Tumor otak pun bisa jadi berkah, kisah Bubu dan Baba 3

26 desember 2015 

Baba di operasi nyaris 8 jam.

Alhamdulillah semua berjalan lancar.
Selama menikah kami tidak pernah pergi berdua, selalu bersama anak-anak kami. Honeymoon pertama kami adalah di Siloam. Bedanya dia di ruang ICU, aku di ruang tunggu🤗.

Alhamdulillah Baba sadar tiga jam setelah operasi, tidak sampe tiga hari. Alhamdulillah. Dan langsung mengenali aku. Kami tinggal di ruma sakit selama enam hari.

28 desember 2015

Baba mulai menjalankan food combining

31 januari 2015

Baba di perbolehkan pulang, dan.bisa.jumatan lagi di komplek..masyaAllah😍

3 januari 2016

Hasil PA keluar. Hasilnya.. grade IV, terganas, jadi harus segera dilanjutkan treatment radiasi 30x, dan kemoterapi selama 3 cycles.

11 januari 2016

Radiasi pertama

Pola makan selama radiasi dan kemo tetep food combining. Alhamdulillah setiap tes darah hasilnya selalu baik.

Selama menjalani radiasi Bubu menyiapkan buah buahan dan juga salad untuk bekal. Baba berhenti meng konsumsi protein hewani.

Baba juga mulai meng konsumsi obat-obatan selama radiasi plus temodal yaitu kemo secara oral. Aku tahu berat bagi Baba meminum sekian banyak obat-obatan, yang selama ini dia hindari. Baba ikhlas menjalaninya demi kami keluarga kecilnya. Protokoler yang dilakukan sebelum menenggak tablet-tablet itu, Baba membaca doa dan dzikir, memohon pada sang Illahi.

Awal februari 2016

Mulai menjalani diet Alkaline, belajar raw food, diet lalap, Baba semakin segar dan sehat meski dalam tahap radiasi. Tanpa kemo lagi, karena Baba tidak mau melanjutkan kemo. Belajar diet alkaline dengan bapak Wied Harry.

Akhir februari 2016

Selesai radiasi, hasil CT Scan sangat baik, para dokter ikut bangga.
Baba juga memakai helm elektromagnet, hasil scannya selalu membaik.

Awal maret 2016 

Memutuskan berhenti semua obat-obatan. Termasuk tidak pernah mengkonsumsi food suplement dan obat-obatan herbal. Semua pure alami tanpa olahan.
Masyaallah..

Baba tetap konsisten menjaga pola makan food combining alkaline dan semangat untuk sehat.

Amazingly, pandangannya mulai membaik. Baba bisa kembali membaca dan juga mengaji. Alhamdulillah per 3 bulan MRI hasilnya selalu membaik.


Sampai saat ini, sudah enam bulan sekali cek up, dan dinyatakan sudah tidak aktif.
Kami tak hentinya bersyukur menerima anugerah ini di masa yang ramah informasi.

Dan kami begitu mendapat indahnya manfaat dari silaturahmi. Surrounding by amazing family and lovely friends… Mereka semua selalu siap membantu kami, masyaAllah.
Alhamdulillah.

Maka nikmat Tuhan kamu mana yang kau dustakan?

Selama ini kami, bersama anak anak:
♡ bersyukur selalu tak berujung.
♡ selalu berserah diri pada Allah dan tak hentinya menuntut mukjizatNya. Allah suka di tuntut umatNya.
♡ yakin akan kemampuan tubuh kita dalam penyembuhan.
♡ menikmati segala prosesnya.
♡ percaya dengan ikhtiar-ikhtiar yang dijalani karena setiap orang memiliki jalan ceritanya masing masing.
♡ penuhi dengan kasih sayang dan terus produksi endorphin
♡ menanamkan happy thoughts pada kami dan anak anak kami, Sae, Uma dan Nesto. Kami minta mereka simpan dalam sub concious mind mereka Baba yang sehat, ceria, dan barokah. Alhamdulillah ini adalah bagian terpenting dari segala ikhtiar kami, anak anak soleh yang senantiasa mendoakan Babanya. Masya Allah
Subhannallah walhamdulillah walailahaillallah huallahuakbar.

Miracles do exist

Allahuakbar😇😇😇
9 agustus 2017

Dinda Aspira

☆☆

Indah sekali ya, teman-teman Lavender. Bubu dan Baba adalah teladan-teladan bagi kami di group. Sikap yang positif dan selalu happy membuat kami selalu bahagia mengikuti perjalanan Bubu dan Baba.

Dan betapa saya menyaksikan bahwa kurikulum tumor otak ini adalah kurikulum yang bisa dijalani dengan sangat baik sehingga hasil ujian nya pun mendapat nilai lulus gemilang dari Sang Pemberi Tumor dan Penyembuhnya.

Semoga kisah ini bisa menyemangati teman-teman semua. Aamiin.

Tumor otak pun bisa jadi berkah, kisah Bubu dan Baba 2

 

“Ok dok, makasih anjurannya nanti saya sampaikan ke suami saya,” jawab saya datar.
Keluarlah kami dari rumah sakit itu. Dan aku mulau bercerita pada Baba apa yang dokter mata katakan.

Baba pun seakan tidak terima. Dan dia bilang “Kita coba terapi dari dokter syarafnya aja dulu ya, Bu,” tutup Baba

Sebulan pun berlalu, aku sudah mulai terbiasa dengan kondisi Baba. Sat itu kartu BPJS kami baru saja selesai.

“Baba, kita coba CT Scan aja yuk pake kartu BPJS, beneran gratis gitu?” Ajakku iseng

“Ayo Bu, mumpung anak-anak libur ya,” baba menjawab dengan semangat.

Tanggal 20 Desember 2015

Kami check up dan CT Scan di rumah sakit. Karena pasien BPJS Baba harus menginap di RS. Aku pun berpamitan tanpa ada rasa khawatir sama sekali.

“Sampai besok ya Ba, insyaAllah hasilnya baik,” kataku penuh harap.

“Aamiin…sun buat d SUN ya neng,” jawab Baba.
Malam itu kami terpisah dan bisa tidur dengan nyenyak.

Tanggal 21 Desember 2015

Dokter membacakan hasil CT Scan.

Begitu ditarik lembaran fotonya aku langsung bisa melihat ada lingkaran yang cukup besar dan gelap di bagian otak Baba, nyaris setengah massa otak. Aku langsung mengucap, “innalillahi.”

Dokter perlahan menjelaskan apa arti foto tersebut, “Bapak, ada massa sebesar kurang lebih 5.5x7x11.5cm di bagian bawah kiri kepala Bapak,” papar dokter syaraf.

“Massa itu apa dok?” Tanyaku lirih

“Ehm…tumor bu,” jawab dokter pelan sekali, nyaris tak terdengar.

“Sabar ya Pak, Bu, kami akan rencanakan terapi secepatnya dengan dokter bedah syaraf ya,” tutup dokter.

Dokter pun meninggalkan kami yang terpaku. Tumor? Di otak?
“Baba, Bubu boleh nangis, Ba?” tanyaku

Baba langsung peluk aku erat sekali.

“Kuat, Bu, untuk Kakak, Teteh dan Mas. Baba kuat, Bu. Kita sama-sama, ya Bu,” Baba menenangkan aku.

Tidak lama dokter bedah syaraf datang dengan penjelasannya dan tahapan tahapan apa saja yang harus di lalui Baba suamiku.

“Selanjutnya MRI ya bu, diagnosenya adalah Brain Glioma. Untuk lebih akurat harus MRI. Saya buatkan surat pengantarnya, nanti dibaca lagi hasil fotonya, baru bisa kita rencanakan operasi pengangkatan tumor itu (biopsi). Spesimen dari tumor itu kemudian dites PA (Pathologic Assessment, analisa patologi – red), untuk mengetahui stadiumnya dan juga tahapan terapi setelah operasi. Saran saya secepatnya ya, Bu, tindakan operasi, karena ukurannya besar sekali,” jelas dokter bedah syaraf pada kami.

Memang besar sekali, actual sizenya kira kira pempek kapal selam palembang ukuran besar.

Atas seijin Baba, aku langsung broadcast ke keluarga dan sahabat terdekat untuk mendapat info penanganan terbaik bagi suamiku.

Malam itu aku juga langsung bertanya pada kakakku dr Ika Satya. Aku kirim juga foto-fotonya via wa, dan jawaban beliaulah yang membuat kami yakin akan kata ikhtiar. Baru terbuka sekarang, padahal beliau pas tahu kondisi adiknya beliau galau segalaunya dan menambahkan nama Baba dalam setiap doanya. Terima kasih ya, Mbak Ika.

Keesokan harinya kami mencoba antri MRI melalui BPJS, tapi kondisi Baba tidak fit. Jadinya kami pindah ke Siloam.

Dan langsung mendapat hasil mentah MRI dan kami bawa ke Prof Eka di Siloam, Karawaci. Terima kasih dear Pradita Gifani

22 desember 2015

Hasil baca dari prof dan timnya, Baba di nyatakan glioblastoma multiforme (https://en.m.wikipedia.org/wiki/Glioblastoma), dan di sarankan operasi. Dan juga tahapan berikutnya adalah tes PA, agar tahu grade/stadiumnya dan jumlah terapi radiasi plus kemo.

Baba langsung menyanggupi operasi.

Tanggal 23 desember 2015

Kami kontak ke siloam untuk minta jadwal operasi. Susternya langsung menginfokan jadwal operasinya di tanggal 26 Desember dan 25 Desember sudah harus masuk RS untuk rangkaian persiapan operasi.

Dokter sudah menjelaskan segala kemungkinan yang terjadi pasca operasi. Mendengarkan segala kemungkinan terburuk.

Tanggal 24 desember 2015

Kami sekeluarga pergi jalan- bersama tiga anak kami, quality time bersama mereka dan kami tidak cerita pada mereka Baba mau operasi. Hanya cerita mau periksa mata.

Malam itu kami berbincang berdua.

“Baba, Bubu pernah minta sesuatu tidak ke Baba?” tanyaku pelan.
“Minta apa ya, ggak ya Bu, Baba gak inget,” jawab Baba.
“Bubu minta Baba besok habis operasi bangun yaaa, gak pake lama,” pintaku kuat.
“Aamiin neng, kasih waktu paling lama 3 hari ya Bu, Baba pasti bangun kok, kita sama-sama lagi ya, Bu. Bubu yakin Baba sehat karena Baba yakin, Baba akan menua bareng Bubu dan anak anak,” papar Baba panjang.

Aamiin ya Allah…


25 Desember 2015

Tepat di ulang tahun Baba, hari Jumat, Baba minta Jumatan di mesjid komplek kami, sekalian minta doa para jamaah mesjid.

 

Bersambung…

Tumor otak pun bisa jadi berkah, kisah Bubu dan Baba 1

Sahabat Lavender,

Di bawah ini adalah tulisan Bubu (Mbak Dinda) mengenai Baba (panggilan sayang suaminya) dan anak-anak mereka, d SUN (Sae, Uma, Nesto), dalam menghadapi kurikulum tumor otaknya. Sungguh sangat dalam pelajaran yang bisa kita pelajari dari perjalanan ini. Kita simak yuk.

☆☆

Selamat sore teman-teman semua…

Terima kasih ya, Taman Lavender, sudah menjadi bagian dari keluarga kami, setia menemani setiap hari via group wa dengan segala bentuk motivasi dan curahan doa, terutama pencerahan-pencerahan dari teteh Indira Abidin. Tak lupa Ibu Adi Tri Kuswati yang pertama sharing tentang pengalaman “persahabatannya” bersama anugerahnya..

Masya Allah..hanya Allah yang dapat membalas segala bentuk cinta kakak-kakakku semuanya.

Ijinkan saya berbagi cerita bahagia. Semoga menjadi penambah motivasi untuk hidup bahagia dalam sehat yang manfaat. Aamiin!


☆Senang Bersamamu @sanitric☆

Cerita perjalanan kami sebelum suamiku Sani Tri Cristian (Baba) menerima anugerah, sampai dengan ikhlas berbahagia menjalaninya bersama.”
(Silahkan share tanpa ijin terlebih dahulu, agar dapat ikut berbahagia bersama kami).

“Bu, baba geleyeng bu..Baba langsung rebahan ya,” keluh Baba sepulang dari proyek.

Kalimat itu berulang hampir setiap malam, mulai dari awal tahun 2015.
Dan aku selalu mengecek suhu tubuhnya juga tensinya..semuanya normal.

Sejak kecil, Baba tidak pernah mau minum obat, kalau sakit obatnya hanya istirahat.

“Sepertinya, Baba kelelahan” batinku
Di pertengahan tahun 2015 keluhan Baba bertambah.

“Bu, kok sekarang keliatannya belereng (buram) ya? Coba Bubu di sisi kanan Baba…kok Baba gak bisa lihat jelas ya?” Tanya Baba serius, sembari memicing micingkan matanya.

“Periksa atuh ke dokter mata, Ba, besok ya,” ajak aku.
Mulailah kami gerilya ke dokter mata dan juga optik-optik mata. Dari sekian dokter dan optik yang kami sambangi jawabannya sama, “Ini sih bapak kecapean ya, istirahat saja dulu, minusnya hanya 0.25. Nanti cek lagi minggu depan,” kurang lebih itu jawaban mereka.

Hingga terjadilah Baba terjatuh dari sepeda di akhir bulan Agustus 2015. Sambil berlumuran darah, Baba berulang kali memohon maaf, karena selepas subuh pergi naik sepeda bareng teman-temannya, tanpa sepengetahuan Bubu. Padahal Bubu sudah berpesan tidak ber down hill dulu, selama matanya belum pulih. Saat itu tangan kirinya patah dan kuku jari kaki Baba terlepas.

Pemulihan setelah patah tulang cukup lama. Kami pun merayakan ulang tahun pernikahan kami yang ke 9 (16 September 2015) di rumah. Baba terbaring dan mengucap doa bersama anak-anak kami, Sae, Uma dan Nesto.

Selama istirahat di rumah penglihatan Baba semakin berkurang, Baba sampai sempat tidak dapat membaca lagi. Kami pun memutuskan berlangganan koran untuk melatih baca. Hasilnya? Tidak ada. Kondisi mata kanan baba semakin menurun. Kami kembali gerilya ke dokter mata, dokter umum dan hasil diagnosanya pun sama . Menurut mereka, Baba hanya kelelahan.

Bulan-bulan pun berlalu, akhirnya Baba memutuskan di rumah dulu tidak beraktifitas. Sampai di bulan November, aku mengajak Baba check up ke spesialis syaraf, ini berdasarkan saran dari kakakku, melihat dari keluhan Baba yang seperti geleyeng tanpa rasa sakit di kepala, tapi kepala terasa berat.

Hari itu kami periksa dan tebak apa kata diagnosa dokter spesialis syarafnya. Beliau menyarankan PIKNIK, “Matikan gadget, dan benar benar istirahat dulu, Pak” saran dokter itu. Suamiku benar over exhausted, batinku.

Sang dokter juga menyarankan ke spesialis mata untuk memeriksakan penglihatan yang semakin menurun..

Kami pun mengikuti anjurannya.
Saat di periksa di dokter mata barulah mulai terkuak ada sesuatu yang serius dengan Baba. Sang dokter mengajak aku ngobrol personal, Baba menunggu di luar

“Ibu, saya sarankan bapak menjalani CT Scan kepala, karena gejalanya persis dengan pasien saya minggu kemarin. Setelah CT Scan ternyata ada tumor di kepalanya dan menekan bagian optiknya sehingga tidak bisa melihat lagi,” jelas dokter mata tersebut.
—————
Hening sejenak
Bubu kaget. “Hello…dokter spesialis syaraf yang jauh lebih senior dari dokter mata ini aja cuman nyuruh piknik. Ini kok CT Scan,” umpatku dalam hati. Begitu panas rasanya saat itu. #istighfar Aku tidak menerima diagnosa dokter tersebut.

 

Bersambung

Perjalanan Seorang Penerima Kurikulum Tumor Otak

Adi Tri saat lulus S2 Universitas Negeri Jakarta, ditemani sahabatnya, tumor otak.

Perjalanan seorang Adi, self healing atas kuasa Allah.
Yang saya yakini;

Pertama

Allah menguji hambanya sesuai dengan kemampuan, sudah diukur sangat akurat bahwa saya mampu melalui dengan baik atas kuasa Allah – yakin.

Kedua

Pada dasarnya tubuh dikaruniai kamampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri – yakin.

Ketiga

Kesembuhan diperoleh dari dan milik Allah melalui sikap sabar dalam berikhtiar serta sholat tahajjud sebagai perjumpaan dengan Allah, pertemuan yang indah – yakin – membuat bahagia dan sehat berdamai dengan segala hal yang dirasakan tubuh – yakin.

Pengelolaan body soul maind spiritual

Body

Dengan mengatur pola makan minum yang toyyib pola istirahat pola olah raga.

Soul

Perasaan dikelola untuk senantiasa menerima dengan iklash semua qodo qodar Allah, sehingga yang ada hanya rasa syukur

Mind

Dikelola pikiran karena pikiranlah yang memerintah otak dan otak memerintah syaraf.
Maka berfikir positif dan optimis adalah pilihan tepat untuk sehat – yakin.

Spiritual

Al Quran adalah obat, maka terus baca, pelajari, amalkan Al Qur’an mulai dari diri sendiri dari sekarang dan sedikit demi sedikit – yakin.

Sadaqah untuk berbagi termasuk amal sholeh yang bisa membuat semakin sehat.
Istighfar introspeksi dalam pengampunan membuat tubuh sehat – yakin.
Puasa Senin Kamis atau Puasa Daud adalah pola makan yang sangat menyehatkan – yakin.

Mengelola mulut dan hati sehingga qolbu bagai cermin yang bersih sehingga semua niat terjaga untu hal-hal yang baik menurut Allah dan RosulNYA.

Adi Tri Kuswati

Brain tumor warrior
17 th
Tanpa operasi
Tanpa kemo
Tanpa radiasi

Kisah sukses menjalani pengobatan tumor otak berkat banyak tobat dan syukur

list-3

Oleh Aldi Sadana, Lavender Ribbon Cancer Support Group, dalam rangka #WorldCancerDay dan Ulang Tahun Lavender Ribbon Cancer Support Group

Diagnosa Dokter

Saya Aldi Sadana, penerima kurikulum tumor otak Glioblastoma Multiform, terdiagnosa 13 Maret 2012. Saat itu saya sedang mengendarai mobil dan tiba-tiba tanpa peringatan, saya pingsan dan kejang-kejang seperti orang sakit ayan. Kaki saya tiba-tiba menginjak pedal gas secara ekstrem tak terkendali. Tabrakan pun tak dapat dielakkan. Saya langsung dimasukkan ke rumah sakit Jakarta. Dokterpun mendapati ada tumor otak dengan jenis astioblastoma di otak saya. Saya memeriksakan diri ke berbagai rumah sakit dan semua memberi diagnosa yang sama.

Saat itu kami, saya dan keluarga, memutuskan untuk tidak melakukan tindakan apa-apa karena tumor ini dirasa tidak mengganggu aktifitas secara umum. Tapi jika badan terlalu lelah atau pikiran terlalu membebani maka saya akan segera mengalami kejang dan seringkali setelah kejang, kemampuan otak saya mengalami penurunan yang cukup signifikan.  Saat itu, saya hanya mengkonsumsi obat anti kejang, delantin, guna mengurangi dan menghindari terjadinya kejang. Ketika saya mengalami kejang kembali maka dokter menyarankan untuk meningkatkan dosis pemakaian dari delantin, dari 1 butir per hari dan meningkat sampai terakhir 3 butir per hari.

Tindakan Lanjut

Kondisi saya mengalami penurunan ketika memasuki tahun 2015, pada bulan Januari. Keluarga melihat hal ini dan menjadi sangat takut dan berbicara dengan saya dan melalui saran beberapa rekan dari keluarga, pada akhirnya kami memutuskan untuk melakukan pengobatan lanjutan yaitu mengangkat tumor tersebut. Kami pergi ke dokter dan mendapat rekomendasi untuk dilakukan biopsi guna mengidentifikasi jenis tumornya guna mendapatkan pengobatan yang tepat guna. Pemeriksaan awal pun dilakukan sebelum dilakukan biopsi yang dilakukan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat ( RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta Pusat. Biopsi dilakukan pada 16 April 2015 setelah itu dilakukan pengobatan melalui kemoterapi, radioterapi serta obat oral. Pengobatan lanjutan ini dilakukan dengan kemoterapi sebanyak 8 kali, radioterapi sebanyak 30 kali serta pengobatan oral selama menjalani pengobatan tersebut. Pengobatan berjalan dari 1 Juni 2015 sampai 15 Juli 2015. Kami mendapati bahwa badan saya mengalami perubahan menuju kesembuhan.

Satu bulan setelah selesai pengobatan lanjutan, tiba-tiba, pada tanggal 18 Agustus 2015, kondisi saya tiba-tiba menurun secara drastis. Saya tidak bisa makan dan minum secara normal karena kepala saya pusing dan suhu tubuh cenderung menurun hingga telapak kaki dan tangan terasa dingin sehingga saya sesekali menggigil kedinginan. Kondisi ini sangatlah membuat keluarga saya khawatir, karena dokter akan menyarankan saya untuk menjalani pengobatan kemoterapi dan radioterapi dengan dosis yang ditingkatkan untuk menghancurkan tumornya, yang sudah pasti akan merusak sel-sel tubuh yang sehat. Kami sekeluarga sudah tidak tahu lagi harus melakukan apalagi, kemudian ayah saya mendapat berita pada harian Kompas, 21 Agustus 2015, mengenai hasil penelitian dari Dr. Warsito P. Taruno M.Eng. Kami segeramencari informasi guna menghubungi tim dari Dr. Warsito untuk melakukan konsultasi.

Perawatan Alternatif

Kami akhirnya berkunjung ke tempat praktek dari Dr. Warsito pada tanggal 25 Agustus 2015. Kami membawa serta data hasil perawatan lengkap dan di dapati dari hasil MRI terakhir yang  menunjukkan jika aktifitas tumor masih aktif dan volumenya masih tetap. Tim Dr. Warsito melakukan scandan dikonfirmasi dari hasil scanmesin scanciptaan Dr. Warsito. Beliau menyarankan untuk saya menggunakan sarung kepala, helm, untuk mereduksi serta menghilangkan tumornya secara tuntas. Terapi awal ini dilakukan dengan komposisi 3 sampai 4 kali pemakaian dengan durasi per pemakaian adalah 15 menit. Kami diminta untuk melakukan pemeriksaan kembali pada bulan ke tiga, yaitu bulan Oktober guna melihat perkembangan dari hasil terapi. Selama melakukan terapi periode pertama ini, saya merasakan perubahan badan dan hasil penghancuran dari sel tumor itu  dibuang melalui keringat, buang air kecil dan buang air besar. Hasil pembuangan ini terlihat dengan terlihat pada warna air seni yang lebih gelap dari biasanya disertai dengan bau yang tidak biasa serta diikuti dengan warna feses yang lebih gelap dengan disertai bau yang menusuk . Hal ini juga ditunjukkan dengan keluarnya keringat ketika terapi dengan bau yang kurang menyenangkan. Selama melakukan terapi ini, keadaan badan menjadi normal kembali karena tubuh sudah dapat mengkonsumsi makanan dan minuman secara normal.

Perubahan Pola Makan

Selama terapi berjalan, tubuh dapat mengkonsumsi makanan dan minuman secara normal tetapi jumlah yang dikonsumsi tidak sebanyak pada kondisi sehat. Saya lebih banyak mengkonsumsi sayuran yang diolah melalui pengukusan atau perebusan, dan menghindari proses penggorengan. Dari yang saya pelajari proses memasakan melalui menggoreng serta membakar kurang baik karena tingkat keasaman yang dihasilkan cenderung rendah, di bawah pH 7. Makanan yang digoreng dan dibakar – terutama dibakar – juga mempunyai efek karsinogenik. Saya menghindari makanan yang diolah kraena saya tak mau makan makanan yang sudah ditambahkan berbagai zat tambahan seperti pengawet, pemanis, pewarna, atau perasa. Makanan yang sudah diproses juga cenderung menurunkan tingkat keasaman tubuh sehingga terjadi proses oksidasi pada tubuh.

Kami melakukan penelitian pustaka guna memperoleh tindakan yang tepat  untuk menghindari keadaan memburuk. Kami mendapatkan bahwa, buah-buahan sebaiknya dikonsumsi sebelum makan makanan berat, paling tidak 30 menit sebelum makan berat. Hal ini dikarenakan meningkatkan efektifitas penyerapan kandungan vitamin, mineral dan enzim yang terkandung didalam buah serta serat. Berbagai pola makan ini saya jalankan.

Perubahan Cara Berpikir

Saya pun belajar banyak jika kita sedang mengalami suatu keadaan tubuh yang kurang baik, sebaiknya tidak memikirkan penyakit. Ketika keadaan tubuh sedang dalam keadaan sakit, kita akan berpikir khawatir serta takut mengenai penyakit tersebut dan hal ini menstimulasi produksi asam lambung berlebihan, yang bisa menyebabkan sakit maag. Hal ini menyebabkan tingkat keasaman lambung menurun dan menyebabkan tubuh berontak. Tatkala saya mengalami kondisi sungguh tidak mengenakan karena badan menjadi tidak menyenangkan. Hal ini saya antisipasi dengan berdoa serta mengatakan hal-hal yang baik terhadap diri saya sendiri guna menghindari timbulnya kondisi hati dan pikiran yang negatif. Hal ini harus secara konstan dilakukan guna menghindari kondisi hati dan pikiran yang dropsecara tiba-tiba. Setiap kali serangan datang saya tenangkan diri saya dengan kata-kata yang menenangkan, bahwa saya sehat dan tidak khawatir.

Saya juga mendengarkan lagu yang memberi kekuatan dan membangun iman kepercayaan kepada Tuhan dan merenungkan serta melakukan klaim atas janji Tuhan atas saya mengenai kesembuhan dan kesehatan. Dengan banyak berserah diri pada Tuhan saya bisa bersyukur. Hal ini membuat saya bisa menerima keadaan saya dengan kerelaan hati dan percaya kepada Tuhan karena Dia yang menciptakan dan memelihara hidup saya. Hati yang gembira adalah obat yang manjur terhadap kondisi dan keadaan badan setiap orang. Saya benar-benar membuktikannya dalam kondisi ini.

Saya merasa saya berhasil menjalani semua ini karena saya banyak mengaku dosa dan minta ampun atas dosa maupun pelanggaran yang sudah dilakukan baik itu sengaja atau tidak sengaja. Saya juga banyak bersyukur atas apa pun keadaan yang dialami dan memperkatakan guna melakukan klaim atas janji Tuhan yang terbaik dan sempurna bagi umat-Nya yang percaya penuh kepada-Nya.

Keluarga saya, ayah dan ibu, mendukung dan memberi penghiburan dalam melihat kondisi ini sebagai bagian dalam mengalami kuasa Tuhan atas saya. Keluarga besar serta kerabat juga banyak menghibur dan memberi kekuatan dalam menerima serta menjalani keadaan saya secara positif. Semua dukungan ini sangat membantu saya.

Saya merasa terberkati karena bisa mendapat kekuatan dari berbagi pengalaman di Lavender serta dapat memberi kekuatan kepada sesama penderita tumor maupun kanker. Semoga ke depan Lavender dapat lebih banyak berbagi visi dan misi dengan para penerima kurikulum tumor maupun kanker. Lavender dapat pula mempertemukan mereka yang sudah sembuh dengan mereka yang masih menjalani proses pengobatan untuk bisa menyemangati dan  memberikan dukungan.

Pemeriksaan Lanjutan

Kami melakukan pemeriksaan kedua pada tanggal 23 Oktober 2015 guna memeriksa hasil terapi helm.Hasil scan menunjukkan jika tumor sudah mengecil tetapi aktifitasnya masih cukup tinggi. Dr. Warsito mengatakan meskipun aktifitas dari tumor yang masih cukup tinggi tidak berarti tidak dapat menurun dan sembuh total, tetapi hasilnya akan sempurna jika saya selalu mengikuti saran pemakaian alat dan terapi.

Kami pun melakukan pemeriksaan lanjutan pada tanggal 29 Desember 2015 dan mendapatkan jika aktifitas tumornya masih tinggi tetapi menghasilkan kemajuan cukup berarti. Pemeriksaan selanjutnya dilakukan pada 26 Mei 2016, hasil scan menunjukkan kalau tumor mengalami pelemahan serta pengecilan luas permukaannya. Pada bulan Agustus, tanggal 25, hasil scanmenunjukkan penurunan aktifitas tumor yang lebih rendah daripada pemeriksaan sebelumnya.

Hasil scan paling mengejutkan adalah pada tanggal 22 Desember 2016, karena hasil terapi memberikan hasil nyata, pengecilan dari sisa tumor lebih luas daripada hasil pemeriksaan sebelumnya.  Hal ini mengejutkan baik bagi pihak Dr. Warsito maupun pihak keluarga saya, terutama saya.

Pengobatan alternatif yang sudah ditemukan oleh seorang anak bangsa Indonesia mempunyai nilai yang boleh dikatakan sempurna dengan efek samping yang minimal.

Penutup

Kesehatan adalah suatu hal yang vital dalam kehidupan ini, dimana Tuhan sudah percayakan kepada kita untuk memelihara serta mengelolanya dengan baik. Hal ini dapat dilakukan dengan menjaga kesehatan dengan menjaga pola makan sehat, berolahraga secara teratur, menjaga hati dan pikiran kita karena dari situlah terpancar kehidupan. Hidup mungkin bisa dikatakan sulit, tetapi bukan berarti harus terpusat pada kesulitan dan kesusahannya melainkan berpegang dan percaya kepada janji-janji Tuhan serta rencanaNya yang baik dan sempurna bagi kita umat percaya. Hati yang bersyukur, itulah yang membuat kita bisa melihat betapa baiknya Tuhan kepada kita. Kita semua harus tetap bersyukur, menjaga sikap hati serta menjaga konsumsi makanan dan minuman. Inilah kunci sehat yang sesungguhnya.

Kalau pasangan, keluarga atau kerabat anda menghadapi kanker, tetaplah bersyukur. Kondisi ini memang tidak menyenangkan, selalulah berpikir positif dan berikan dukungan moril. Hal ini akan sangat membantu.

Ya Tuhan, aku panjatkan syukur atas segala karuniaMu yang telah Kau limpahkan dengan memberikan pengalaman mengalami kanker, karena berkat pengalaman itu aku bisa memberi semangat dan dukungan antar penderita dan orang-orang yang sedang pengobatan atau perlakuan dan sudah mengalami kesembuhan.

Ingin membantu teman-teman penerima kanker di Lavender? Silakan kirim donasi anda ke Yayasan Lavender Indonesia di Bank Mandiri nomor rekening 1270007342932. Kirim bukti transfer ke Indri Yusnita via wa atau sms di +62 815 8700930.