Takut kanker? santai saja, relax justru membebaskan dari kanker

what you resist will persist.png

Janet selalu takut akan kanker. Selama bertahun-tahun, dia melakukan semua jenis ritual anti-kanker – mengonsumsi suplemen vitamin D, memakai tabir surya, makan brokoli. Bukan hanya kanker yang dikhawatirkannya. Setelah didorong menuruni tangga di usia satu tahun oleh adik laki-lakinya, ia tidak pernah merasa aman di dunia ini. Ia takut segala macam penyakit, racun, pintu dan jendela yang tidak terkunci, penyusup, dan sejumlah bahaya potensial lainnya yang tidak disebutkan namanya.

Ia takut melakukan kesalahan dan takut akan ketidaksempurnaan. Di kartu rapor kelas satu, gurunya menulis, “Suatu hari nanti Janet akan merasa membuang-buang waktu untuk sangat khawatir melakukan kesalahan.”

Rasa takut Janet terwujud sebagai ketegangan kronis di tubuhnya, terutama di perut dan daerah panggulnya, seolah-olah dia bisa menangkal ketakutan dan mengendalikan dunianya dengan mengeraskan daerah-daerah itu. Dan selintas ia sering berfikir, “Kalau suatu hari aku memiliki masalah kesehatan, pasti asalnya dari perut dan panggul.”

Benar saja, di sanalah dia sakit, dimulai dengan usus buntu yang terus menerus. Kemudian suatu hari, bertahun-tahun setelah menopause, mulai pendarahan di vaginal. Jauh di lubuk hatinya, ia tahu ada kanker.

Janet menikah dengan orang yang sangat dicintainya. Meskipun dia sangat senang bisa menikah, pernikahannya menimbulkan kegelisahan yang luar biasa, karena kecenderungan perfeksionisnya muncul, bersamaan dengan ketakutannya bahwa sekarang ia bisa kehilangan pria yang dicintainya. Suara ketakutan di kepalanya memiliki satu kata yang selalu ada: “Hati-hati.”

Janet merasa bahwa rasa takut telah melemahkan sistem kekebalan tubuhnya dan membiarkan kanker rahimnya bertahan di tubuhnya. Ia sadar, tapi kesadarannya tidak membuatnya belajar mengatasi rasa takut, malah rasa takut bertambah parah. Ia selalu takut pada dokter, jarum, rumah sakit, dan rasa sakit, dan hal-hal itu sekarang merupakan bagian rutin dari hidupnya.

Jadi tidak heran kalau setahun setelah pengobatan kanker secara agresif, kankernya kambuh lagi. Masuk akal bagi Janet. Ia faham bahwa ketika area tubuh secara kronis tegang, ia menghalangi aliran energi, oksigen, dan sirkulasi ke bagian tubuh itu, dan membuatnya rentan terhadap penyakit. Maka ia pun memutuskan untuk mengobati kankernya yang kedua kali ini dengan pengobatan emosi.

Kini ia sadar kanker mengharuskannya untuk sepenuhnya menghadapi ketakutan terburuknya, satu napas pada satu waktu, detik demi detik, satu kaki gemetar di depan lain. Ia menjadi mindful, menikmati apa adanya yang terjadi di detik ini. Janet kemudian menemukan bahwa ia tak lagi ditekan dengan rasa takut. Kini ia memeluknya, menjadi sepenuhnya hadir bersamanya, dan belajar darinya. Dan sekarang dia bebas dari kanker, lahir batin bebas.

Sebuah Studi Mengevaluasi Korelasi Antara Kanker dan Stres

Sebuah studi Norwegia yang dilakukan melalui University of Bergen, diikuti 62.591 orang di Norwegia, bisa menjelaskan hal ini. Survei ini menemukan bahwa orang yang paling cemas, 25 persen lebih tinggi kemungkinan memiliki sel abnormal yang mungkin menjadi kanker.

Belajarlah dari setiap kejadian, dan tumbuhlah bersamanya.

FEAR (takut) bisa diterjemahkan menjadi False Evidence Appearing Real (Kejadian Palsu yang Dirasakan Nyata). Jadi sesungguhnya yang ditakutkan itu tidak ada, palsu saja. Pelan-pelan kita perlu menikmati apa yang dianggap menakutkan. Misalnya takut jarum suntik. Saat diharuskan menghadapinya, coba hadapi dan rasakan, ternyata jarum ini tidak apa-apa kan. Sebagai ibu kita bisa bilang ke anak, “Kayak semut saja kok.” Nah kita perlu lakukan ini ke diri sendiri. Setiap hal yang kita takuti bisa kita katakan, “Kayak digigit semut saja kok.”

Setiap manusia punya respon yang berbeda terhadap stress. Orang yang satu bisa tetap tenang secara fisiologis, tubuhnya tetap relaks dan hatinya damai – dalam menghadapi kejadian kehidupan yang mengerikan sekalipun. Orang lain bisa ketakutan setengah mati, tegang dan seluruh tubuhnya kaku saat menghadapi hal yang sama.

Stress itu penting, tapi respon kita terhadap stress yang menentukan respons fisiologis tubuh, bukan sumber stress nya itu sendiri.

Belajar dari rasa takut akan membantu kita berdamai dengan berbagai kejadian. Belajar mengatasi rasa takut akan satu hal membuat kita mampu menghadapi hal berikutnya, satu persatu. Maka kejadian seberat apapun justru akan membantu kita sembuh secara emosional, mental, dan spiritual. Kejadian yang penuh tekanan tidak perlu menjadi penyebab masalah kesehatan.

Belajarlah terus perlahan-lahan. Pelajari teknik bernafas untuk mendamaikan perasaan dan jiwa, dan berdampak pada sel-sel yang damai. Penuhi hati dan pikiran dengan energi cinta dan hal-hal yang positif, maka sel dan seluruh organ pun akan menguat dan penuh dengan energi. Berolah raga, tertawa, tersenyum, berpelukan, bersilaturahmi dengan penuh bahagia bisa mengeluarkan berbagai zat yang menyembuhkan seluruh tubuh.

Ibadah, dzikir, tafakur, mengembalikan kita kepada Sang Maha Besar. Nikmatilah kehadiranNya di hati kita, agar tak ada lagi yang bisa menakutkan kita. BersamaNya, rasakan kedamaian dan kebahagiaan setiap saat, bebas dari rasa takut.

Nah, rasa takut apa yang bisa mulai kita atasi hari ini dengan lebih baik? Apa rasanya bebas dari rasa takut yang satu ini? Bagaimana agar kita terus bebas lahir batin dari rasa takut yang satu ini seumur hidup?

 

Sumber:

Does Fear Cause Cancer? 

Ditayangkan juga di:

Apa yang ditakuti, itu yang terjadi, juga kanker

Pentingnya sentuhan dalam mempertahankan kehidupan

RescuingHug.jpg

Sudah pernah dengar cerita mengenai bayi kembar yang salah satunya dinyatakan tak ada harapan (ada di: Tidak merespon tangisan anak = penyiksaan)?

Saat bayi yang lahir sehat diletakkan di sebelah saudara kembarnya yang konon tak ada harapan, dan tangannya memeluk saudaranya, tiba-tiba saudara kembarnya membaik kondisinya dan akhirnya selamat dan bisa tumbuh baik. Sentuhan itu sangat penting. Mungkin yang terpenting bagi seorang bayi.

Bukan hanya bayi, semua manusia amat sangat membutuhkan sentuhan. Pelukan, tepukan sayang, belaian, sapaan untuk menyampaikan penghargaan, semua adalah obat yang sangat penting bagi umat manusia.

Saat sentuhan kulit terjadi, otak kita memproduksi zat-zat kimia yang sangat kita butuhkan dalam proses kesembuhan:

Endorfin

Zat inilah yang membuat kita merasa bahagia saat sentuhan terjadi. Endorfin adalah zat anti sakit, sehingga sangat dibutuhkan oleh semua orang yang sedang sakit. Zat ini juga meningkatkan daya tahan tubuh terhadaop berbagai jenis penyakit.

Oksitosin

Zat ini menimbulkan perasaan dicintai dan membuat kita mampu mencintai. Cinta adalah emosi yang sangat dibutuhkan sel-sel tubuh kita untuk bisa sembuh. Frekwensi cinta sangat tinggi, sehingga seluruh sel akan menjadi lebih sejahtera dengan perasaan cinta ini.

Kedua zat kimia ini harus terus dipertahankan dalam tubuh, karena keberadaannya tak terus menerus ada. Ia harus terus dipicu oleh berbagai jenis sentuhan.

Kortisol

Zat ini adalah zat yang diproduksi saat stress terjadi. Kortisol yang terlalu lama ada dalam tubuh melemahkan daya tahan tubuh dan membuat berbagai jenis penyakit subur berkembang, termasuk kanker. Adanya endorfin dan oksitosin membuat tubuh merasa nyaman dan kadar kortisol dalam tubuh pun turun.

Kortisol mampu bertahan lama dalam tubuh, sementara endorfin dan oksitosin harus terus menerus dipicu. Jadi ini sinyal dari Sang Pencipta, bahwa satu pencetus stress saja cukup untuk menimbulkan sakit, dan untuk itu kita harus membantu tubuh dengan menyayangi makhluk lain dengan melakukan berbagai jenis sentuhan yang membahagiakan makhluk lain tersebut, dan otomatis membahagiakan dan menyembuhkan kita juga.

Salah satu resep yang saya sering dengar adalah pelukan. Peluklah anak, pasangan, keluarga dan siapapun yang kita cintai, minimal 12 kali secara total setiap hari. Apalagi kalau sedang ada sakit, berikan lebih banyak lagi pelukan dan cinta kepada semua makhlukNya. Teruslah menjadi kepanjangan tanganNya melimpahkan cinta pada semua makhlukNya di seluruh muka bumi.

Jadi, kalau dihitung, sudah berapa pelukan kita berikan hari ini? Bagaimana caranya agar mulai hari ini kita bisa memberikan minimal 12 pelukan setiap hari?

Mengapa hal itu penting bagi kita?

Bagi keluarga kita?

Sumber:

Mau Melatih Bayi? Hati-hati Malah Merusak Otak
Tidak merespon tangisan anak = penyiksaan