Mau sembuh? sehat secara permanen? Kuncinya hanya yang satu ini.

Syaikh Ali Musthafa Thantawi pernah mengatakan, “Jangan sekali-kali mengabaikan hati. Karena hati adalah rumah bagi dua hal paling suci di dunia ini, yaitu iman dan cinta.”

Abu Bisyr, seorang murid Ali bin Abu Thalib ra, menyampaikan bahwa orang-orang terdahulu sedikit beramal tetapi mendapatkan pahala yang banyak. Hal itu disebabkan karena mereka selalu menjaga hati, sehingga hati-hati mereka sungguh bersih. (Az-Zuhud II/600).

Imam Ibnul Qayyim pun pernah mengatakan:
“Hati ibarat raja bagi anggota tubuh.
Anggota tubuh akan melaksanakan segala perintah hati dan menerima semua arahannya.
Anggota tubuh tidak akan melaksanakan sesuatu kecuali yang berasal dari keinginan hati.
Oleh karena itu, hati merupakan penanggung jawab mutlak terhadap anggota tubuh karena seorang pemimpin akan ditanya tentang yang dipimpinnya.
Jika demikian adanya, maka upaya memberi perhatian yang besar terhadap hal-hal yang menyehatkan dan meluruskan hati merupakan upaya terpenting.
Dan memperhatikan penyakit-penyakit hati serta berusaha untuk mengobatinya merupakan ibadah yang paling besar.”

“Di dalam hati tersebut terdapat perasaan cinta dan iman kepada Allah, perasaan ikhlas dan tawakkal kepadaNya.
Semua itu merupakan unsur kehidupan bagi hati.
Namun, di dalam hati juga terdapat rasa cinta kepada syahwat, lebih mementingkannya serta memperturutkan segala keinginan.
Di dalam hati juga terdapat sifat hasad, sombong, ujub, dan ambisi untuk menjadi orang yang paling unggul, serta bertindak semena-mena di muka bumi dengan kekuasaan yang dimiliki.
Semua itu merupakan unsur yang akan membuat diri hancur dan binasa.”

“Karena itu, surga tidak bisa dimasuki oleh orang-orang yang berhati kotor, dan tidak pula bisa dimasuki oleh orang yang di hatinya terdapat noda-noda dari kotoran tersebut.

Barangsiapa yang berusaha mensucikan hatinya di dunia, lalu menemui Allah (mati) dalam keadaan bersih dari kotoran-kotoran hati, maka dia akan memasuki surga tanpa penghalang. Adapun orang yang belum membersihkan hatinya selama di dunia, maka jika kotoran hati tersebut dari najis murni -seperti hatinya orang-orang kafir-, maka dia tidak akan bisa masuk surga selama-lamanya.

Dan jika kotoran tersebut sekadar noda-noda yang mengotori hati, maka dia akan memasuki surga setelah disucikan di dalam neraka dari kotoran – kotoran tersebut.”

Itu kata orang-orang terdahulu.

Lalu Bruce Lipton, seorang dokter dan peneliti di abad 21 mengatakan bahwa penyakit tidak diturunkan. Orang yang punya DNA yang sama belum tentu memiliki penyakit yang sama. Ternyata persepsi, pikiran yang menciptakan suasana bagi sel yang akhirnya menentukan seseorang sehat atau tidak. Dan ini semua asalnya dari hati.

WHO pun sudah mengakui bahwa sehat yang sesungguhna yharus mencakup sehat rohani, bukan hanya sehat jasmani.
Ternyata kini diakui bahwa 90% penyakit berasal dari stress, yang berasal dari penyakit hati.

Ternyata benar, di dalam tubuh ada segumpal daging yang kalau ia baik, semua tubuh akan baik dan kalau ia buruk seluruh tubuh akan buruk.

Maka, marilah kita hidup secara sadar. Hidup dari detik ke detik, menyadari apa yang ada dalam hati. Setiap ada hal yang tidak enak di hati menandakan ada yang harus diperbaiki.
Rasa tidak terima, kesal, tidak suka, apalagi kalau sampai benci dan dendam, perlu segera diobati.

Ada yang bikin kesal, mengkhianati kita, membuat kita marah, langsung katakan, “Allah ingin memberikan surga, maka orang ini dikirimNya padaku agar aku membuktikan bahwa aku sabar dan layak masuk surga.

Langsung bilang, “Alhamdulillah,” dan langsung syukuri. Hadapi dengan perasaan syukur. Lakukan berulang-ulang, insya Allah syukur dan sabarlah yang akan menjadi raja, menggantikan berbagai sakit dalam hati.

Jadi perasaan apa yang bisa kita perbaiki dengan lebih baik lagi agar kita bisa menjaga hati lebih baik lagi hari ini?

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. 91: 8-10).

via Hati: sumber sukses dunia dan akhirat — Indira Abidin’s Blog

Syukur, sumber kesembuhan sakit apapun

thank you.png

Setiap kali ada yang menghubungi saya untuk menceritakan diagnosa kankernya, saya selalu memberikan ucapan selamat, dan mensyukurinya. Saya ingin mengkondisikan otaknya bahwa kanker pun perlu disyukuri. Karena saya merasakan sendiri betapa nikmatnya menghadapi kanker dengan rasa syukur.

 

Emosi positif, seperti rasa syukur, tenang, bahagia, sangat membantu kita kreatif mencari jalan keluar dari permasalahan apapun. Badan menjadi relaks, dan energi mengalir deras untuk menyembuhkan organ apapun yang sedang sakit.

Sebaliknya, panik, sedih, demotivasi, menutup otak dari kreativitas. Kita jadi tidak bisa berfikir jernih untuk mencari solusi-solusi terbaik yang bisa kita jalani dengan nyaman dalam kondisi yang ada. Dan yang paling berbahaya, begitu kita panik, sedih atau demotivasi, tubuh menegang, otot tak lagi kendur, semua mengalami kontraksi. Bagaimana energi bisa mengalir untuk menyembuhkan? Itulah sebabnya banyak penerima kurikulum kanker yang stadiumnya naik drastis justru ketika tahu bahwa kanker itu ada.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan melalui University of Missouri-Columbia, para penerima kurikulum kanker payudara dihubungi 30 bulan setelah selesai menjalani perawatan medis. Mereka menemukan bahwa dukungan sosial, persepsi positif terhadap kanker, keyakinan agama, spiritualitas, kemampuan memberdayakan diri, dan keyakinan akan pulih adalah hal-hal yang sangat penting dalam proses pemulihan paska pengobatan, untuk terus bebas kanker.

Temuan ini konsisten dengan model kesehatan psikoneuroimunologis dimana variabel psikososial bisa mengatasi stres dan mempengaruhi hasil kesehatan.

Sebuah studi oleh Tumor Center di University of Regensburg di Regensburg, Jerman mengamati pengalaman penerima kurikulum kanker payudara di Bavaria, Jerman tujuh tahun setelah pengobatan. 42% responden menunjukkan bahwa berpikir positif dan “semangat juang” adalah saran terpenting yang akan mereka berikan kepada sesama penerima kurikulum kanker payudara lainnya.

Sebuah studi di Capitol Medical University di Beijing, menemukan bahwa emosi positif sangat terkait dengan tekanan darah di kalangan orang tua dengan penyakit kardiovaskular.

Sebuah laporan yang diterbitkanUC San Diego Center for Excellence for Research and Training in Integrative Health and the Chopra Foundation dalam jurnal American Psychological Association menyatakan bahwa pasien yang memiliki rasa syukur tidur lebih nyenyak, tidak kelelahan, dan relatif lebih tidak rentan depresi. Mereka juga relatif tidak banyak mengalami peradangan sistemik.

Berbagai penelitian yang ada membuktikan bahwa emosi positif sangat terkait dengan kesehatan. Ada bukti kuat bahwa hubungan ini nyata dan bahkan bisa menyelamatkan nyawa. Setiap pemikiran positif bisa menjadi langkah menuju kesehatan dan kehidupan yang semarak.

Dan emosi positif tidak mahal. Kita bisa langsung bersyukur kapan saja, di mana saja, dengan siapa saja, termasuk diri sendiri. Kita bisa mulai sekarang, segera. Mulailah dengan senyum, mendekatkan diri pada Sang Maha Kasih dan membangun kebiasaan latihan pernafasan, tafakur sambil terus menghayati berbagai nikmat dan karuniaNya yang sungguh luar biasa besar. Syukuri semua itu, jangan biarkan bibir kering dari namaNya, dan ikhlaskan apapun yang terjadi, karena semua pasti baik. Kita hanya harus percaya dan yakin padaNya.

Murah, meriah dan penting. Jadi apa yang dapat kita lakukan saat ini juga untuk mulai lebih banyak lagi bersyukur, lebih banyak lagi berfikir positif, tersenyum dan berbagi dengan tulus ikhlas?

Bagaimana kita bisa sembuh, sehat, bahagia dan menjadi pembawa berkah bagi dunia melalui rasa syukur kita?

Bukan karena kita butuh balasan, atau karena kebaikan orang lain, tapi karena Sang Maha Pencipta sudah sedemikian baik pada kita, dan kita hanya harus mengembalikannya dalam bentuk syukur dan berbuat baik pada hamba-hambaNya yang lain.

 

Takut kanker? santai saja, relax justru membebaskan dari kanker

what you resist will persist.png

Janet selalu takut akan kanker. Selama bertahun-tahun, dia melakukan semua jenis ritual anti-kanker – mengonsumsi suplemen vitamin D, memakai tabir surya, makan brokoli. Bukan hanya kanker yang dikhawatirkannya. Setelah didorong menuruni tangga di usia satu tahun oleh adik laki-lakinya, ia tidak pernah merasa aman di dunia ini. Ia takut segala macam penyakit, racun, pintu dan jendela yang tidak terkunci, penyusup, dan sejumlah bahaya potensial lainnya yang tidak disebutkan namanya.

Ia takut melakukan kesalahan dan takut akan ketidaksempurnaan. Di kartu rapor kelas satu, gurunya menulis, “Suatu hari nanti Janet akan merasa membuang-buang waktu untuk sangat khawatir melakukan kesalahan.”

Rasa takut Janet terwujud sebagai ketegangan kronis di tubuhnya, terutama di perut dan daerah panggulnya, seolah-olah dia bisa menangkal ketakutan dan mengendalikan dunianya dengan mengeraskan daerah-daerah itu. Dan selintas ia sering berfikir, “Kalau suatu hari aku memiliki masalah kesehatan, pasti asalnya dari perut dan panggul.”

Benar saja, di sanalah dia sakit, dimulai dengan usus buntu yang terus menerus. Kemudian suatu hari, bertahun-tahun setelah menopause, mulai pendarahan di vaginal. Jauh di lubuk hatinya, ia tahu ada kanker.

Janet menikah dengan orang yang sangat dicintainya. Meskipun dia sangat senang bisa menikah, pernikahannya menimbulkan kegelisahan yang luar biasa, karena kecenderungan perfeksionisnya muncul, bersamaan dengan ketakutannya bahwa sekarang ia bisa kehilangan pria yang dicintainya. Suara ketakutan di kepalanya memiliki satu kata yang selalu ada: “Hati-hati.”

Janet merasa bahwa rasa takut telah melemahkan sistem kekebalan tubuhnya dan membiarkan kanker rahimnya bertahan di tubuhnya. Ia sadar, tapi kesadarannya tidak membuatnya belajar mengatasi rasa takut, malah rasa takut bertambah parah. Ia selalu takut pada dokter, jarum, rumah sakit, dan rasa sakit, dan hal-hal itu sekarang merupakan bagian rutin dari hidupnya.

Jadi tidak heran kalau setahun setelah pengobatan kanker secara agresif, kankernya kambuh lagi. Masuk akal bagi Janet. Ia faham bahwa ketika area tubuh secara kronis tegang, ia menghalangi aliran energi, oksigen, dan sirkulasi ke bagian tubuh itu, dan membuatnya rentan terhadap penyakit. Maka ia pun memutuskan untuk mengobati kankernya yang kedua kali ini dengan pengobatan emosi.

Kini ia sadar kanker mengharuskannya untuk sepenuhnya menghadapi ketakutan terburuknya, satu napas pada satu waktu, detik demi detik, satu kaki gemetar di depan lain. Ia menjadi mindful, menikmati apa adanya yang terjadi di detik ini. Janet kemudian menemukan bahwa ia tak lagi ditekan dengan rasa takut. Kini ia memeluknya, menjadi sepenuhnya hadir bersamanya, dan belajar darinya. Dan sekarang dia bebas dari kanker, lahir batin bebas.

Sebuah Studi Mengevaluasi Korelasi Antara Kanker dan Stres

Sebuah studi Norwegia yang dilakukan melalui University of Bergen, diikuti 62.591 orang di Norwegia, bisa menjelaskan hal ini. Survei ini menemukan bahwa orang yang paling cemas, 25 persen lebih tinggi kemungkinan memiliki sel abnormal yang mungkin menjadi kanker.

Belajarlah dari setiap kejadian, dan tumbuhlah bersamanya.

FEAR (takut) bisa diterjemahkan menjadi False Evidence Appearing Real (Kejadian Palsu yang Dirasakan Nyata). Jadi sesungguhnya yang ditakutkan itu tidak ada, palsu saja. Pelan-pelan kita perlu menikmati apa yang dianggap menakutkan. Misalnya takut jarum suntik. Saat diharuskan menghadapinya, coba hadapi dan rasakan, ternyata jarum ini tidak apa-apa kan. Sebagai ibu kita bisa bilang ke anak, “Kayak semut saja kok.” Nah kita perlu lakukan ini ke diri sendiri. Setiap hal yang kita takuti bisa kita katakan, “Kayak digigit semut saja kok.”

Setiap manusia punya respon yang berbeda terhadap stress. Orang yang satu bisa tetap tenang secara fisiologis, tubuhnya tetap relaks dan hatinya damai – dalam menghadapi kejadian kehidupan yang mengerikan sekalipun. Orang lain bisa ketakutan setengah mati, tegang dan seluruh tubuhnya kaku saat menghadapi hal yang sama.

Stress itu penting, tapi respon kita terhadap stress yang menentukan respons fisiologis tubuh, bukan sumber stress nya itu sendiri.

Belajar dari rasa takut akan membantu kita berdamai dengan berbagai kejadian. Belajar mengatasi rasa takut akan satu hal membuat kita mampu menghadapi hal berikutnya, satu persatu. Maka kejadian seberat apapun justru akan membantu kita sembuh secara emosional, mental, dan spiritual. Kejadian yang penuh tekanan tidak perlu menjadi penyebab masalah kesehatan.

Belajarlah terus perlahan-lahan. Pelajari teknik bernafas untuk mendamaikan perasaan dan jiwa, dan berdampak pada sel-sel yang damai. Penuhi hati dan pikiran dengan energi cinta dan hal-hal yang positif, maka sel dan seluruh organ pun akan menguat dan penuh dengan energi. Berolah raga, tertawa, tersenyum, berpelukan, bersilaturahmi dengan penuh bahagia bisa mengeluarkan berbagai zat yang menyembuhkan seluruh tubuh.

Ibadah, dzikir, tafakur, mengembalikan kita kepada Sang Maha Besar. Nikmatilah kehadiranNya di hati kita, agar tak ada lagi yang bisa menakutkan kita. BersamaNya, rasakan kedamaian dan kebahagiaan setiap saat, bebas dari rasa takut.

Nah, rasa takut apa yang bisa mulai kita atasi hari ini dengan lebih baik? Apa rasanya bebas dari rasa takut yang satu ini? Bagaimana agar kita terus bebas lahir batin dari rasa takut yang satu ini seumur hidup?

 

Sumber:

Does Fear Cause Cancer? 

Ditayangkan juga di:

Apa yang ditakuti, itu yang terjadi, juga kanker

Menjadi pribadi sehat lahir batin bebas kanker

I love and approve of myself,just as I am.png

Galen, seorang dokter Yunani yang terkenal cermat dalam pengamatannya terhadap pasien, mencatat bahwa wanita dengan kanker payudara sering memiliki beberapa kemiripan.

W. Douglas Brodie, MD. menyimpulkan dari pengamatannya dalam menghadapi ribuan pasien kanker selama 28 tahun, bahwa ada beberapa ciri kepribadian tertentu yang secara konsisten hadir pada individu yang rentan terhadap kanker.

Anita Moorjani, seorang penerima kurikulum kanker stadium 4 yang berhasil bangkit dan sembuh, dalam interview dan berbagai tampilan publiknya juga menyatakan bahwa para penerima kurikulum kanker punya kepribadian tertentu. Dan Louise Hay menyebutkan bahwa kanker biasanya didasari oleh sebuah emosi tertentu, resentment, penolakan atau pemberontakan dalam diri atas apa yang terjadi padanya. Dalam hal apa mereka berontak dan menolak kenyataan hidup, itulah yang menentukan jenis kankernya.

Kepribadian khas yang rentan kanker biasanya punya kecenderungan menekan “emosi beracun” terutama kemarahan. Biasanya mulai di masa kecil, individu ini telah menahan permusuhan dan emosi yang tidak dapat diterima lainnya. Mereka sering kali merasa kesepian dan takut tidak diterima. Persepsi ini belum tentu benar, tapi persepsi inilah yang menjadi kenyataan yang membuat tubuh merespon dan mencoba mellindungi diri dengan menimbulkan kanker.

Misalnya pasien kanker payudara umumnya:

  • Pernah mengalami kejadian, atau membentuk pola hidup di masa kecil yang membuatnya merasa tak dicintai. Pola ini ditangkap otak sebagai “pola hidup di dunia” dan karenanya mereka ulang lagi dengan pasangan, sehingga muncul masalah dengan pasangan yang memperdalam perasaan tidak berharga dan tidak dicintai.
  • Dengan perasaan itu mereka merasa harus melayani dan membahagiakan orang agar bisa mendapatkan cinta dan perhatian tersebut. Jadi mereka melayani bukan karena merasa penuh cinta, tapi kosong akan cinta. Maka mereka akan banyak berharap dan menuntut. Saat kecewa sulit untuk ikhlas.
  • Kebutuhan itu membuat mereka sangat teliti, patuh, bertanggung jawab, peduli, pekerja keras, dan biasanya sangat cerdas.
  • Harapan yang tinggi dan kecenderungan untuk menuntut membuat mereka sering berkata, “Seharusnya begini, seharusnya begitu,” atau dengan khawatir bertanya “Bagaimana kalau begini,” dan “Bagaimana kalau begitu.” Dengan pikiran-pikiran ini mereka menciptakan sendiri beban hidupnya yang setiap hari memakan energinya.
  • Kebiasaan mencerna berbagai perasaan negatif itu menimbulkan kemarahan, kebencian dan kadang permusuhan yang tersimpan rapih dan sulit mereka keluarkan.
  • Mereka “menderita dalam diam,” dan menanggung beban mereka tanpa keluhan. Mereka tak mau dibantu karena takut bantun itu mengurangi peran mereka sebagai “pemberi cinta bagi dunia.”
  • Tidak mampu menghadapi stress, dan sebelum kanker muncul biasanya ada stress pamungkas yang tak bisa mereka ajak “berdamai” dengan tubuh, pikiran dan jiwa.

Dalam proses penyembuhan, aspek kepribadian ini perlu diatasi. Senang membahagiakan orang lain, melayani, sangat teliti, adalah sangat baik. Tapi emosi yang mendasarinya perlu diubah. Apapun metode penyembuhan yang dipilih, penyembuhan emosi dan spiritual perlu dilakukan, agar kanker tidak datang kembali.

Beberapa hal yang perlu dipelajari oleh para penerima kurikulum kanker dan semua yang memiliki kepribadian ini adalah:

  • Menyadari bahwa mereka dipenuhi dengan cinta. Sang Maha Cinta lah yang menciptakan mereka dengan penuh cinta dan menyediakan berbagai kebutuhan mereka dengan penuh cinta sampai akhir hayat.
  • Menikmati dan menghayati cinta tersebut, dan memenuhi seluruh hati dan jiwa mereka dengan penuh cinta sehinga mereka yakin dan percaya diri bahwa mereka penuh cinta dan layak dicintai.
  • Membangun kebiasaan mengisi seluruh sel tubuh dengan cinta, sehingga “cinta” benar-benar menjadi kebiasaan, darah daging dan nyawanya.
  • Saat mereka yakin bahwa mereka penuh cinta, mampu memenuhi diri dengan cinta mereka akan lebih mampu untuk ikhlas, karena apapun yang terjadi mereka yakin itu adalah ketentuan Allah, yang terlihat buruk sekalipun.
  • Setelah tubuh, jiwa dan pikiran terisi penuh dengan cinta, baru bisa melayani dan membahagiakan orang lain dengan dasar cinta, bukan untuk kebutuhan diri.
  • Melepaskan kebiasaan berharap, menuntut dan berkata, “Seharusnya…” atau “Bagaimana kalau…” Semua baik dan semua adalah kesempatan untuk belajar.
  • Memaafkan dan mensyukuri semua yang terjadi di masa lalu dan yakin akan kebaikan Sang Pencipta dan Sang Maha Pelindung untuk masa depan sehingga lebih mudah hidup 100% di masa ini saja, menikmatinya secara penuh.
  • Melayani dan membahagiakan orang lain, dengan dasar cinta, tanpa berharap ada balasan, tanpa tuntutan, dan tidak mempermasalahkan apapun balasan dan respon dari yang dicintai.
  • Bahagia saat semua orang lain bahagia, termasuk mereka yang dianggap pernah “punya masalah” di masa lalu, sehingga uneg-uneg masa lalu bisa dilepas. Di tahap inilah hati pelan-pelan disembuhkan, lapis demi lapis dan pelan-pelan semua trauma bisa disembuhkan.

Tak ada sakit yang tak ada obatnya, begitu juga penyakit hati. Jadi marilah kita jaga hati baik-baik. Yang ada di hati seringkali hanya prasangka buruk, tapi prasangka buruk inilah yang membinasakan kita semua.

Yuk, apa yang bisa kita bersihkan dari hati kita hari ini dengan lebih baik lagi? Apa rasanya kalau bisa bersih dari hal itu? Dan bagaimana caranya agar kita selalu bebas daripadanya?

Sumber:

http://www.healingcancernaturally.com/emotions-and-cancer-healing.html#positivethinkingserotonine

You Can Heal Your Life, Louise Hay

Cancer Forced Me To Forgive

Ditayangkan juga di: Kepribadian Rawan Kanker

1.000x semangat. Kanker melatih daya juang yang tinggi untuk bisa mengatasinya.

bahagia.png

Saya Nurul Munawaroh. Saya ibu dengan tiga orang putri yang solehah, alhamdulillah. Saat saya memasuki usia 40 tahun, aku menerima diagnosa kanker. Dimulai dengan benjolan dibawah telinga kanan yang hampir 1 tahun saya alami tanpa dirasa yang tak terasa sudah sebesar telur ayam.

Anak bungsu saya selalu menangis kalau saya tinggal ke kantor dan di sekolah. Gurunya mengatakan bahwa ia selalu menangisi mamanya. Pada suatu malam kami sedang berkumpul bersama sambil mengerjakan PR tiba-tiba anak bungsu saya bertanya dengan santai, “Mama kanker ya?”

Kami semua kaget dan saya hanya senyum saja sambil mengalihkan pembicaraan saya menjawab, “Iya nak, kanker alias kantong kering.”

Sebelum tidur anakku yang solehah ini berkata kepada saya, “Mama harus berobat, Ade sayang mama.” Kata-kata itu selalu teringat dan itulah langkah awal saya memulai pengecekan.

Diawali dengan tahap awal pengecekan jalur PPJS ke puskesmas sampai dengan rumah sakit besar. Keputusannya saya harus biopsi. Mendengar kata biopsy membuat hati ini bergetar. Saya pun terus berdoa semoga hasilnya baik-baik saja.  Dalam waktu 2 minggu saya menunggu dan alhamdulillah setelah dibacakan dokter mengatakan hasilnya saya positif terkena kanker nasofaring stadium 3 dan saya harus menjalani kemo dan radiasi.

Saya terdiam dan mensyukuri apa yang saya terima dan rasanya hari itu dunia terasa hening, diam seakan berhenti. Saya menangis dan menangis sekuat tenaga. Saya memikirkan nasib anak-anak saya. Saya menyendiri dan bertanya pada diri saya, “Ya Allah apa salah saya sehingga saya diberikan ujian seperti ini? Ini penyakit yang mematikan dan sering orang menganggap bahwa ini penyakit orang kaya karena mahal pengobatannya.”

Saya terus berdoa dan berdoa. Jawaban pun lalu saya dapati. Saya mulai yakin bahwa ini adalah kesuksesan yang tertunda dan saya harus lebih dekat lagi dengan Sang Pencipta Allah SWT. Saya pun harus lebih dekat lagi dengan keluarga. Saya terlalu sibuk mencari dunia dengan bekerja dan bekerja. Kini saatnya saya harus banting stir untuk penyembuhan penyakit saya. Saya harus sehat itu syaratnya.

Saya harus menjalani 35x radiasi dan 19x kemo. Subhanallah perjuangan panjang yang sangat saya nikmati. Setiap hari Senin sampai dengan Jum’at saya radiasi. Hari Sabtu test darah. Senin mulai kemo lagi. Begitu terus selama dua bulan tanpa putus.

Alhamdulillah benjolan saya mengecil dan saya tidak perlu dioperasi. Leher saya gosong seperti areng dan lidah saya keluh. Setiap kali makan muntah dan berat badan turun drastis 20kg. Dengan berbekal 1000x semangat sehat sehat sehat. Selama 40hari saya jalani Shalat Dhuha dan Tahajjud tidak putus.

Walau badan ini sangat lemah saya paksakan harus bangun. Meskipun lidah ini keluh saya paksakan bisa membaca Al Qur’an tiap hari 1juz walau terkadang tidak sampai karena kepala kalau sudah diradiasi sudah tergeletak tak bisa bergerak. Makanan dan minuman yang masuk selalu saya muntahkan. Hanya air zamzam yangg bisa masuk kebadan. Menelan air saja tidak bisa karena efek radiasi leher saya gosong.

Setiap orang yang melihat saya memberikan support dan doa. Tak henti-hentinya saya bersyukur masa-masa sulit saya sudah saya jalani. Benjolan saya sudah kempes dan kemo sesi 1 berhasil. Saya harus melanjutkan dengan sesi 2 dan 3 dengan satu bulan sekali kemo selama seminggu tiap hari selama setahun penuh. Akhirnya bulan Agustus 2016 saya dinyatakan bersih, dan harus rajin kontrol tiga bulan sekali. Perjuangan panjang walau berat saya nikmati dengan ikhlas, sabar dan bahagia jadi tidak akan terasa sakit, bahkan menjadi obat hati buat saya.

Dan yang membuat saya sangat bahagia setelah saya dinyatakan bersih dari sel kanker saya mendapat info dari travel haji bahwa saya bisa berangkat haji tahun 2016, padahal seharusnya tahun 2017.  Subhanallah  terjawab sudah bahwa ini adalah rahasia Allah SWT. Saya sehat berkat semangat dan sikap positif, berprasangka baik kepada Sang Pencipta Alam semesta. Kita hanya pasrah dan bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.

Saya ucapkan banyak berterima kasih atas bantuan support dari keluarga, kerabat dan sahabat sehingga semuanya bisa menjadi semangat saya, untuk sehat dan sehat.

Tujuan saya ingin berbagi cerita ini ke Group Lavender Ribbon untuk memberikan 1000x semangat sehat dan sehat. Sehat itu sangat penting diatas semuanya. Sahabat-sahabatku semua yang sedang menjalani proses kesembuhan harus punya daya juang yang tinggi. Memang sangat berat dan perlu banyak sekali ilmu buat kita. Kita harus banyak belajar dari pola pikiran, pola hidup, pola makan dan gaya hidup yang harus berubah dari yang sebelumnya. Saya ingin bisa aktif di group Lavender dengan kopi darat karena selama ini saya hanya menyimak dan mengambil ilmu-ilmu yang sangat bermanfaat yang saya dapati di group Lavender walau saya belum pernah bertemu tapi serasa saya ikut menjadi bagian dari keluarga Lavender dengan motto saya jauh dimata dekat dihati.

Terima kasih buat team Lavender. Bagi sahabat-sahabat yang ingin berinfak silakan transfer ke  Yayasan Lavender Indonesia, Bank Mandiri no rekening 1270007342932. Dan bagi sahabat-sahabat yang ingin bertanya detail perjuangan saya menghadapi penyakit kanker saya silakan ke WA saya 08161889106. Saya sangat senang bisa membantu sahabat-sahabat yang masih menjalani proses penyembuhan. Semoga hal ini bisa menjadi ladang amal buat kita semua. Pesan saya jangan pernah putus asa dan jangan menyerah dengan keadaan. Kita harus 1000x semangat, buat sahabat-sahabat Lavender.