Berdoa itu prioritas utama dalam pengobatan, bukan pendukung

 

Dalam acara halal bihalal Lavender bersama dr. Ferdinan, semua peserta diajak mengangkat tangan. Dan Ibu Rahma Syarief (80 tahun), ibunda Mbak Rahmi, salah seorang anggota Lavender, berkata, “Dok, saya tidak bisa angkat tangan.”

“Sudah sejak kapan tidak bisa angkat tangan?” tanya dr. Ferdinan.

“Sudah sejak tujuh bulan lalu, dok,” kata Ibu Rahma.

“Ayo kita coba yuk. Angkat saja tangan sebisanya, kita coba angkat sambil berdoa pada Allah ya,” ajak dr. Ferdinan.

Dan dr. Ferdinan pun mulai membimbing untuk bisa berdoa bersama memohon kesediaan Allah mengangkat tangan Ibu Rahma.

“Yaa Allah, Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim, Yaa Kariim
hamba mohon dengan izinMu, dengan ridhaMu, dengan rahmatMu dan berkahMu karunialah hamba kekuatanMu. Karuniailah hamba kekuatanMu.
Yaa Allah, karuniailah hamba kekuatanMu untuk mengangkat tangan ini,” seru dr. Ferdinan

“Angkat terus tangannya, Bu,” ia pun menyemangati Bu Rahma. Mbak Titik, yang juga punya masalah yang sama setelah operasi ikut pula mencoba mengangkat tangannya.

“Yaa Allah, hanya Engkaulah yang bisa menambah kekuatan diatas kekuatan hamba. Hanya kepada Engkaulah hamba memohon untuk ditambahkan kekuatan diatas kekuatan yang telah Engkau karuniakan kepada hamba.

Hamba mohon Yaa Allah tambahlah kekuatan hamba, perbesarlah kekuatan hamba dan sempurnakanlah kekuatan hamba, hanya Engkaulah yang bisa menyempurnakannya Yaa Allah

Yaa Allah, jadikanlah kekuatan yang Engkau karuniakan kepada hamba bermanfaat bagi diri hamba, agama hamba, penghidupan hamba dan hari kemudian hamba.
Aamiin, aamiin ya rabbal ’alamin.”


Selama dr. Ferdinan berdoa dan menyeru kepada Allah swt Bu Rahma dan Mbak Titik terus mengangkat tangan mereka dan di akhir doa bersama tersebut keduanya sudah mengangkat tangan sampai maksimal. Dan keduanya pun menangis tersedu-sedu. Dan semua yang hadir pun larut dalam haru.

Setelah tujuh bulan tak bisa mengangkat tangan, dan setelah lima tahun tak meneteskan air mata Bu Rahma bisa mengangkat tangan dan menangis haru meneteskan air mata di hadapanNya. Air mata penuh syukur dan takjub akan kebesaranNya.

Allah memang Maha Besar.
Dr. Ferdinan berkata bahwa beliau sudah menuntut ilmu ke berbagai negara, sampai ke Amerika. Di seantero penjuru dunia tersebut itulah beliau menyimpulkan bahwa Sang Maha Kuasalah sumber kesembuhan paling hebat. Tak ada yang bisa menyamai kebesaranNya, karena memang Sang Penciptalah yang menciptakan sakit dan mengangkatNya.

Kita seringkali meremehkan Allah, dan tidak memprioritaskanNya dalam proses penyembuhan. Nomor satu yang dicari adalah manusia atau metode pengobatan, bukan Allah. Berdoa dan bermunajat padaNya dianggap hanya sebagai pendukung, nomor dua. Bukan metode utama.

Kita seringkali berburuk sangka pada Allah, resah karena masa lalu, khawatir akan masa depan. Bagaimana kalau begini, …. Bagaimana kalau begitu…. Tidak sadar bahwa ada Sang Maha Penjaga, Pengasih Penyayang yang memberikan musibah dan bencana bukan tanpa menghitung. Allah sudah menghitung kemampuan kita dan memberi beban benar-benar sesuai dengan kemampuan tersebut.

Kita seringkali lupa kepada Allah. Lupa bahwa Allah adalah sumber segala energi, sumber segala kekuatan dan kebesaran dalam alam semesta ini. Menciptakan alam semesta pun mudah bagiNya, apalagi hanya mengangkat sakit kita.

Mulailah buka mata, dan ingat padaNya
Mulailah percaya pada kebesaranNya
Mulailah ingat bahwa ada Sang Penyembuh yang sangat dekat
Sujudlah dan mintalah hanya padaNya
Utamakanlah Ia dalam segala proses

Karena sakit, ujian dan musibah sesungguhnya adalah caraNya memanggil
Agar kita kembali kepadaNya
Merapat dan mendekat, untuk bertemu denganNya
Proses penyembuhan adalah proses pertemuan denganNya
Jangan sampai rugi,
Mencari kesembuhan tanpa sempat bertemu denganNya.

Sekarang, bagaimanakah kita bisa makin merapat denganNya,
mendekat dengan lebih dekat lagi,
merayu dengan lebih hikmad lagi,
memohon dengan lebih khusuk lagi,
dengan lebih banyak masuk sepenuh-penuhnya dalam penghambaan padaNya?

Semoga semua yang kita lakukan mendapat ridloNya dan membuka jalan pada keberuntungan abadi dalam surgaNya.

Aamiin.

Sembuh itu urusan Allah. Hati-hati minta sembuh pada manusia, bisa-bisa syirik


Pada acara halal bihalal 30 Juli 2017 lalu kami pun kedatangan dr. Ferdinan. Kita simak paparan beliau yuk.

Minta sembuh hanya pada Allah

Hampir setiap hari kita disuguhi berita betapa banyak orang yang putus asa karena tak punya uang, atau tak mendapat tempat untuk berobat.
Pemerintah tidak punya sumber daya yang cukup untuk melayani seluruh warga negara Indonesia. Jadi kita sebagai warga negara harus belajar untuk mandiri menghadapi gangguan kesehatan kita sendiri.

Dan sesungguhnya memang hanya Allah yang menyembuhkan. Dokter, RS dan siapapun hanya menjadi alatNya. Kalau Allah menentukan kita sembuh, berapapun uang kita, ada atau tidak tempat untuk kita, kita pasti disembuhkanNya.

Pada saat kita bilang “Dok, sembuhkan saya” sesungguhnya kita sudah menyekutukan Sang Maha Kuasa. Karena dokter tak pernah bisa menyembuhkan tanpa izinNya. Jadi minta sebenarnya hanya sama Allah.
Jadi jangan pernah minta “disembuhkan oleh dokter” itu salah besar.

Kalau sakit berobatlah. Allah tidak bilang kita wajib sembuh, kita hanya wajib ikhtiar. Rasulullah SAW pun meninggal dalam keadaan sakit. Itu salah satu pelajaran dari Allah. Jadi jangan takut. Mau sembuh, mau terus sakit, bukan urusan kita. Yang penting ikhtiar, berobat. Urusan hasil itu mutlak hak Allah. Tidak usah pusing urusan hasil.

Syukuri sakit

Tidak semua orang menerima sakit. Jadi bersyukurlah kalau mendapat sakit. Sakit kita sudah tercatat 50.000 tahun lalu, kita hanya tinggal menikmati dan mensyukuri saja.

Saat kita sakit malaikat mengambil kekuatan fisik kita, rasa lezat di lidah, cahaya di wajah dan terakhir dosa. Saat kita disembuhkan semua dikembalikan kepada kita kecuali dosa. Betapa nikmatnya. Doa saat kita sakit pun menjadi doa yang dikabulkan. Betapa nikmatnya, jadi nikmati saja. Syukuri saja. Tak perlu kita keluhkan.

Jenis penyakit

Penyakit ada dua: penyakit hati dan penyakit fisik.

Penyakit hati mencakup:
– Penyakit syubhat: Kekufuran, kemunafikan, keraguan, dan kebid’ahan
– Penyakit syahwat: zina, menyukai kekejian dan kemaksiatan

Penyakit hati harus segera diatasi karena membawa kebinasaan abadi. Penyakit hati seringkali tidak disadari, tidak terlihat dan tidak terasa, sehingga yang mendapatkannya tidak merasa wajib melakukan apa-apa.

Padahal kalau kita tak sembuhkan penyakit hati kita akan binasa. Kita harus jaga diri dan keluarga untuk selalu ada dalam jalanNya, meskipun kita sedang sakit sekalipun.

Ingat saja kaum Nabi Luth yang dikuasai penyakit syahwat, Allah binasakan mereka dan jadikan mereka contoh bagi kita semua kaum di zaman berikutnya.
Ingat juga Pompei yang penuh dengan maksiat, dan kebinasaan yang Allah abadikan untuk disaksikan oleh seluruh dunia sampai sekarang.
Jagalah diri dan keluarga dari makanan, minuman, harta dan segalanya yang haram, agar kita selamat dari penyakit hati ini.

Penyakit fisik mencakup:
Berbagai penyakit yang terlihat, terdiagnosa oleh medis dan terasakan oleh badan. Biasanya disebut diakibatkan oleh virus, bakteri, gaya hidup dan lain sebagainya. Tapi sesungguhnya ujungnya adalah ketentuan Allah.

Saat penyakit hati yang tidak diatasi menjadi penyakit fisik, sesungguhnya hal ini adalah bentuk kasih sayang Allah, untuk menyadarkan hambaNya. Maka ikhtiar apapun yang diambil, yang penting adalah pertemuan dengan Allah. Kalau kita diberi sakit dan dalam proses mencari kesembuhan kita tidak bertemu dengan Allah, kita rugi besar.

Metode penyembuhan apapun bisa berhasil dan bisa gagal, hanya izin Allah yang menyembuhkan. Bukan metodenya.

Penyembuhan berdasarkan Al Quran dan hadits: metode kekuatan doa.

Doa bisa menurunkan izin Allah untuk terjadinya perubahan dalam hal apapun.
Saat berdoa, air pun bisa berubah warna, rasa dan bisa menyembuhkan.

Di sebuah sekolah, dr. Ferdinan mengadakan percobaan. Anak-anak diajak berdoa untuk mengubah warna dan rasa air. Dan ternyata benar, doa tersebut berhasil mengubah warna dan rasa air tersebut.

Banyak orang merasa bahwa doa itu kuno dan tak mungkin cukup untuk bisa menjadi obat. Padahal yang memberikan semua sakit adalah Allah, dan hanya Allah yang bisa mengangkatnya, maka berdoa kepadaNya menjadi yang paling wajib dan nomor satu, paling penting dan paling efektif.

Berfikir secara ilmiah penting, tapi berfikir ilahiah itu jauh lebih efektif. Berdoalah, insya Allah dikabulkan.

Penyembuhan Energi dan Biomagnetik

Pada saat ruh masih ada dalam tubuh manusia, manusia hidup. Kehadiran ruh secara fisik ditandai dengan adanya listrik tubuh. Saat listrik tubuh diaktivasi secara tepat, berbagai sakit dalam tubuh bisa teratasi. Hal ini dibuktikan oleh Pak Warsito dengan jaket listriknya yang membantu mengatasi kanker.

Banyak juga yang melakukan penyembuhan dengan energi. Tubuh yang sakit adalah tubuh yang lemah energi. Maka dengan diberikan energi, vibrasi atau frekwensi, energi tubuh akan meningkat dan sakit dapat diatasi.

Satu hal yang sering orang terlupa adalah bahwa Allah swt adalah sumber segala energi yang ada di alam semesta. Maka carilah energi Allah yang Maha Dahsyat dan mampu mengangkat kondisi tubuh selemah apapun. Sayangnya ini yang seringkali dilupakan.

Dzulqarnain berkata, “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka (Ya’juj dan Ma’juj). QS 18:95

Ketahuilah bahwa semua kekuatan itu milik Allah. QS4:139

Kunci kesembuhan bersama Allah

1. Al Quran

Berbagai ayat Al Quran menyatakan bahwa Quran adalah obat. Hadits-hadits Rasulullah saw pun menegaskan hal yang sama. Rajin-rajinlah membaca Al Quran.

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit- penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. QS 10:57

2. Iman dan keyakinan

Kunci segala kesembuhan sesungguhnya adalah keyakinan. Iman yang kuat bahwa Allah adalah sumber segala kekuatan dan kesembuhan.

Maka kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman. QS61:14

3. Tobat

Dia akan menambahkan kekuatan Kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa. QS11:52

Maka bertobatlah, mohonlah ampunanNya setiap saat karena setiap saat pula kita ada kemungkinan berbuat dosa, baik kita sadar atau tidak.

4. Doa

Berdoalah, karena hanya doa yang dapat menurunkan izinNya untuk mengubah ketentuanNya akan sakit yang ada pada kita. Memohonlah kepada Allah dengan ihsan, seperti kita lihat Allah dengan langsung. Karena Allah kalau sudah ridlo mengubah sesuatu hanya dengan “Kun Fayakun” (jadilah) maka terjadilah.

Doa ada yang langsung dikabulkan, ditunda oleh Allah, atau diganti dengan yang lebih baik. Jadi kalau tak langsung dikabulkan jangan merasa tidak ada gunanya. Kita tak pernah tahu apa yang terbaik. Allah pasti kasih yang terbaik. Dan kalau doa belum dikabulkan bukan berarti Allah meninggalkan kita. Ikhlas, terima, nikmati dan syukuri, terus berdoa. Mungkin Allah memang merasa kita butuh untuk terus berdoa mendekat kepadaNya. Mungkin kalau langsung dikabulkan kita akan lupa padaNya dan melakukan hal-hal yang menjauhkan kita dariNya.

Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu. QS2:86

Dalam Islam air dan udara pun bisa jadi obat, jadi tidak usah pusing, jadikan Al Quran sebagai obat.

Beberapa hal yang dapat dilakukan

1. Doa Nabi Ayub as:

Dan Ayub, ketika ia berdoa kepada Tuhannya, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”
21:83

Dan Allah pun ridlo kesembuhan diberikan untuk Nabi Ayub as setelah sakit selama 18 tahun. Dari fisik yang sakit, busuk, penuh belatung, menjadi fisik yang tampan dan seperti berusia remaja. Doa ini menjadi anti aging paling efektif sepanjang zaman. Tak ada yang mengalahkan sampai saat ini.

2. Al Kahfi 18:39

“MAA SYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH”
(Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah

3. Metode-metode Rasulullah saw:

– Meletakkan tangan di atas bagian yang sakit, dan berdoa dengan khusuk
– Meletakkan tangan di atas bagian yang sakit, atau sumber sakit (belum tentu sama dengan bagian yang sakit), berdoa dengan khusuk, dan memutar tangan tersebut berlawanan dengan arah jarum jam, seperti gerakan thawaf.
– Mendoakan air dan meminumnya

Bisa dilakukan sendiri:

Bersiaplah dengan tafakur, merenungkan kebesaran Allah, meyakininya dalam hati.
1. Ta’awwudh: A’udhu billahi minash shaitanir rajim
2. Basmalah: Bismillahirahmanirrahiim
3. Hamdalah: Alhamdulillahi rabbil’alamiin
4. Istighfar: Astaghfirullah halaziim
5. Syahadat: Asyhadu ‘al la ilaha illa l-Lah wa ashadu ‘anna Muhammadar rasulu l-Lah
6. Salawat: Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad
7. Jantung zikir: Laa ilaaha illallah wallahu akbar
‘La Ilaha Illallah, Wahdahu La Sharika Lahu, Lahul-Mulku Wa Lahul-Hamdu, Yuhyi Wa Yumitu, Wa Huwa Ala Kulli Shai’in Qadir
Laa ilaaha illallah Walaa haula Wala quwwata illa billahil ’aliyil aziim
8. Alfatihah

Yaa Allah, Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim, Yaa Kariim hamba mohon dengan izin-Mu, dengan ridha-Mu, dengan rahmad-Mu dan berkah-Mu karunialah hamba kekuatan-Mu. Karuniailah hamba kekuatan-Mu. Yaa Allah Karuniailah hamba kekuatan-Mu.

Yaa Allah, hanya Engkaulah yang bisa menambah kekuatan diatas kekuatan hamba. Hanya kepada Engkaulah hamba memohon untuk ditambahkan kekuatan diatas kekuatan yang telah Engkau karuniakan kepada hamba.

Hamba mohon Yaa Allah tambahlah kekuatan hamba, perbesarlah kekuatan hamba dan sempurnakanlah kekuatan hamba, hanya Engkaulah yang bisa menyempurnakannya Yaa Allah

Yaa Allah, jadikanlah kekuatan yang Engkau karuniakan kepada hamba bermanfaat bagi diri hamba, agama hamba, penghidupan hamba dan hari kemudian hamba. Aamiin, aamiin ya rabbal ’alamin

“MAA SYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH”
(Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). QS. Al-Kahfi, 18:39

Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. Yasin 36:82

Syukur, sumber kesembuhan sakit apapun

thank you.png

Setiap kali ada yang menghubungi saya untuk menceritakan diagnosa kankernya, saya selalu memberikan ucapan selamat, dan mensyukurinya. Saya ingin mengkondisikan otaknya bahwa kanker pun perlu disyukuri. Karena saya merasakan sendiri betapa nikmatnya menghadapi kanker dengan rasa syukur.

 

Emosi positif, seperti rasa syukur, tenang, bahagia, sangat membantu kita kreatif mencari jalan keluar dari permasalahan apapun. Badan menjadi relaks, dan energi mengalir deras untuk menyembuhkan organ apapun yang sedang sakit.

Sebaliknya, panik, sedih, demotivasi, menutup otak dari kreativitas. Kita jadi tidak bisa berfikir jernih untuk mencari solusi-solusi terbaik yang bisa kita jalani dengan nyaman dalam kondisi yang ada. Dan yang paling berbahaya, begitu kita panik, sedih atau demotivasi, tubuh menegang, otot tak lagi kendur, semua mengalami kontraksi. Bagaimana energi bisa mengalir untuk menyembuhkan? Itulah sebabnya banyak penerima kurikulum kanker yang stadiumnya naik drastis justru ketika tahu bahwa kanker itu ada.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan melalui University of Missouri-Columbia, para penerima kurikulum kanker payudara dihubungi 30 bulan setelah selesai menjalani perawatan medis. Mereka menemukan bahwa dukungan sosial, persepsi positif terhadap kanker, keyakinan agama, spiritualitas, kemampuan memberdayakan diri, dan keyakinan akan pulih adalah hal-hal yang sangat penting dalam proses pemulihan paska pengobatan, untuk terus bebas kanker.

Temuan ini konsisten dengan model kesehatan psikoneuroimunologis dimana variabel psikososial bisa mengatasi stres dan mempengaruhi hasil kesehatan.

Sebuah studi oleh Tumor Center di University of Regensburg di Regensburg, Jerman mengamati pengalaman penerima kurikulum kanker payudara di Bavaria, Jerman tujuh tahun setelah pengobatan. 42% responden menunjukkan bahwa berpikir positif dan “semangat juang” adalah saran terpenting yang akan mereka berikan kepada sesama penerima kurikulum kanker payudara lainnya.

Sebuah studi di Capitol Medical University di Beijing, menemukan bahwa emosi positif sangat terkait dengan tekanan darah di kalangan orang tua dengan penyakit kardiovaskular.

Sebuah laporan yang diterbitkanUC San Diego Center for Excellence for Research and Training in Integrative Health and the Chopra Foundation dalam jurnal American Psychological Association menyatakan bahwa pasien yang memiliki rasa syukur tidur lebih nyenyak, tidak kelelahan, dan relatif lebih tidak rentan depresi. Mereka juga relatif tidak banyak mengalami peradangan sistemik.

Berbagai penelitian yang ada membuktikan bahwa emosi positif sangat terkait dengan kesehatan. Ada bukti kuat bahwa hubungan ini nyata dan bahkan bisa menyelamatkan nyawa. Setiap pemikiran positif bisa menjadi langkah menuju kesehatan dan kehidupan yang semarak.

Dan emosi positif tidak mahal. Kita bisa langsung bersyukur kapan saja, di mana saja, dengan siapa saja, termasuk diri sendiri. Kita bisa mulai sekarang, segera. Mulailah dengan senyum, mendekatkan diri pada Sang Maha Kasih dan membangun kebiasaan latihan pernafasan, tafakur sambil terus menghayati berbagai nikmat dan karuniaNya yang sungguh luar biasa besar. Syukuri semua itu, jangan biarkan bibir kering dari namaNya, dan ikhlaskan apapun yang terjadi, karena semua pasti baik. Kita hanya harus percaya dan yakin padaNya.

Murah, meriah dan penting. Jadi apa yang dapat kita lakukan saat ini juga untuk mulai lebih banyak lagi bersyukur, lebih banyak lagi berfikir positif, tersenyum dan berbagi dengan tulus ikhlas?

Bagaimana kita bisa sembuh, sehat, bahagia dan menjadi pembawa berkah bagi dunia melalui rasa syukur kita?

Bukan karena kita butuh balasan, atau karena kebaikan orang lain, tapi karena Sang Maha Pencipta sudah sedemikian baik pada kita, dan kita hanya harus mengembalikannya dalam bentuk syukur dan berbuat baik pada hamba-hambaNya yang lain.

 

Pentingnya sentuhan dalam mempertahankan kehidupan

RescuingHug.jpg

Sudah pernah dengar cerita mengenai bayi kembar yang salah satunya dinyatakan tak ada harapan (ada di: Tidak merespon tangisan anak = penyiksaan)?

Saat bayi yang lahir sehat diletakkan di sebelah saudara kembarnya yang konon tak ada harapan, dan tangannya memeluk saudaranya, tiba-tiba saudara kembarnya membaik kondisinya dan akhirnya selamat dan bisa tumbuh baik. Sentuhan itu sangat penting. Mungkin yang terpenting bagi seorang bayi.

Bukan hanya bayi, semua manusia amat sangat membutuhkan sentuhan. Pelukan, tepukan sayang, belaian, sapaan untuk menyampaikan penghargaan, semua adalah obat yang sangat penting bagi umat manusia.

Saat sentuhan kulit terjadi, otak kita memproduksi zat-zat kimia yang sangat kita butuhkan dalam proses kesembuhan:

Endorfin

Zat inilah yang membuat kita merasa bahagia saat sentuhan terjadi. Endorfin adalah zat anti sakit, sehingga sangat dibutuhkan oleh semua orang yang sedang sakit. Zat ini juga meningkatkan daya tahan tubuh terhadaop berbagai jenis penyakit.

Oksitosin

Zat ini menimbulkan perasaan dicintai dan membuat kita mampu mencintai. Cinta adalah emosi yang sangat dibutuhkan sel-sel tubuh kita untuk bisa sembuh. Frekwensi cinta sangat tinggi, sehingga seluruh sel akan menjadi lebih sejahtera dengan perasaan cinta ini.

Kedua zat kimia ini harus terus dipertahankan dalam tubuh, karena keberadaannya tak terus menerus ada. Ia harus terus dipicu oleh berbagai jenis sentuhan.

Kortisol

Zat ini adalah zat yang diproduksi saat stress terjadi. Kortisol yang terlalu lama ada dalam tubuh melemahkan daya tahan tubuh dan membuat berbagai jenis penyakit subur berkembang, termasuk kanker. Adanya endorfin dan oksitosin membuat tubuh merasa nyaman dan kadar kortisol dalam tubuh pun turun.

Kortisol mampu bertahan lama dalam tubuh, sementara endorfin dan oksitosin harus terus menerus dipicu. Jadi ini sinyal dari Sang Pencipta, bahwa satu pencetus stress saja cukup untuk menimbulkan sakit, dan untuk itu kita harus membantu tubuh dengan menyayangi makhluk lain dengan melakukan berbagai jenis sentuhan yang membahagiakan makhluk lain tersebut, dan otomatis membahagiakan dan menyembuhkan kita juga.

Salah satu resep yang saya sering dengar adalah pelukan. Peluklah anak, pasangan, keluarga dan siapapun yang kita cintai, minimal 12 kali secara total setiap hari. Apalagi kalau sedang ada sakit, berikan lebih banyak lagi pelukan dan cinta kepada semua makhlukNya. Teruslah menjadi kepanjangan tanganNya melimpahkan cinta pada semua makhlukNya di seluruh muka bumi.

Jadi, kalau dihitung, sudah berapa pelukan kita berikan hari ini? Bagaimana caranya agar mulai hari ini kita bisa memberikan minimal 12 pelukan setiap hari?

Mengapa hal itu penting bagi kita?

Bagi keluarga kita?

Sumber:

Mau Melatih Bayi? Hati-hati Malah Merusak Otak
Tidak merespon tangisan anak = penyiksaan

Tak ada yang mengalahkan cinta, tak ada yang mengalahkan doa.

  

 Seorang istri menceritakan kisah suaminya pada tahun 1415 H, ia berkata :
Suamiku adalah seorang pemuda yang gagah, semangat, rajin, tampan, berakhlak mulia, taat beragama, dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia menikahiku pada tahun 1390 H. Aku tinggal bersamanya (di kota Riyadh) di rumah ayahnya sebagaimana tradisi keluarga-keluarga Arab Saudi. Aku takjub dan kagum dengan baktinya kepada kedua orang tuanya. Aku bersyukur dan memuji Allah yang telah menganugerahkan kepadaku suamiku ini. Kamipun dikaruniai seorang putri setelah setahun pernikahan kami.
Lalu suamiku pindah kerjaan di daerah timur Arab Saudi. Sehingga ia berangkat kerja selama seminggu (di tempat kerjanya) dan pulang tinggal bersama kami seminggu. Hingga akhirnya setelah 3 tahun, dan putriku telah berusia 4 tahun… Pada suatu hari yaitu tanggal 9 Ramadhan tahun 1395 H tatkala ia dalam perjalanan dari kota kerjanya menuju rumah kami di Riyadh ia mengalami kecelakaan, mobilnya terbalik. Akibatnya ia dimasukkan ke Rumah Sakit, ia dalam keadaan koma. Setelah itu para dokter spesialis mengabarkan kepada kami bahwasanya ia mengalami kelumpuhan otak. 95 persen organ otaknya telah rusak. Kejadian ini sangatlah menyedihkan kami, terlebih lagi kedua orang tuanya lanjut usia. Dan semakin menambah kesedihanku adalah pertanyaan putri kami (Asmaa’) tentang ayahnya yang sangat ia rindukan kedatangannya. Ayahnya telah berjanji membelikan mainan yang disenanginya…Kami senantiasa bergantian menjenguknya di Rumah Sakit, dan ia tetap dalam kondisinya, tidak ada perubahan sama sekali. Setelah lima tahun berlalu, sebagian orang menyarankan kepadaku agar aku cerai darinya melalui pengadilan, karena suamiku telah mati otaknya, dan tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya. Yang berfatwa demikian sebagian syaikh -aku tidak ingat lagi nama mereka- yaitu bolehnya aku cerai dari suamiku jika memang benar otaknya telah mati. Akan tetapi aku menolaknya, benar-benar aku menolak anjuran tersebut.

Aku tidak akan cerai darinya selama ia masih ada di atas muka bumi ini. Ia dikuburkan sebagaimana mayat-mayat yang lain atau mereka membiarkannya tetap menjadi suamiku hingga Allah melakukan apa yang Allah kehendaki.

Akupun memfokuskan konsentrasiku untuk mentarbiyah putri kecilku. Aku memasukannya ke sekolah tahfiz al-Quran hingga akhirnya iapun menghafal al-Qur’an padahal umurnya kurang dari 10 tahun. Dan aku telah mengabarkannya tentang kondisi ayahnya yang sesungguhnya. Putriku terkadang menangis tatkala mengingat ayahnya, dan terkadang hanya diam membisu.

Putriku adalah seorang yang taat beragama, ia senantiasa sholat pada waktunya, ia sholat di penghujung malam padahal sejak umurnya belum 7 tahun. Aku memuji Allah yang telah memberi taufiq kepadaku dalam mentarbiyah putriku, demikian juga neneknya yang sangat sayang dan dekat dengannya, demikian juga kakeknya rahimahullah. 

Putriku pergi bersamaku untuk menjenguk ayahnya, ia meruqyah ayahnya, dan juga bersedekah untuk kesembuhan ayahnya. 

Pada suatu hari di tahun 1410 H, putriku berkata kepadaku : Ummi biarkanlah aku malam ini tidur bersama ayahku…

Setelah keraguan menyelimutiku akhirnya akupun mengizinkannya.

Putriku bercerita :

Aku duduk di samping ayah, aku membaca surat Al-Baqoroh hingga selesai. Lalu rasa kantukpun menguasaiku, akupun tertidur. Aku mendapati seakan-akan ada ketenangan dalam hatiku, akupun bangun dari tidurku lalu aku berwudhu dan sholat –sesuai yang Allah tetapkan untukku-.

Lalu sekali lagi akupun dikuasai oleh rasa kantuk, sedangkan aku masih di tempat sholatku. Seakan-akan ada seseorang yang berkata kepadaku, “Bangunlah…!!, bagaimana engkau tidur sementara Ar-Rohmaan (Allah) terjaga??, bagaimana engkau tidur sementara ini adalah waktu dikabulkannya doa, Allah tidak akan menolak doa seorang hamba di waktu ini??”

Akupun bangun…seakan-akan aku mengingat sesuatu yang terlupakan…lalu akupun mengangkat kedua tanganku (untuk berdoa), dan aku memandangi ayahku –sementara kedua mataku berlinang air mata-. Aku berkata dalam do’aku, “Yaa Robku, Yaa Hayyu (Yang Maha Hidup)…Yaa ‘Adziim (Yang Maha Agung).., Yaa Jabbaar (Yang Maha Kuasa)…, Yaa Kabiir (Yang Maha Besar)…, Yaa Mut’aal (Yang Maha Tinggi)…, Yaa Rohmaan (Yang Maha Pengasih)…, Yaa Rohiim (Yang Maha Penyayang)…, ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hambaMu, ia telah ditimpa penderitaan dan kami telah bersabar, kami Memuji Engkau…, kemi beriman dengan keputusan dan ketetapanMu baginya.

Ya Allah…, sesungguhnya ia berada dibawah kehendakMu dan kasih sayangMu.., Wahai Engkau yang telah menyembuhkan nabi Ayyub dari penderitaannya, dan telah mengembalikan nabi Musa kepada ibunya…Yang telah menyelamatkan Nabi Yuunus dari perut ikan paus, Engkau Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim…sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya.

Ya Allah…sesungguhnya mereka telah menyangka bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh…Ya Allah milikMu-lah kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya…”

Lalu rasa kantukpun menguasaiku, hingga akupun tertidur sebelum subuh.

Tiba-tiba ada suara lirih menyeru.., “Siapa engkau?, apa yang kau lakukan di sini?”. Akupun bangun karena suara tersebut, lalu aku menengok ke kanan dan ke kiri, namun aku tidak melihat seorangpun. Lalu aku kembali lagi melihat ke kanan dan ke kiri…, ternyata yang bersuara tersebut adalah ayahku.

Maka akupun tak kuasa menahan diriku, lalu akupun bangun dan memeluknya karena gembira dan bahagia…, sementara ayahku berusaha menjauhkan aku darinya dan beristighfar. Ia barkata, “Ittaqillah…(Takutlah engkau kepada Allah….), engkau tidak halal bagiku…!”. Maka aku berkata kepadanya, “Aku ini putrimu Asmaa'”. Maka ayahkupun terdiam. Lalu akupun keluar untuk segera mengabarkan para dokter. Merekapun segera datang, tatkala mereka melihat apa yang terjadi merekapun keheranan.

Salah seorang dokter Amerika berkata –dengan bahasa Arab yang tidak fasih- : “Subhaanallahu…”. Dokter yang lain dari Mesir berkata, “Maha suci Allah Yang telah menghidupkan kembali tulang belulang yang telah kering…”. Sementara ayahku tidak mengetahui apa yang telah terjadi, hingga akhirnya kami mengabarkan kepadanya. Iapun menangis…dan berkata, اللهُ خُيْرًا حًافِظًا وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِيْنَ Sungguh Allah adalah Penjaga Yang terbaik, dan Dialah yang Melindungi orang-orang sholeh…, demi Allah tidak ada yang kuingat sebelum kecelakaan kecuali sebelum terjadinya kecelakaan aku berniat untuk berhenti melaksanakan sholat dhuha, aku tidak tahu apakah aku jadi mengerjakan sholat duha atau tidak?

Sang istri berkata : Maka suamiku Abu Asmaa’ akhirnya kembali lagi bagi kami sebagaimana biasnya yang aku mengenalinya, sementara usianya hampir 46 tahun. Lalu setelah itu kamipun dianugerahi seorang putra, Alhamdulillah sekarang umurnya sudah mulai masuk tahun kedua. Maha suci Allah Yang telah mengembalikan suamiku setelah 15 tahun…, Yang telah menjaga putrinya…, Yang telah memberi taufiq kepadaku dan menganugerahkan keikhlasan bagiku hingga bisa menjadi istri yang baik bagi suamiku…meskipun ia dalam keadaan koma.
Maka janganlah sekali-kali kalian meninggalkan do’a…, sesungguhnya tidak ada yang menolak qodoo’ kecuali do’a…barang siapa yang menjaga syari’at Allah maka Allah akan menjaganya.

Jangan lupa juga untuk berbakti kepada kedua orang tua… dan hendaknya kita ingat bahwasanya di tangan Allah lah pengaturan segala sesuatu…di tanganNya lah segala taqdir, tidak ada seorangpun selainNya yang ikut mengatur.

Ini adalah kisahku sebagai ‘ibroh (pelajaran), semoga Allah menjadikan kisah ini bermanfaat bagi orang-orang yang merasa bahwa seluruh jalan telah tertutup, dan penderitaan telah menyelimutinya, sebab-sebab dan pintu-pintu keselamatan telah tertutup.

Maka ketuklah pintu langit dengan do’a, dan yakinlah dengan pengabulan Allah.

Kiriman Alya Jasmine, Lavender Ribbon Cancer Support Group