Sukses atasi kanker dengan terapi mandiri. Alhamdulillah.

Oleh Putri, dalam rangka World Cancer Day dan ulang tahun Lavender Ribbon Cancer Support Group

Kaget. Tidak percaya. Takut. Panik. Sedih.

Berbagai perasaan dan bayangan menyeramkan memenuhi benakku, sesaat setelah aku melakukan Sadari malam itu. Ada benjolan di payudara kiriku. Inikah kanker? Penyakit nomor 2 paling mematikan? Bagaimana dengan anak-anakku?

Secepatnya aku langsung browsing tentang benjolan dan kanker payudara. Sejujurnya aku masih tidak ingin mempercayai adanya benjolan, dan ingin mencari alasan untuk pembenaran penolakan atas fakta itu. Hasilnya? Aku makin bingung dan ketakutan…

Ditengah kegalauan itu aku memutuskan menghubungi Mbak Indira Abidin yang aku tahu sebagai salahsatu survivor yang aktif. Juga menghubungi Bapak Sayhriar Rizza. Terapis dari Terapi Hati, dimana aku sudah pernah menjadi kliennya beberapa tahun lalu. Malam itu juga Pak Rizza memberiku beberapa link video tentang breast cancer. Dan malam itu, aku langsung dibantu untuk mengatasi perasaan galauku, kemudian aku mulai menyimak video-video tentang breast cancer tersebut.

Sebenarnya aku sudah berteman dengan Mbak Indira di FB sejak lama. Uniknya aku baru ngeh tentang Mbak Indira dan Lavender Ribbon Cancer Support Groupdari Pak Rizza tahun lalu menjelang ulang tahun pertama Lavender di Sentul.

Esok paginya, mbak Indira menjawab banyak pertanyaan-pertanyaanku seputar breast cancer. Mbak Indira juga memberi list berbagai cara dan tempat yang bisa membantuku mengatasi benjolan ini. Aku diingatkan untuk memohon petunjuk Allah sebelum melakukan langkah selanjutnya.

Dalam sebuah artikel yang pernah aku baca:

Dr. Selve (1956), seorang pelopor pada studi stress dan bagaimana stress mempengaruhi setiap aspek kehidupan kita, mengatakan :

You may think that only serious disease or intensive physical or mental injury can cause stress. This is false. Crossing a busy intersection, exposure to a draft, or even sheer joy is enough to activate the body’s stress mechanism to some extent. Stress is not even necessarily bad for you: it is also the spice of life, for any emotion any activity causes stress. But, of course, your system must be prepared to take it. The same stress which makes one person sick can be an invigorating experience for another.

(Mungkin anda mengira bahwa hanya penyakit serius, kecelakaan fisik atau mental yang bisa menyebabkan stress. Ini tidak benar. Menyeberang jalan yang ramai, atau bahkan terlalu gembira pun dalam tingkat tertentu bisa mengaktivasi mekanisme stress dalam tubuh. Stress tidak selalu buruk bagi anda, stress juga bisa menjadi bumbu kehidupan, karena semua emosi dan kegiatan dapat memunculkan stress. Tentunya system anda harus siap menghadapinya. Stress yang menyebabkan seseorang sakit bisa saja menjadi pengalaman menyenangkan bagi yang lain).

Pagi itu aku lakukan sadari lagi. Kali ini dengan lebih perlahan, cermat dan tenang. Ternyata terdapat 3 benjolan di payudara kiri dan 2 benjolan di kanan.

Setelah berdoa, dan dengan pertimbangan bahwa aku sudah mengenal Terapi Hati, karena aku pernah mengikuti training dan menjadi terapis dengan ilmu yang sama, maka aku memutuskan langsung melakukan terapi mandiri. Pak Rizza membimbingku dengan beberapa trik baru dalam menjalani Terapi mandiri untuk proses kesembuhan dari breast cancer ini.

Terapi ini fokus mengatasi pada perasaan atau emosi negatif.

Bukankah dokter selalu menyarankan pada pasien “Istirahat yang cukup, jangan stress”?

Dan dari banyak penelitian 70-90% penyakit disebabkan oleh emosi negatif.

Setelah lebih tenang dan sudah menjalani Terapi mandiri beberapa hari, aku pun memberanikan diri menjalani scan di Pusat Riset Bapak Warsito di Alam Sutera, sesuai saran Mbak Indira. Hasilnya terdapat sel aktif di kedua payudaraku. Jadi sebenarnya ketika melakukan scan, benjolanku sudah berkurang dibandingkan awal ketahuan ada benjolan. Karena aku sudah menjalani terapi mandiri.

Aku melakukan terapi mandiri di rumah sendiri. Terapi mandiri ini terdiri dari 3 tahap, yang tentunya sudah dianalisa Pak Rizza sesuai dengan kondisiku. Dalam sehari, aku biasanya melakukan terapi mandiri 5x, seusai menjalankan sholat wajib atau sholat sunah. Awalnya pak Rizza hanya mengarahkan supaya aku menyediakan waktu untuk terapi 3-4jam sehari. Pada prakteknya aku melakukan terbagi menjadi 5x.

Aku memilih melakukan setelah sholat, karena saat itu kondisiku masih dalam keadaan berwudhu, dan kondisi fisik, pikiran dan perasaanku setelah sholat dan berdo’a lebih mudah untuk menjalankan terapi mandiri tersebut.

Bagian terapi mandiri yang menurutku cukup unik adalah bagian “tanya-tanya”. Di tahap ini aku berbicara pada hati nuraniku sendiri. Awalnya agak membingungkan. Lama-lama aku jadi sangat menyukai bagian ini. Karena, dengan berbicara pada nuraniku, ternyata banyak hal yang baru aku ketahui tentang diri sendiri. Misal ketika aku merasa takut sesuatu, ternyata dibalik itu, adalah usaha nuraniku untuk menjagaku. Aku juga jadi ngeh, ternyata selama ini aku terlalu cuek pada diri sendiri. Nuraniku berusaha supaya aku lebih perhatian pada diri sendiri. Karena agamaku pun tidak membenarkan mendzolimi diri sendiri.

Dua minggu menjalani terapi seperti itu, Alhamdulillah…benjolan di masing-masing payudara tinggal 1.

Bagaimana efek yang aku rasakan?

Seperti detox saja…reaksi di tubuh berbeda-beda setiap orang.

Yang pasti, dengan metode ini akan melalui dua fase. Fase dingin dan hangat. Ketika kita stres karena sesuatu, nafsu makan berkurang, itu fase dingin. Ketika stres berhasil dilalui, masuklah ke fase hangat. Suhu tubuh naik sedikit, nafsu makan membaik, mudah lelah, mudah mengantuk. Semua gejala itu bisa berulangkali dirasakan karena itu terjadi sesuai dengan emosi yag sudah teratasi menjadi netral.

Hikmahnya banyak sekali dengan adanya kanker di payudara ini dan menjalani terapi mandiri. Aku jadi lebih mengenal diri sendiri. Insyaa Allah aku juga menjadi lebih perhatian pada diri sendiri.

Aku belajar ikhlas, karena dengan memutuskan fokus menjalani terapi mandiri, akupun merelakan usaha kuliner sebagai mata pencaharianku. Apalagi setelah memasuki Fase Healing, tubuhku mudah lelah.

Hikmah lainnya, karena memang tidak terbiasa berdiam diri, aku berpikir untuk kembali belajar menulis, dengan pertimbangan bisa dilakukan fleksibel waktunya dan tidak memerlukan banyak tenaga fisik. Dan masyaa Allah….Allah mudahkan semua keinginanku. Aku diajak teman mengikuti pelatihan menulis. Aku ingat, aku datang dalam kondisi demam dan tubuh kurang fit. Sepanjang acara aku bersedekap dengan jaketku karena demam. Tapi aku senang dan semangat sekali mengikuti acara tersebut hingga selesai. Acara pelatihan menulis selanjutnya, kondisi fisikku juga tidak beda jauh, masih demam.

Dan ternyata dalam waktu relatif singkat, Allah atur aku bertemu dengan orang-orang luar biasa, sehingga artikel ku pun tayang di sebuah media dunia maya. Bahagia, bangga, bersyukur. Tak lama artikelku yang lain pun berhasil menang sebuah lomba.

Aku pun semakin serius menekuni dunia menulis, karena ternyata dengan menulis juga memberikan efek terapi pada diriku. Selain itu aku juga mulai melakukan hal-hal yang dulu aku sukai, lama tidak kulakukan, dan kemudian aku yakini memberi efek terapi pada diriku. Aku mulai melukis lagi, hunting foto di sekitar rumahku, dan memasak untuk keluarga.

Kanker ini membuat aku menemukan kembali hadiah-hadiah Allah padaku berupa aneka kemampuan…Alhamdulillah…

——

Ingin membantu teman-teman penerima kanker di Lavender? Silakan kirim donasi anda ke Yayasan Lavender Indonesia di Bank Mandiri nomor rekening 1270007342932. Kirim bukti transfer ke Indri Yusnita via wa atau sms di +62 815 8700930.

Kalau Allah izinkan kanker terjadi pada saya, itulah yang terbaik bagi saya. Alhamdulillah

Sakit atau sehat.png

Oleh: Tri Praptini, Lavender Ribbon Cancer Support Group, dalam rangka World Cancer Day dan Ulang Tahun Lavender Ribbon Cancer Support Group

Saya dilahirkan di solo 51 tahun lalu, diberi nama Tri Praptini, menikah di tahun 1995. Setelah menikah saya meninggalkan Solo mengikuti suami yang pada saat itu dinas di Boyolali. Alhamdulillah saya dikaruniai 3 anak di Boyolali. Sebelum anak ke 3 lahir pada tahun 2000, suami pindah ke Rembang, kota kecil di Jawa Tengah. Setelah 7 tahun dinas di Rembang suami di pindah lagi ke Pekalongan tahun 2007, jadi kami tak pernah menikmati hidup bersama saudara dalam satu kota, baik dari suami atau dari saya.

Tahun 2010 saya merasakan ada kelainan di payudara sebelah kanan. Di belakang puting agak mengeras seperti waktu payudara mau terbentuk, sementara yang kiri tetap biasa. Karena saya tak pernah merasa apa-apa, saya cuek. Sering saya tanya ke teman tapi jawabannya tak terlalu saya pikirkan. Memang saat menyusui ketiga anakku aku merasa lebih enak di payudara sebelah kiri. Setelah saya amati, lama-lama payudara kanan saya berubah bentuk, meskipun saya tak pernah merasakan sakit sama sekali.

Pada tahun 2014, setelah lebaran saudara dari Solo pada datang ke rumah, karena saat lebaran saya tidak pulang kampung. Saat berkumpul saya tanya ke saudara yang ibu serta kakaknya pernah kena kanker payudara dan dua-duanya meninggal. Ia punya juga seorang kakak yang juga mendapat anugerah kanker payudara. Kakaknya yang satu ini alhamdulillah bisa sembuh setelah diperasi, kemo dan konsumsi obat selama 5 tahun, berkat semangat hidupnya yang sangat tinggi.

Sayapun bertanya berapa biayanya. Katanya ratusan juta. Deg…saya uang darimana, sementara suami seorang PNS dan saya hanya ibu rumah tangga dengan 3 anak. Anak saya yang pertama pun baru lulus SMA dan alhamdulillah diterima di ITS Surabaya. Saya berfikir kalau untuk biaya saya berobat sebesar itu, bagaimana dengan anak saya? Tentu ia akan butuh banyak dana untuk kost. Uang kuliah dan biaya hidup di Surabaya juga tidak murah.

Menerima diagnosa tumor ganas

Akhirnya awal Agustus 2014 saya beranikan untuk memeriksakan diri ke dokter onkologi di RSUD Kraton Pekalongan. Saya di USG dan ronsen, dan memang ada tanda sel-sel kanker di payudra kanan saya tapi alhamdulillah tak ada penyebaran di paru-paru. Ketika dokter lihat hasilnya saya disarankan untuk biopsi dan alhamdulillah karena ada askes semua gratis.

Setelah 10 hari hasil biopsi keluar. Ternyata tumor ganas grade 3. Bagai disambar petir, perasaan saya kacau, apalagi mengingat anak-anak saya masih sangat membutuhkan saya. Anak pertama baru masuk kuliah, yang kedua kelas 1 SMA dan yang ketiga sedang duduk di kelas 2 SMP.

Dari hasil biopsi saya disarankan untuk kemoterapi 2 paket, setelah itu baru bisa dimastektomi. Setelah itu konsumsi obat selama 5 tahun. Saya disuruh segera mengambil keputusan karena kata dokter cara itu yang benar.

Saya pertimbangkan saran dokter dengan suami dan suami menyerahkan semuanya kepada saya. Saya jawab saya nggak siap. Saya menyaksikan teman-teman saya yang menjalani kemo seperti tidak berdaya. Yaah mungkin tak semua orang begitu. Semua memang tergantung kesiapan mental masing masing. Tapi saya benar-benar tidak siap. Akhirnya saya putuskan untuk tidak menjalankan saran dokter.

Saya memberi tahu kakak dan adik di Jakarta. Akhirnya kakak memberi tahu ada rompi untuk kanker di Alam Sutra hasil riset Dr. Warsito. Kakak juga memberitahu bahwa temannya ada yang pakai untuk mengatasi kanker otaknya dan ternyata hasilnya baik.

Sampai disini saya berfikir lagi, berapa harga rompi itu, dan berapa pula biaya transport bolak balik Jakarta. Sedangkan uang sudah banyak keluar untuk anak saya yang masuk kuliah. Ia butuh banyak dana untuk bayar asrama selama 1 tahun, uang kuliah 1 semester dan lain-lain.

Ternyata kakak dan adik mengatakan bahwa mereka akan menanggung penuh biaya rompi. Alhamdulillah …. untuk langkah pertama Allah sudah memberi kemudahan bagi saya. Dan bukan hanya disitu Allah memberi kemudahan bagi saya. Di tengah kegiatan ospek anak saya ternyata diterima di STAN. Dan setelah saya serahkan semua kepadanya, ternyata dia pilih STAN di Tangerang, dekat Alam Sutra, meski cuma D1. Dengan keputusan anak saya, saya lebih mantap melangkah terapi ke CCare.

Setelah saya membuat keputusan, saya mencoba datang lagi ke dokter onkologi. Saya mengatakan bahwa saya memilih untuk tidak kemo, dan saya akan ganti dengan pemakaian alat elektromagnetik. Saya hanya minta resep obatnya yang harus saya konsumsi selama 5 tahun.

Apa yang terjadi? Dokternya marah-marah mendengar keputusan saya. Saya pun langsung pamit. Setelah itu saya seperti trauma dengan dokter dan rumah sakit. Pada saat itu pikiran dan hati saya betul-betul kacau, karena saya berharap bisa jalan dua-duanya secara parallel, C Care dan medis, ternyata kenyataannya tidak bisa begitu. Akhirnya saya jalani di ccare dan diajak adik ke bogor pengobatan herbal sinshe.

Menjalani hal ini semua ini dalam dua bulan setelah diagnose kanker bukan sesuatu hal yang mudah bagi saya. Suami saya pegawai LAPAS yang sangat tidak mudah untuk izin walaupun untuk mengantar saya berobat ke Jakarta sekalipun. Saya jalan sendiri semua ini. Suami saya belum pernah sekalipun mengantar ke Jakarta. Dan saya harus maklum.

Selama tiga bulan pertama saya sering menangis, apalagi saat ada yang bertanya di Jakarta ataupun sepanjang perjalanan di kereta. Menjawab pertanyaan-pertanyaan itu saya merasa nelongso. Akibatnya,  saya semakin drop. Saya seperti tak punya semangat, tak punya tenaga dan takut kematian. Maklum sudah setengah abad lebih. Hampir setiap hari saya menangis dan saya pun bertambah lemah. Makin banyak menangis saya makin lemah.

Mulai bangkit dan mendapat doa Ibu

Sampai suatu saat saya tak tega melihat anak-anak dan suami yang mulai ikut bingung dan mulai tak terurus. Saya mulai bangkit. Saya mulai bertanya pada diri saya sendiri, “Kenapa harus nelongso? Kenapa harus sedih? Bukankah kamu harusnya bersyukur masih bisa jalan kemana mana sendiri. Kamu tak perlu digotong atau ditopang, syukuri itu semua, hidup sudah ada yang mengatur. Cobalah sabar, ikhlas, selalu bersyukur dan yakin dengan ikhtiar yang kamu jalani. Hidup mati semua urusan Allah.” Berkali-kali kata-kata itu saya katakan pada diri saya sendiri.

Alhamdulillah kata-kata itu membuat saya benar-benar bangun. Saya bisa punya semangat untuk tetap bertahan hidup demi keluarga. Saya bertekad untuk tetap sehat dan harus semangat demi orang orang yang saya sayangi.

Pada bulan Agustus waktu saya menerima diagnosa tumor, saya tak berani cerita ke ibu. Baru bulan Desember waktu saya sowan mengunjungi ibu di Madiun, saya beranikan untuk bercerita. Dengan kondisi fit saya bercerita. Tujuan saya hanya satu..ingin didoakan ibu.

Pada saat itu ibu saya menangis. Tak menyangka sama sekali. Padahal saat itu pengobatan sudah berjalan empat bulan. Memang sebelumnya setiap kali bertanya saya selalu bilang saya baik-baik saja.  Dan saya selalu berusaha telepon dua hari sekali. Saya selalu berusaha menelepon saat saya tak galau sehingga tak bisa Ibu mencium ada hal yang tak beres. Saya putuskan untuk menyampaikan langsung saat sowan, takutnya kalau lewat telepon ibu bisa salah tangkap.

Alhamdulillah setelah saya cerita ke ibu, saya merasa beban saya berkurang dan saya yakin doa ibu yang paling tulus, insyaa Allah dihijabah Allah. Saya sangat yakin akan hal itu. Saya sangat lega.

Banyak saudara berkat Lavender

Setelah satu tahun menjalani treatment, saya merasa lebih tegar menghadapi semuanya. Apalagi setelah saya bergabung di group Lavender. Saya sangat merasakan banyak sekali manfaat di group Lavender. Setelah bergabung, saya banyak belajar mengenai kesabaran, keikhlasan. Saya juga belajar keyakinan akan kebesaran Allah, selain rasa simpati dan empati terhadap teman yang meskipun belum pernah ketemu sudah seperti saudara. Kami di Lavender saling memberi semangat, saling menghibur dan semakin lama saya rasakan diantara kami timbul rasa cinta kasih. Insyaa Allah manfaat dan berkah berlimpah bagi saudara-saudaraku di Lavender. Terimakasih Lavender, Lavender inilah adalah jalan yang diberikan Allah untuk saya tetap semangat.

November 2015 alhamdulillah anak pertama saya lulus STAN. Dan sekali lagi Allah memperlihatkan kebesaranNya dan kasih sayangnya kepada saya. Anak saya dapat penempatan Purwokerto. Ia sudah bisa membiayai dirinya sendiri. Jadi saya hanya tinggal memikirkan dua adiknya yang tahun depan harus masuk kuliah.

Hikmah kanker

Ternyata selain memberi ujian, Allah telah memberi saya dan keluarga saya banyak kemudahan. Saya sangat merasakan selama kita selalu bersyukur Allah akan menambahkan kenikmatan bagi kita. Alhamdulillah, itulah yang saya rasakan dan saya jalani sampai saat ini. Dan Alhamdulillah saya tetap fit.

Sampai sekarang saya masih terus menekuni dua pilihan ikhtiar saya, C Care dan sinshe herbal di Bogor. Dua tahun empat bulan sudah saya jalani semua proses penyembuhan ini. Tujuh belas kali sudah saya bolak balik Pekalongan Jakarta sendirian. Suami tak bisa menemani. Tempat terapi saya di mana pun ia tak tahu. Itulah konsekuensi yang harus dijalani istri seorang abdi negara. Dan saya ikhlas. Saya jalani semua dengan penuh syukur.

Saya mendapatkan banyak hikmah dari kurikulum tumor saya. Saya banyak belajar untuk lebih sabar, banyak bersyukur dan berusaha ikhlas dengan semua ketentuan Allah. Saya yakin apapun yang saya alami, itulah yang Allah izinkan terjadi pada saya, dan itulah yang terbaik bagi saya. Saya sangat berprasangka baik padaNya. Dan alhamdulillah berkat itu semua saya terus menikmati berbagai kemudahan dan karuniaNya. Alhamdulillah, ya Allah.

Bagi semua saudaraku yang juga menerima kurikulum kanker, jangan pernah merasa sakit. Insya Allah kita semua sehat. Karena sakit atau sehat ada dalam batin kita, ada dalam benak pikiran kita, dan mempengaruhi kondisi tubuh kita. Sakit atau sehat adalah pikiran. Kita sehat kalau kita pikir kita sehat. Dan insya Allah itulah yang menjadi doa kita bagi seluruh sel dalam tubuh kita, pikiran kita dan jiwa kita.

Semangat sehat!

Ingin membantu teman-teman penerima kanker di Lavender? Silakan kirim donasi anda ke Yayasan Lavender Indonesia di Bank Mandiri nomor rekening 1270007342932. Kirim bukti transfer ke Indri Yusnita via wa atau sms di +62 815 8700930.

 

 

Kanker membantuku lebih sabar, lebih ikhlas. Alhamdulillah.

Yakinlah kesembuhan bukan dari dokter, bukan dari mahalnya obat tapi dari keyakinan bahwa Allah yang menyembuhkanmu.png

Oleh: Afiana, Lavender Ribbon Cancer Support Group, dalam rangka #WorldCancerDay dan Ulang Tahun Kedua Lavender Ribbon Cancer Support Group

Penerima anugerah kanker, teruslah berkarya. Niatkan sebagai ibadah bagiNya.

20 Februari 2015, tepat sebulan satu hari dari ulang tahunku yang ke32, aku menerima diagnosa kanker, CA mamae invasive. Nyeri yang enam bulan aku rasakan, yang tadinya kufikir cuma pengaruh hormonal, ternyata adalah CA mamae. Allah berikan hadiah ini untuk saya.

Saat diberi tahu dokter aku menangis sedih. Kusalahkan Tuhan yang memberikan kanker. Kenapa aku? Aku tidak pernah ikut program KB hormonal, aku menyusui putriku sampai dua tahun, kenapa aku masih harus menghadapi kanker? Aku tak tahu apa yang Allah rencanakan bagiku. Tapi aku tetap yakin Allah punya hadiah yang spesial bagiku di balik semua ini. Aku yakin, tetap yakin.

Seminggu penuh aku mengurung diri dan menangis. Alhamdulillah Allah memberikan suami yang pengertian. Ia terus berusaha tegar di depanku. Tiap hari Minggu suamiku mengajak jalan-jalan ke mall untuk menghiburku. Tapi tetap aku tak mau. Aku menangis dan menangis. Suamiku pun mengalah. Dia tahu hobiku membaca. Dibelikannya aku buku-buku tentang Gus Dur. Ternyata inilah jalan Allah yang dibukakan melalui suamiku. Alhamdulillah.

Belajar dari Gus Dur dan bangkit

Dari cerita-cerita mengenai Gus Dur aku belajar bahwa penyakit apapun tak boleh menghalangi seseorang untuk tetap bersemangat hidup dan bermanfaat bagi orang lain. Gus Dur punya tumor pada matanya sejak kecil. Tapi Gus Dur tak pernah mengeluh. Gus Dur tetap bersemangat. Beliau mampu menjadi teladan bagi banyak orang, membawa manfaat bagi seluruh Indonesia, bahkan mampu menjadi presiden. Ia bisa menikmati hidup dengan bercanda dalam kondisi apapun. Setiap buku yang kubaca mengisahkan berbagai hal yang lucu, namun tetap menyentuh jiwa. Berkat cerita-cerita ringan inilah aku mulai bersemangat kembali.

Ya Allah, akhirnya pikiranku terbuka.

Dari situlah aku mulai bangkit. Aku mencoba untuk tegar. Aku mulai shalat istikharah, memohon petunjukNya, ikhtiar apa yang harus aku lakukan. Aku baca dalam Quran bahwa dalam lebah ada obat untuk berbagai penyakit. Dari situlah aku mulai mencoba berbagai produk lebah.

Kudengar juga dari adikku bahwa ada penemuan dari Dr. Warsito yang bisa membunuh sel kanker. Aku pun merasa bahwa inilah jawaban Allah untuk istikharah yang aku jalankan.

Aku pun memeriksakan diri ke dokter onkologi di Malang dan disarankan untuk operasi. Kalau saat operasi terjadi kebocoran, aku pun harus kemo. Suamiku tak mengizinkan kemo. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke Tangerang untuk mulai mencoba jaket ECCT, jaket listrik temuan Pak Warsito.

Alhamdulillah berkat doa dan dukungan semua saudara, Maret 2015 aku berhasil mendapat alat ECCT. Aku mendapat 1 bra ECCT dan 1 jubah ECCT. Mulailah terapi ECCT ku. Semiggu taka da rasa. Dua minggu pemakaian aku mual, muntah dan diare. Alat kupakai terus. Itulah dampak detox yang aku rasakan.

Teman-temanku penasaran dengan alat tersebut. Setiap orang yang mengunjungiku selalu bertanya soal jaket ini. Ada teman yang bilang, “Sebagai orang medis, carilah penyembuhan secara medis juga.”

Aku tahu ia khawatir dengan keadaanku. Aku tersebut. Kujawab, “Kita manusia. Allah yang maha tahu umur kita. Sakit bukan syarat mati. Yang sehat pun bisa meninggal. Jadi kita wajib ikhtiar. Aku tak tahu kapan matiku. Yang jelas di akhirat nanti kita akan mempertanggungjawabkan semua. Tanggung jawab saya sebagai istri, sebagai ibu, sebagai pegawai harus terus kujalankan. Aku tak mau disalahkan kalau lalai menjalankan tanggung jawab yang Allah berikan padaku. Maka dari itu aku memilih ECCT. Aku tetap bisa melayani suami, mengajari putriku dengan tugas-tugas sekplahnya dan tetap bisa menjalankan tugasku sebagai bidan, meskipun tentu tidak sesempurna biasanya.”

Temanku pun terdiam. Ia menyerah dengan kata-kataku dan berdoa untuk kesembuhanku. Aamiin.

Pola hidup baru

Kanker mengantarkanku pada pola hidup baru. Mulai saat itu aku berhenti makan protein hewani. Aku mulai membangun pola hidup yang tenang, santai, pelan-pelan tidak terburu-buru. Aku berusaha memaafkan semua yang menyakitiku. Aku berdamai dengan semua proses hidupku.

Alhamdulillah kondisiku membaik. Aku tetap fit. Pola hidup baruku benar-benar membantuku hidup lebih sehat lahir batin.

Propolis, madu, pollen dan royal jelly terus aku pakai. Untuk luka aku pakai aloe propolis cream. Aku akui aku kurang rajin, kurang telaten dan istikomah meminumnya. Meskipun demikian badanku terus fit, dan staminaku terjaga. Aku dapat menjalankan semua kewajibanku dengan baik. Alhamdulillah berkat semua yang kujalani kanker tak menghalangiku untuk terus berkarya dan bermanfaat bagi sesama.

Cobaan demi cobaan datang menjelang

Allah tak berhenti memberikan ujian bagiku. Di tengah prosesku menuju kesembuhan suamiku harus menjalani operasi batu ureter di pertengahan Ramadlan 2015. Lalu gentian aku mendapat rezeki putriku operasi usus buntu. Ya Allah, aku terus memohon kekuatan dariNya. Alhamdulillah aku terus diberikan kekuatan untuk merawat putriku.

Pada bulan Februari 2016 Allah beri aku hadiah kembali. Aku dipindah tugaskan dari desa yang dulu aku tempati. Desa sekarang lebih luas medannya, lenbih menantang di banding desa sebelumnya. Tapi kali ini mengurus putriku menjadi lebih repot. Tiap hari aku harus pulang ke rumah yang berjarak 30-an km untuk bisa terus mendampingi putriku bersekolah. Rupanya inilah ujian dari Allah, apakah aku tetap istiqomah untuk menjalankan pola hidup yang tenang dan sesuai kondisi tubuh.

Ternyata saat itulah aku lengah. Aku terlalu memforsir diri. Aku kelelahan. Aku lengah ketika kondisi sudah bagus, aku mulai bersepeda dengan jarak jauh. Akhirnya benjolan bertambah menonjol dan pecah.

Dengan pengalaman itu aku banyak belajar. Kini aku berusaha untuk kembali menata pikiran agar aku tak terlalu berambisi. Aku belajar tenang. Akhirnya demi kesembuhanku aku tinggal di tempat kerja suami dan ankku di rumah. Kami bertemu sekali seminggu. Sedih sekali, pasti. Tapi kalau ini yang Allah ingin aku jalankan, aku ikhlas.

Lavender bagiku, membuka hikmah di balik kanker

Alhamdulillah ketika galau datang, Allah kirimkan Mbak Indira dan teman-teman Lavender untuk terus berbagi hal-hal yang positif dan menenangkanku. Berkat apa yang dibagi dalam group aku sematkan dalam pikiranku bahwa dunia itu sementara. Dunia adalah ladang amal. Jika kita ikhlas bersyukur Allah berikan lebih dari yang kita duga. Berfikir positif itu kuncinya, tersenyum itu amalannya. Meski hati sedih, cobalah lebarkan bibirmu, tariklah ke atas dan tersenyumlah. Insya Allah dukamu beralih menjadi bahagia.

Kanker mengajarkan saya untuk lebih sabar, taat pada orang tua, pada suami. Kanker menyadarkanku bahwa aku selama ini egois, merasa paling benar sendiri. Kini aku belajar sabar dan nrimo. Bagiku dukungan suamiku dan keluargaku sangat berarti dan sangat kusyukuri. Suamiku dan keluargaku benar-benar tahu apa yang aku sukai. Mereka terus berusaha membuatku selalu happy. Alhamdulillah. NikmatMu yang mana lagi yang hendak kudustakan, ya Allah. Semua begitu indah.

Terima kasih, Lavender. Terima kasih, Teh Indi dan teman-teman semuanya. Semoga terus bermanfaat bagi semuanya.

Bagi semua pendamping, sebisa mungkin buatlah para penerima anugerah kanker ini selalu nyaman agar mereka juga bisa lebih sabar dan tenang dalam menjalani pelajaran kankernya. Bagiku hal inilah yang benar-benar berperan dalam proses kesembuhanku.

Bagi teman-teman dan siapapun yang juga menerima anugerah kanker, tersenyumlah. Itulah hadiah terindah dari Allah bagi kita semua. Yakinlah Allah akan menyembuhkan kita pada waktu yang paling tepat dan indah. Yakinlah kesembuhan bukan dari dokter, bukan dari mahalnya obat tapi dari keyakinan bahwa Allah yang menyembuhkanmu. Jangan pernah putus asa dan jangan bersedih karena Allah selalu ada dan mencintai kita. Allah itu kun fayakun, kalau bilang “terjadi” maka akan terjadi. Mari kita tunggu takdir kesembuhan dengan sabar, doa dan tetap istikomah dalam berikhtiar.

Tetaplah berkarya, manfaatkan umur. Selalulah merasakan sehat, pasti kita sehat. Aamiin.


Ingin membantu teman-teman penerima kanker di Lavender? Silakan kirim donasi anda ke Yayasan Lavender Indonesia di Bank Mandiri nomor rekening 1270007342932. Kirim bukti transfer ke Indri Yusnita via wa atau sms di +62 815 8700930

 

Kanker adalah hadiah. Nikmati prosesnya, semoga kita temukan hikmah besarnya

 

 

Hari ini setelah menjadi pembicara di Universitas Negeri Sebelas Maret mengenai City Branding, saya mengunjungi RS Dr. Mawardi bersama teman-teman dari Children Cancer Care (C3). Saya ingin melihat dan belajar dari kegiatan para volunteer C3 mendampingi pasien-pasien anak kanker di sana. 

Di sana aku dibawa ke ruang anak dan menemukan mereka sedang bergembira. Gambar di atas menggambarkan betapa gembiranya anak-anak penyandang kanker di ruang bermain Dr. Muwardi, Solo. Mereka sedang menikmati terapi bermain dari perawat. 

C3 adalah organisasi volunteer yang mendedikasikan diri bagi anak-anak penyandang kanker. Kegiatan C3 antara lain:

– menyediakan donasi untuk transport anak dan orang tua/pendamping ke RS dan kebutuhan anak di RS.

– menemani dan memberikan program pendidikan bagi anak-anak di RS saat kemo. Banyak yang putus sekolah karena mereka harus menjalani kemo.

– mereka pun sedang fund raising agar tersedia rumah singgah untuk orang tua saat anak harus menjalani treatment kanker di rumah sakit.

Saat aku menengok ke bangsal, suasananya tidak segembira di ruang bermain. Ada 8 anak yang sedang tergeletak lemas di atas tempat tidur. Mereka semua sedang menjalani treatment. Ada yang berumur 7 tahun, sampai 19 tahun.

  

Mbak Monika, ketua C3, memberikan paket hadiah dari C3 berisikan minyak angin, sikat gigi, odol dan kebutuhan menginap di rumah sakit lainnya pada pasien yang baru. 

80% dari anak penyandang kanker yang didampinginya sedang berjuang menghadapi kanker darah. 20% sisanya menghadapi jenis kanker lain.

Saya sempat bertanya, kenapa Leukimia? Dan Monika menjawab dengan sangat indah, “Kanker itu gift. Tidak usah ditanya penyebabnya apa. Jalankan saja tugas kita. Untuk orang tuanya mendampingi, dan untuk kita membantu.”

Sungguh sangat menyejukkan. Di sisi lain kita bangun pola makan yang lebih sehat, pola pikir yang tenang, baik dan jiwa yang selalu dekat denganNya. Saya sangat tersentuh.

C3 dan Lavender Ribbon Cancer Support Group

Di CCC (Children Cancer Care) tidak ada edukasi maya seperti di Lavender Ribbon group. Mereka murni volunteer yang mengajak main anak-anak dan fund raising untuk donasi transportasi, paket RS, mainan, dll. Di sini C3 dan Lavender Ribbon bisa saling mengisi, kolaborasi. Aku mengundang semua pendamping yang ingin menjadi member Lavender Ribbon untuk edukasi dan saling memotivasi, saling menguatkan.

Volunteer C3 semua mahasiswa. Ini ide juga buat Lavender untuk mengajak teman-teman mahasiswa. Ternyata penting melibatkan teman-teman mahasiswa, karena kesadaran hidup sehat dan kesadaran tentang kanker memang harus dibangun sedini mungkin.

Aku pulang sambil terus mengenang pengalaman tadi. Semoga banyak yang bisa kita lakukan untuk adik-adik pejuang kanker. Benar sekali, kanker adalah gift, untuk yang diberi kanker, orang tuanya, pendampingnya, dan masyarakat sekitarnya.

Bagiku, inilah kesempatan membuktikan cintaku padaNya, harapanku untuk bisa menjadi kaki tanganNya membantu hamba-hamba yang dicintaiNya di atas muka bumi ini yang sedang diberi hadiah ini. Adakah teman yang juga memiliki panggilan yang sama? Yuk kita bergabung. Semoga Ia pun ridlo pada usaha kita dan membukakan jalan. Aamiin YRA.

❤️❤️❤️❤️