedih karena kau merasa ditinggal? Engkau sedih karena mereka tak ada lagi di sini untuk menyayangimu, bukan? Kau bersedih bukan karena cintamu pada mereka, tapi karena kau merasa tidak lengkap tanpa mereka.” tegas sang guru.

“Coba kau fikirkan, apa yang diinginkan Sang Maha Pengasih Penyayang yang sangat mencintaimu, dengan memanggil orang terkasihmu pulang menghadapNya? Mungkin Ia ingin kau lanjutkan perjuangannya, mungkin ia ingin kau mulai mandiri, mungkin menurutNya kini giliranmu memimpin keluarga besarmu. Coba renungkan, apa cinta yang diberikanNya melalui kejadian ini?” tanya gurunya.

Si murid tercenung. Iya, ya… kebaikan apa yang didapat oleh orang tuanya kalau ia bersedih? Sesungguhnya ia sedih bukan karena ia cinta pada orang tuanya, tapi karena ia cinta pada dirinya sendiri. 

Rasa takut, khawatir, gamanglah yang membuatnya menangis. Ia terus tercenung, sibuk mencerna kesadaran barunya.

“Saya mengerti, Guru. Memang kesedihan ini timbul bukan dari kecintaanku pada orang tuaku, tapi kekhawatiranku atas masa depanku. Aku memang belum ikhlas, belum bisa menerima ketentuan Sang Maha Kasih atasku, aku merasa ditinggal dan diperlakukan tidak adil oleh Sang Maha Kuasa. Padahal Ia sangat mencintaiku lebih dari orang tuaku sekalipun,” jawabnya.

“Kalau kau benar-benar cinta pada orang tuamu, berbuatlah sebanyak-banyaknya kebaikan, karena kebaikan itulah yang akan sampai pada orang tuamu,” tegas gurunya dengan lembut.

Si murid pun tersenyum. Kini ia mengerti, mengapa kesedihannya sesungguhnya bukan didasari oleh cintanya pada orang tuanya, tapi lebih pada egonya yang sedang tersakiti karena tidak bisa menerima kehendak Sang Kuasa.

Kini si murid telah menjadi guru, dan kepada semua orang ia berpesan, “Janganlah bersedih saat ada yang meninggal. Berbuatlah kebaikan sebanyak-banyaknya, karena kebaikan itu yang akan sampai kepada mereka. Kesedihanmu mungkin malah akan menjauhkanmu dari mereka.”

Teman,

Memang kita selalu sedih saat ada yang meninggal. Dan kita seringkali tenggelam dalam kesedihan itu. Bahkan ada yang bertahun-tahun belum bisa “move on” dari kesedihan ditinggal oleh mereka yang terkasih. 

Kita menyebut kesedihan itu sebagai “bukti cinta” tapi sadarkah kita, bahwa kesedihan itu tak menghasilkan kebaikan apa-apa bagi mereka yang kita cintai? Baik yang berpulang dan mereka yang masih ada?

Saat ada yang meninggal, berbuatlah kebaikan sebanyak-banyaknya. 

🌹Orang tua akan mendapatkan pahala amal jariah dari semua kebaikan anaknya. 

🌹Sambunglah silaturahmi mereka dengan teman-teman dan saudara-saudara mereka. 

🌹Lanjutkan perjuangan mereka, 

🌹Berikan doa yang tak putus-putus setiap hari. Itulah bukti cinta pada mereka yang sudah tiada.

Kita bisa jadi sedih, tapi mereka bisa jadi sedang tersenyum memandang pada kita semua sambil berucap, “Sabar ya. Kita bisa bertemu lagi nanti, pada waktunya. Kini jalankanlah tugasmu. Doakan kami, dan berbuatlah kebaikan, karena itu yang membuat kami bahagia.”

Doakanlah bahwa mereka bahagia dalam taman surgaNya. 

Jagalah kesehatan lahir batin denga kebahagiaan dan rasa syukur, agar makin banyak kebaikan yang dapat kita perbuat. 
Berbuatlah kebaikan pada semua yang mereka kenal. Hentikan kesedihan, karena kesedihan membuat kita jauh dari apapun yang dapat menolong mereka di sana.

Mereka yang selalu ingat kematian adalah manusia-manusia yang paling cerdas, karena mereka punya perspektif perencanaan jangka paling panjang. Dan berpulangnya seseorang kepada Sang Pencipta adalah momentum untuk mengingatkan kita selalu bahwa hidup ada akhirnya. Dan kita harus selalu siap. 

Maka jadikanlah proses kematian sebagai proses pendewasaan diri, proses mendekatkan diri kepadaNya. 

Doakan terus agar suatu hari kita semua bisa berkumpul kembali dalam surgaNya, untuk menikmati jamuanNya di atas piring emas, memakai sutra hijau, di dalam istana-istana indah. Sungai mengalir di bawah kita, dan berbagai jenis buah-buahan bertebaran di mana-mana. Tanah pun indah, semerbak seperti kasturi, dan batunya ditaburi berlian dan batu permata. Tak akan ada lagi sakit, tak akan lagi ada sedih. Yang ada hanya damai dan bahagia bersama.

Insya Allah.. keindahan ini yang akan kita nikmati kalau kita terus berbuat kebaikan, amal sholeh hanya untukNya. Fokus untuk membangun dan melayani orang lain dalam jalanNya. Aamiin.

Everything shall pass one day. 

This too shall pass.

http://ow.ly/lp9T309BTVl

Kisah sukses menjalani pengobatan tumor otak berkat banyak tobat dan syukur

list-3

Oleh Aldi Sadana, Lavender Ribbon Cancer Support Group, dalam rangka #WorldCancerDay dan Ulang Tahun Lavender Ribbon Cancer Support Group

Diagnosa Dokter

Saya Aldi Sadana, penerima kurikulum tumor otak Glioblastoma Multiform, terdiagnosa 13 Maret 2012. Saat itu saya sedang mengendarai mobil dan tiba-tiba tanpa peringatan, saya pingsan dan kejang-kejang seperti orang sakit ayan. Kaki saya tiba-tiba menginjak pedal gas secara ekstrem tak terkendali. Tabrakan pun tak dapat dielakkan. Saya langsung dimasukkan ke rumah sakit Jakarta. Dokterpun mendapati ada tumor otak dengan jenis astioblastoma di otak saya. Saya memeriksakan diri ke berbagai rumah sakit dan semua memberi diagnosa yang sama.

Saat itu kami, saya dan keluarga, memutuskan untuk tidak melakukan tindakan apa-apa karena tumor ini dirasa tidak mengganggu aktifitas secara umum. Tapi jika badan terlalu lelah atau pikiran terlalu membebani maka saya akan segera mengalami kejang dan seringkali setelah kejang, kemampuan otak saya mengalami penurunan yang cukup signifikan.  Saat itu, saya hanya mengkonsumsi obat anti kejang, delantin, guna mengurangi dan menghindari terjadinya kejang. Ketika saya mengalami kejang kembali maka dokter menyarankan untuk meningkatkan dosis pemakaian dari delantin, dari 1 butir per hari dan meningkat sampai terakhir 3 butir per hari.

Tindakan Lanjut

Kondisi saya mengalami penurunan ketika memasuki tahun 2015, pada bulan Januari. Keluarga melihat hal ini dan menjadi sangat takut dan berbicara dengan saya dan melalui saran beberapa rekan dari keluarga, pada akhirnya kami memutuskan untuk melakukan pengobatan lanjutan yaitu mengangkat tumor tersebut. Kami pergi ke dokter dan mendapat rekomendasi untuk dilakukan biopsi guna mengidentifikasi jenis tumornya guna mendapatkan pengobatan yang tepat guna. Pemeriksaan awal pun dilakukan sebelum dilakukan biopsi yang dilakukan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat ( RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta Pusat. Biopsi dilakukan pada 16 April 2015 setelah itu dilakukan pengobatan melalui kemoterapi, radioterapi serta obat oral. Pengobatan lanjutan ini dilakukan dengan kemoterapi sebanyak 8 kali, radioterapi sebanyak 30 kali serta pengobatan oral selama menjalani pengobatan tersebut. Pengobatan berjalan dari 1 Juni 2015 sampai 15 Juli 2015. Kami mendapati bahwa badan saya mengalami perubahan menuju kesembuhan.

Satu bulan setelah selesai pengobatan lanjutan, tiba-tiba, pada tanggal 18 Agustus 2015, kondisi saya tiba-tiba menurun secara drastis. Saya tidak bisa makan dan minum secara normal karena kepala saya pusing dan suhu tubuh cenderung menurun hingga telapak kaki dan tangan terasa dingin sehingga saya sesekali menggigil kedinginan. Kondisi ini sangatlah membuat keluarga saya khawatir, karena dokter akan menyarankan saya untuk menjalani pengobatan kemoterapi dan radioterapi dengan dosis yang ditingkatkan untuk menghancurkan tumornya, yang sudah pasti akan merusak sel-sel tubuh yang sehat. Kami sekeluarga sudah tidak tahu lagi harus melakukan apalagi, kemudian ayah saya mendapat berita pada harian Kompas, 21 Agustus 2015, mengenai hasil penelitian dari Dr. Warsito P. Taruno M.Eng. Kami segeramencari informasi guna menghubungi tim dari Dr. Warsito untuk melakukan konsultasi.

Perawatan Alternatif

Kami akhirnya berkunjung ke tempat praktek dari Dr. Warsito pada tanggal 25 Agustus 2015. Kami membawa serta data hasil perawatan lengkap dan di dapati dari hasil MRI terakhir yang  menunjukkan jika aktifitas tumor masih aktif dan volumenya masih tetap. Tim Dr. Warsito melakukan scandan dikonfirmasi dari hasil scanmesin scanciptaan Dr. Warsito. Beliau menyarankan untuk saya menggunakan sarung kepala, helm, untuk mereduksi serta menghilangkan tumornya secara tuntas. Terapi awal ini dilakukan dengan komposisi 3 sampai 4 kali pemakaian dengan durasi per pemakaian adalah 15 menit. Kami diminta untuk melakukan pemeriksaan kembali pada bulan ke tiga, yaitu bulan Oktober guna melihat perkembangan dari hasil terapi. Selama melakukan terapi periode pertama ini, saya merasakan perubahan badan dan hasil penghancuran dari sel tumor itu  dibuang melalui keringat, buang air kecil dan buang air besar. Hasil pembuangan ini terlihat dengan terlihat pada warna air seni yang lebih gelap dari biasanya disertai dengan bau yang tidak biasa serta diikuti dengan warna feses yang lebih gelap dengan disertai bau yang menusuk . Hal ini juga ditunjukkan dengan keluarnya keringat ketika terapi dengan bau yang kurang menyenangkan. Selama melakukan terapi ini, keadaan badan menjadi normal kembali karena tubuh sudah dapat mengkonsumsi makanan dan minuman secara normal.

Perubahan Pola Makan

Selama terapi berjalan, tubuh dapat mengkonsumsi makanan dan minuman secara normal tetapi jumlah yang dikonsumsi tidak sebanyak pada kondisi sehat. Saya lebih banyak mengkonsumsi sayuran yang diolah melalui pengukusan atau perebusan, dan menghindari proses penggorengan. Dari yang saya pelajari proses memasakan melalui menggoreng serta membakar kurang baik karena tingkat keasaman yang dihasilkan cenderung rendah, di bawah pH 7. Makanan yang digoreng dan dibakar – terutama dibakar – juga mempunyai efek karsinogenik. Saya menghindari makanan yang diolah kraena saya tak mau makan makanan yang sudah ditambahkan berbagai zat tambahan seperti pengawet, pemanis, pewarna, atau perasa. Makanan yang sudah diproses juga cenderung menurunkan tingkat keasaman tubuh sehingga terjadi proses oksidasi pada tubuh.

Kami melakukan penelitian pustaka guna memperoleh tindakan yang tepat  untuk menghindari keadaan memburuk. Kami mendapatkan bahwa, buah-buahan sebaiknya dikonsumsi sebelum makan makanan berat, paling tidak 30 menit sebelum makan berat. Hal ini dikarenakan meningkatkan efektifitas penyerapan kandungan vitamin, mineral dan enzim yang terkandung didalam buah serta serat. Berbagai pola makan ini saya jalankan.

Perubahan Cara Berpikir

Saya pun belajar banyak jika kita sedang mengalami suatu keadaan tubuh yang kurang baik, sebaiknya tidak memikirkan penyakit. Ketika keadaan tubuh sedang dalam keadaan sakit, kita akan berpikir khawatir serta takut mengenai penyakit tersebut dan hal ini menstimulasi produksi asam lambung berlebihan, yang bisa menyebabkan sakit maag. Hal ini menyebabkan tingkat keasaman lambung menurun dan menyebabkan tubuh berontak. Tatkala saya mengalami kondisi sungguh tidak mengenakan karena badan menjadi tidak menyenangkan. Hal ini saya antisipasi dengan berdoa serta mengatakan hal-hal yang baik terhadap diri saya sendiri guna menghindari timbulnya kondisi hati dan pikiran yang negatif. Hal ini harus secara konstan dilakukan guna menghindari kondisi hati dan pikiran yang dropsecara tiba-tiba. Setiap kali serangan datang saya tenangkan diri saya dengan kata-kata yang menenangkan, bahwa saya sehat dan tidak khawatir.

Saya juga mendengarkan lagu yang memberi kekuatan dan membangun iman kepercayaan kepada Tuhan dan merenungkan serta melakukan klaim atas janji Tuhan atas saya mengenai kesembuhan dan kesehatan. Dengan banyak berserah diri pada Tuhan saya bisa bersyukur. Hal ini membuat saya bisa menerima keadaan saya dengan kerelaan hati dan percaya kepada Tuhan karena Dia yang menciptakan dan memelihara hidup saya. Hati yang gembira adalah obat yang manjur terhadap kondisi dan keadaan badan setiap orang. Saya benar-benar membuktikannya dalam kondisi ini.

Saya merasa saya berhasil menjalani semua ini karena saya banyak mengaku dosa dan minta ampun atas dosa maupun pelanggaran yang sudah dilakukan baik itu sengaja atau tidak sengaja. Saya juga banyak bersyukur atas apa pun keadaan yang dialami dan memperkatakan guna melakukan klaim atas janji Tuhan yang terbaik dan sempurna bagi umat-Nya yang percaya penuh kepada-Nya.

Keluarga saya, ayah dan ibu, mendukung dan memberi penghiburan dalam melihat kondisi ini sebagai bagian dalam mengalami kuasa Tuhan atas saya. Keluarga besar serta kerabat juga banyak menghibur dan memberi kekuatan dalam menerima serta menjalani keadaan saya secara positif. Semua dukungan ini sangat membantu saya.

Saya merasa terberkati karena bisa mendapat kekuatan dari berbagi pengalaman di Lavender serta dapat memberi kekuatan kepada sesama penderita tumor maupun kanker. Semoga ke depan Lavender dapat lebih banyak berbagi visi dan misi dengan para penerima kurikulum tumor maupun kanker. Lavender dapat pula mempertemukan mereka yang sudah sembuh dengan mereka yang masih menjalani proses pengobatan untuk bisa menyemangati dan  memberikan dukungan.

Pemeriksaan Lanjutan

Kami melakukan pemeriksaan kedua pada tanggal 23 Oktober 2015 guna memeriksa hasil terapi helm.Hasil scan menunjukkan jika tumor sudah mengecil tetapi aktifitasnya masih cukup tinggi. Dr. Warsito mengatakan meskipun aktifitas dari tumor yang masih cukup tinggi tidak berarti tidak dapat menurun dan sembuh total, tetapi hasilnya akan sempurna jika saya selalu mengikuti saran pemakaian alat dan terapi.

Kami pun melakukan pemeriksaan lanjutan pada tanggal 29 Desember 2015 dan mendapatkan jika aktifitas tumornya masih tinggi tetapi menghasilkan kemajuan cukup berarti. Pemeriksaan selanjutnya dilakukan pada 26 Mei 2016, hasil scan menunjukkan kalau tumor mengalami pelemahan serta pengecilan luas permukaannya. Pada bulan Agustus, tanggal 25, hasil scanmenunjukkan penurunan aktifitas tumor yang lebih rendah daripada pemeriksaan sebelumnya.

Hasil scan paling mengejutkan adalah pada tanggal 22 Desember 2016, karena hasil terapi memberikan hasil nyata, pengecilan dari sisa tumor lebih luas daripada hasil pemeriksaan sebelumnya.  Hal ini mengejutkan baik bagi pihak Dr. Warsito maupun pihak keluarga saya, terutama saya.

Pengobatan alternatif yang sudah ditemukan oleh seorang anak bangsa Indonesia mempunyai nilai yang boleh dikatakan sempurna dengan efek samping yang minimal.

Penutup

Kesehatan adalah suatu hal yang vital dalam kehidupan ini, dimana Tuhan sudah percayakan kepada kita untuk memelihara serta mengelolanya dengan baik. Hal ini dapat dilakukan dengan menjaga kesehatan dengan menjaga pola makan sehat, berolahraga secara teratur, menjaga hati dan pikiran kita karena dari situlah terpancar kehidupan. Hidup mungkin bisa dikatakan sulit, tetapi bukan berarti harus terpusat pada kesulitan dan kesusahannya melainkan berpegang dan percaya kepada janji-janji Tuhan serta rencanaNya yang baik dan sempurna bagi kita umat percaya. Hati yang bersyukur, itulah yang membuat kita bisa melihat betapa baiknya Tuhan kepada kita. Kita semua harus tetap bersyukur, menjaga sikap hati serta menjaga konsumsi makanan dan minuman. Inilah kunci sehat yang sesungguhnya.

Kalau pasangan, keluarga atau kerabat anda menghadapi kanker, tetaplah bersyukur. Kondisi ini memang tidak menyenangkan, selalulah berpikir positif dan berikan dukungan moril. Hal ini akan sangat membantu.

Ya Tuhan, aku panjatkan syukur atas segala karuniaMu yang telah Kau limpahkan dengan memberikan pengalaman mengalami kanker, karena berkat pengalaman itu aku bisa memberi semangat dan dukungan antar penderita dan orang-orang yang sedang pengobatan atau perlakuan dan sudah mengalami kesembuhan.

Ingin membantu teman-teman penerima kanker di Lavender? Silakan kirim donasi anda ke Yayasan Lavender Indonesia di Bank Mandiri nomor rekening 1270007342932. Kirim bukti transfer ke Indri Yusnita via wa atau sms di +62 815 8700930.

Penerima anugerah kanker harus selalu tenang dan bahagia, jauhi stress

img_5469-1Sahabat Blog Taman Lavender tercinta,

Banyak yang menghubungi saya dan menyatakan kegalauannya saat C care ditutup. Mereka galau, resah, merasa kehilangan arah, tak tahu harus bagaimana, dan sedih berkelanjutan. Banyak pula yang marah pada pemerintah atau dokter-dokter yang melakukan penekanan dan mendorong ditutupnya C Care.

Wah, padahal salah satu hal yang paling penting bagi semua penerima anugerah kanker adalah tenang dan jauh dari stress dalam bentuk apapun. Rasa negatif apapun, termasuk resah, khawatir, sedih, marah, akan menurunkan imunitas, dan mendorong hormon stress, siap berperang melawan penyebab kemarahan, keresahan, dan apapun itu.

Continue reading “Penerima anugerah kanker harus selalu tenang dan bahagia, jauhi stress”

Cobaan: Seperti Anak Panah,Dimundurkan Untuk Melesat Ke Depan

  

Pernahkah kamu mengalami suatu keadaan yang membuat hidupmu seperti ditarik mundur, jauh dari harapan?

Pernahkah kamu melihat orang-orang yang dulunya berapi-api tiba-tiba seperti kehilangan semangat bahkan lenyap dari peredaran?

Pernahkan kamu melihat atau bahkan merasakan bahwa orang-orang yang pernah kau lihat (atau bahkan dirimu sendiri) mengalami kemunduran itu, lalu tiba-tiba melesat cepat ke depan dan meraih banyak hasil?

Kita seperti anak panah di tangan Allah. Ada masa-masa anak panah itu melesat cepat terlepas dari busurnya menuju sasaran yang dimaksudkan.

Ada masanya anak-anak panah itu harus istirahat dalam kantongNya. Namun di saat yang diperlukan, anak panah itu akan dipasang dalam busurNya ditarik kebelakang.. Sejauh mungkin untuk mencapai suatu sasaran.

Semakin jauh tarikannya, semakin jauh pula jarak yang akan ditempuh. Semakin panjang rentang busur menarik ancang-ancang, makin cepat pula anak panah itu melesat.

Jika kau seperti dalam keadaan yang mundur, bersabarlah. Mungkin Allah tengah meletakkanmu di busurNya. Menarikmu jauh-jauh ke belakang, agar di saat kau dilepaskan, kau memiliki daya dorong yang kuat untuk mencapai sasaran. Dan jika kau melihat seorang teman seperti tengah mengalami kemunduran, jangan buru-buru menghakimi dengan mengatakan “Apinya telah padam” atau.. “Jangan-jangan dia ada dosa..”

Jadilah teman yang baik, yang mendampingi di saat temanmu sedang “dimundurkan” karena dengan demikian kau ikut menjaganya agar tidak sampai putus asa dan terkulai

Kamu, aku, dia, mereka, kita… adalah anak-anak panah ditangan Allah..! Hidup untuk mencapai suatu sasaran yang sudah ditetapkan

Tetaplah semangat, tetaplah bersabar, tetaplah tekun dalam kebenaran, dan senantiasa ISTIQOMAH dan tetaplah berdoa memohon kepada Allah, niscaya Allah akan memberi lebih dari yg kita mohon .