Mau sembuh? sehat secara permanen? Kuncinya hanya yang satu ini.

Syaikh Ali Musthafa Thantawi pernah mengatakan, “Jangan sekali-kali mengabaikan hati. Karena hati adalah rumah bagi dua hal paling suci di dunia ini, yaitu iman dan cinta.”

Abu Bisyr, seorang murid Ali bin Abu Thalib ra, menyampaikan bahwa orang-orang terdahulu sedikit beramal tetapi mendapatkan pahala yang banyak. Hal itu disebabkan karena mereka selalu menjaga hati, sehingga hati-hati mereka sungguh bersih. (Az-Zuhud II/600).

Imam Ibnul Qayyim pun pernah mengatakan:
“Hati ibarat raja bagi anggota tubuh.
Anggota tubuh akan melaksanakan segala perintah hati dan menerima semua arahannya.
Anggota tubuh tidak akan melaksanakan sesuatu kecuali yang berasal dari keinginan hati.
Oleh karena itu, hati merupakan penanggung jawab mutlak terhadap anggota tubuh karena seorang pemimpin akan ditanya tentang yang dipimpinnya.
Jika demikian adanya, maka upaya memberi perhatian yang besar terhadap hal-hal yang menyehatkan dan meluruskan hati merupakan upaya terpenting.
Dan memperhatikan penyakit-penyakit hati serta berusaha untuk mengobatinya merupakan ibadah yang paling besar.”

“Di dalam hati tersebut terdapat perasaan cinta dan iman kepada Allah, perasaan ikhlas dan tawakkal kepadaNya.
Semua itu merupakan unsur kehidupan bagi hati.
Namun, di dalam hati juga terdapat rasa cinta kepada syahwat, lebih mementingkannya serta memperturutkan segala keinginan.
Di dalam hati juga terdapat sifat hasad, sombong, ujub, dan ambisi untuk menjadi orang yang paling unggul, serta bertindak semena-mena di muka bumi dengan kekuasaan yang dimiliki.
Semua itu merupakan unsur yang akan membuat diri hancur dan binasa.”

“Karena itu, surga tidak bisa dimasuki oleh orang-orang yang berhati kotor, dan tidak pula bisa dimasuki oleh orang yang di hatinya terdapat noda-noda dari kotoran tersebut.

Barangsiapa yang berusaha mensucikan hatinya di dunia, lalu menemui Allah (mati) dalam keadaan bersih dari kotoran-kotoran hati, maka dia akan memasuki surga tanpa penghalang. Adapun orang yang belum membersihkan hatinya selama di dunia, maka jika kotoran hati tersebut dari najis murni -seperti hatinya orang-orang kafir-, maka dia tidak akan bisa masuk surga selama-lamanya.

Dan jika kotoran tersebut sekadar noda-noda yang mengotori hati, maka dia akan memasuki surga setelah disucikan di dalam neraka dari kotoran – kotoran tersebut.”

Itu kata orang-orang terdahulu.

Lalu Bruce Lipton, seorang dokter dan peneliti di abad 21 mengatakan bahwa penyakit tidak diturunkan. Orang yang punya DNA yang sama belum tentu memiliki penyakit yang sama. Ternyata persepsi, pikiran yang menciptakan suasana bagi sel yang akhirnya menentukan seseorang sehat atau tidak. Dan ini semua asalnya dari hati.

WHO pun sudah mengakui bahwa sehat yang sesungguhna yharus mencakup sehat rohani, bukan hanya sehat jasmani.
Ternyata kini diakui bahwa 90% penyakit berasal dari stress, yang berasal dari penyakit hati.

Ternyata benar, di dalam tubuh ada segumpal daging yang kalau ia baik, semua tubuh akan baik dan kalau ia buruk seluruh tubuh akan buruk.

Maka, marilah kita hidup secara sadar. Hidup dari detik ke detik, menyadari apa yang ada dalam hati. Setiap ada hal yang tidak enak di hati menandakan ada yang harus diperbaiki.
Rasa tidak terima, kesal, tidak suka, apalagi kalau sampai benci dan dendam, perlu segera diobati.

Ada yang bikin kesal, mengkhianati kita, membuat kita marah, langsung katakan, “Allah ingin memberikan surga, maka orang ini dikirimNya padaku agar aku membuktikan bahwa aku sabar dan layak masuk surga.

Langsung bilang, “Alhamdulillah,” dan langsung syukuri. Hadapi dengan perasaan syukur. Lakukan berulang-ulang, insya Allah syukur dan sabarlah yang akan menjadi raja, menggantikan berbagai sakit dalam hati.

Jadi perasaan apa yang bisa kita perbaiki dengan lebih baik lagi agar kita bisa menjaga hati lebih baik lagi hari ini?

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. 91: 8-10).

via Hati: sumber sukses dunia dan akhirat — Indira Abidin’s Blog

Tumor otak pun bisa jadi berkah, kisah Bubu dan Baba 3

26 desember 2015 

Baba di operasi nyaris 8 jam.

Alhamdulillah semua berjalan lancar.
Selama menikah kami tidak pernah pergi berdua, selalu bersama anak-anak kami. Honeymoon pertama kami adalah di Siloam. Bedanya dia di ruang ICU, aku di ruang tunggu🤗.

Alhamdulillah Baba sadar tiga jam setelah operasi, tidak sampe tiga hari. Alhamdulillah. Dan langsung mengenali aku. Kami tinggal di ruma sakit selama enam hari.

28 desember 2015

Baba mulai menjalankan food combining

31 januari 2015

Baba di perbolehkan pulang, dan.bisa.jumatan lagi di komplek..masyaAllah😍

3 januari 2016

Hasil PA keluar. Hasilnya.. grade IV, terganas, jadi harus segera dilanjutkan treatment radiasi 30x, dan kemoterapi selama 3 cycles.

11 januari 2016

Radiasi pertama

Pola makan selama radiasi dan kemo tetep food combining. Alhamdulillah setiap tes darah hasilnya selalu baik.

Selama menjalani radiasi Bubu menyiapkan buah buahan dan juga salad untuk bekal. Baba berhenti meng konsumsi protein hewani.

Baba juga mulai meng konsumsi obat-obatan selama radiasi plus temodal yaitu kemo secara oral. Aku tahu berat bagi Baba meminum sekian banyak obat-obatan, yang selama ini dia hindari. Baba ikhlas menjalaninya demi kami keluarga kecilnya. Protokoler yang dilakukan sebelum menenggak tablet-tablet itu, Baba membaca doa dan dzikir, memohon pada sang Illahi.

Awal februari 2016

Mulai menjalani diet Alkaline, belajar raw food, diet lalap, Baba semakin segar dan sehat meski dalam tahap radiasi. Tanpa kemo lagi, karena Baba tidak mau melanjutkan kemo. Belajar diet alkaline dengan bapak Wied Harry.

Akhir februari 2016

Selesai radiasi, hasil CT Scan sangat baik, para dokter ikut bangga.
Baba juga memakai helm elektromagnet, hasil scannya selalu membaik.

Awal maret 2016 

Memutuskan berhenti semua obat-obatan. Termasuk tidak pernah mengkonsumsi food suplement dan obat-obatan herbal. Semua pure alami tanpa olahan.
Masyaallah..

Baba tetap konsisten menjaga pola makan food combining alkaline dan semangat untuk sehat.

Amazingly, pandangannya mulai membaik. Baba bisa kembali membaca dan juga mengaji. Alhamdulillah per 3 bulan MRI hasilnya selalu membaik.


Sampai saat ini, sudah enam bulan sekali cek up, dan dinyatakan sudah tidak aktif.
Kami tak hentinya bersyukur menerima anugerah ini di masa yang ramah informasi.

Dan kami begitu mendapat indahnya manfaat dari silaturahmi. Surrounding by amazing family and lovely friends… Mereka semua selalu siap membantu kami, masyaAllah.
Alhamdulillah.

Maka nikmat Tuhan kamu mana yang kau dustakan?

Selama ini kami, bersama anak anak:
♡ bersyukur selalu tak berujung.
♡ selalu berserah diri pada Allah dan tak hentinya menuntut mukjizatNya. Allah suka di tuntut umatNya.
♡ yakin akan kemampuan tubuh kita dalam penyembuhan.
♡ menikmati segala prosesnya.
♡ percaya dengan ikhtiar-ikhtiar yang dijalani karena setiap orang memiliki jalan ceritanya masing masing.
♡ penuhi dengan kasih sayang dan terus produksi endorphin
♡ menanamkan happy thoughts pada kami dan anak anak kami, Sae, Uma dan Nesto. Kami minta mereka simpan dalam sub concious mind mereka Baba yang sehat, ceria, dan barokah. Alhamdulillah ini adalah bagian terpenting dari segala ikhtiar kami, anak anak soleh yang senantiasa mendoakan Babanya. Masya Allah
Subhannallah walhamdulillah walailahaillallah huallahuakbar.

Miracles do exist

Allahuakbar😇😇😇
9 agustus 2017

Dinda Aspira

☆☆

Indah sekali ya, teman-teman Lavender. Bubu dan Baba adalah teladan-teladan bagi kami di group. Sikap yang positif dan selalu happy membuat kami selalu bahagia mengikuti perjalanan Bubu dan Baba.

Dan betapa saya menyaksikan bahwa kurikulum tumor otak ini adalah kurikulum yang bisa dijalani dengan sangat baik sehingga hasil ujian nya pun mendapat nilai lulus gemilang dari Sang Pemberi Tumor dan Penyembuhnya.

Semoga kisah ini bisa menyemangati teman-teman semua. Aamiin.

Menjadi pribadi sehat lahir batin bebas kanker

I love and approve of myself,just as I am.png

Galen, seorang dokter Yunani yang terkenal cermat dalam pengamatannya terhadap pasien, mencatat bahwa wanita dengan kanker payudara sering memiliki beberapa kemiripan.

W. Douglas Brodie, MD. menyimpulkan dari pengamatannya dalam menghadapi ribuan pasien kanker selama 28 tahun, bahwa ada beberapa ciri kepribadian tertentu yang secara konsisten hadir pada individu yang rentan terhadap kanker.

Anita Moorjani, seorang penerima kurikulum kanker stadium 4 yang berhasil bangkit dan sembuh, dalam interview dan berbagai tampilan publiknya juga menyatakan bahwa para penerima kurikulum kanker punya kepribadian tertentu. Dan Louise Hay menyebutkan bahwa kanker biasanya didasari oleh sebuah emosi tertentu, resentment, penolakan atau pemberontakan dalam diri atas apa yang terjadi padanya. Dalam hal apa mereka berontak dan menolak kenyataan hidup, itulah yang menentukan jenis kankernya.

Kepribadian khas yang rentan kanker biasanya punya kecenderungan menekan “emosi beracun” terutama kemarahan. Biasanya mulai di masa kecil, individu ini telah menahan permusuhan dan emosi yang tidak dapat diterima lainnya. Mereka sering kali merasa kesepian dan takut tidak diterima. Persepsi ini belum tentu benar, tapi persepsi inilah yang menjadi kenyataan yang membuat tubuh merespon dan mencoba mellindungi diri dengan menimbulkan kanker.

Misalnya pasien kanker payudara umumnya:

  • Pernah mengalami kejadian, atau membentuk pola hidup di masa kecil yang membuatnya merasa tak dicintai. Pola ini ditangkap otak sebagai “pola hidup di dunia” dan karenanya mereka ulang lagi dengan pasangan, sehingga muncul masalah dengan pasangan yang memperdalam perasaan tidak berharga dan tidak dicintai.
  • Dengan perasaan itu mereka merasa harus melayani dan membahagiakan orang agar bisa mendapatkan cinta dan perhatian tersebut. Jadi mereka melayani bukan karena merasa penuh cinta, tapi kosong akan cinta. Maka mereka akan banyak berharap dan menuntut. Saat kecewa sulit untuk ikhlas.
  • Kebutuhan itu membuat mereka sangat teliti, patuh, bertanggung jawab, peduli, pekerja keras, dan biasanya sangat cerdas.
  • Harapan yang tinggi dan kecenderungan untuk menuntut membuat mereka sering berkata, “Seharusnya begini, seharusnya begitu,” atau dengan khawatir bertanya “Bagaimana kalau begini,” dan “Bagaimana kalau begitu.” Dengan pikiran-pikiran ini mereka menciptakan sendiri beban hidupnya yang setiap hari memakan energinya.
  • Kebiasaan mencerna berbagai perasaan negatif itu menimbulkan kemarahan, kebencian dan kadang permusuhan yang tersimpan rapih dan sulit mereka keluarkan.
  • Mereka “menderita dalam diam,” dan menanggung beban mereka tanpa keluhan. Mereka tak mau dibantu karena takut bantun itu mengurangi peran mereka sebagai “pemberi cinta bagi dunia.”
  • Tidak mampu menghadapi stress, dan sebelum kanker muncul biasanya ada stress pamungkas yang tak bisa mereka ajak “berdamai” dengan tubuh, pikiran dan jiwa.

Dalam proses penyembuhan, aspek kepribadian ini perlu diatasi. Senang membahagiakan orang lain, melayani, sangat teliti, adalah sangat baik. Tapi emosi yang mendasarinya perlu diubah. Apapun metode penyembuhan yang dipilih, penyembuhan emosi dan spiritual perlu dilakukan, agar kanker tidak datang kembali.

Beberapa hal yang perlu dipelajari oleh para penerima kurikulum kanker dan semua yang memiliki kepribadian ini adalah:

  • Menyadari bahwa mereka dipenuhi dengan cinta. Sang Maha Cinta lah yang menciptakan mereka dengan penuh cinta dan menyediakan berbagai kebutuhan mereka dengan penuh cinta sampai akhir hayat.
  • Menikmati dan menghayati cinta tersebut, dan memenuhi seluruh hati dan jiwa mereka dengan penuh cinta sehinga mereka yakin dan percaya diri bahwa mereka penuh cinta dan layak dicintai.
  • Membangun kebiasaan mengisi seluruh sel tubuh dengan cinta, sehingga “cinta” benar-benar menjadi kebiasaan, darah daging dan nyawanya.
  • Saat mereka yakin bahwa mereka penuh cinta, mampu memenuhi diri dengan cinta mereka akan lebih mampu untuk ikhlas, karena apapun yang terjadi mereka yakin itu adalah ketentuan Allah, yang terlihat buruk sekalipun.
  • Setelah tubuh, jiwa dan pikiran terisi penuh dengan cinta, baru bisa melayani dan membahagiakan orang lain dengan dasar cinta, bukan untuk kebutuhan diri.
  • Melepaskan kebiasaan berharap, menuntut dan berkata, “Seharusnya…” atau “Bagaimana kalau…” Semua baik dan semua adalah kesempatan untuk belajar.
  • Memaafkan dan mensyukuri semua yang terjadi di masa lalu dan yakin akan kebaikan Sang Pencipta dan Sang Maha Pelindung untuk masa depan sehingga lebih mudah hidup 100% di masa ini saja, menikmatinya secara penuh.
  • Melayani dan membahagiakan orang lain, dengan dasar cinta, tanpa berharap ada balasan, tanpa tuntutan, dan tidak mempermasalahkan apapun balasan dan respon dari yang dicintai.
  • Bahagia saat semua orang lain bahagia, termasuk mereka yang dianggap pernah “punya masalah” di masa lalu, sehingga uneg-uneg masa lalu bisa dilepas. Di tahap inilah hati pelan-pelan disembuhkan, lapis demi lapis dan pelan-pelan semua trauma bisa disembuhkan.

Tak ada sakit yang tak ada obatnya, begitu juga penyakit hati. Jadi marilah kita jaga hati baik-baik. Yang ada di hati seringkali hanya prasangka buruk, tapi prasangka buruk inilah yang membinasakan kita semua.

Yuk, apa yang bisa kita bersihkan dari hati kita hari ini dengan lebih baik lagi? Apa rasanya kalau bisa bersih dari hal itu? Dan bagaimana caranya agar kita selalu bebas daripadanya?

Sumber:

http://www.healingcancernaturally.com/emotions-and-cancer-healing.html#positivethinkingserotonine

You Can Heal Your Life, Louise Hay

Cancer Forced Me To Forgive

Ditayangkan juga di: Kepribadian Rawan Kanker

Sembuhmu dan sakitmu tergantung kata-katamu.

words can kill or heal.png

Sahabat Lavender,

Di bawah ini adalah kiriman di group Lavender Ribbon Cancer Support Group dari blog Gubug Reot, dengan beberapa editing. Sangat menginspirasi. Silakan disimak, semoga bermanfaat..

Kami sedang antri periksa kesehatan. Dokter yang kami kunjungi ini termasuk dokter sepuh –berusia sekitar tujuh puluhan.

“Silakan duduk,” sambut dr. Paulus.
Aku duduk di depan meja kerjanya, mengamati pria sepuh berkacamata ini yang sedang sibuk menulis identitasku di kartu pasien.

“Apa yang dirasakan, Mas?”

Aku pun bercerita tentang apa yang kualami sejak 2013 hingga saat ini. Mulai dari awal merasakan sakit maag, peristiwa-peristiwa kram perut, ambruk berkali-kali, gejala dan vonis tipes, pengalaman opnam dan endoskopi, derita GERD, hingga tentang radang duodenum dan praktek tata pola makan Food Combining yang kulakoni.

“Kalau kram perutnya sudah enggak pernah lagi, Pak,” ungkapku, “Tapi sensasi panas di dada ini masih kerasa, panik juga cemas, mules, mual. Kalau telat makan, maag saya kambuh. Apalagi setelah beberapa bulan tata pola makan saya amburadul lagi.”

“Tapi buat puasa kuat ya?”

“Kuat, Pak.”

“Orang kalau kuat puasa, harusnya nggak bisa kena maag!”

Aku terbengong, menunggu penjelasan.

“Asam lambung itu,” terang Pak Paulus, “Diaktifkan oleh instruksi otak kita. Kalau otak kita bisa mengendalikan persepsi, maka asam lambung itu akan nurut sendiri. Dan itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang puasa.”

“Maksudnya, Pak?”

“Orang puasa ‘kan malamnya wajib niat to?”

“Njih, Pak.”

“Nah, niat itulah yang kemudian menjadi kontrol otak atas asam lambung. Ketika situ sudah bertekad kuat besok mau puasa, besok nggak makan sejak subuh sampai maghrib, itu membuat otak menginstruksikan kepada fisik biar kuat, asam lambung pun terkendali. Ya kalau sensasi lapar memang ada, namanya juga puasa. Tapi asam lambung tidak akan naik, apalagi sampai parah. Itu syaratnya kalau situ memang malamnya sudah niat mantap. Kalau cuma di mulut bilang mau puasa tapi hatinya nggak mantap, ya tetap nggak kuat. Makanya niat itu jadi kewajiban, ‘kan?”

“Iya, ya, Pak,” aku manggut-manggut nyengir.

“Manusia itu, Mas, secara ilmiah memang punya tenaga cadangan hingga enam puluh hari. Maksudnya, kalau orang sehat itu bisa tetap bertahan hidup tanpa makan dalam keadaan sadar selama dua bulan. Misalnya puasa dan buka-sahurnya cuma minum sedikit. Itu kuat. Asalkan tekadnya juga kuat.”

Aku melongo lagi.

“Makanya, dahulu raja-raja Jawa itu sebelum jadi raja, mereka tirakat dulu. Misalnya puasa empat puluh hari. Bukanya cuma minum air kali. Itu jaman dulu ya, waktu kalinya masih bersih. Hahaha,” ia tertawa ringan, menambah rona wajahnya yang memang kelihatan masih segar meski keriput penanda usia.

Kemudian ia mengambil sejilid buku di rak sebelah kanan meja kerjanya. Ya, ruang praktek dokter dengan rak buku. Keren sekali. Aku lupa judul dan penulisnya. Ia langsung membuka satu halaman dan menunjukiku beberapa baris kalimat yang sudah distabilo hijau.

“Coba baca, Mas: ‘mengatakan adalah mengundang, memikirkan adalah mengundang, meyakini adalah mengundang’ jadi kalau situ memikirkan; ‘ah, kalau telat makan nanti asam lambung saya naik’ apalagi berulang-ulang mengatakan dan meyakininya, ya situ berarti mengundang penyakit itu. Maka benar kata orang-orang itu bahwa perkataan bisa jadi doa. Nabi Musa itu, kalau kerasa sakit, langsung mensugesti diri; ah sembuh. Ya sembuh. Orang-orang debus itu nggak merasa sakit saat diiris-iris kan karena sudah bisa mengendalikan pikirannya. Einstein yang nemuin bom atom itu konon cuma lima persen pendayagunaan otaknya. Jadi potensi otak itu luar biasa,” papar Pak Paulus.

“Jadi kalau jadwal makan sembarangan berarti sebenarnya nggak apa-apa ya, Pak?”

“Nah, itu lain lagi. Makan harus tetap teratur, ajeg, konsisten. Itu agar menjaga aktivitas asam lambung juga. Misalnya situ makan tiga kali sehari, maka jarak antara sarapan dan makan siang buatla sama dengan jarak antara makan siang dan makan malam. Misalnya, sarapan jam enam pagi, makan siang jam dua belas siang, makan malam jam enam petang. Kalau siang, misalnya jam sebelas situ rasanya nggak sempat makan siang jam dua belas, ya niatkan saja puasa sampai sore. Jangan mengundur makan siang ke jam dua misalnya, ganti aja dengan minum air putih yang banyak. Dengan pola yang teratur, maka organ di dalam tubuh pun kerjanya teratur. Nah, pola teratur itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang yang puasa dengan waktu buka dan sahurnya.”

“Ooo, gitu ya Pak,” sahutku baru menyadari.

“Tapi ya itu tadi. Yang lebih penting adalah pikiran situ, yakin nggak apa-apa, yakin sembuh. Allah sudah menciptakan tubu kita untuk menyembuhkan diri sendiri, ada mekanismenya, ada enzim yang bekerja di dalam tubuh untuk penyembuhan diri. Dan itu bisa diaktifkan secara optimal kalau pikiran kita optimis. Kalau situ cemas, takut, kuatir, justru imunitas situ turun dan rentan sakit juga.”

Pak Paulus mengambil beberapa jilid buku lagi, tentang ‘enzim kebahagiaan’ endorphin, tentang enzim peremajaan, dan beberapa tema psiko-medis lain tulisan dokter-dokter Jepang dan Mesir.

“Situ juga berkali-kali divonis tipes ya?”

“Iya, Pak.”

“Itu salah kaprah.”

“Maksudnya?”

“Sekali orang kena bakteri thypoid penyebab tipes, maka antibodi terhadap bakteri itu bisa bertahan dua tahun. Sehingga selama dua tahun itu mestinya orang tersebut nggak kena tipes lagi. Bagi orang yang fisiknya kuat, bisa sampai lima tahun. Walaupun memang dalam tes widal hasilnya positif, tapi itu bukan tipes. Jadi selama ini banyak yang salah kaprah, setahun sampai tipes dua kali, apalagi sampai opnam. Itu biar rumah sakitnya penuh saja. Kemungkinan hanya demam biasa.”

“Haah?”

“Iya Mas. Kalaupun tipes, nggak perlu dirawat di rumah sakit sebenarnya. Asalkan dia masih bisa minum, cukup istirahat di rumah dan minum obat tipes. Sembuh sudah. Dulu, pernah di RS Sardjito, saya anjurkan agar belasan pasien tipes yang nggak mampu, nggak punya asuransi, rawat jalan saja. Yang penting tetep konsumsi obat dari saya, minum yang banyak, dan tiap hari harus cek ke rumah sakit, biayanya gratis. Mereka nurut. Itu dalam waktu maksimal empat hari sudah pada sembuh. Sedangkan pasien yang dirawat inap, minimal baru bisa pulang setelah satu minggu, itupun masih lemas.”

“Tapi ‘kan pasien harus bedrest, Pak?”

“Ya ‘kan bisa di rumah.”

“Tapi kalau nggak pakai infus ‘kan lemes terus Pak?”

“Nah situ nggak yakin sih. Saya yakinkan pasien bahwa mereka bisa sembuh. Asalkan mau nurut dan berusaha seperti yang saya sarankan itu. Lagi-lagi saya bilang, kekuatan keyakinan itu luar biasa lho, Mas.”

Dahiku berkernyit. Menunggu lanjutan cerita.

“Dulu,” lanjut Pak Paulus, “Ada seorang wanita kena kanker payudara. Sebelah kanannya diangkat, dioperasi di Sardjito.
Nggak lama, ternyata payudara kirinya kena juga. Karena nggak segera lapor dan dapat penanganan, kankernya merembet ke paru-paru dan jantung. Medis di Sardjito angkat tangan.

Dia divonis punya harapan hidup maksimal hanya empat bulan.”

“Lalu, Pak?” tanyaku antusias.

“Lalu dia kesini ketemu saya. Bukan minta obat atau apa.
Dia cuma nanya; ‘Pak Paulus, saya sudah divonis maksimal empat bulan.

Kira-kira bisa nggak kalau diundur jadi enam bulan?’

Saya heran saat itu, saya tanya kenapa.

Dia bilang bahwa enam bulan lagi anak bungsunya mau nikah, jadi pengen ‘menangi’ momen itu.”

“Waah.. Lalu, Pak?”

“Ya saya jelaskan apa adanya. Bahwa vonis medis itu nggak seratus persen, walaupun prosentasenya sampai sembilan puluh sembilan persen,
tetap masih ada satu persen berupa kepasrahan kepada Tuhan yang bisa mengalahkan vonis medis sekalipun.
Maka saya bilang; ‘sudah Bu, situ nggak usah mikir bakal mati empat bulan lagi.
Justru situ harus siap mental, bahwa hari ini atau besok situ siap mati.
Kapanpun mati, siap!’
Begitu, situ pasrah kepada Tuhan, siap menghadap Tuhan kapanpun. Tapi harus tetap berusaha bertahan hidup.”

Aku tambah melongo. Tak menyangka ada nasehat macam itu.
Kukira ia akan memotivasi si ibu agar semangat untuk sembuh, malah disuruh siap mati kapanpun.
O iya, mules mual dan berbagai sensasi ketidaknyamanansudah tak kurasakan lagi.

“Dia mau nurut. Untuk menyiapkan mental siap mati kapanpun itu dia butuh waktu satu bulan.
Dia bilang sudah mantap, pasrah kepada Tuhan bahwa dia siap.
Dia nggak lagi mengkhawatirkan penyakit itu, sudah sangat enjoy.
Nah, saat itu saya cuma kasih satu macam obat. Itupun hanya obat anti mual biar dia tetap bisa makan dan punya energi untuk melawan kankernya.

Setelah hampir empat bulan, dia check-up lagi ke Sardjito dan di sana dokter yang meriksa geleng-geleng. Kankernya sudah berangsur-angsur hilang!”

“Orangnya masih hidup, Pak?”

“Masih. Dan itu kejadian empat belas tahun lalu.”

“Wah, wah, wah..”

“Kejadian itu juga yang menjadikan saya yakin ketika operasi jantung dulu.”

“Lhoh, njenengan pernah Pak?”

“Iya.
Dulu saya operasi bedah jantung di Jakarta. Pembuluhnya sudah rusak. Saya ditawari pasang ring.

Saya nggak mau. Akhirnya diambillah pembuluh dari kaki untuk dipasang di jantung.

Saat itu saya yakin betul sembuh cepat. Maka dalam waktu empat hari pasca operasi, saya sudah balik ke Jogja, bahkan dari bandara ke sini saya nyetir sendiri.
Padahal umumnya minimal dua minggu baru bisa pulang.
Orang yang masuk operasi yang sama bareng saya baru bisa pulang setelah dua bulan.”

Pak Paulus mengisahkan pengalamannya ini dengan mata berbinar. Semangatnya meluap-luap hingga menular ke pasiennya ini. Jujur saja, penjelasan yang ia paparkan meningkatkan harapan sembuhku dengan begitu drastis.

Persis ketika dua tahun lalu pada saat ngobrol dengan Bu Anung tentang pola makan dan kesehatan. Semangat menjadi kembali segar!

“Tapi ya nggak cuma pasrah terus nggak mau usaha.
Saya juga punya kenalan dokter,” lanjutnya,
“Dulu tugas di Bethesda, aslinya Jakarta, lalu pindah mukim di Tennessee, Amerika.

Di sana dia kena kanker stadium empat. Setelah divonis mati dua bulan lagi, dia akhirnya pasrah dan pasang mental siap mati kapanpun.

Hingga suatu hari dia jalan-jalan ke perpustakaan, dia baca-baca buku tentang Afrika.
Lalu muncul rasa penasaran, kira-kira gimana kasus kanker di Afrika.
Dia cari-cari referensi tentang itu, nggak ketemu. Akhirnya dia hubungi kawannya, seorang dokter di Afrika Tengah.

Kawannya itu nggak bisa jawab.
Lalu dihubungkan langsung ke kementerian kesehatan sana. Dari kementerian, dia dapat jawaban mengherankan, bahwa di sana nggak ada kasus kanker.
Nah dia pun kaget, tambah penasaran.”

Pak Paulus jeda sejenak. Aku masih menatapnya penuh penasaran juga, “Lanjut, Pak,” benakku.

“Beberapa hari kemudian dia berangkat ke Afrika Tengah.
Di sana dia meneliti kebiasaan hidup orang-orang pribumi. Apa yang dia temukan?
Orang-orang di sana makannya sangat sehat.
Yaitu sayur-sayuran mentah, dilalap, nggak dimasak kayak kita.

Sepiring porsi makan itu tiga perempatnya sayuran, sisanya yang seperempat untuk menu karbohidrat. Selain itu, sayur yang dimakan ditanam dengan media yang organik. Pupuknya organik pake kotoran hewan dan sisa-sisa tumbuhan.

Jadi ya betul-betul sehat.
Nggak kayak kita, sudah pupuknya pakai yang berbahaya, eh pakai dimasak pula. Serba salah kita.

Bahkan beras merah dan hitam yang sehat-sehat itu, kita nggak mau makan.
Malah kita jadikan pakan burung, ya jadinya burung itu yang sehat, kitanya sakit-sakitan.”

Keterangan ini mengingatkanku pada obrolan dengan Bu Anung tentang sayur mayur, menu makanan serasi, hingga beras sehat. Pas sekali.

“Nah dia yang awalnya hanya ingin tahu, akhirnya ikut-ikutan.

Dia tinggal di sana selama tiga mingguan dan menalani pola makan seperti orang-orang Afrika itu.”

“Hasilnya, Pak?”

“Setelah tiga minggu, dia kembali ke Tennessee.

Dia mulai menanam sayur mayur di lahan sempit dengan cara alami.
Lalu beberapa bulan kemudian dia check-up medis lagi untuk periksa kankernya,”

“Sembuh, Pak?”

“Ya! Pemeriksaan menunjukkan kankernya hilang.
Kondisi fisiknya berangsur-angsur membaik. Ini buki bahwa keyakinan yang kuat, kepasrahan kepada Tuhan, itu energi yang luar biasa.

Apalagi ditambah dengan usaha yang logis dan sesuai dengan fitrah tubuh.

Makanya situ nggak usah cemas, nggak usah takut..”

Takjub, tentu saja.

Pada momen ini Pak Paulus menghujaniku dengan pengalaman-pengalamannya di dunia kedokteran, tentang kisah-kisah para pasien yang punya optimisme dan pasien yang pesimis.

Aku jadi teringat kisah serupa yang menimpa alumni Madrasah Huffadh Al-Munawwir, pesantren tempatku belajar saat ini.

Singkatnya, santri ini mengidap tumor ganas yang bisa berpindah-pindah benjolannya.

Ia divonis dokter hanya mampu bertahan hidup dua bulan. Terkejut atas vonis ini, ia misuh-misuh di depan dokter saat itu.
Namun pada akhirnya ia mampu menerima kenyataan itu.

Ia pun bertekad menyongsong maut dengan percaya diri dan ibadah. Ia sowan ke Romo Kiai, menyampaikan maksudnya itu.

Kemudian oleh Romo Kiai, santri ini diijazahi (diberi rekomendasi amalan)
Riyadhoh Qur’an, yakni amalan membaca Al-Quran tanpa henti selama empat puluh hari penuh, kecuali untuk memenuhi hajat dan kewajiban primer.

Riyadhoh pun dimulai. Ia lalui hari-hari dengan membaca Al-Quran tanpa henti.

Persis di pojokan aula Madrasah Huffadh yang sekarang. Karena merasa begitu dingin, ia jadikan karpet sebagai selimut.

Hari ke tiga puluh, ia sering muntah-muntah, keringatnya pun sudah begitu bau.

Bacin, mirip bangkai tikus,kenang narasumber yang menceritakan kisah ini padaku. Hari ke tiga puluh lima, tubuhnya sudah nampak lebih segar, dan ajaibnya; benjolan tumornya sudah hilang.

Selepas rampung riyadhoh empat puluh hari itu, dia kembali periksa ke rumah sakit di mana ia divonis mati.

Pihak rumah sakit pun heran.
Penyakit pemuda itu sudah hilang, bersih, dan menunjukkan kondisi vital yang sangat sehat!

Aku pribadi sangat percaya bahwa gelombang yang diciptakan oleh ritual ibadah bisa mewujudkan energi positif bagi fisik.

Khususnya energi penyembuhan bagi mereka yang sakit.

Memang tidak mudah untuk sampai ke frekuensi itu, namun harus sering dilatih. Hal ini diiyakan oleh Pak Paulus.

“Untuk melatih pikiran biar bisa tenang itu cukup dengan pernapasan.

Situ tarik napas lewat hidung dalam-dalam selama lima detik, kemudian tahan selama tiga detik. Lalu hembuskan lewat mulut sampai tuntas. Lakukan tujuh kali setiap sebelum Shubuh dan sebelum Maghrib.

Itu sangat efektif. Kalau orang pencak, ditahannya bisa sampai tuuh detik.
Tapi kalau untuk kesehatan ya cukup tiga detik saja.”

Nah, anjuran yang ini sudah kupraktekkan sejak lama. Meskipun dengan tata laksana yang sedikit berbeda.

Terutama untuk mengatasi insomnia. Memang ampuh. Yakni metode empat-tujuh-delapan.

Ketika merasa susah tidur alias insomnia, itu pengaruh pikiran yang masih terganggu berbagai hal.

Maka pikiran perlu ditenangkan, yakni dengan pernapasan.
Tak perlu obat, bius, atau sejenisnya, murah meriah.

Pertama, tarik napas lewat hidung sampai detik ke empat, lalu tahan sampai detik ke tujuh, lalu hembuskan lewat mulut pada detik ke delapan. Ulangi sebanyak empat sampai lima kali.

Memang iya mata kita tidak langsung terpejam ngantuk, tapi pikiran menadi rileks dan beberapa menit kemudian tanpa terasa kita sudah terlelap.
Awalnya aku juga agak ragu, tapi begitu kucoba, ternyata memang ampuh. Bahkan bagi yang mengalami insomnia sebab rindu akut sekalipun.

“Gelombang yang dikeluarkan oleh otak itu punya energi sendiri, dan itu bergantung dari seberapa yakin tekad kita dan seberapa kuat konsentrasi kita,” terangnya,

“Jadi kalau situ sholat dua menit saja dengan khusyuk, itu sinyalnya lebih bagus ketimbang situ sholat sejam tapi pikiran situ kemana-mana, hehehe.”

Duh, terang saja aku tersindir di kalimat ini.

“Termasuk dalam hal ini adalah keampuhan sholat malam.

Sholat tahajud. Itu ketika kamu baru bangun di akhir malam, gelombang otak itu pada frekuensi Alpha. Jauh lebih kuat daripada gelombang Beta yang terjadi pada waktu Isya atau Shubuh.
Jadi ya logis saja kalau doa di saat tahajud itu begitu cepat ‘naik’ dan terkabul. Apa yang diminta, itulah yang diundang.
Ketika tekad situ begitu kuat, ditambah lagi gelombang otak yang lagi kuat-kuatnya, maka sangat besar potensi terwujud doa-doa situ.”

Tak kusangka Pak Paulus bakal menyinggung perihal sholat segala. Aku pun ternganga. Ia menunjukkan sampul buku tentang ‘enzim panjang umur’.

“Tubuh kita ini, Mas, diberi kemampuan oleh Allah untuk meregenerasi sel-sel yang rusak dengan bantuan enzim tertentu, populer disebut dengan enzim panjang umur. Secara berkala sel-sel baru terbentuk, dan yang lama dibuang.
Ketika pikiran kita positif untuk sembuh, maka yang dibuang pun sel-sel yang terkena penyakit.

Menurut penelitian, enzim ini bisa bekerja dengan baik bagi mereka yang sering merasakan lapar dalam tiga sampai empat hari sekali.”

Pak Paulus menatapku, seakan mengharapkan agar aku menyimpulkan sendiri.

Puasa?”
“Ya!”
“Senin-Kamis?”

“Tepat sekali! Ketika puasa itu regenerasi sel berlangsung dengan optimal.

Makanya orang puasa sebulan itu juga harusnya bisa jadi detoksifikasi yang ampuh terhadap berbagai penyakit.”

Lagi-lagi,aku manggut-manggut.

Tak asing dengan teori ini.

“Pokoknya situ harus merangsang tubuh agar bisa menyembuhkan diri sendiri.

Jangan ketergantungan dengan obat. Suplemen yang nggak perlu-perlu amat,nggak usahlah. Minum yang banyak, sehari dua liter, bisa lebih kalau situ banyak berkeringat, ya tergantung kebutuhan.

Tertawalah yang lepas, bergembira, nonton film lucu tiap hari juga bisa merangsang produksi endorphin, hormon kebahagiaan. Itu akan sangat mempercepat kesembuhan.

Penyakit apapun itu! Situ punya radang usus kalau cemas dan khawatir terus ya susah sembuhnya.

Termasuk asam lambung yang sering kerasa panas di dada itu.”

Terus kusimak baik-baik anjurannya sambil mengelus perut yang tak lagi terasa begah. Aneh.

“Tentu saja seperti yang saya sarankan, situ harus teratur makan, biar asam lambung bisa teratur juga.

Bangun tidur minum air hangat dua gelas sebelum diasupi yang lain.

Ini saya kasih vitamin saja buat situ, sehari minum satu saja. Tapi ingat, yang paling utama adalah kemantapan hati, yakin, bahwa situ nggak apa-apa. Sembuh!”

Begitulah. Perkiraanku yang tadinya bakal disangoni berbagai macam jenis obat pun keliru.

Hanya dua puluh rangkai kaplet vitamin biasa, Obivit, suplemen makanan yang tak ada kaitannya dengan asam lambung apalagi GERD.

Hampir satu jam kami ngobrol di ruang praktek itu, tentu saja ini pengalaman yang tak biasa. Seperti konsultasi dokter pribadi saja rasanya.

Padahal saat keluar, kulihat masih ada dua pasien lagi yang kelihatannya sudah begitu jengah menunggu.

“Yang penting pikiran situ dikendalikan, tenang dan berbahagia saja ya,” ucap Pak Paulus sambil menyalamiku ketika hendak pamit.

Dan jujur saja, aku pulang dalam keadaan bugar, sama sekali tak merasa mual, mules, dan saudara-saudaranya.

Terima kasih Pak Paulus.

Kadipiro Yogyakarta, 2016

Dari wordpress GUBUGREOT